Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Tidak Bisa


__ADS_3

Pernyataan yang diucapkan oleh Bianca, membuat Dante memberikan kesimpulan bahwa, sepupunya itu memang tidak bisa lepas dari Gavino dengan mudah.


"Memangnya, apa yang Kamu harapkan dari hubungan kalian ini? Apa Kamu juga sudah melupakan mimpimu, yaitu menjadi desainer?" tanya Dante, mengingatkan Bianca tentang cita-cita yang ingin diraihnya.


"Aku, Aku tetap mengikuti kuliah Dante. Meskipun hanya dari jarak jauh, dan... Kamu tidak perlu khawatir. Lagipula, meskipun Aku selalu ada di dalam kamar, Aku selalu menyempatkan diri untuk membuat desain-desain baju yang Aku inginkan kok. Kalau Kamu tidak percaya, Kamu bisa melihat ke isi laptop atau kertas-kertas yang ada di meja kamar."


Bianca memberikan penjelasan kepada sepupunya itu, supaya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Lalu, sampai kapan Kamu tidak mau menemui mamamu?" tanya Dante, yang mulai menyinggung soal keluarga.


"Bukannya Aku tidak suka Kamu ada di rumahku ini Bi, tapi setidaknya Kamu temui mamamu sebentar. Mungkin saja dia merasa khawatir, karena tidak menemukanmu di kota Paris sana."


Mata Bianca terbelalak kaget, di saat dante menyinggung soal mamanya. Yang bisa saja datang ke kota Paris sana. Karena Bianca memang tidak pernah menyangka jika, mamanya akan mencari dirinya sampai ke Paris, atau mungkin saja ke universitas tempatnya belajar dulu.


"Apa, apa mama mencari ku ke sana?" tanya Bianca dengan cepat.


Tapi Dante tidak menjawab pertanyaan tersebut, karena sebenarnya Dante malas untuk membicarakan hal ini.


"Dante! Beri tahu Aku cepat!" desak Bianca, supaya sepupunya itu menjawab pertanyaannya.


Akhirnya Dante dengan ogah-ogahan, menjelaskan kepada bianca bahwa, mamanya pergi ke Paris dua minggu kemarin. Tapi mamanya tidak menemukan Bianca, di apartemen yang dulu di tempati anaknya.


Bahkan, pada saat di cek ke universitas, Bianca sudah mengundurkan diri setengah tahun yang lalu. Tentu saja hal ini membuat mamanya merasa khawatir, karena anaknya itu tidak pernah menghubunginya. Meskipun keuangan yang dikirim mamanya, tetap berjalan dengan lancar.


Bianca memang tidak pernah membicarakan hal ini, terkait dirinya yang sudah mengundurkan diri dari universitas, dan akhirnya pergi dari kota Paris kembali ke kota Roma pada sang mama. Karena dia takut jika, mamanya justru akan marah, dengan keputusan yang diambil tanpa berpikir panjang. Meskipun sebenarnya, Bianca sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Sebelum memutuskan untuk pergi dari kota Paris, dan meninggalkan segala sesuatu yang tidak membuatnya nyaman di sana.


"Kamu tahu sendiri Dante. Bagaimana keadaan Aku dulu. Bahkan hingga saat ini."


Dante hanya bisa diam saja, mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Bianca. Karena dia memang tidak mau memberikan tanggapan apapun, terkait keputusan yang diambil oleh sepupunya itu.


"Temui Tante. Dan berikan dia penjelasan yang sama, supaya tante bisa mengerti dan juga lebih tenang. Aku tidak mau jika sampai Tante menyalahkan Aku, karena telah mendukung dan menyembunyikan mu di rumah ini. Bahkan hingga saat ini."


Bianca hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Karena dia belum pernah berpikir, untuk melakukan semua itu dalam waktu dekat.

__ADS_1


"Kamu jangan sampai punya pikiran, bahwa Aku tidak mau Kamu tinggal di sini Bi. Bukan, bukan seperti itu. Asal Kamu tahu Bi, Aku hanya tidak ingin kamu dan tante ada kesalahpahaman. Yang membuat kalian justru membuat keputusan, yang akan kalian sesali di kemudian hari."


"Iya. Maaf Dante. Aku, Aku juga tidak tahu. Tapi, Aku berterima kasih padamu. Karena Kamu sudah memberikan saran dan juga usulan. Supaya Aku bicara sama mama. Sebenarnya, sebenarnya Aku ingin melakukannya beberapa minggu kemarin. Tapi, Aku masih ragu-ragu, kemudian berpikir lagi. Sehingga tidak jadi-jadi, untuk melaksanakan rencana itu."


"Hhh... baiklah. Sebaiknya Kamu cepat beristirahat, dan segera putuskan untuk memberikan keterangan pada mamamu."


Bianca mengangguk mengiyakan perkataan Dante, kemudian segera prenjak dari tempat duduknya menuju ke arah kamarnya sendiri. Setelah mengucapkan selamat malam kepada sepupunya itu.


"Good night Boy!"


"Good night Bi," sahut Dante l, dengan tersenyum tipis.


*****


Di rumah Thomas Bryan, di waktu yang sama seperti di rumah Dante.


Gress sedang berbincang-bincang dengan papanya, pada saat mereka berdua baru saja selesai makan malam.


"Papa sudah mengalihkan semua aset-aset perusahaan, dan juga saham-saham yang dimiliki Papa di perusahaan lain atas nama Kamu Gress."


Dia juga tidak tahu, apa saja usaha yang dimiliki papanya. Sebab, dia memang tidak begitu berambisi, dengan segala kemewahan dan semua yang dimiliki papanya ini.


"Kamu mau kan, mulai besok ikut papa ke kantor? Kamu akan belajar untuk menjadi seorang direktur, yang akan menggantikan papa suatu hari nanti."


Dengan cepat Gress mengelengkan kepalanya beberapa kali, kemudian berkata, "Papa bicara apa? Gress tidak tahu apa-apa tentang perusahaan. Dan Gress juga tidak ingin apa-apa. Yang Gress inginkan hanyalah Papa dalam keadaan sehat, dan itu bersama Gress selamanya!"


Thomas Bryan terharu, mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya itu.


"Terima kasih Gress. Kamu, Kamu sudah mau menerima Papa, yang sebenarnya... sudah sangat jahat sama Kamu selama ini."


Thomas Bryan benar-benar merasakan sesak di dadanya, karena haru, kebahagiaan dan penyesalan. Serta semua rasa yang begitu banyak, yang tidak bisa diungkapkan.


Keduanya kini sama-sama menangis karena bahagia, dengan berpelukan.

__ADS_1


Setelah Gress mengurai pelukannya, dia segera bertanya pada Thomas Bryan. "Apa, apa Papa tidak ingin meninggalkan dunia papa saat ini?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino anaknya, Thomas Bryan tidak bisa menjawabnya dengan cepat.


"Papa, Papa tidak tahu. Tapi Papa berpikir bahwa, seandainya Papa meninggalkan semua itu dalam waktu dekat, takutnya anak buah Papa justru saling bertengkar. Dan itu malah jauh lebih buruk lagi, Karena mereka memperebutkan kekuasaan yang Papa tinggalkan."


"Jadi, lebih baik Papa memberi mereka arahan. Supaya pelan-pelan meninggalkan dunia hitam, dan menjalani pekerjaan yang memang seharusnya. Tapi, jika mafia yang terlihat rapi di dunia luar, mereka itu justru yang lebih berbahaya sebenarnya. Jadi papa itu... ya meskipun Papa ini jahat, memang jahat, tapi setidaknya Papa itu bisa mengkoordinir mereka-mereka, yang sebenarnya para mafia berdasi, masih bisa memperhatikan bahwa, semua yang mereka lakukan itu masih ada Papa. Sehingga mereka tidak terlalu membuat kekacauan untuk negara ini, bahkan pada dunia."


Gress mendengarkan alasan Papanya, yang sebenarnya membuat kepalanya menjadi sedikit pusing.


Dia tidak tahu, apa yang dimaksud oleh papanya barusan.


"Kamu tidak tahu, apa yang Papa bicarakan ini?" tanya Thomas Bryan, seakan-akan mengerti apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh anaknya itu.


Dengan cepat, Gress menganggukkan kepalanya, jujur jika dia memang tidak tahu.


Thomas Bryan tersenyum tipis, melihat anggukan kepala anaknya itu. Kemudian dengan perlahan-lahan, dia memberikan penjelasan, tentang apa yang tadi dia katakan.


Jadi, kegiatan para mafia yang ada di dalam keanggotaannya itu, sebenarnya hanyalah sebagai pendamping atau pelaksana saja, dari para mafia yang sebenarnya. Mereka tampak lebih terhormat di luaran sana. Karena mereka menjabat sebagai bagian penting di dalam urutan, atau urusan negara ini. Dan bukan hanya sekedar sebagai warga sipil seperti yang lainnya.


"Jadi, sebenarnya... para pejabat itu sendirilah yang sebenarnya menjadi mafia? Dan yang terlihat sebagai mafia itu, adalah mereka-mereka yang menjalankan tugas, yang sudah direncanakan oleh para pejabat tersebut."


"Ya... kira-kira seperti itulah!"


Gress akhirnya berpikir bahwa, sebenarnya negara ini tidak sedang baik-baik saja. Karena orang-orang yang memegang peranan penting dalam susunan negara, justru yang melakukan kejahatan tersebut.


Mereka-mereka hanya berkedok dengan aturan-aturan yang mereka buat sendiri, tapi juga dilanggar oleh mereka sendiri. Tapi dengan memakai nama dan tubuh orang lain. Yang kemudian mereka kejar sebagai seorang penjahat.


*****


Halo gaesss 🤚🤚🤚


Silahkan mampir ke novel Jamur, Janda Muda Dibawah Umur. Ini adalah karya author Ramanda.

__ADS_1


Keren gaesss 👏👏👍



__ADS_2