
Di markas besar, seorang laki-laki muda yang baru saja dimasukkan ke dalam sebuah ruangan khusus, tidak bisa melihat apapun.
Kedua matanya, ditutup dapat dengan kain hitam. Sedangkan ketua tangan dan kakinya, juga diikat dengan kuat. Sehingga dia tidak bisa melakukan apapun untuk melawan.
Dia tidak tahu, siapa orang yang sudah melakukan ini kepadanya. Karena dia sendiri, tidak menyadari penangkapan yang dilakukan terhadap dirinya, sewaktu berada di jalan saat keluar dari bandara.
Saat itu, sebenarnya dia sudah lolos dari pantauan keamanan yang ada di bandara. Sebab dia menggunakan identitas palsu dan juga make up wajah yang berbeda dari wajah aslinya yang sebelumnya.
Dia juga menggunakan wajah anak buahnya, supaya di make up sama seperti wajahnya yang sekarang. Untuk mengelabui orang-orang tertentu yang sedang memburunya.
Sayangnya, usaha yang dilakukan tersebut gagal total. Karena ternyata, pihak yang sedang memburunya masih bisa menemukan dirinya di luar bandara. Dan beberapa anak buahnya yang ikut mengawalnya, tewas mengenaskan di tangan orang-orang tersebut.
Dia tidak tahu, pihak anggota mana, yang sekarang ini menahannya.
Clek!
Pintu ruangan gelap yang ditempati terbuka, kemudian denger suara orang yang memerintah. "Buka penutup matanya!"
"Emmm..."
Pada saat matanya sudah dibuka, dia mengenali siapa orang yang memberikan perintah tersebut. Dan dia sangat mengenali, siapa laki-laki muda yang ada di depannya saat ini.
"Apa kabar Alano?" tanya Gavino dengan tatapan mata prihatin. Sebab, laki-laki muda yang saat ini sedang dalam tahanannya adalah Alano. Kekasihnya Bianca.
Tapi sapaan mantan teman sekolahnya itu, membuatnya menatap tajam, karena dia tidak pernah percaya, bahwa Gavino mampu melakukan semua ini padanya.
Gavino tersenyum tipis, melihat bagaimana keadaan Alano yang ada didepannya saat ini. Karena Alano, tidak bisa melakukan apa-apa, sebab sedang menjadi tahanannya.
"Buka mulutnya!"
Gavino kembali memberikan instruksi kepada anak buahnya, untuk membuka penutup, yang digunakan untuk mulut Alano.
"Hai Gavino! Aku tidak pernah menyangka, Kamu bisa melakukan hal seperti ini. dasar pecundang!" Alano justru memaki Gavino.
"Hahaha... lalu, apa yang Kamu lakukan beberapa tahun kemarin?" tanya Gavino, mengingatkan kembali pada Alano, tentang kejadian beberapa tahun yang lalu. Di saat mereka masih sama-sama satu sekolah.
__ADS_1
Waktu itu, Alano menyiksanya dengan menggeroyok, bersama teman-teman satu geng nya.
Alano juga menjebaknya, dengan cara menculik Bianca. Gadis manis yang dekat dengannya, dan ternyata disukai oleh Alano sendiri.
"Cihhh! Itu adalah masa lalu. Di mana emosi kita masih sangat tidak stabil. Tapi, bukannya sekarang ini situasinya berbeda? kita sudah bukan lagi anak-anak sekolah!"
Ternyata Alano sedang melakukan negosiasi secara emosional, terhadap Gavino. Yang dianggap tidak seberapa dibandingkan dirinya sendiri.
Dia merasa sudah sangat berpengalaman di dunia mafia ini. Jadi Gavino tidaklah ada apa-apanya, dibandingkan dirinya yang sudah punya banyak pengalaman.
Alano tidak tahu jika, Gavino justru melebihi dirinya. Karena sebenarnya, Gavino ada di atasnya king Black sendiri. Mantan atasannya Alano sendiri, sewaktu dia masih sekolah dan ada di kota Roma ini.
Dulu, Alano hanyalah ketua geng sekolahnya, yang ada di bawah asuhan salah satu anak buahnya king Black.
"Jika Aku hanya pecundang dan masih ada di bawah mu, apakah sekarang Kamu bisa lepas dari sini?" tantang Gavino pada Alano.
"Hahaha... Kamu pikir, Aku bisa dengan mudah Kamu kalahkan? Sekali klik, Aku bisa memanggil orang-orang yang akan memberikan pelajaran kepadamu!"
"Oh ya?" tanya Gavino pura-pura kaget dan takut. Supaya Alano merasa diatas angin.
Dia berpikir bahwa, king Black datang untuk menolongnya. Karena dia merasa yakin jika, Gavino ini tidak bekerja sama dengan king Black, dan akan kalah dengan seorang mafia hebat dan nomor satu di kota Roma ini.
"Maaf Tuan Muda."
Tapi ternyata dugaannya salah.
Alano terbelalak tidak percaya, di saat mendengar sapaan king Black pada Gavino. Sebab, king Black justru mengapa kau vino dengan sebutan Tuan Muda.
"Maaf king Black. Anda menyebutkan Gavino sebagai apa?" tanya Alano cepat.
Dia ingin mendapatkan kejelasan dari mantan atasannya itu.
Tadinya dia berpikir bahwa, king Black datang karena mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya. Yang tadi bisa lolos dari anak buahnya Gavino.
Alano benar-benar tidak tahu bahwa, king Black datang ke tempat ini karena memang atas perintah dari Gavino sendiri.
__ADS_1
"Alano. Gavino ini adalah atasanku yang sebenarnya. Dia adalah Tuan Muda kami."
King Black sendiri menjelaskan kepada Alano, siapa sebenarnya Gavino di matanya, dan juga anggota mafia yang dipimpin.
Dan tentu saja, Alano tidak percaya dengan mudahnya. Karena selama dia mengenal king Black, sekalipun dia tidak pernah mendengar king Black menyebutkan tuan Muda. Sebagai atasannya yang lebih tinggi kedudukannya, selain king Black sendiri.
"Hehhh, Aku pikir ini hanya gurauan Kamu saja king Black. Apakah ini adalah salah satu penyambutan yang lain daripada yang lain?"
Alano justru berpikir bahwa, semua ini adalah rencana king Black. Untuk menyambut kedatangannya kembali ke kota ini. Karena setelah pindah ke luar negeri, dia memang tidak pernah bertemu dengan king Black lagi.
"Hhh... bereskan saja dia Tuan Muda. Sepertinya, dia terlalu banyak bicara!"
Sekarang, Alano membelalakkan matanya, karena mendengar perkataan king Black, yang ditujukan untuk Gavino.
"Aku juga tidak mau melihatnya lagi. Apalagi, dia sudah memberikan ketidaknyamanan untuk salah satu gadis, yang dulu pernah deket denganku. Padahal katanya, dia mencintai gadis tersebut."
Kening king Black mengeryit heran, mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Gavino sekarang.
Dan untuk Alano sendiri, akhirnya dia mulai percaya. Jika Gavino memang orang yang sangat berpengaruh, untuk kelompok yang diketuai oleh king Black.
"Apa Tuan Muda ingin dia secepatnya mati?" tanya king Black lagi, agar bisa melakukan tindakan secepatnya.
"Terserah Kamu saja. Aku mau mengotori tanganku dengan darahnya."
King Black tersenyum mendengar perkataan Gavino. Karena selama ini, Gavino memang tidak pernah melakukan pembunuhan secara langsung. Dari tangannya sendiri. Sama seperti yang pernah diperintahkan untuk bus pemilik laboratorium abal-abal yang kemarin.
"Tidak. Tidak Gavin, jangan bunuh Aku. Aku tidak akan menyakitimu, dan juga Bianca lagi. Ini semua pasti ada hubungannya dengan Bianca bukan?" tolak Alano dengan berteriak. Karena dia menyimpulkan bahwa, keputusan yang diberikan oleh Gavino saat ini, ada hubungannya dengan Bianca. Kekasihnya yang melarikan diri darinya kemarin.
"Bereskan! Aku tidak mau melihatnya lagi."
Setelah memberikan instruksi, Gavino segera pergi dari ruangan tersebut.
"Gavin! Tunggu Gavin!"
Teriak Alano, tidak dipedulikan oleh Gavino. Dia tidak mau, melihat Alano yang kesakitan, karena disiksa oleh anak buahnya king Black terlebih dahulu, sebelum akhirnya dihabisi juga.
__ADS_1