
Bless!
"Arghhh..."
"Gavin! Gavin!"
Gress berusaha untuk menyadarkan Gavino, yang sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dan ini sudah berlangsung beberapa jam lamanya, tanpa ada satu dokter pun yang bisa menanganinya.
Tapi dalam keadaan tidak sadar tersebut, Gavino menyebut-nyebut nama seseorang. Baik itu mamanya, Mirele, maupun papanya, Giordano. Yang saat ini sudah tiada lagi.
Dan sekarang, Gavino kembali ke masa lalunya, saat ada pada waktu sekolah menengah atas. Bersama dengan Bianca dan teman-temannya yang lain.
"Bi, awas Bi!"
Gress dan Thomas Bryan, memperhatikan bagaimana Gavino yang berteriak dengan memanggil Bianca. Seakan-akan Bianca sedang berada dalam keadaan terancam.
"Lihat dan dengar Gress! Gavino begitu peduli dengan gadis tersebut. Apa Kamu yakin, jika dia masih bisa mempertahankan cintanya padamu?"
Thomas Bryan justru salah paham, sehingga provokasi anaknya. Agar tidak mempedulikan Gavino lagi, dengan alasan yang terjadi pada keadaan Gavino saat ini.
"Pa. Gavino sedang dalam keadaan dimana dia tidak sadarkan diri. Mungkin saja ingat tanya kembali ke masa lalu, yang kita tidak ketahui seperti apa." Gress berusaha membela diri, dan memberikan alasan tentang keadaan kekasihnya itu.
"Tapi Kamu seharusnya Kamu realistis Sayang! Kamu ini... ahhh!"
Thomas Bryan merasa kesal dan jengkel pada anaknya, yang tidak bisa diberi nasehat. Terkait dengan hubungannya bersama Gavino.
Dia lupa, jika untuk menasehati seseorang yang sedang jatuh cinta, alasan apapun yang digunakan untuk menjelekkan orang yang disukai, tentunya tidak akan pernah berhasil.
Rasa cinta itu sudah menghilangkan cara berpikir yang sesuai dengan logika, dan tidak bisa melihat kenyataan yang ada. Sebab rasa cinta itu masuk tanpa melihat adanya kekurangan dan cela, dari orang yang dicintai.
Begitu juga dengan Gress, yang tidak bisa menerima kritik apapun. Dengan alasan yang jelas-jelas menjelekkan Gavino, meskipun yang mengatakannya adalah papanya sendiri.
"Gress tidak peduli dengan penilaian Papa. Gress akan tetap bersama dengan Gavino, meskipun tanpa restu dari Papa."
Kini Gress berhenti sejenak, kemudian melanjutkan kembali kalimatnya. "Jika Papa tidak setuju, Gress juga tidak perlu membuat alasan mengapa dan bagaimana. Sebab tri siap pergi dari sisi Papa, karena sedari dulu Gress juga tidak memiliki Papa."
Pernyataan Gress yang terakhir ini, membuat Thomas Bryan marah. Tapi sekaligus bersedih hati, sebab anaknya itu tidak mengakui dirinya sebagai papa. Hanya karena seorang Gavino.
Tapi sebenarnya Thomas Bryan menyadari, jika keputusan yang diambil oleh anaknya itu memiliki alasan tersendiri. Sebab hanya dengan Gavino, Gress terbuka dan dekat selama berada di kota Roma ini.
"Hhh... Papa tidak melarang mu dekat dengan Gavino Gress. Tapi gunakanlah akal sehat, sebelum kamu membuat keputusan. Sebab hubunganmu bersama dengan Gavino dan juga gadis tersebut tidak hanya satu dua jam saja. Sama seperti permainan yang kalian lakukan selama ini."
Gress mengerutkan keningnya, mendengar perkataan papanya.
__ADS_1
Dia tidak pernah menyangka, jika papanya itu mengetahui segala sesuatu tentang mereka bertiga. Termasuk dengan gaya bercinta mereka, yang melakukannya bertiga juga. Dalam waktu yang bersamaan.
"Papa..."
Gress melanjutkan kalimatnya, karena melihat papanya yang menggangguk-anggukkan kepala. Sebelum mendengar keseluruhan dari pertanyaan atau pernyataannya.
Ternyata selama ini, Thomas Bryan memantau semua hal yang dilakukan oleh anaknya. Bersama dengan Gavino dan Bianca. Sampai pada kegiatan mereka di kamar, yang tentu saja tidak diketahui orang lain. Sebab tidak ada cctv yang bisa di akses oleh Thomas Bryan juga. Sebab kendali cctv di kamar Gavino, dan kamar yang mereka tempati , ada di tangan Gavino sendiri. Kecuali tempat-tempat umum, seperti teras dan ruang tamu, pantauan cctv ada di pos security atau penjaga.
"Tapi Gress tidak peduli Pa."
Helaan nafas panjang terdengar dari hidung Thomas Bryan, begitu dia mendengar keputusan yang disampaikan oleh anaknya.
Dia tidak mungkin bisa memaksa, karena jika sampai itu terjadi, Maja Gress tidak akan pernah mau memaafkan dirinya.
"Gress mau menghubungi Bianca. Mungkin saja dengan kehadirannya, Gavino bisa sadar kembali."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh anaknya, Thomas Bryan saya diam saja. Dia tidak mau ikut campur lagi, dengan apa yang akan dilakukan oleh anaknya.
"Apa Kamu tidak bisa mengetik perasaan Papa Gress? Padahal apa yang papa lakukan ini semua untukmu."
Gress segera berbalik untuk menghadap papanya, kemudian memegang kedua tangan kekar tersebut. Dia berusaha untuk meyakinkan papanya, agar membiarkannya melakukan apapun. Yang ingin dilakukannya sesuai dengan isi hati.
Thomas Bryan diminta oleh anaknya, untuk membiarkannya melakukan apa saja sesuai yang diinginkannya. Dengan semua keputusan dan resiko yang akan ditanggungnya sendiri.
"Baiklah. Papa tidak akan pernah ikut campur dalam urusanmu, bersama dengan Gavino dan juga Bianca. Tapi Papa berharap, agar Kamu tidak menyesali keputusanmu suatu hari nanti."
Gress segera mengangguk cepat, mengiyakan perkataan papanya.
"Baik Pa. Gress akan menanggung segala sesuatunya, yang menjadi resiko untuk Gress nantinya."
Setelah mendengar pernyataan yang diucapkan oleh anaknya, Thomas Bryan pergi tanpa pamit lagi, dengan sejuta rasa kecewa yang dirasakannya.
"Ternyata rasanya seperti ini, jika kita dalam keadaan kecewa." Thomas Bryan bergumam sendiri, merasakan kekecewaan di dalam hatinya. Karena keputusan yang sudah diambil oleh Gress tadi.
Tapi kenyataannya, sebelum dia benar-benar pergi dari rumah sakit, Thomas Bryan memberikan tugas pada anak buahnya melalui panggilan telpon.
..."Tetap awasi Nona! Aku tidak mau jika terjadi sesuatu padanya." ...
..."Siap Tuan Besar!"...
..."Tapi ingat! Lakukan serapi mungkin, supaya dia tidak merasa curiga jika sedang diawasi. Apa Kamu mengerti?" ...
..."Siap Tuan! Tentu saja Saya mengerti." ...
__ADS_1
..."Baguslah. Lakukan sekarang juga! Aku sudah pergi dari sana, dan terserah Kamu mau mengawasi dengan cara yang seperti apa." ...
..."Baik Tuan Besar. Anda tenang saja!" ...
Klik!
Thomas Bryan menutup panggilan telpon tersebut, setelah mendengar anak buahnya menyanggupi tugas yang diberikannya.
*****
Di rumah sakit tempat Bianca di rawat.
Bianca sudah diperbolehkan pulang, dan saat ini dijemput oleh Dante. Dengan dikawal oleh Lorenzo, bersama dengan dua temannya yang lain. Yang sama-sama mengelola bengkelnya Gavino.
"Apa Kamu sudah siap Bi?" tanya Dante, pada sepupunya yang baru saja sembuh.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya saja, tapi tidak menatap ke arah Dante. Dia justru selalu memandang ke arah pintu kamar, berharap dengan kedatangan Gavino.
"Kamu menunggu Gavino? Tapi dia tidak akan datang Bi." Dante memberitahu Bianca, jika Gavino tidak bisa menemuinya saat ini.
"Kenapa, dan kemana dia Dante?"
Bianca mendesak sepupunya itu, untuk memberitahukan keberadaan Gavino saat ini. Sebab kekasihnya itu sudah tiga hari terakhir ini tidak datang menemuinya. Bahkan memberikan kabar juga tidak.
"Dia ada urusan yang sangat penting. Tapi dia sudah meminta ku untuk menjagamu."
Dante terpaksa membohongi Bianca, supaya sepupunya itu tidak kecewa. Dengan mengharapkan kedatangan Gavino yang tidak berkabar.
Sebenarnya Dante dan Lorenzo sudah meminta bantuan pada anak buahnya Gavino sendiri, untuk mencari keberadaan bos-nya.
Sayangnya hingga saat ini anak buahnya Gavino belum memberikan laporannya, terkait tugasnya untuk mencari keberadaan Gavino.
Dante mengusap wajahnya kasar, karena ingat dengan Gavino.
"Apa dia juga tidak bisa dihubungi?" Bianca bertanya lagi, karena rasa penasaran yang dia miliki. Mengenai alasan yang dibuat oleh Dante untuknya.
"Aku sudah berusaha untuk menghubunginya beberapa kali. Tapi kenyataannya dia tidak bisa menerima panggilan telpon ku. Bahkan sat ini ponselnya sedang dalam keadaan tidak aktif."
Bianca akhirnya menyerah, dan mengikuti arahan dan keinginan sepupunya. Untuk membawanya pulang ke rumahnya sendiri, setelah pulang dari rumah sakit.
"Kita pulang ke rumahku. Aku akan memberikan pesan pada Gavino, dengan memberikan kabar bahwa Kamu sudah pulang ke rumahku. Agar dia bisa langsung datang ke rumah, begitu selesai membaca pesan tersebut."
Bianca akhirnya mengangguk setuju, dengan rencana yang dibuat oleh Dante.
__ADS_1
"Terima kasih Dante, sebab Kamu sudah mau mengerti keadaanku." Bianca mengucapkan terima kasih kepada sepupunya, yang sudah banyak membantunya selama ini.