Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Berpikir Panjang


__ADS_3

"Habis dari sini kita ke mana ini?" Jeffry bertanya pada temannya yang lain, yang saat ini sedang beristirahat di pinggir lapangan stadion.


"Kita cari makan yuk!" ajak Cardi mengusulkan.


"Makan di mana?" tanya Dante, yang baru saja selesai meneguk minumannya.


Masing-masing membawa botol minum sendiri, untuk bekal mereka berolah raga pagi ini. Tapi untuk makanan, mereka memang tidak ada yang membawa dari rumah.


"Mana aja yang asyik. Kesempatan untuk kita kayak gini nih, langka tau gak?" Cardi menyahuti pertanyaan yang diajukan oleh Dante.


Dia tidak mau langsung pulang, begitu selesai berolah raga pagi ini. Harus ada kegiatan lain, yang bisa membuat mereka tidak harus cepat pulang ke rumah.


"Aku gak bisa. Aku ada acara keluarga rak lama lagi," kesah Lorenzo, yang tidak bisa ikut serta. Jika mereka ada acara lainnya setelah berolah raga.


"Eh, tapi kan kita barengan Lorenzo. Kamu pulangnya bagiamana?" tanya Dante, yang merasa tidak enak hati. Jika membiarkan Lorenzo pulang sendiri.


"Tak apa. Aku bisa pulang naik taksi atau minta jemput kakakku."


Teman-teman yang lain, memang tidak ada yang tahu. Jika Lorenz sudah punya mobil sendiri. Hadiah dari seseorang yang masih misterius baginya. juga untuk keluarga. Karena mereka sekeluarga, memang tidak tahu. Siapa yang sudah mengirimkan mobil tersebut untuk Lorenzo.


Awalnya, Lorenzo menebak jika mobil itu adalah kiriman dari Gavino.


Tapi ternyata, Gavino terus mengatakan jika itu bukan kiriman darinya. Sehingga Lorenzo mulai tidak memintanya untuk mengakui lagi.


"Sudahlah. Pakai aja itu mobilnya. Toh di suara-suara mobil juga atas nama Kamu sendiri sebagai pemiliknya."


Begitulah kira-kira perkataan dari Gavino, pada saat Lorenz masih merasa penasaran dan terus mendesaknya. Untuk memberitahu, siapa orang yang sudah memberinya mobil.


"Kamu yakin gak mau ikut dan pulang sendiri?" tanya Dante menyakinkan dirinya sendiri, dengan keputusan Lorenzo.


"Iya. Sorry ya!"


Lorenzo sebenarnya merasa tidak enak hati juga. Karena pergi dan meninggalkan mereka tanpa dirinya. Tapi acara keluarganya, juga tidak bisa dia abaikan begitu saja.


Dia bukan dari kalangan orang-orang kaya dan berada. Keseharian kedua orang tuanya, dan juga kakaknya adalah bekerja. Agar bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Sehingga mereka juga tidak bisa berkumpul secara utuh, dalam suasana yang nyaman.


Dan kini, di saat mereka ada mobil yang lebih bagus. Mereka berencana untuk pergi bersama. Menghabiskan waktu liburan untuk bisa berkumpul.


Tapi karena Lorenzo sudah terlanjur ada janji bersama dengan temannya, akhirnya acara mereka ditunda agak siang.


Itulah sebabnya, Lorenzo jadi tidak bisa ikut serta dalam rencana teman-temannya. Yang ingin mencari makan bersama, setelah berolah raga.

__ADS_1


"Aku hubungi kakakku dulu, jika tidak bisa, Aku baik taksi aja pulangnya."


Gavino melihat ke arah teman-temannya yang lain. Dua ingin tahu, bagaimana perasaan mereka semua saat ini. Melihat Lorenzo yang sudah mempertaruhkan waktunya, untuk ikut berolah raga pagi ini.


Padahal dia ada rencana kegiatan untuk keluarganya juga.


"Kita gak jadi pergi makan. Pulang saja ya?" Tiba-tiba, Cardi mengatakan apa yang dia pikirkan dengan matang.


Tadi, rencana untuk acara pergi makan adalah usulannya. Tapi ternyata mereka tidak bisa pergi bersama-sama. Itu menjadi kejanggalan, karena tidak lengkap lagi.


Itulah sebabnya, sekarang dia meminta pada yang lain juga. Untuk membatalkan rencana mereka yang tadi.


"Yakin gak jadi?" tanya Dante memastikan.


"Iya," jawab Cardi pendek.


Jeffry tidak bersuara. Dia hanya ikut saja, apa yang akhirnya akan dilakukan oleh mereka semua.


Begitu juga dengan Gavino, yang hanya bisa melihat situasi. Karena sebenarnya, dia juga diminta untuk segera pulang, jika sudah siang.


Tadi mamanya memberikan pesan kepadanya. Agar bisa makan siang di rumah.


Dia merasa jika semua karena dirinya. Yang tidak bisa mengikuti rencana mereka tadi.


Pluk!


Cardi menepuk pundak Lorenzo sambil berkata, "Kita gak apa-apa Lorenzo. Kita semua ada keluarga juga. Yang bisa jadi ingin kita ada di rumah juga kan!"


"Jarang-jarang kita ada di rumah bersama papa dan mama kita. Secara, sekolah Mita itu dari pagi hingga sore."


Akhirnya, mereka semua sepakat untuk pulang ke rumah. Karena matahari pagi, sudah semakin tinggi. Tanda jika hari sudah semakin siang.


*****


Dalam perjalanan pulang ke rumah Cardi.


"Gavin. Kamu ada rencana ke mana setelah lulus sekolah kita ini?" tanya Cardi, dengan rencana masa depan Gavino.


"Entahlah. Aku hanya ingin lulus dan bisa kuliah di universitas yang Aku impikan. Kalau Kamu sendiri bagaimana?"jawab Gavino, sambil bertanya balik pada Cardi.


"Ah... entahlah. Aku juga bingung ini," kesah Cardi dengan wajah cemas.

__ADS_1


Kening Gavino mengernyit heran, mendengar jawaban yang diberikan oleh Cardi barusan. Sepertinya ada yang tidak beres dengan jawaban temannya itu.


"Maksud Kamu?" tanya Gavino pada akhirnya.


"Aku... ahhh, ini keinginan kakekku yang Diah pensiun dari kemiliteran negara. Masa iya, Aku diminta untuk ikut wajib militer. Biar bisa seperti dirinya di masa mudanya dulu."


Cardi tampak tidak senang, saat menceritakan tentang keinginan kakeknya.


"Kenapa, bukannya itu bagus juga?" tanya Gavino lagi.


"Aku tidak suka di kekang Gavino. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana kehidupan seorang militer yang banyak aturannya!"


Suara Cardi meninggi. Dia kesal dengan sikap kakeknya yang memaksa papanya, untuk menyetujui permintaan tersebut. Hal yang tidak disukai oleh Cardi secara pribadi. Karena kakeknya terkesan kaku.


Begitulah kira-kira penilaian Cardi, terhadap kakeknya yang mantan seorang prajurit.


"Kamu pasti menjadi kebanggaan tersendiri bagi kakek dan ke-dua orang tuamu Cardi. Mungkin cara mereka saja yang tidak Kamu sukai."


"Tapi bisa jadi, itu adalah jalan yang baik. Untuk bisa membuat merasa merasa bahagia dan bangga dengan keberhasilan yang kanan Kamu raih di kemudian hari."


Cardi hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Gavino padanya.


Tak terasa, mereka berdua sudah tiba di rumah Cardi.


"Grazie Gavin."


"Terima kasih untuk olah raga pagi ini, dan satu lagi. Aku terkesan dengan ucapan mu tadi, tentang kebanggaan kakek dan kedua orang tuaku."


"Aku akan memikirkannya nanti."


Setelah berkata demikian, Cardi membuka pintu mobil. Kemudian keluar dan kembali menutup pintunya.


"Selalu lagi grazie Gavin."


"Terima kasih untuk pemikiran yang sudah Kamu katakan. Itu membuka pikiranku juga."


Gavino hanya mengangguk saja, kemudian kembali melajukan mobilnya. Untuk kembali pulang ke rumah.


Papa dan juga mamanya, sudah menunggu dirinya di rumah. Karena mereka akan menghabiskan waktu bersama, saat hari libur seperti sekarang ini.


Hal yang sekarang ini jarang bisa mereka lakukan. Karena kesibukan mereka sudah tidak lagi sama seperti dulu lagi.

__ADS_1


__ADS_2