
Tiba di rumah, Gavino langsung masuk ke dalam kamarnya, tanpa mencari George ataupun Robert.
Dia ingin segera mandi, kemudian berangkat ke kampus. Karena dia sudah membuat janji temu dengan Gress di kampus, sekitar jam dua belas siang.
Dan sekarang ini, jam sudah menunjuk pada angka sepuluh pagi.
Gavino memang pulang dari flat Gress jam sembilang tadi. Jadi, waktunya memang tidak banyak. Sedangkan kegiatannya di kampus, akan dimulai jam setengah satu siang.
Tadinya, Gavino ingin menjemput Gress terlebih dahulu. Tapi Gress menolaknya. Karena itu akan menghabiskan waktu mereka, sehingga mereka berdua bisa terlambat untuk datang ke kampus.
Sesuai dengan rencana mereka berdua, sepulangnya dari kegiatan yang dilakukan di kampus, gavino akan mengantar Gress ke kios. Di mana nantinya Gress akan menghabiskan waktu liburannya dengan bekerja di kios tersebut.
Kios pertama kali yang dimilki oleh Giordano dan Mirele. Papa dan mamanya Gavino sendiri. Tapi tentunya Gavino tidak mengatakan pada Gress, jika kios tersebut adalah miliknya.
Dia hanya mengatakan bahwa, kios tersebut milik majikan pamannya. Yang bekerja di kantor warabala milik pengusaha, yang memiliki kios itu juga.
Gavino tidak ingin identitas dirinya diketahui oleh Gress secara pasti. Karena dia tidak mau, jika Gress akan menjauhinya.
Atau bisa juga, Gress semakin menempel dengannya, karena tahu jika dia bukan anak orang biasa.
Meskipun sekarang Gress adalah gadisnya, tapi dia tidak mau jika ada sesuatu yang membuat hubungan mereka tidak terjalin secara alami. Bukan karena mengharapkan sesuatu yang ada pada dirinya.
'Jika Gress memang mencintai diriku, dia pasti mau menerimaku sebagai laki-laki, dalam keadaan apapun itu. Bukan karena Aku adalah pemilik kios, ataupun warabala Giordano dan Mirele.'
Begitulah kira-kira pemikiran Gavino, yang ingin menguji sejauh mana perasan Gress kepadanya selama ini.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, Gavino keluar dari dalam kamar. Dia berjalan menuju ke arah meja makan, karena sudah merasa lapar lagi. Sebab, sebenarnya tadi dia sudah sarapan di tempatnya Gress. Tapi tenaga yang dia keluarkan untuk kegiatannya bersama Gress juga banyak, sehingga membuatnya merasa lapar dengan cepat.
"Tuan Muda mau sarapan?" tanya maid, dengan meletakkan segelas jus buah di meja makan, tepat di depan Gavino.
"Ya. Aku mau makan."
Dengan cekatan, maid menyiapkan makanan yang Gavino. Meskipun sebenarnya makanan yang disediakan, ada di depan Gavino juga.
Tapi maid melayani tuan muda nya itu dengan baik. Karena itu memang sudah menjadi tugasnya sehari-hari. Kecuali jika Gavino sedang tidak mau dilayani.
Kadang kala, Gavino juga bersikap dewasa dan mandiri. Sehingga mau menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.
Tapi jika sedang malas atau bersikap dingin seperti pagi ini, maid juga paham. Jika Tuan muda nya ingin dilayani di meja makan.
"Apa George dan Robert pergi pagi-pagi sekali?" tanya Gavino, setelah maid selesai menyiapkan makanan untuknya.
"Ya Tuan Muda."
"Sama-sama, atau pergi sendiri-sendiri?"
Gavino mengajukan pertanyaan lagi. Sebab, George dan Robert memang punya dua kebiasaan.
Jika berangkat ke kantor secara bersamaan, itu artinya George dan Robert tidak ada kepentingan di luar pekerjaan. Alias kepentingan pribadi.
__ADS_1
Tapi jika keduanya pergi sendiri-sendiri, dengan mengunakan mobil masing-masing. Bisa dipastikan jika George akan ada keperluan lainnya, yang tidak boleh diganggu oleh Robert. Misalnya saja, George pergi ke rumah pacarnya, atau wanita-wanita yang lainnya. Yang memang dekat dengan George.
Dan Robert juga tidak mempermasalahkan soal itu. Dia sangat tahu, bagaimana kebiasaan dan perilaku George. Padahal keduanya belum lama saling mengenal satu sama lainya. Tapi ternyata mereka berdua cocok menjadi partner.
"Mereka pergi sendiri-sendiri Tuan Muda. Tapi tadi Robert sempat berpesan, jika Tuan Muda di minta menghubunginya terlebih dahulu, sebelum pergi ke kios."
"Ya, baiklah. Terima kasih."
Setelahnya, maid pergi ke dapur. Membiarkan Tuan Muda nya itu menghabiskan makanan yang tadi dia ambilkan.
Gavino sedang makan, sambil mengaktifkan sistem mafia miliknya.
( Ting )
'Aku mau cek in harian. '
( Ting )
( Cek in harian selesai )
'Aku akan mengurus semua urusan Gress, yang akan pergi ke kios. Apakah aman untuk melakukan pekerjaan itu nantinya?'
( Ting )
( Good Father ingat, tidak ada informasi terkait perasaan yang ada di hati )
( Ting )
( Kegiatan yang Good Father lakukan karena gadis itu ada di dalam hati Good Father )
'Maksudnya... Aku tidak bisa mencari informasi apapun tentang orang-orang yang ada kaitannya dengan perasaan hati?'
( Ting )
( Benar Good Father )
'Hemmm... baiklah. Aku tidak jadi ambil misi tantangan hari ini.'
( Poin dari kekayaan Anda bisa berkurang Good Father )
'Apa? Bagaimana bisa itu terjadi?'
( Ting )
( Poin kekayaan berkurang 100 poin )
( Ting )
'Hahhh? Aku lupa aturannya.'
__ADS_1
Prannkk!
Gavino membanting sendok makan yang dia pegang ke sembarang arah, hingga mengenai sandaran kursi yang ada di depannya.
"Tuan Muda. Tuan Muda tidak apa-apa? apa makanannya tidak enak?" tanya maid tergopoh-gopoh.
Dia merasa takut jika, hasil masakannya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuan muda nya itu.
Dia merasa jika dia sudah menyiapkan makanan yang biasanya. Dan sikap ibu belum pernah dia temui sebelumnya. Karena Gavino selalu ramah, meskipun terkadang juga terlihat dingin dan datar.
Maid masih menundukkan kepalanya, menunggu kata-kata yang akan diucapkan oleh Gavino. Sebab dia juga tidak tahu, apa yang menjadi penyebab kemarahan Tuan mudanya, Gavino.
Kepala maid datang dengan tergesa-gesa, kemudian melihat anak buahnya menundukkan kepalanya di dekat Gavino.
"Maaf Tuan Muda. Jika kurang enak, biar Saya minta pada maid yang lainnya untuk masak."
Suara kepala maid terasa bergetar. Dia tentu merasa takut juga, sebab, ini adalah kali pertama Gavino terlihat marah.
Dia berpikir bahwa, Gavino tidak menyukai makanan untuk lagi ini.
"Tidak perlu. Aku tidak mempermasalahkan soal makanan."
Maid yang memasak menghela nafas lega. Sedangkan kepala maid juga melakukan hal yang sama seperti anak buahnya itu.
"Terima kasih Tuan Muda."
Keduanya mengucapkan terima kasih kepada Gavino, karena ternyata sikapnya itu bukan karena makanan yang ada di atas meja makan.
Sekarang, Gavino beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mengangkat tangannya, memberikan sebuah kode, pada kedua maid nya itu, agar mengabaikan kejadian barusan.
Kedua maid tersebut akhirnya paham, dengan menganggukkan kepalanya, mengiyakan dan rasa hormat juga pada Tuan muda nya itu.
Kini Gavino sudah ada di dalam mobil. Tapi dia tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya. Dia ingin menghubungi George terlebih dahulu, sebelum kedatangannya ke kios nanti siang sepulang dari kampus bersama dengan Gress juga.
Tut tut tut!
Tut tut tut !
Gavino menunggu panggilannya tersambung. Tapi hingga saat panggilan telpon nya habis masa tunggu, tidak ada yang menjawab panggilan telponnya.
Kini dia ganti menghubungi ponsel Robert.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Ternyata Robert juga tidak menjawab panggilan telpon darinya.
Entah ke mana mereka berdua?
__ADS_1