Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Keadaan Yang Berbeda


__ADS_3

Kasus yang melibatkan para mahasiswa, baik yang senior maupun yang masih baru. Membuat kampus menjadi sorotan dan kehebohan pun terjadi.


Bukan hanya mahasiswa dan mahasiswi saja, tapi juga para orang tua ataupun wali. Yang meragukan kredibilitas kampus besar dan cukup diminati oleh banyak kalangan. Baik dari dalam negeri sendiri, maupun luar negeri.


Meskipun kehidupan modern dan pergaulan yang sudah bebas, tapi untuk pendidikan, tetap saja semua orang menginginkan yang terbaik dan bersih dari segala skandal.


Apalagi, kasus ini akhirnya merembet ke segala arah. Baik kasus korupsi di beberapa fakultas, dosen yang bermain kotor. Dan beberapa skandal yang ada di tubuh struktur organisasi dari kampus itu sendiri.


Akibatnya, banyak orang tua dan wali, yang mencabut anak-anak mereka agar tidak lagi belajar di kampus tersebut.


Mereka memindahkan ke kampus yang lain. Yang menurut mereka bebas dari segala masalah yang terjadi saat ini.


Padahal belum tentu, di kampus baru, tidak terjadi masalah juga. Karena sebenarnya, setiap tempat itu ada permasalahan yang ada. Cuma waktunya yang tidak sama, di saat semuanya terbuka secara langsung.


"Apa Kamu juga mau ikut pindah?"


"Tidak. Aku tidak mau pindah Gavin. Di sini Aku sudah nyaman. Ada Kamu juga yang mau dekat denganku."


Gavino memicingkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gress barusan.


"Emhhh... bukan. Bukan maksudku untuk memujimu, itu hanya karena Aku... Aku sulit untuk berteman dengan orang baru."


Akhirnya Gress mengklasifikasi jawabannya sendiri, karena merasa tidak enak hati.


"No problem Gress. Aku senang Kamu bicara jujur dan apa adanya." Gavino pun tidak mempermasalahkan soal jawaban Gress.


"Tapi, sekarang kelas jadi lumayan sepi. Dosen juga jarang ada yang masuk. Apa ini akan berlangsung lama?" keluh Gress, dengan keadaan kelas dan kampus mereka sekarang ini.


Gavino hanya bisa mengangkat kedua bahunya, karena dia memang tidak tahu. Apakah ini akan berlangsung lama atau hanya sementara saja.


"Kita berdoa saja semoga situasi ini tidak lama dan cepat selesai."


"Aamiin..."


Kehidupan di kota besar seperti Roma, yang merupakan salah satu kota terbesarnya di daratan Eropa, tentu saja banyak orang yang tidak percaya dengan kekuatan doa.


Tapi ternyata, Gress yang juga orang Amerika serikat. Negara liberal di daratan benua Amerika sana, juga mengerti apa itu kekuatan doa yang dipanjatkan. Karena nyatanya dia pun mengamini harapan dan doa yang dipanjatkan oleh Gavino barusan.


"Kita ke perpustakaan saja bagaimana?" usul Gress, karena melihat kelas yang sepi.


Sepertinya tidak akan ada dosen yang masuk ke kelas mereka hari ini.


Gavino melihat ke sekeliling.

__ADS_1


Ternyata apa yang dikatakan oleh Gress barusan, memang benar adanya.


Banyak tempat duduk yang kosong. Jika ada pun, mereka sibuk dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Dan tampak tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.


Kelas yang seharusnya dimulai, juga sudah lewat lima belas menit yang lalu. Padahal, dosen di kampus ini sangat disiplin.


Mereka, para dosen, selalu tepat waktu jika ada jam kuliah mereka.


Dan keadaan ini baru saja terjadi seminggu kemudian, setelah terbongkarnya semua kasus yang ada di kampus ini. Yang melibatkan para mahasiswa dan dosen.


Akhirnya Gavino dan Gress keluar dari ruangan kelas dan berjalan menuju ke arah gedung perpustakaan.


Di sana mereka bisa membaca buku yang menunjang mata pelajaran kuliah mereka. Atau hanya sekedar mencari bacaan ringan. Membuang jenuh karena tidak ada kegiatan yang berarti selama hampir satu minggu ini.


*****


Malam harinya, Gavino baru pulang ke rumah. Tapi dia sedikit heran, dengan keadaan rumahnya yang tampak ramai.


Ada mobil yang...


"Lorenzo..."


Gavino mengingat mobil Lorenzo, yang memang dia berikan pada salah satu teman baiknya di sekolah dulu.


Dan memang benar, di ruang tamu yang besar, tampak Lorenzo, Cardi dan Jeffrie yang sedang berbincang-bincang bertiga saja.


"Hai kalian!"


Gavino berseru kegirangan, melihat ketiga temannya itu ada di rumahnya.


Teman-temannya itu juga langsung berdiri, menyambut kedatangannya. Mereka saling berpelukan, melepas rindu dan kangen yang merasa rasakan setelah perpisahan di sekolah mereka dulu.


Ketiga temannya itu memang sudah sering datang ke rumah ini, saat masih sekolah. Itulah sebabnya, baik penjaga di depan maupun kepala maid mengenal mereka dengan cukup baik. Sehingga mempersilahkan mereka bertiga untuk menunggu kedatangan Tuan muda_nya.


"Aku... maaf. Tidak ada yang memberitahuku, jika ada Kalian yang datang ke rumah."


Gavino meminta maaf pada mereka bertiga, karena membuat mereka harus menunggu hingga dia pulang dengan sendirinya dari kampus tadi.


"Tidak masalah Gavin. Kami memang melarang semua maid di rumah ini, agar tidak menghubungimu."


"Ya Gavin. Ini kan surprise! Hahaha..."


"Dan kalian sudah berkumpul, tapi melupakan Aku?" tanya Gavino, di saat mendengar perkataan Lorenzo dan Jeffrie.

__ADS_1


Cardi hanya tersenyum saja, menanggapi perkataan dari teman-temannya itu.


"Bukan-bukan. Kami juga tidak menyangka, bisa berkumpul dalam waktu yang sama seperti ini."


"Iya Gavin. Awalnya, Aku tidak sengaja menelpon Lorenzo. Tenyata dia free. Ya sudah, kita janjian ketemu. Tapi..."


"Justru Aku yang mereka lupakan Gavin."


Cardi kesal, karena ternyata dia tidak dihubungi Jeffrie pada saat mereka berdua mau datang ke rumah Gavino.


"Lalu, bagaimana bisa Kamu juga ada bersama dengan mereka berdua?" tanya Gavino heran.


Cardi bilang, dia tidak tahu, jika Lorenzo dan Jeffrie ada janji dan rencana untuk pergi ke rumahnya. Tapi nyatanya, sekarang ini dia juga ikut ada di rumah ini.


"Aku menyusul mereka. Tapi Aku naik taksi tadi," sahut dengan cepat.


Tampak jelas jika Cardi masih dalam keadaan kesal, dengan sikap kedua temannya itu.


"Hahaha... maaf Cardi. Kami pikir, Kamu sedang sibuk dan ada kerjaan. Jadi, kami tidak menghubungi kamu. Kami juga tidak menghubungi Gavin kan?"


Lorenzo membela diri, dengan memberikan alasan kenapa dia tidak mengajaknya tadi.


"Sudah-sudah. Yang penting sekarang ini kalian ada di sini. Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku sudah lapar. Hahaha..."


"Wahhh... itu yang Aku tunggu sedari tadi!"


"Iya. Aku kangen banget dengan masakan mama Kamu Gavin."


Deg!


Gavino terdiam, mendengar perkataan Lorenzo barusan. Yang mengingatkan kembali pada mamanya, Mirele.


Dia menjadi gugup, karena harus membuat alasan. Kenapa tidak ada mamanya di rumah.


"Kita makan makanan yang ada aja ya! Mama sedang ada di luar kota. Jadi, gak ada masakan mama di rumah."


Akhirnya, Gavino mengatakan apa yang bisa dia katakan. Untuk alasan tentang mamanya.


"Wah... sayang sekali ya!"


"Gak apa-apa deh! ayo makan. Meskipun bukan Tante Mirele yang memasak, anggap saja Tante yang sudah susah payah memasaknya tadi."


Ternyata Jeffrey lebih dewasa, dengan menerima alasan Gavino tanpa banyak bertanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2