
Akhirnya mereka berdua berangkat dengan menggunakan mobil Gavino yang besar, dengan supirnya juga. Supaya mereka tidak kerepotan dengan pasangannya, karena harus berkonsentrasi dengan kemudi.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka tiba di bandara, untuk menjemput Magdalena terlebih dahulu. Karena jadwal Magdalena memang tiba pagi ini.
"Kita ke tempatnya Gress setelah menjemput Magdalena ya Gavino." Begitulah tadi Lorenzo memberitahu pada Gavino, tentang rencana perjalanan mereka.
Gavino tidak masalah, lagipula, dia sudah memberitahu Gress, jika dia akan menjemput siang, selesai Lorenzo bertemu dengan Magdalena.
"Aku berharap Kamu dan Magdalena tidak kaget, saat tahu tempat tinggal Gress nantinya. Karena dia hanya tinggal di sebuah kamar flat sederhana saja."
Lorenz mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Gavino tentang gadisnya.
"Kenapa gak Kamu sewakan atau belikan apartemen?" Atau bisa juga Kamu belikan dia sebuah rumah sendiri meskipun kecil." Lorenzo bertanya begitu, karena tahu jika Gavino mampu melakukan apa-apa untuk Gress dengan apa yang tadi dia sebutkan.
Gavino menghela nafas panjang, mendengar komentar dari temannya itu. Bukan karena apa, dia memang belum mengatakan kepada Lorenzo, jika Gress belum tahu keadaan dirinya yang sebenarnya hingga saat ini.
"Aku belum mengatakan jati diriku yang sebenarnya Lorenzo. Dan hari ini, Aku kepikiran untuk mengatakannya secara jujur. Bagaimana menurutmu?" tanya Gavino meminta pendapat pada temannya itu.
"Menurutku itu lebih baik Gavin. Daripada Kamu harus berbohong terus, dan suatu saat Gress tahu sendiri, atau dari orang lain. Jadi menurutku, lebih baik Kamu mengatakannya sekarang juga."
"Baiklah. Aku akan mengatakannya nanti."
Setibanya di bandara, Magdalena ternyata sudah menunggu dan siap di depan pos penjagaan bandara. Karena mereka sudah janjian, agar tidak kesusahan untuk mencari dalam suasana bandara yang ramai dan luas.
"Maaf Sayang. Apakah Kamu menunggu lama?" tanya Lorenzo pada Magdalena, setelah mengecup bibir kekasihnya itu sekilas.
"Tidak, Aku baru saja keluar. Aku... hai Gavin!"
Magdalena tidak melanjutkan kalimatnya, pada saat lihat keberadaan Gavino yang juga ada di belakang Lorenzo.
Akhirnya Magdalena menyalami Gavino dan juga mencium pipi temannya itu. Sedangkan Lorenzo tentu saja tidak merasa cemburu, karena hal itu sudah biasa di antara mereka.
__ADS_1
"Sorry ya, Aku ikut bersama dengan kalian. Jadi, kalian pasti akan ada yang ganggu nantinya. Hahaha... Tapi ini karena memang permintaan kekasihmu itu Magdalena."
Gavino mengatakan kepada Magdalena bahwa, dirinya ikut karena permintaan Lorenzo. Bukan karena dia memang ingin ikut menjadi mengganggu acara kencan mereka juga.
"Hehehe... tidak apa-apa. Tapi jujur, Aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi. Apa kabarmu? apakah Kamu sudah punya kekasih lagi?" tanya Magdalena yang sedikit tahu bahwa Gavino tidak jadi bersatu dengan Bianca, karena Bianca yang harus pergi ke Paris dan tidak mau melakukan hubungan LDR-an.
"Tentu saja dia punya kekasih Sayang! Apa Kamu tidak percaya dengan teman Kamu yang tampan ini?"
Lorenzo menyahuti perkataan dan pertanyaan Magdalena, yang belum dijawab oleh Gavino.
"Sudahlah! Kalian banyak bicara. Lebih baik kita segera pergi dari sini."
Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan menuju ke tempatnya Gress.
"Gavin..."
"Jangan menganggu Gavino dengan banyak pertanyaan Sayang. Biarkan dia melamun. Lebih baik Kamu bertanya tentang Aku saja."
"Aku belum selesai Sayang!" gerutu Magdalena, karena merasa jika Lorenzo salah paham dengan apa yang ingin dia tanyakan.
"Memang Kamu mau bicara apa?" tanya Lorenzo lagi, tapi langsung dia lanjut lagi untuk memberi penjelasan kepada Magdalena. "Sayangku, dia sudah punya kekasih. Namanya Gress. Dia orang Amerika, tapi belum tahu keadaan Gavino yang kaya raya. Karena Gavino memang menyembunyikan dirinya."
"Kamu kebiasaan Gavin. Itu tidak baik, karena kekasihmu itu akan merasa Kamu tipu!"
Magdalena justru menasehati Gavino, sama seperti yang dikatakan oleh Robert maupun Lorenzo tadi pagi.
Lorenzo yang menyadari perubahan wajah Gavino yang masam, sehingga dia meremas jemari tangan Magda, supaya tidak melanjutkan pembicaraannya.
'Kenapa?" tanya Magdalena, yang belum peka dengan isyarat yang diberikan oleh Lorenzo, dan dia juga tidak menyadari perubahan wajahnya Gavino.
Lorenzo melirik ke arah Gavino, supaya Magdalena paham dengan maksudnya.
__ADS_1
"Oh maaf. Kamu pasti sudah punya pemikiran sendiri yang lebih baik daripada yang Aku bicarakan ini."
Gavino tersenyum tipis, mendengar perkataan Magdalena. Yang meminta maaf kepadanya.
"Aku tidak apa-apa. Lagipula, Aku hanya ingin mengujinya, apakah dia tulus tanpa memandang statusku. Karena Bianca yang sudah tahu saja tidak denganku. Dia juga sudah punya kekasih. Jadi Aku hanya ingin membuat hatiku yakin terlebih dahulu."
Lorenzo dan Magdalena saling pandang, mendengar perkataan Gavino menyangkut Bianca, yang tidak pernah mereka dengar.
"Maksudnya, Kamu tahu dari mana jika Bianca punya kekasih?" tanya Magdalena cepat. Karena dia tidak percaya, jika Bianca dengan mudah mengganti Gavino di dalam hatinya.
"Kalian tidak perlu tahu kan, dari mana Aku tahu, jika bianca sudah punya kekasih atau belum di sana?" Gavino tidak menjelaskan pada mereka berdua, jika dia tahu sendiri tentang Bianca fan kekasihnya yang baru.
Kini, Lorenzo dan Magdalena kembali saling pandang tanpa bicara apa-apa.
Tapi mereka berdua sama-sama paham, jika sebenarnya Gavino lebih tahu banyak tentang Bianca, sehingga bisa berbicara seperti itu sekarang ini.
"Ya sudah kalau begitu. Tidak usah memikirkannya Bianca lagi. Lagipula sekarang Kamu sudah ada Gress. Lebih baik, Kamu memikirkan Gress, mempertahankan dia juga. Apalagi dia mau menerima apa adanya Kamu, tanpa melihat keadaan statusmu sebagai seorang Tuan Muda Gavino."
Sekarang, Gavino mengangguk pasti, saat mendengar perkataan Lorenzo. Karena dia memang ingin membuat Gress tetap ada di sampingnya, bagaimanapun keadaannya. Itulah sebabnya, dia mau jujur pada Gress nanti. Dan dia juga sudah siap untuk menerima apapun yang menjadi tanggapan Gress tentangnya.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan bangunan flat yang ditempati Gress.
"Maaf ya, Gress tinggal di tempat seperti ini. Tapi Aku tetap bangga padanya."
Selesai berkata sedemikian, Gavino langsung keluar dari dalam mobil, tanpa mempersilahkan Lorenzo maupun Magdalena untuk ikut turun. Karena dia hanya ingin memanggil Gress saja.
Sepeninggal Gavino, Magdalena bertanya pada Lorenzo. "Apa Kamu sudah pernah bertemu dengan gadisnya itu?"
"Iya. Aku pernah bertemu dua kali dengan Gress. Dan menurutku dia gadis yang baik dan tidak banyak menuntut."
Magdalena justru menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang sekarang ini dilakukan oleh Gavino.
__ADS_1
"Dia pasti takut seandainya Gress tahu keadaannya yang serba ada, justru membuat Gress akan merasa kecil dan bahkan akan meninggalkannya. Karena merasa tidak seimbang dengan kehidupan Gavino."