
Gavino tidak bisa tidur, setelah mendapatkan telpon dari Bianca tadi. Dia gelisah sendiri, karena perasannya yang tidak enak saat ini.
Untuk mengusir rasa penasaran, Gavino pun mengaktifkan sistem mafia yang dia miliki.
'Apa Aku bisa mencari sesuatu?'
( Ting )
( Tentu bisa Good Father )
'Apa yang bisa Kamu berikan sebagai tantangan, supaya Aku bisa melakukan apa-apa yang sedang Aku pikirkan saat ini?'
( Ting )
( Tantangan diberikan )
Permainan : Potong kayu
level : 0
kemampuan : 0
Hadiah : 0
'Permainan apa ini? potong kayu?'
( Ting )
( Ikuti petunjuk Good Father )
Akhirnya Gavino tidak lagi bertanya. Dia fokus melihat layar yang ada di depannya.
Sebuah layar transparan, yang memperlihatkan gambar dengan banyak pohon Pinus berjejer.
Kening Gavino mengeryit heran. Melihat gambar yang tampak jelas di depan matanya sekarang ini. Karena gambar tersebut adalah gambar hutan Pinus yang lebat, tapi nyaman.
Dari gambar tersebut, anak panah mengarah pada alat-alat yang tergeletak di tengah-tengah hutan.
Ada sabit, pisau, gergaji manual dengan ukuran kecil dan besar. Kemudian ada juga mesin pemotong kayu canggih, dengan kekuatan yang besar.
Semua disesuaikan dengan level dan kemampuan penerima tantangan game ini.
Karena tantangan ini baru pertama kali di terima Gavino. Dia pun tak memiliki level dan kemampuan apa-apa. Semuanya masih kosong tanpa ada tingkatannya.
Berbeda dengan beberapa game tantangan yang lain. Dia sudah ada pada level tinggi. Dengan kemampuan dan hadiah yang cukup besar juga.
Tapi menerima tantangan game ini pun, Gavino tidak boleh mengeluh. Dia harus bisa menyelesaikan tantangan ini dengan baik. Supaya bisa naik level dan mendapat hadiah.
Sekarang, dia memilih gergaji manual dengan bentuk yang kecil.
Dia tidak mungkin bisa mengunakan alat-alat yang lebih besar, dengan level yang kosong.
__ADS_1
Dan sekarang game akan segera di mulai.
( Ting )
( Penghitungan alat bantu yang digunakan )
( Gergaji manual kecil )
Kekuatan : 3
Waktu yang dibutuhkan : 10 menit
Gavino mulai berpikir untuk mempercepat waktu, tapi ternyata itu butuh dana. Dan dia bisa kehilangan poin dari hadiahnya. Jika ingin mempersingkat waktu pemotongan kayu yang ditentukan oleh permainan ini.
Tapi Gavino harus bermain cerdik.
Dia tidak mau menghabiskan banyak waktu, sehingga menyia-nyiakan kesempatan yang lainnya.
'Aku bisa menggunakan poin untuk memperpendek waktu yang seharusnya, agar Aku juga bisa dengan cepat mendapatkan hadiah.'
'Poin itu juga akan kembali, dan bertambah banyak. Dengan menyelesaikan tantangan pertama ini.'
( Ting )
( Pilihan ada pada Good Father sendiri )
Dan begitulah akhirnya. Gavino sibuk dengan game yang harus dia kerjakan malam ini. Sehingga waktu tidurnya terabaikan.
Dia tidur pada pagi hari, sekitar pukul lima. Ini mengakibatkan dia terlambat bangun tidur. Karena sekarang ini sudah pukul sembilan pagi. Sedangkan dia harus pergi ke kampus pukul sepuluh nanti.
Tok tok tok!
Tok tok tok!
Kepala maid mengetuk pintu kamar Gavino. Berusaha untuk membangunkan Tuan mudanya. Karena George dan yang lainnya baru saja berangkat kerja.
George memang tidak membangunkan Gavino sendiri. Tapi dia berpesan, jika kepala maid harus membangunkan Gavino pada pukul sembilan saja. Sebab masuk kampusnya baru pada jam sepuluh nanti.
Tok tok tok!
"Tuan Muda. Sekarang sudah pukul sembilan Tuan Muda!" kata kepala maid mengingatkan.
Di dalam kamar, Gavino mengerjap-ngerjapkan mata. Khas orang-orang yang baru saja bangun tidur.
Dia pun melihat jam di dinding, yang ada di depannya. Tepat di depan tempat tidurnya.
"Ya. Aku sudah bangun!"
Gavino berteriak keras, supaya kepala maid yang membangunkan dirinya mendengar suaranya. Sehingga kepala maid tidak perlu mengetuk-ngetuk pintu dan memanggilnya supaya cepat bangun.
Dengan menggeliat beberapa kali, untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya. Gavino beranjak dari tempat tidur, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Dia tidak bisa bermalas-malasan seperti biasanya. Karena dia membutuhkan waktu setengah jam untuk bisa tiba di kampus. Sedangkan untuk mandi dan sarapan pagi, dua juga butuh waktu sekitar setengah jam.
Itu artinya, satu jam ke depan nanti hanya cukup untuk persiapannya saja.
*****
Di tempat usaha Giordano dan Mirele.
George dan Robert sedang melakukan pertemuan dengan urusan perusahaan besar. Yang ingin bekerja sama dengan usaha warabala yang dia urus sekarang ini.
Pihak pengusaha tersebut, ingin memasarkan produknya. Sehingga meminta untuk bisa bekerjasama dengan usaha warabala, agar pemasaran produk milik mereka cepat bisa dikenal masyarakat luas.
Pihak perusahaan berpikir jika, kerja sama yang akan mereka lakukan, akan lebih menguntungkan. Karena perluasan jangkauan pemasaran produk mereka tidak hanya stuk di satu lapisan masyarakat. Sebab waralaba Giordano dan Mirele ini, mencakup semua kalangan. Dengan usaha yang memang dibutuhkan oleh semua orang. Baik dari kalangan keluarga rendah maupun tinggi.
"Dengan Mr Giordano?"
Dua orang bertanya kepada George dan Robert, yang sedang duduk di dalam restoran.
Mereka berdua, memang menunggu di sebuah restoran. Yang sudah disepakati bersama sebelumnya.
"Saya utusan dari Mr Giordano. Silahkan duduk!"
George dan Robert menyalami dua orang yang baru saja datang di hadapannya.
"Ah, begitu."
Salah satu dari mereka, menanggapi jawaban yang diberikan oleh George padanya dengan perasaan kurang senang.
Orang tersebut menganggap bahwa warabala milik Giordano dan Mirele ini menganggap mereka remeh. Padahal justru mereka berasal dari perusahaan besar.
Dan warabala milik Giordano dan Mirele inilah, yang membutuhkan mereka untuk bekerja sama.
George yang seorang mantan mafia, bahkan pernah menjadi pemimpin mafia di Norwegia, tentu saja jeli melihat perubahan warna pada wajah dan suara mereka saat menanggapi jawabannya tadi.
Dan setelah mereka semua duduk. George mulai bicara, "Saya George dan ini rekan kerja Saya, Robert."
"Kami berdua, yang sekarang ini mengurus semua urusan warabala milik Giordano dan Mirele. Karena kedua pemilik sebelumnya, sudah pensiun dan beristirahat. Jauh di tempat yang tidak bisa dijangkau dari sini."
George memberikan penjelasan kepada kedua orang yang ada di depannya, agar mereka tidak lagi menyepelekan dirinya dan juga Robert.
"Bukannya anda juga utusan perusahan yang kemarin menawarkan kerjasama?"
Sekarang, George ganti menyerang mereka berdua dengan pertanyaannya. Karena dia berpikir bahwa, ke dua orang ini juga bukan siapa-siapa di perusahaan tersebut.
Sama seperti dirinya, yang hanya dapat tugas dari Gavino untuk mengurus semua urusan di warabala milik orang tuanya.
Kedua orang di depannya menunduk malu. Mereka sadar, bahwa mereka juga hanya orang-orang suruhan. Yang akan mendiskusikan tentang kerjasama mereka.
"Apa bisa diteruskan? Jika tidak, lebih baik kami pergi. Karena urusan kami bukan hanya ini saja."
George berkata demikian, untuk memberikan kesan yang tidak biasa pada orang yang angkuh. Padahal sebenarnya bukan siapa-siapa juga. Sama seperti dirinya bagi usaha yang mereka pegang.
__ADS_1
"Maaf. Maafkan atas sikap Kami yang kurang berkenan."
Akhirnya kedua orang tersebut meminta maaf pada George dan Robert. Sehingga pembicaraan mereka bisa segera dilakukan.