Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Keadaan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Gavino pamit untuk pulang, setelah memastikan bahwa gadis tersebut selesai membersihkan lukanya.


Tidak butuh waktu lama, Gavino udah sampai di hotel, kemudian langsung naik ke atas. Di mana kamarnya berada.


Kunci mobil sudah dua serahkan pada pihak keamanan hotel, dan di parkir dengan baik, sehingga dia bisa menggunakannya lagi besok jika ada perlu.


Tiba di kamar, ternyata George belum pulang. Gavino membuang nafas panjang, kemudian menghubungi paman George nya itu. Sayangnya, nomor ponsel juga tidak aktif. Sehingga membuat Gavino merasa kesal.


Untuk menghilangkan rasa kesalnya, Gavino mencoba untuk menghubungi Gress. Tapi ternyata Gress juga tidak bisa dihubungi.


"Kenapa Gress tidak bisa ditelpon juga sedari tadi? apa yang terjadi padanya?" gumam Gavino yang akhirnya bertambah kesal.


Akhirnya Gavino memutuskan untuk menghubungi Robert saja. Dia ingin bertanya tentang Gress pada Robert.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Halo Gavin! Ada apa? mau pulang ya hari ini kalian?"...


..."Gak. Mungkin besok baru pulang. Kenapa? Apa Kamu rindu denganku atau sama George? hahaha..."...


..."Ah sialll Kamu anak muda!"...


..."Hehehe... eh, bolehkah Aku bertanya?"...


..."Tanya apa?"...


..."Apa gadisku berangkat kerja? Kenapa ponselnya tidak aktif?"...


..."Ohhh, Gress ya? ponselnya mati karena terjatuh dari balkon kamarnya. Hancur, jadi tidak bisa digunakan lagi. Untungnya tidak ada orang yang terkena ponselnya yang jatuh itu. Kan bahaya juga meskipun cuma ponsel. Tapi jika dari ketinggian, tetap saja berbahaya."...


..."Emhhh... pantes. Kamu tahu dari mana?"...


..."Dia sendiri yang bercerita, karena minta tolong untuk memberikan kabar padamu. Sayangnya Aku seharian ini sibuk sekali. Jadi lupa Gavin. Maaf ya! Hehehe..."...


..."Baiklah. Terima kasih ya!"...


Klik!

__ADS_1


Setelah telpon ditutup Gavino bernafas lega. Dia tidak lagi was-was terhadap Gress, karena pada kenyataannya dia baik-baik saja di sana. Dan dalam pengawasan Robert.


"Besok Aku kasih surprise dia," gumam Gavino memikirkan kepulangannya besok.


Sekarang Gavino gelisah lagi, karena tidak tahu harus berbuat apa. Jika dia ingin mencari gadis-gadis di sekitar hotel ini, atau minta bantuan pada pihak hotel, sebenarnya juga bisa. Tapi dia tidak mau. Akhirnya dia pergi tidur, untuk membuang rasa kesalnya dengan beristirahat.


"Lebih baik Aku tidur. Besok Aku akan ajak George untuk kembali ke Roma. Aku tidak mau berada di sini lama-lama. Keenakan dia juga sudah pegang kartu dari king Black, sehingga bertingkah seenaknya saja. Pergi, ponselnya juga dimatiin. semaunya saja dia!"


Gavino mengerutu sendiri, mengingat tingkah George yang telah meninggalkan sendirian dalam jangka waktu yang lama.


"Mentang-mentang sudah punya kartu tanpa limit dari king Black, dia pergi foya-foya sesukanya. Awas saja nanti!"


Baru saja Gavino selesai mengerutu, pintu kamar terbuka. Ternyata George sudah pulang dari urusannya.


"Hai Paman arogan, tak tahu diri! Ke mana saja? urusan ranjang kah?" ledek Gavino yang membuat George langsung mendengus kesal.


Tapi dia hanya melenggang pergi ke kamar mandi, dengan tersenyum sinis. Namun sebelum dia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi, dia berkata pada Gavino dengan ketus. "Kenapa memang? bukannya Kamu sendiri yang memintaku untuk bersenang-senang. Kamu lupa? Dasar bocah pikun!"


George mengingatkan Gavino dengan perkataannya sendiri tadi pagi.


"Tapi setidaknya handphone Kamu aktif, jangan dimatiin!" Gavino menyahuti untuk membela diri.


"Hehhh! bagaimana aku bisa bersenang-senang, jika Kamu akan menelponku terus? makanya Aku matiin."


Dalam hati, Gavino sebenarnya membenarkan apa yang dipikirkan oleh George. Tapi tentu saja dia tidak mengakuinya.


Dua laki-laki beda usia itu, kembali berdebat sesuatu hal yang tidak penting. Hingga pada akhirnya George masuk ke dalam kamar dengan pintu yang ditutup dengan kasar.


Blum!


Gavino mengelengkan kepalanya, melihat kelakuan Paman George nya itu.


Tak lama kemudian, George sudah keluar dari dalam kamar mandi.


"George, tolong pesankan makanan. Bawa ke kamar. Cepat!" pinta Gavino, yang berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Mengantikan George yang baru saja keluar.


"Hehhh! bocah tengik sia_lan! seenaknya saja memerintah orang tua. Mentang-mentang sudah jadi Tuan muda. Hahaha..."


Meskipun kesal, tapi George juga tertawa terbahak-bahak. Mengingat semua yang dia dapatkan juga karena Gavino dari king Black.

__ADS_1


Akhirnya dia menelpon resepsionis hotel, untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Tapi tidak untuk di bawa ke dalam kamar, karena George meminta disiapkan di sebuah private room yang ada di restoran lantai tujuh.


Tentu saja permintaan George direspon dengan baik dan cepat oleh pihak hotel. Karena mereka berdua dianggap sebagai tamu spesial bagi Thomas Bryan, sang pemilik hotel ini.


Tak lama kemudian Gavino sudah keluar dalam keadaan segar, karena baru saja selesai mandi.


"Makanan sudah Aku pesankan. Tapi tidak akan diantar ke kamar ini. Kita ke restoran private room saja. Aku ingin suasana baru, bosan di kamar terus!"


"Hum..."


Gavino tidak memberikan tanggapan yang berlebihan. Karena sebenarnya, dia juga ingin menikmati malam ini dengan makan di luar kamar.


*****


Di apartemen Bianca.


Sepulang Gavino, Alano mencecar pertanyaan untuk kekasihnya itu.


"Ngapain Gavino kemari? apa yang Kamu lakukan bersamanya?" selidik Alano dengan tatapan mata yang tajam.


Bianca ketakutan mendapati Alano yang sedang marah, karena memergoki dirinya bersama dengan Gavino. Meskipun mereka tidak ketahuan, jika baru saja selesai bermain-main di ranjang. Melepaskan rasa rindu mereka yang memang telah lama tidak bertemu.


"Aku tidak tahu jika dia datang. Aku kan sudah tidak berganti nomor ponsel dan email juga. Ternyata dia dapat dari Dante. Maaf Sayang," jawab Bianca membela diri, dengan memberikan penjelasan kepada kekasihnya itu.


Untungnya, pesan dan juga panggilan telpon dari Gavino sudah dia bersihkan. Dan dia juga tidak menceritakan tentang kejadian bersamanya dengan Gavino beberapa jam yang lalu.


Bianca tidak mau jika Alano marah dan membuat kekacauan di kamarnya. Dan yang pasti, Alano juga jangan akan menyakitinya.


Meskipun sebenarnya Alano mencintainya sedari dulu, tapi sikapnya yang kasar tetap saja membuat Bianca merasa sakit, saat diperlakukan kasar oleh kekasihnya sendiri.


Dia sebenarnya ingin lepas dari Alano, tapi dia juga memerlukan perlindungan Alano. Selama berada di paris ini.


"Aku ingin Kamu puaskan malam ini. Jadi jangan pergi ke mana-mana!" pinta Alano dengan membuka kemeja dan celananya sendiri."


Bianca hanya bisa mengangguk saja, karena dia tidak mungkin menolak permintaan dari kekasihnya itu.


Sebenarnya, Alano adalah anak buahnya king Black, yang menguasai di kota Paris. Dan Bianca pernah hampir terbunuh oleh orang-orang yang sedang mengejarnya, sehingga Alano datang menyelamatkan dirinya.


Tapi sekarang keadaan yang telah berubah pada king Black tidak diketahui oleh Alano.

__ADS_1


Karena king Black saat ini ada di bawah kendali Gavino.


Entah bagaimana sikap Alano setelah tahu nantinya. Karena dia memang tidak menyukai Gavino sejak lama. Sedari mereka masih sama-sama bersekolah di sekolah yang sama di kota Roma.


__ADS_2