
Rumah besar Gavino tampak sepi seperti biasanya. Karena luasnya, para maid ada pekerjaan masing-masing. Jadi terlihat jarang ada di satu tempat yang sama. kecuali jika ada sesuatu yang memerlukan mereka semua untuk berkumpul.
Mobil yang dikendarai oleh Lorenzo bersama dengan Gavino dan Dante, memasuki halaman rumah.
"Lho, mobilku udah ada di sini Gavin!" seru Dante, dengan rasa terkejutnya.
"Kebetulan tadi George sedang ada di dekat restoran tadi. Jadi... sekalian Aku minta tolong padanya untuk ambil mobil Kamu."
Dante menganggukkan kepalanya, meskipun sebenarnya dia tidak begitu paham dengan maksud perkataan Gavino barusan. Karena dia memang tidak tahu, apa dan bagaimana keadaan Gavino yang sebenarnya.
Dante dan juga Lorenzo hanya tahu bahwa, Gavino adalah anak tunggal dari pasangan Giordano dan Mirele. Yang sedang merintis usaha dan bisnis mereka. Bahkan sekarang ini sudah berkembang dengan cepat.
Sayangnya mereka berdua juga mendengar dari Gavino sendiri jika, kedua orang tuanya tidak mau menikmati hasil dari usaha mereka yang baru saja berkembang.
Kedua temannya Gavino tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Giordano dan Mirele. Yang sebenarnya sudah tidak ada lagi di dunia ini. Karena sudah meninggal, di saat Gavino ada dalam misi penyelamatan mesin pencetak uang palsu. Yang direncanakan oleh Verdi, yang merupakan tangan kanan Alano.
"Ayo!"
Dante dan Lorenzo masuk ke dalam rumah, mengekor di belakang Gavino.
"Selamat sore Tuan Muda."
Gavino hanya mengangguk saja, menjawab salam hormat dari kepala maid. Yang membukakan pintu untuknya dan kedua temannya itu.
Karena sudah lama tidak berkunjung ke rumah Gavino, Dante semakin kagum dengan perubahan yang terjadi pada Gavino sekarang ini. Yang tidak lagi sama seperti dulu lagi.
Menurut Dante, Gavino sudah jauh berbeda dengan Gavino yang dia kenal dulu. Di awal-awal perkenalan mereka di sekolah.
"Makin hebat Kamu Gavin," decak kagum terlihat jelas di wajah Dante.
Tapi Gavino hanya menanggapi dengan senyuman tipis saja.
"Kalian masih lapar?" tanya Gavino, melihat bergantian antara Dante dan Lorenzo.
"Aku sih masih. Secara, Aku kan masih remaja yang sedang tumbuh kembang. Jadi perlu asupan makanan yang banyak setiap harinya." Tutur Lorenzo beralasan.
"Ck. Bilang aja perutmu itu sama seperti karung!" ejek Dante dengan mencibir jawaban dari Lorenzo tadi.
__ADS_1
Tapi Lorenzo tidak menanggapi ejekan tersebut. Karena itu juga ada benarnya. Lagian, kemarin dia juga makan di rumah ini. Dan makanannya, tidak jauh berbeda dengan masakan mamanya Gavino. Yaitu Mirele.
Gavino bukannya tanpa alasan memberikan pertanyaan seperti tadi. Karena tadi, makanan yang mereka beli menang tidak bisa dikatakan sebagai kondisi orang yang sedang makan siang. Hanya satu buah burger kecil, dengan satu kaleng minuman bersoda.
Tentu saja volume kekenyangan perut mereka bertiga, yang notabene memang masih termasuk remaja yang sedang tumbuh kembang. Tentunya masih bisa menampung banyak makanan yang bisa membuat mereka menjadi lebih kenyang.
"Boleh makan di sini. Tapi ada syaratnya," ucap Gavino tidak main-main.
"Syarat?"
Kedua temannya itu, bersamaan mengajukan pertanyaan kepada Gavino. Setelah mendengar perkataan yang diucapkan olehnya barusan.
"Makan pakai syarat? Harus bayar gitu?" jelas Dante, mempertanyakan maksud dari perkataan Gavino tadi.
"Ya. Kalian harus bayar dengan syarat tertentu. Bukannya tadi kalian mau ikut bergabung denganku?"
Sepertinya, Dante dan Lorenzo masih bingung dengan maksud perkataan Gavino. Yang membahas tentang makanan dan persyaratan yang dia katakan.
"Apa syaratnya?"
Akhirnya Lorenzo menanyakan tentang syarat yang harus dia lakukan, untuk bisa makan di rumah Gavino ini.
Dante dan Lorenzo kembali saling pandang dan berpikir keras. Apa maksud dari persyaratan tersebut.
"Kalian ingn jadi anggota mafia yang Aku miliki kan? Sama seperti yang ada pada kawanan Alano dan Verdi juga. Tapi tentu saja ini beda tujuannya. Apa kalian sanggup?"
Kini keduanya terdiam. Karena mereka memang tidak tahu, jika apa yang tadi dibahas, yang hanya dikira sekedar bercanda saja. Nyatanya memang benar-benar ada.
"Jadi, tadi bukan gurauan aja Gavin?" Dante memastikan jika semua yang dia dengar ini adalah sebuah kebenaran.
Ternyata Gavino menganggukkan kepalanya dengan pasti. Tidak ada keraguan dalam jawaban Gavino. Apalagi tatapan mata Gavino sekarang tidak lagi sama seperti biasanya.
Tatapan mata tersebut, seperti memiliki aura yang berbeda. Tegas meskipun terkesan dingin. Dan itu tentunya membuat orang lain merasakan aura yang berbeda.
Begitu juga yang saat ini dirasakan oleh Lorenzo dan Dante.
"Jadi, kami berdua juga harus ikut bersama Kamu? Dalam keanggotaan mafia yang Kamu miliki itu?" Lorenzo meminta penjelasan.
__ADS_1
"Aku memberikan tawaran pada kalian. Tapi jika kalian tidak mau, Aku juga tidak akan memaksa."
Jawaban yang datar tanpa ekspresi Gavino, membuat Lorenzo susah untuk bernafas. Dia melihat ke arah Dante. Meminta persetujuan dari temannya itu.
"Tapi jika kalian menolak pun, Aku tidak akan memaksa. Dan untuk makan siang, silahkan saja dinikmati. Di meja makan sudah ada makanan yang tersedia."
Sekarang, Lorenzo kembali melihat ke arah Gavino dengan cepat. Dia bingung dengan situasi yang ada saat ini.
Dante juga tidak bisa berkata-kata lagi.
"Hahaha... kalian pikir Aku sekejam itu? Membiarkan kedua temannya mati hanya karena kelaparan dan penasaran."
"Ah sudahlah! Ayo kita buruan makan!"
Gavino menarik tangan keduanya, untuk segera pergi ke meja makan.
Dan tanpa banyak basa-basi, mereka bertiga makan siang dengan lahapnya di rumah Gavino ini. Karena semua yang dikatakan oleh Gavino tadi hanya gurauan belaka.
Jika dia ingin meminta bantuan pada kedua temannya itu, Gavino juga yakin. Jika Dante dan Lorenzo tidak akan pernah mau menolaknya.
Mereka berdua siap untuk membantu Gavino dalam keadaan apapun.
Sayangnya, Gavino lah yang selama ini memang seperti menjauhkan diri dari teman-temannya itu. Karena dia tidak mau melibatkan mereka dalam permasalahan yang sedang dia hadapi.
*****
Di kantor, Robert sedang meneliti beberapa berkas laporan di lapangan.
Tapi dia mengerutkan keningnya, melihat dua berkas yang sama dalam setiap angka dan jam yang dibubuhkan pada laporan tersebut.
"Ini memang terkirim doble, atau mereka sengaja memanipulasi data laporan yang ada di lapangan?" tanya Robert dengan bergumam seorang diri.
Sayangnya, siang ini tidak ada George yang bisa dia tanyai. Karena George sedang ada tugas dari Gavino.
"Masa hanya masalah seperti ini Aku harus menghubungi George untuk bertanya? Tapi jika tidak pada George, pada siapa lagi Aku bertanya, apa yang sebaiknya Aku lakukan."
Robert ragu untuk menghubungi George. Tapi dia juga ragu untuk melakukan sesuatu yang akan menentukan nasib dari laporan dan yang membuat laporan juga.
__ADS_1
"Huhfff..."
"Aku akan coba hubungi orang yang membuat laporan ini dulu. Jika dia memang tidak sengaja, ya sudah. Tapi jika dia tidak bisa menjawab dengan benar, maka ini dipastikan sebagai konspirasi yang bisa membuat usaha mereka itu jatuh bangkrut.