
Steak yang dipesan Gress ini adalah, jenis steak tenderloin.
Tenderloin adalah potongan daging steak bagian tengah sapi yang hampir pasti ada di setiap restoran steak.
Teksturnya yang paling lembut (mild) dan empuk ketimbang potongan daging lain. Membuatnya nikmat untuk Carnivores konsumsi. Apalagi, jika bumbu marinasinya tepat.
Dan ini membuat Gavino juga menginginkan steak yang sama seperti yang dinikmati oleh gadisnya itu.
"Pesankan juga untukku Sayang," pinta Gavino, supaya Gress memesan makanan yang sana untuknya.
Tadi, sebelum dia datang, Gress bersama dengan teman-temannya itu, sudah memesan terlebih dahulu, termasuk untuk supirnya juga.
Jadi, hanya dia saja yang tidak kebagian makanan.
Mendengar permintaan dari kekasihnya itu, Gress tersenyum senang. Dia langsung bergegas memanggil pelayan restoran lagi, untuk memesan satu porsi untuk kekasihnya.
"Ordina un'altra porzione, la stessa. Per favore, faccia in fretta!" (Pesan satu porsi lagi, yang sama. Tolong cepat ya!" Pinta Gress pada pelayan tersebut.
"Pronta signorina!" ( Siap Nona! )
Gavino mengucapkan terima kasih pada gadisnya itu, lewat tatapan mata dan senyumnya yang tertuju pada Gress.
Sedangkan Gress, hanya mengangguk, sambil memulai memotong daging steak yang ada di depannya.
Gavino mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang dilakukan oleh gadisnya itu.
Dia pikir bahwa, gadisnya itu akan menunggu pesanannya datang. Sehingga bisa memakannya bersama-sama. Tapi ternyata dugaannya salah.
Dan teman-temannya Gress, mengikuti apa yang dilakukan oleh Gress. Yaitu memulai memakan steak mereka.
Tapi ternyata, Gress menyuapkan potongan daging pertamanya pada Gavino.
"Aa..."
Mulut Gress terbuka, meminta Gavino untuk membuka mulutnya juga. Sehingga dia bisa menyuapi potongan steak pada kekasihnya itu. Dan tentu saja, Gavino menyambutnya dengan senang hati.
Setelah acara makan malam selesai, Gavino berjalan menghampiri supirnya. Dia meminta pada supirnya itu, untuk pulang terlebih dahulu. Karena Gress akan pulang bersama dengannya.
"Kamu pulanglah terlebih dahulu, biar Nona bersama denganku."
"Siap Tuan Muda!"
Setelah membungkukkan badannya untuk memberikan hormat, supir tersebut pulang, sebab tugasnya sudah selesai. Karena Tuan Mudanya, yang akan mengambil alih tugasnya, untuk membawa pulang Nona nya.
Tak lama kemudian, teman-teman Gress pamit pulang terlebih dahulu.
"Kita duluan ya Gress, Gavin!"
"Thanks ya traktirannya!"
"Bye Gavin, bye Gress!"
"Ok, hati-hati ya kalian semua!"
Setelah itu, Gavino mengajak Gress untuk pulang bersama dengannya.
*****
Setibanya di rumah.
Gavino ikut masuk ke dalam kamarnya Gress. Dia ingin membicarakan pesan yang dikirimkan oleh gadisnya itu.
Dan juga koper yang sudah dikemas oleh gress, yang berisi barang-barang penting Gress sendiri.
__ADS_1
"Apa maksudmu Sayang?"
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino, Gress menyipitkan matanya. Dia tidak mengerti, apa yang dimaksud dengan pertanyaan yang diajukan oleh kekasihnya itu.
"Ini, ini?"
Gavino menunjuk pada koper yang ada di samping tempat tidur, dan juga ponselnya, tanpa menunggu pertanyaan dari Gress.
Sekarang, Gress mengerti apa maksud dari pertanyaan Gavino tadi. Tapi tidak langsung menjawabnya, dan hanya menghela nafas panjang saja.
"Sayang, apa Kamu sudah tidak nyaman berada di rumah ini, ada di sampingku?" tanya Gavino penuh dengan tekanan.
Gress menatap ke wajah kekasihnya itu sekilas, kemudian segera menundukkan kepalanya.
Dia menggeleng beberapa kali, karena ini sebenarnya hanya perasaan hatinya saja. Sebab, dia merasa cemburu dengan semua kesibukan yang dilakukan oleh Gavino di luar sana.
"Sayang, apa Kamu merasa tertekan hidup bersamaku?" tanya Gavino lagi, meminta penjelasan kepada gadisnya.
"Aku, Aku hanya merasa jika, Kamu sudah tidak mulai perhatian denganku. Kamu mengabaikan ku." Akhirnya, Gress bisa mengatakan apa isi hatinya.
Grep!
Gavino memeluk tubuh gadisnya itu, untuk menyakinkan kepadanya, bahwa dia tidak mau jika ditinggalkan.
"Jangan berpikir seperti itu. Aku hanya sedang sibuk, sehingga tidak banyak waktu luang untuk bisa berada di rumah dan menemanimu."
"Apa yang bisa Aku lakukan, supaya kamu mengerti akan hal ini?"
Gress terdiam, mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Gavino. Sebab, dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya dia inginkan dari kekasihnya itu.
Yang dia tahu bahwa, perasaannya sendiri tidak nyaman, jika Gavino tidak ada disampingnya dan tidak memberikan kabar apapun padanya.
"Hiks... maafkan Aku Sayang. Aku, Aku hanya merasa takut, jika Kamu tidak akan membutuhkan ku lagi. Aku, Aku merasa, jika Kamu semakin jauh saja setiap harinya. Itu yang Aku rasakan, sehingga menganggapnya terlalu besar. Apa Kamu sudah tidak membutuhkan ku lagi?"
Dia menatap intens ke netra gadisnya itu, untuk mengetahui perasaan yang ada di dalam hatinya Gress.
Dengan lembut, Gavino mengecup bibir gadisnya itu, supaya tidak bersedih hati lagi.
"Maafkan Aku Sayang," ucap Gavino, setelah melepaskan tautan bibirnya dari bibir Gress.
Sekarang, ke-dua tangannya menangkupkan ke-dua pipi Gress, dan berkata untuk menyakinkan gadisnya itu, bahwa apa yang dia lakukan di luar sana, adalah untuk masa depan mereka, dan juga orang-orang terdekat mereka.
"Kamu jangan meragukan apapun yang Aku lakukan di luar sana. Yang pasti, Kamu tetap ada di dalam hatiku."
Setelah selesai berkata demikian, Gavino kembali mencium bibir Gress. Dan kali ini, tentu saja ciumannya itu bukan hanya sekedar kecupan singkat. Tapi lebih lama dan menutut.
Semua permasalahan yang dihadapi oleh mereka berdua, bisa terselesaikan dengan penyatuan hasrat mereka. Sehingga bisa merasakan kebahagiaan, dan kepuasan setelah semuanya selesai dilakukan. Dengan segala rasa, emosi, cinta dan semua rasa yang mereka rasakan. Membuat mereka berdua melakukannya dengan penuh perasaan, dan semangat yang luar biasa.
Hingga akhirnya, mereka berdua sama-sama kelelahan setelah selesai melakukan kegiatan mereka bersama.
Cup!
Gavino mengecup bibir Gress sekali lagi, sebelum dia berbaring untuk beristirahat di samping kekasihnya itu.
Dan Gress juga tersenyum lega, melihat dan merasakan bahwa, Gavino ternyata masih memperlakukannya dengan lembut.
Kini keduanya sama-sama tertidur, sambil berpelukan dengan rasa yang sama. Yaitu bahagia.
*****
Pagi harinya, Gavino kembali ke kamarnya sendiri setelah gress bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Di kamarnya, Gavino mengaktifkan sistem untuk mengetahui kegiatan apa yang seharusnya dilakukannya hari ini.
__ADS_1
( Ting )
( Selamat pagi Good Father )
'Aku harus ke markas atau memantau orang yang kemarin?'
( Ting )
( Sebaiknya melanjutkan pemantauan )
'Kemana Aku harus memantaunya?'
( Ting )
( Pencarian lokasi )
1%
10%
20%
30%
40%
50%...
Sampai selesai menjadi 100%.
( Ting )
Di layar sistem, terpampang jelas dengan gambar sebuah pantai dan conteg atau villa, yang terlihat mewah meskipun tidak besar.
Di sana, terlihat ada beberapa penjaga yang mirip seperti seorang pengawal atau bodyguard.
Melihat keadaan yang ada di layar sistem, Gavino memikirkan tempat tersebut.
'Di mana tempat ini?'
( Ding )
( V Lounge Beach )
Gavino mengingat bahwa, pantai ini adalah pantai yang sangat ramai, karena sangat populer, dengan fasilitasnya yang cukup lengkap. Ada berapa villa dan hotel, yang mempunyai fasilitas mewah di sana.
Tapi, untuk bentuk villa ini, sepertinya berbeda dengan yang pernah di lihat oleh Gavino sebelumnya.
Sebab, dia pernah dua kali ke sana. Namun, villa ini sepertinya belum ada. Atau bisa jadi, dibangun setelah kedatangannya beberapa tahun yang lalu.
'Baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga. Jadi, apa saja yang harus aku persiapkan untuk pemantauan kali ini?'
( Ding )
( Tidak ada Good Father )
( Hanya perlengkapan pakaian, yang membuat Good Father tidak dikenali )
'Hemmm, baiklah. Akan Aku persiapkan sekarang juga.
( Ding )
Layar sistem menghilang, setelah Gavino mengerti dan menyanggupi, apa yang disarankan oleh sistem.
__ADS_1