
Pada waktu istirahat sekolah.
...Aku tunggu Kamu sepulang sekolah, di gang Mixed. Awas jika tidak datang. Itu artinya Kamu memang seorang pecundang!...
Pesan yang baru saja diterima oleh Gavino ini, membuatnya meringis sambil mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tahu, siapa orang yang ada di balik semua pesan-pesan yang dia terima dari tadi pagi.
'Piere, ke mana dia sekarang?'
'Gak kapok-kapok juga dia.'
Semua itu memang ulahnya Piere. Salah satu temannya Alano, yang masih bersikap seperti biasanya. Membenci Gavino.
Piere menghasut ketua-ketua kelompok geng lain, agar membenci Gavino. Menyebarkan informasi yang salah, dengan berbagai karangan cerita kosong.
Termasuk dua pemuda yang kemarin malam terpelosok ke selokan.
Mereka juga salah satu geng yang menjadi sasaran, untuk ikut dengannya membenci Gavino.
Karena dia adalah orang lama Alano, dan memang pernah satu sekolah dengan Gavino juga. Tentunya dia banyak tahu tentang Gavino dan teman-temannya juga.
Itulah sebabnya, target tidak hanya Gavino saja. Tapi juga adu domba sesama teman Gavino.
( Ting )
( Sistem mafia diaktifkan )
'Aku ingin membuat handphone milik Piere, yang digunakan untuk keperluan pesan-pesan misteriusnya rusak.'
( Ting )
( Musnahkan atau rusak saja )
'Rusak sajalah. Biar gak terlalu extrim.'
1%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
( Ting )
( Proses selesai )
'Sistem informasi aktif.'
( Ting )
( Sistem informasi diaktifkan )
1%
15%
30%
45%
55%
65%
75%
85%
__ADS_1
95%
100%
( Ting )
( Informasi didapatkan )
Di layar virtual transparan yang hanya bisa dilihat oleh Gavino, memberikan penampakan Piere yang sedang memaki-maki. Karena handphone miliknya henk. Tidak bisa digunakan lagi.
"Danneggiato!"
"Rusak sia_lllan..."
"Shittt!"
Begitulah makian Piere yang diketahui oleh Gavino lewat layar sistem miliknya.
Dia hanya tersenyum tipis, tanpa berkata-kata lagi. Karena saat ini, dia sedang ada di perpustakaan sekolah. Dengan membaca sebuah buku.
Jadi, tidak ada yang tahu. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Gavino barusan.
"Vin, balik yuk!"
Bianca yang sudah menemukan buku yang dicari, mengajak Gavino kembali ke kelas.
"Iya," jawab Gavino pendek.
Sekarang, mereka berdua kembali ke kelasnya. Karena waktu jam istirahat juga akan segera berakhir.
*****
Di tempat lain.
"Letta. Kamu ke mana saja sih! gak peduli dengan kita-kita!"
Verdi, salah satu temannya Alano, yang sekarang juga pindah sekolah ke tempat lain, bertemu dengan Violetta.
Violetta adalah teman Madalena juga. Tapi pekerjaan modelingnya menuntutnya untuk pergi dan berkeliling untuk acara fashion show, di beberapa kota bahkan ke negara tetangga, membuatnya jarang terlihat.
Jadi, dia tidak banyak mengikuti kegiatan Alano bersama dengan geng nya juga.
Dia juga tidak begitu mengenal Gavino. Hanya tahu sebatas cerita dari teman-temannya saja. Yang selama ini menceritakan tentang seseorang yang sudah mengalahkan mereka.
Bagi Violetta yang berkerja sebagai seorang seorang model, tentunya memiliki banyak uang. Tanpa harus memintanya pada papa atau mamanya.
"Aku kan baru saja datang dari Perancis. Di sana memang lumayan lama. Jadi, apa yang Aku lewatkan di sini?"
Pertanyaan Violetta ini, justru membuat Verdi kesal. Karena menganggap bahwa, Violetta memang tidak pernah peduli dengan keadaan mereka. Teman-temannya sendiri.
"Tidak usah cemberut. Aku tahu, Kamu membutuhkan uang untuk pergerakan kalian juga kan?" tanya Violetta seperti biasanya.
"Hah! Kamu selalu tahu apa yang kami perlukan."
"Hehehe... emang benar kan?" tanya Violetta, yang tidak memerlukan sebuah jawaban.
"Butuh berapa?" tanya Violetta lagi, memberikan tawaran.
"Heh! Kamu bertanya atau memberikan tantangan?" Piere merasa jika, Violetta hanya mengerjai dirinya saja.
"Aku tidak sedang bercanda. Tapi jika Kamu tidak mau ya..."
"Ya-ya ok. Aku butuh sepuluh ribu euro."
Akhirnya Piere tidak mau membuang waktu lagi, untuk mengatakan apa yang dia butuhkan. Karena jika tidak, Violetta akan berubah pikiran dengan cepat.
"Cihhh! Begitu lebih cepat, gak perlu berbelit-belit," cicit Violetta dengan mencibir.
Tapi Verdi tidak peduli. Dia hanya perlu uang yang ditransfer Violetta. Karena dia memang salah satu penyumbang dana untuk kegiatan geng nya.
*****
Semakin lama, sistem yang dimiliki oleh Gavino semakin mudah untuk dioperasikan. Karena Gavino bisa melakukan komunikasi dengan sistem kapan pun dia butuh.
Dia juga bisa menambah poin demi poin, yang mengubah level sistem yang ada.
Seperti sore ini, di saat pulang sekolah.
Tiba-tiba, alarm bahaya memberikan peringatan padanya. Melalui sistem.
( Ting )
__ADS_1
( Di depan ada pengacau good father )
'Hah pengacau, siapa mereka?'
( Verdi dan kawan-kawannya )
'Lakukan pemblokiran jalan, supaya tidak ada kendaraan yang lewat dan menjadi korban mereka.'
( Ting... Perintah dilaksanakan )
1%
10%
20%
30%
40%
50%
60%
70%
80%
90%
100%
( Pemblokiran selesai )
'Harus ada yang memenangi kekacauan di sana. Berikan laporan pada pihak kepolisian.'
( Ting... Memberikan laporan pada polisi )
1%
10%
30%
50%
65%
75%
85%
100%
( Ting... laporan terkirim )
'Ya sudah. Biarkan polisi yang menangani.'
Akhirnya, Gavino membelokkan arah laju mobilnya. Untuk mencari jalan lain yang akan dia lalui. Karena rumahnya, masih setengah jalan lagi.
"Verdi kenapa bikin ulah lagi ya? di jalanan lagi. Apa dia sengaja melakukan semua ini, karena dia tahu bahwa, jalan ini menuju ke rumahku?" gumam Gavino, bertanya pada diri sendiri.
Padahal sejak Alano pergi ke kota lain, Verdi dan kawan-kawannya sudah tidak lagi berurusan dengan Gavino.
Jika ada, itu juga menggunakan tangan orang lain. Alias sebagai alat saja.
"Apa mereka mau balas dendam?" tanya Gavino lagi, memikirkan kemungkinan yang terjadi pada kawanan Alano.
"Jika iya, Aku juga tidak peduli. Biarkan saja mereka merasa puas. Toh seandainya mereka mau macam-macam juga, tak pernah kesampaian karena ada sistem yang memberikan peringatan.
Tak lama kemudian, Gavino tiba di rumah. Dia keluar dari dalam mobil, kemudian segera masuk ke dalam.
Giordano dan Mirele, baru saja keluar dari dalam kamar.
"Sudah pulang Pa, Ma" tanya Gavino, pada kedua orang tuanya. Yang saat ini semakin sibuk dengan bisnis kios dan warabala miliknya.
"Iya Gavin. Kami sengaja pulang sore. Karena kios dan office untuk usaha kita sedang dalam proses. Tak lama lagi akan selesai."
"Kamu harap, tidak ada seminggu lagi bisa diresmikan."
papanya, Giordano, memberikan penjelasan kepada Gavino. Jika usahanya sudah pada titik yang hampir selesai. Sudah 85% saja, kemudian tinggal di resmikan nantinya.
__ADS_1
"Kamu harus kosongkan jadwal untuk seminggu ke depan. Karena peresmian juga akan dilakukan pada minggu-minggu ini"
Mirele mendukung perkataan suaminya itu, dengan meminta pada anaknya supaya menyiapkan diri. Untuk pembukaan usaha mereka, yang akan segera diresmikan. Tak lama lagi.