
Pertemuan Gavino dan Lorenzo, ternyata berlanjut hingga siang hari. Sehingga mereka berdua memutuskan untuk pergi makan siang terlebih dahulu.
Dan kebetulan, di tempat makan, mereka justru bertemu dengan Dante.
"Hai... Gavin, Lorenzo!" panggil Dante dengan melambaikan tangannya.
"Eh, Dante!"
Gavino dan Lorenzo, juga melakukan hal yang sama. Melambaikan tangan ke arah Dante, yang sedang duduk bersama dengan tiga teman ceweknya.
Mungkin mereka sedang ada acara, sehingga makan bersama siang ini.
Gavino dan Lorenzo pun, akhirnya berjalan menuju ke tempat Dante berada. Dan setelah ada di dekat tempat duduknya Dante, mereka saling berpelukan ala cowok.
"Apa kabar Kamu Gavin, Lorenzo?" tanya Dante, pada kedua temannya itu.
Akhirnya mereka pun ikut bergabung bersama dengan Dante dan teman-teman ceweknya itu. Sambil berbincang-bincang, setelah saling berkenalan.
"Gavin. Lihat deh! Itu teman-temannya Dante pada merhatiin Kamu," bisik Lorenzo, sambil mendekat ke arah telinga Gavino.
"Itu hanya perasaan Kamu saja."
"Ck! Perhatikan coba!" bisik Lorenzo lagi.
"Udah, biarin aja. Mungkin, mereka justru memperhatikan Kamu yang sedang berbisik-bisik denganku. Mereka pikir... Kamu ada kelainan, atau..."
"Ihsss... gak jelas!" sarkas Lorenzo, memotong kalimat Gavino yang belum selesai. Karena dia tahu, apa maksud dari perkataan Gavino barusan.
Tapi ternyata, apa yang dikatakan orang Lorenzo tadi ada benarnya. Karena mereka bertiga, cewek-cewek temannya Dante, saling lirik dan menatap ke arah Gavino dengan pandangan yang tidak biasa.
Dante yang sadar akan kelakuan teman-temannya, mencebik kesal.
"Heh! Gak usah sok kecentilan ya. Ini temanku gak akan tertarik dengan kalian-kalian!" hardik Dante pada ketiga temannya itu.
"Ihhh Dante apaan sih! Orang si Gavin aja gak apa-apa, ya Gavin?" gerutu satu dari mereka bertiga.
Gavino menjadi tidak enak hati, karena dirinya juga, yang membuat suasana jadi terkesan kacau begini.
"Iya Dante. Kita juga gak ngapa-ngapain kan? Apa salahnya ambil kesempatan untuk melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Ya gak teman-teman?"
"Ya betul!"
"Nah itu!"
"CK dasar kalian!" Dante berdecak kesal, karena kelakuan temannya, yang terkesan norak di depan Gavino.
"Emhhh... sebaiknya Aku pamit dulu. Yuk Zo!" ajak Gavino pada Lorenzo, yang hanya bisa nyengir kuda. Karena merasakan kecanggungan atas keributan kecil ini.
__ADS_1
"Ehhh... tunggu-tunggu!"
"Bentar-bentar!"
"Jangan pergi dulu!"
Ketiga temannya Dante, kompak menahan Gavino. Supaya tidak meninggalkan tempat duduknya saat ini.
Tentu saja ini membuat Gavino heran. Begitu juga dengan Dante dan Lorenzo.
"Gini aja. Kalian kan bertiga. Kita, cewek-cewek, juga bertiga. Bagaimana jika kita atur, supaya pas satu-satu. Jadi gak akan rebutan. Setuju semua?"
Dante menyipitkan matanya, mendengar usulan dari temannya itu.
Begitu juga dengan Gavino dan Lorenzo. Yang saling pandang, di saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh temannya Dante.
Mereka berdua tentu saja tidak habis pikir. Apa maksud dari perkataan tersebut.
"Sebentar-sebentar. Ini mereka teman-teman Kamu dari mana Dante?" tanya Lorenzo, yang mewakili Gavino juga.
Mungkin mereka berdua berpikir bahwa, teman-temannya Dante terlalu berani ambil sikap. Padahal mereka semua baru saja bertemu dan tidak saling kenal sebelumnya.
"Mereka satu kampus dengan ku. Tapi beda fakultas. Ini tadi, mereka juga di sini lebih dulu. Dan kebetulan Aku sendirian. Jadi, dari pada sendiri ya... Aku mau aja di ajak gabung sama mereka."
Sekarang Gavino dan Lorenzo sama-sama mengerti, apa maksud dari perkataan Dante.
Intinya, Dante juga tidak cukup mengenal siapa mereka bertiga. Cewek-cewek itu.
Tapi ketiga cewek itu tetap menahan tangan mereka. Sehingga mereka bertiga juga tidak bisa pergi dengan mudah.
"Gavin!" panggil Lorenzo di tekan.
Saat pendengar panggilan tersebut, dengan isyarat mata yang digunakan oleh Lorenzo, akhirnya Gavino paham. Jika diharuskan menurut saja untuk sementara waktu.
Nanti jika ada kesempatan, mereka akan pergi dari tempat makan ini. Dan juga terhindar dari ketiga cewek itu.
'Ternyata pergaulan Dante payah!' batin Lorenzo, memaki Dante.
'Apa Dante gak ada stok cewek yang cantik dan lebih berkelas? Secara, ini cewek-cewek cuma modal tampang cantik aja. Mungkin, otaknya juga gak beres ini. Mana ada segitunya napsu menahan kita-kita.' Gavino membatin dengan apa yang terjadi padanya sekarang ini.
Sedangkan Dante sendiri menggerutu dalam hati. 'Aghhh... malu banget Aku. Jika seperti ini tingkah temanku. Lalu bagaimana keseharian ku? Pasti Gavino dan Lorenzo juga akan punya pikiran buruk tentangku. Arghhhh... sialll!'
Tapi tidak untuk ketiga cewek tersebut.
Mereka justru merasa senang, karena bisa lebih dekat dengan Gavino. Bahkan mereka juga bertanya soal no handphone dan akun sosial milik Gavino.
"Maaf. Aku gak punya sosial media."
__ADS_1
Terpaksa Gavino harus berbohong. Agar tidak ditanya-tanya lagi.
Tapi apa yang dipikirkan oleh Gavino ternyata salah besar. Karena mereka justru semakin penasaran dengan sosoknya, yang kata mereka misterius.
Apalagi satu diantara mereka, dengan berani memegangi tangan Gavino sambil mengelus-elus punggung tangan tersebut. Bahkan naik ke dada bidang Gavino.
Tentunya ini membuat Gavino risih sendiri, karena diperlakukan seperti itu. Apalagi, dia juga tidak mengenal siapa mereka sebelumnya.
'Sistem. Buat panggilan telpon untukku. Agar Aku bisa terbebas dari mereka.'
( Ting )
( Panggilan telpon dilakukan Good Father )
Drettt drettt drettt!
Drettt drettt drettt!
"Permisi, Maaf ya. Aku mau menerima panggilan telpon dulu," pamit Gavino, dengan menarik tangannya yang tadi dipermainkan oleh salah satu cewek.
Dan dengan sedikit memaksa, akhirnya tangan Gavino terbebas juga. Sehingga dia bisa berdiri untuk mengambil handphone miliknya. Yang ada di dalam kantong celana.
"Maaf, Aku pergi dulu. Mau menerima telpon."
Gavino pamit pada semuanya, tapi dengan memberikan isyarat pada Lorenzo dan Dante.
Awalnya, Dante tidak paham. Dan hanya Lorenzo yang mengangguk mengiyakan isyarat tersebut.
Dan setelah Gavino berhasil pergi dari tempat duduknya tadi, tak lama kemudian Lorenzo ijin untuk pergi ke toilet sebentar.
"Maaf, Aku ke toilet!"
Beberapa saat kemudian, Dante kebingungan sendiri. Karena ditinggal sendirian di antara cewek-cewek tersebut.
Dia pun mencari akal, supaya bisa ikut pergi bersama dengan kedua temannya tadi.
"Aku mau lihat pesanan kita. Ck! Kenapa lama sekali ini!" decak Dante pura-pura kesal.
Ketiga cewek tersebut sebenarnya tidak mau ditinggalkan sendirian. Tapi karena Dante beralasan bahwa akan pergi ke pantry, untuk menanyakan pesanan makanan mereka. Akhirnya mereka membiarkan Dante pergi.
Di luar restoran.
Gavino sudah ada di dalam mobilnya Lorenzo. Dan tak lama kemudian, pemilik mobil datang menyusul.
"Huhfff... sial itu si Dante! Kasih kenalan cewek gak jelas. Masa mereka mahasiswi sih?" gerutu Lorenza, yang memang sudah kesal sedari tadi.
"Sudah-sudah! Kita cepat pergi saja dari sini."
__ADS_1
Tapi sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan restoran, tampak Dante yang sedang berlari ke arah mereka.
"Woiii tunggu!"