
Mobil sudah memasuki perbatasan kota Monte Isola. Sehingga senyuman tipis mengembang di bibir Gavino.
"Hummm..."
Dengan membuang nafas lega, Gavino menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian dia melihat tulisan besar di papan petunjuk. Dengan nama kota kelahirannya.
"Apa kita sudah sampai di Monte Isola?"
Ternyata, orang mengikuti Gavino masih ada di tempatnya duduk. Gavino pikir, orang tersebut pingsan. Karena tertidur dalam jangka waktu yang lama.
"Kamu bisa lihat sendiri," jawab Gavino dingin.
"Oh ya, aku George."
"Aku tidak peduli," sahut Gavino, yang tidak mempedulikan nama orang tersebut.
"Hai! Aku sudah berbaik hati, dengan menemanimu sepanjang perjalanan yang jauh dan melelahkan ini," ketus orang tersebut. Menyadari bahwa Gavino masih tidak mau bersahabat dengan sikapnya.
"Hah! Bukannya kebalikannya ya?" tanya Gavino mengingatkan.
"Hahaha... iya-iya. Aku akui Kamu cukup pemberani. Selain masih sangat muda, kamu juga tidak takut denganku. Yang notabene membawa senjata api, bahkan sudah menodongkan senjata tersebut ke lehermu."
Gavino hanya mendengus dingin, mendengar semua perkataan George. Nama orang yang memaksa ikut ke Monte Isola.
"Oh ya, apa Kamu asli dari Monte Isola?" tanya George lagi, karena masih ingin melihat keadaan karakter dari Gavino.
Pemuda yang dia temui dalam pelariannya dari kelompoknya yang sangat kejam.
"Apa itu penting?" Gavino justru balik bertanya pada George.
"Aku sedang mencari seseorang. Dia..."
"Aku tidak peduli," potong Gavino, sebelum George melanjutkan kalimatnya.
"Hai anak muda! Sopan lah sedikit, jika ada orang tua yang sedang bicara." Sarkas George, karena merasa disepelekan oleh anak semua Gavino.
Sikap Gavino yang dingin dan datar, tidak peduli dengan apapun. Mengingatkan dirinya pada seseorang, yang saat ini sedang dia cari keberadaan di kota Monte Isola. Orang yang sangat dia hormati di masa mudanya dulu.
Bahkan garis wajah Gavino, mengingatkan George dengan wajah seseorang. Yang sekarang ini pastinya juga sudah tua. Lebih tua tujuh tahun darinya.
"Seharusnya, yang tua juga memberikan contoh yang baik untuk anak muda. Bagaimana harus bersikap dan berperilaku."
__ADS_1
George kembali terpaku, mendengar perkataan Gavino yang memang benar adanya. Karena sedari awal, dialah yang tidak ada sopan-sopan_nya.
"Emhhh..."
Gumaman tidak jelas, terdengar dari mulut George. Tapi Gavino tetap tidak peduli, dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan lagi. Agar bisa lebih cepat ke dalam kota.
"Anak muda. Apa Kamu mengenal Glodblack?" George kembali mengajak bicara Gavino, dengan memberikan pertanyaan.
"Tidak," jawab Gavino singkat.
"Ah, Aku melupakan nama aslinya. Padahal, Aku sangat mengenalnya."
George mengeluhkan ingatannya sendiri yang sudah memburuk saat ini. Karena melupakan nama asli dari seseorang yang sedang dia cari saat ini.
Dia hanya mengingat nama panggilan dari orang tersebut. Yaitu Goldblack.
George tidak pernah menyangka, dan menyadari. Jika pemuda yang pada awalnya dia ancam dan intimidasi serta dia remehkan itu, ada kaitannya dengan seseorang yang sedang dia cari saat ini.
Seseorang yang di masa lalunya adalah orang yang sangat berpengaruh. Di takuti semua orang di dalam kelompok sendiri maupun lawannya.
King mafia, yang diberi julukan Goldblack.
Yang menurut cerita orang-orang kebanyakan, jika Glodblack mengasingkan diri ke kota Monte Isola.
*****
Gerbang sebuah pemakaman tampak tidak terawat dengan baik. Besi sudah terlihat tua, dengan cat hitam nya yang sudah banyak mengelupas. Menandakan bahwa pemakaman tersebut adalah pemakaman warga biasa, yang tidak bisa membayar pajak untuk leluhurnya yang sudah disemayamkan di tempat ini.
"Hei! Kenapa Kamu membawaku ke makam kumuh seperti ini?" sarkas George, bertanya pada Gavino.
Tapi Gavino tetap melangkahkan kakinya, setelah menutup pintu mobil.
Blummm!
"Ah sialll itu anak!" umpatan keluar dari mulut George, tanpa bisa di rem.
Tapi dia juga tidak mau di tinggalkan sendirian di dalam mobil. Bisa jadi, ini adalah jebakan untuknya. Dia curiga, jika Gavino sudah menghubungi polisi atau seseorang. Yang akan menangkapnya sekarang juga.
Akhirnya George membuntuti Gavino. Dia ikut ke manapun kaki Gavino melangkah. Dan baru berhenti, setelah Gavino juga berhenti di sebuah makam tak terurus.
Makam itu sudah tidak jelas lagi tulisannya. Bahkan, banyak sekali sampah yang berserakan di makam tersebut.
__ADS_1
Sepertinya, makam itu sudah lama tidak dikunjungi oleh pihak keluarganya.
"Makam siapa ini?" tanya George penasaran.
Batu nisan warna hitam mengkilat, seperti batu pualam. Di pinggiran batu nisan tersebut, ada garis cat berwarna kuning emas. Dan itu bukan cat biasa. Karena warnanya masih tampak jelas, meskipun sudah sangat kotor akibat cuaca.
"Batu nisan yang unik," gumam George memberikan penilaian.
Dia diam melihat Gavino yang mulai membersihkan makam tersebut. Bahkan, Gavino tak segan-segan membuka jas yang dia kenakan untuk mengelap batu nisan tersebut. Hingga sebuah nama jelas terukir di batu hitam tersebut. Karena tulisan tersebut, juga mengunakan cat berwarna kuning emas, sama seperti yang digunakan untuk menghiasi pinggiran batu nisan.
"William Henry," eja George pada tulisan yang sekarang bisa dia baca.
Dia mengingat-ingat kembali, nama yang tampaknya tidak asing lagi baginya. Tapi dia tetap tidak bisa mengingatnya dengan baik.
"Hemmm..."
George mengelengkan kepalanya, dengan mengerjapkan matanya beberapa kali. Mencoba untuk lebih jelas, mengingat nama yang baru saja dia eja.
Tapi ternyata ingatannya benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dia tidak ingat siapa pemilik nama William Henry.
Beberapa saat kemudian, setelah Gavino selesai dengan urusannya di makam.
Gavino kembali ke tempat mobilnya berada. Sedangkan George sendiri masih setia mengekornya juga.
"Apa Kamu tidak ada pekerjaan lain, selain mengekor Ku?"
"Bukankah sekarang ini Kamu sudah ada di Monte Isola? Pergilah ke mana yang Kamu inginkan."
Perkataan Gavino yang jelas-jelas mengusirnya, membuat Goerge tidak bisa memberikan alasan lagi. Tapi dia juga tidak ada tempat untuk tinggal sementara waktu di kota kecil ini.
"Hum... bolehkah Aku ikut denganmu anak muda?" tanya George pada akhirnya.
Dia tidak ada pilihan lain, selain ikut Gavino. Anak muda yang misterius, dan tidak mudah dia gertak begitu saja.
"Kenapa? Apa Kamu tidak punya uang untuk menyewa hotel atau rumah?" tanya Gavino sinis.
"Cihhh! Kamu keterlaluan menghinaku anak muda! Aku juga punya uang banyak, yang bisa membeli semua yang Kamu miliki!" George tersinggung, dengan pertanyaan Gavino yang meremehkannya.
"Lalu, kenapa Kamu masih saja mengekor Ku?" tanya Gavino lagi, dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Itu... emhhh... ada yang harus Aku tanyakan padamu."
__ADS_1
Sepertinya, George memang tidak mudah mengingat semua hal di masa lalu. Tapi instingnya cukup kuat. Sehingga dia tidak mau melepaskan Gavino begitu saja.
'Siapa sebenarnya anak muda ini? Auranya sangat kuat mempengaruhi diriku.' Batin George dalam hatinya sendiri.