
Dua hari bersama Gavino, Robert dan teman-temannya justru memiliki perasaan yang kuat untuk bisa bersama dengan anak muda itu.
Hal yang sama seperti yang dirasakan oleh George di awal pertemuannya dengan Gavino juga sebelum sampai di kota Monte Isola ini.
Anak muda yang tidak mereka ketahui asal usul yang sebenarnya. Nama dan juga anak siapa serta dari mana asal muasalnya.
"Emhhh... jika boleh tahu, siapa sebenarnya Kamu anak muda?" tanya Robert sebelum dia pamit untuk pergi dari rumah, yang sudah membuatnya hampir kehilangan teman-temannya juga. Karena adanya penyerangan orang-orang yang tidak dikenal malam kemarin.
"Saya... Saya Gavino."
George menoleh ke arah Robert yang tadi bertanya.
"Apa maksudmu bertanya demikian?" tanya George curiga. Dia seperti layaknya seorang ayah, yang sedang mengawasi anaknya. Dan menggertak orang yang sedang mengintimidasi anaknya itu.
Gavino cepat merespon dengan sistem mafia miliknya.
( Ting )
'Situasi apa yang ada ini?'
( George, Anda sudah tahu kapasitasnya sebagai seorang mafia Good Father )
'Robert dan teman-temannya?'
( Ting )
( Menganalisa seorang Robert )
Umur : 35 tahun
Gender : Laki-laki tulen
Pengaruh : Level 3/10
Kekuatan : Level 8
Kekayaan : Level 12
'Apa dia ada di antara anggota mafia dari kota lain? Sehingga dia juga berpengaruh?'
( Ting )
( Bukan Good Father )
( Dia hanya anggota di kelompoknya dengan hobby yang sama. Tapi dia menang cukup kaya dan berpengaruh dibandingkan dengan temannya yang lain )
'Hum...'
( Ting )
( Dia bisa jadi pengikut anda Good Father )
'Kenapa?'
__ADS_1
( Ting )
( Dia dalam misi mencari salah satu anggota king Black di Roma )
'Oh. Tapi...'
( Ting )
Layar transparan sistem tiba-tiba hilang. Du saat terdengar suara...
Bug bag bug!
Trang crash dug!
"Hai!"
Gavino berteriak keras, di saat melihat George dan Robert saling pukul. Dan teman-temannya Robert, mengelilingi mereka berdua. Memantau kegiatan mereka berdua, yang sedang adu kemampuan untuk berkelahi.
Baik George maupun Robert, menghentikan kegiatan mereka, di saat mendengar teriakkan Gavino yang tadi hanya diam saja.
"Kalian berdua apa-apaan? Tidak usah berkelahi sendiri! Karena bisa jadi, musuh akan datang dengan kekuatan dan jumlah yang lebih besar dari pada semalam."
"Apa kalian mau mati konyol di sini hanya karena memperebutkan sesuatu yang tidak pasti?"
George dan Robert saling pandang dan membuang muka. Mereka berdua, belum bisa menerima kata-kata Gavino yang mereka anggap hanya anak kecil bau kencur.
Setelah beberapa saat terdiam, Gavino meminta pada mereka semua untuk segera pergi dari rumahnya.
"Keluar kalian semua! Aku tidak butuh orang-orang yang egois dan mementingkan diri sendiri tanpa ada yang mau mengalah."
Teriakan ke-dua Gavino justru membuat mereka semua menundukkan kepala. Malu dengan sikap kekanak-kanakan mereka,Nyang nyatanya jauh lebih tua dibandingkan dengan Gavino sendiri.
"Apa kalian semua tidak dengar? Pergi dari rumahku!"
Gavino hilang kesabaran. Dia menunjuk ke arah pintu, mengusir semua tamu yang sebenarnya tidak pernah dia undang juga.
"Maaf."
Permintaan maaf dari George dan Robert juga kompak. Karena mereka mengucapkan permintaan maafnya itu secara bersamaan.
Dan setelah menyadarinya, mereka berdua saling pandang dengan tatapan tajam.
Teman-temannya Robert dengan situasi ini. Mereka semua tidak paham, dengan apa yang tadi direbutkan oleh George dan Robert.
Robert dan teman-temannya juga baru tahu, kalau Gavino dengan George tidak ada hubungan darah sama seperti yang mereka pikirkan sebelumnya.
"Kenapa?"
"Apa Aku yang harus pergi?"
Akhirnya Gavino kembali bertanya pada keduanya, karena mendengar permintaan maaf merepotkan tadi.
"Baiklah kalau kalian masih mau tinggal di sini. Biar Aku saja yang pergi!"
__ADS_1
"Jangan!"
George dan Robert kembali berkata dengan kompak.
"Huh, kalian sangat serasi! Jadi, biarkan Aku saja yang pergi."
Gavino baru saja melangkahkan kakinya dua langkah, saat kedua bahunya di cekal George dan Robert secara bersamaan. Mereka berdua bermaksud untuk menghentikan niat Gavino untuk pergi.
"Apa mau Kalian!" hardik Gavino marah.
Dia merasa kesal dengan sikap keduanya.
Laki-laki dewasa yang kekanak-kanakan, menurut Gavino. Karena memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.
*****
Sebenarnya, perdebatan antara George dan Robert hanya karena salah paham.
George merasa dia yang lebih dulu mengenal Gavino.
Tapi Robert meremehkan dirinya, karena ternyata George bukan siapa-siapa bagi Gavino. Sama seperti yang dia pikir, jika George adalah ayah dari anak muda tersebut.
"Cihhh! Aku pikir Kamu adalah pemilik rumah ini. Ternyata Kamu juga tamu yang tidak dikenal dan di undang olehnya. Sama seperti kami juga."
Mendengar ucapan kasar Robert, George marah. Dia tersinggung, karena dialah orang pertama yang datang bersama Gavino ke rumah ini. Sehingga dia lebih berhak untuk lebih dekat dengan Gavino, dibanding dengan Robert yang baru kemarin malam.
"Heh! Apa Kamu tidak ingat? Aku ada di rumah ini sebelum Kamu dan teman-temanmu datang. Dan Aku, sudah ikut bersama dengannya dari perbatasan Roma."
Dan karena itulah, mereka berdua akhirnya terus berdebat dan berakhir dengan adu jotos. Persis seperti anak kecil yang berebut mainan kesukaan mereka.
"Jika kalian mau Aku tetao di sini, berjanjilah untuk tetap menjaga kerukunan dan tidak ada lagi yang namanya pertengkaran."
Antara George dan Robert, saling pandang, dengan masih berdiri di belakang Gavino.
Gavino juga berkata demikian, dengan masih membelakangi keduanya. Tidak mencoba untuk melepaskan diri dari tangan keduanya yang sedari tadi memegang kedua bahunya juga. Karena mencegah dirinya pergi dari rumah ini.
"Baiklah anak muda. Aku tahu, Kamu pasti masih ada kaitannya dengan William Henry. Sang king Goldblack. Jadi, Aku pastikan untuk tetao berada di sampingmu. Menganggap dirimu adalah pengganti dari king Goldblack sendiri."
Mendengar perkataan George, Robert mengerutkan keningnya. Dia memikirkan satu mana, di mana dulu pernah diceritakan oleh kakaknya sebelum meninggal dunia.
Kini keduanya sudah tidak lagi meletakkan tangannya di atas bahu Gavino. Sehingga Gavino berbalik arah, menghadap keduanya yang tadi ada dibelakangnya.
"Siapa yang tadi Kamu sebut George? King Goldblack? William Henry?"
"Ya. Kenapa?" tanya George menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh Robert.
"Itu... orang itu, king Goldblack itu adalah pemimpin yang pernah diceritakan kakakku. Tapi Aku belum pernah bertemu sebelumnya dengan orang tersebut. Di mana dia sekarang berada?"
Gavino tidak ambil bagian dalam perbincangan keduanya.
Dia hanya menjadi pendengar untuk pembicara yang dilakukan oleh George bersama dengan Robert. Tentang kakeknya sendiri. Yang tidak pernah dia ketahui latar belakang masa mudanya dulu.
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Memangnya, apa yang diceritakan oleh kakakmu itu tentang king Goldblack?"
Dengan wajah serius, akhirnya Robert mulai bercerita tentang kisah, yang juga diceritakan oleh kakaknya. Di mana waktu itu, kakaknya sudah pensiun dari pekerjaannya dalam kelompok yang dipimpin oleh William Henry, sang ketua king Goldblack.