
Bugh!
Sekali lagi, salah satu dari mereka memukul Gavino, tepat di perutnya. Tapi Gavino hanya meringis saja, tanpa merasakan kesakitan yang berarti.
Sejak awal, Gavino bisa saja melakukan perlawanan sehingga bebas dan tidak tertangkap. Apalagi, jika dia mengunakan kekuatan sistem.
Tapi itu tidak dilakukannya.
Semua ini memang sengaja dilakukan oleh Gavino, supaya dia bisa ditangkap. Sehingga dia bisa melihat, siapa sebenarnya Bos besar mereka. Yang tadi sudah ditemui oleh sang Kapten. Bahkan sang Kapten, tidak mengakui dan menutupi, dengan mengatakan bahwa, dia sedang berada di kantor.
Hal ini membuat Gavino penasaran dan ingin tahu, apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Dan disinilah sekarang Gavino berada.
Di sebuah ruangan gelap yang letaknya berada di belakang bangunan villa.
Tempat inilah yang tadi disebutkan oleh pengawal tersebut, sebagai markas. Di saat dia menghubungi bos-nya.
Gavino dalam keadaan terikat, kaki dan tangannya, dalam duduk di sebuah kursi kayu. Sedangkan ke lima orang tadi, berjaga-jaga di luar
Dengan begini, Gavino bisa melakukan pergerakan tanpa menimbulkan suara. Sehingga mereka yang berada di luar, tidak mencurigai dirinya.
Apalagi mereka beranggapan bahwa, Gavino hanyalah seorang pemuda biasa. Yang mungkin saja adalah suruhan pihak tertentu. Yang menjadi saingan mereka dalam bisnis ataupun pengaruh yang lain.
Mereka semua tidak pernah menyangka jika, Gavino adalah inti dari keanggotaan mafia yang dipimpin king Black.
Salah satu kesatuan mafia terbesar, yang ada di kota roma ini. Dan menjadi saingan terberat mereka juga selama ini.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan yang tersebut dibuka dari luar.
Ada tiga orang laki-laki berbadan besar dan tegap, khas seorang bodyguard. Masuk terlebih dahulu, kemudian disusul oleh satu orang, dengan pakaian biasa, dan dua orang lagi di belakangnya. Dengan pakaian dan perawakan yang sama, seperti yang dikenakan oleh tiga orang di depan tadi.
"Ini orangnya?" tanya laki-laki yang tadi ads di tengah.
Orang tersebut, melihat keadaan Gavino, yang seperti pemuda biasa. Tanpa ada keistimewaan apa-apa.
Dia berjalan mengelilingi Gavino yang duduk di tengah ruangan. Dengan wajah yang datar.
Orang tersebut kemudian berhenti di depan Gavino, yang juga melihatnya dengan wajah yang datar.
Namun beberapa saat kemudian, "Siapa Kamu, dan siapa yang menyuruh Kamu menjadi mata-mata?" tanya orang tersebut, Bos yang punya villa ini.
Dan Gavino sendiri, juga tidak mengenalinya.
"Aku? Aku tidak tahu apa maksud dari pertanyaan yang Kamu ajukan. Dan Aku juga tidak tahu, kenapa mereka menangkap ku."
Jawaban yang diberikan oleh Gavino, tentu saja tidak bisa mereka percaya. Apalagi, jawaban yang terkesan datar dan tidak ada rasa takut serta was-was sama sekali. Tentu saja membuat mereka yakin, jika Gavino adalah orang suruhan, atau berprofesi sebagai mata-mata.
"Cihhh! Kamu pikir Aku bodoh? Memangnya, jika Kamu pengunjung di pantai ini, apa yang Kamu lakukan di dekat villa ku tadi?" orang tersebut mulai terpancing emosnya.
Gavino tersenyum tipis, mendengar pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"Apa di tempat ini tidak boleh ada orang lewat atau berteduh? Ini adalah tempat wisata, jadi tidak ada larangan bagi mereka yang sedang datang untuk melakukan apapun di tempat ini bukan?"
"Banyak bicara Kamu!"
Bugh!
Orang tersebut, memukul Gavino cepat. Setelah selesai membentaknya.
Tapi pukulan tersebut, meskipun tampak kuat dengan suara yang keras. Nyatanya, tidak membuat Gavino merasakan kesakitan sama sekali pada bagian yang dipukul.
Ini membuat orang tersebut memicingkan mata, melihat bagaimana keadaan Gavino yang tetap baik-baik saja.
"Hajar dia!"
Akhirnya, Bos tersebut memerintahkan kepada anak buahnya. Untuk memberikan pelajaran kepada Gavino.
Tapi apa yang terjadi setelahnya, tidak pernah dia duga. Sebab, tak lama kemudian, ke lima anak buahnya justru terkapar di depannya. Dan tidak bisa berkutik lagi.
Bugh bugh bugh!
Tagh!
Dugh!
Crack!
Gavino melakukannya dengan cepat, tanpa di sadari oleh Bos tersebut. Sebab, sejak Bos tersebut memukul Gavino. Sebenarnya ikatan tali pada kaki dan tangannya Gavino, sudah terlepas.
Dia hanya tidak menyadarinya saja.
"Hai berdiri kalian!"
Tapi tidak ada satupun dari mereka, yang bisa berdiri lagi. Sehingga hanya ada Bos itu saja, yang mau tidak mau, harus menghadapi Gavino.
"Bedeb4h!"
Dor!
Tanpa basa-basi, Bos tersebut mengeluarkan senjata apinya. Kemudian menembakkannya pada Gavino.
Tapi dengan cepat, Gavino juga bisa menghindar dari peluru yang ditembakkan oleh Bos tersebut untuknya.
Akhirnya, Bos tersebut merasa geram dan penasaran. Pada pemuda biasa, yang tidak tampak seperti seorang jagoan, atau ahli bela diri. Sama seperti para pengawalnya.
"Hai anak Muda! Siapa sebenarnya Kamu?"
"Aku adalah malaikat maut, yang akan membawamu ke neraka!"
"Siall_lan! Kamu pikir, Kamu bisa dengan mudah mengambil nyawaku? Hahaha..."
Bos tersebut, justru tertawa terbahak-bahak, mendengar jawaban yang diberikan oleh Gavino. Dia berpikir bahwa, Gavino bukanlah siapa-siapa dibandingkan dirinya.
__ADS_1
"Suit-suit!"
Suara siutan, keluar dari mulut Bos tersebut. Untuk memberikan pertanda, pada anak buahnya yang ada di luar sana.
Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan ini lagi. Bahkan sekarang, jumlahnya dua kali lipat, dibandingkan yang sudah terkapar di lantai.
Mereka semua, segera mengepung gavino. Dengan senjata yang mereka bawa. Untuk menyalahkan Gavino seorang.
*****
Di jalan, sang Kapten mendapatkan telpon dari bos yang tadi baru saja dia temui.
..."Ya Tuan. Ada apa? Saya masih ada di jalan menuju kantor."...
..."Apa Kamu memerintahkan salah satu anak buahmu, untuk memata-matai ku?"...
..."Tidak Tuan. Apa yang membuat Tuan berpikir seperti itu?"...
..."Ada seorang anak muda, yang saat ini sedang di dihajar oleh anak buahku. Dia ditangkap, karena ada di sekitar villa. Dengan gerak-gerik yang mencurigakan."...
..."Maksudnya..."...
..."Dan Kamu tahu, di ponselnya itu, panggilan terakhir yang dilakukan adalah nomor ponsel milikmu. Jadi, apa hubunganmu dengan pemuda itu?"...
..."Sebentar! Aku tidak tahu maksud Anda ini, siapa pemuda itu. Dan aku juga tidak ada sangkut pautnya dengan pemuda tersebut. Coba kasih Aku gambarnya!"...
..."Jika Kamu memang yang mengirim dia ke sini, jangan harap Kamu akan bisa selamat. Dan karirmu di kepolisian, akan segera tamat. Ingat itu Kapten!"...
"Tapi Tuan, Aku..."
Klik!
Sebelum sang Kapten menyelesaikan kalimatnya, panggilan telpon sudah diputus oleh Bos tersebut secara sepihak.
"Shitt!"
Dugh!
Sang Kapten mengumpat sambil memukul setir mobilnya.
Dia belum juga sampai di kantor, dan masih ada di pertengahan jalan. Tapi dia justru sudah mendapatkan telpon dari Bos tadi bahwa, dia telah dituduh berkhianat. Dengan mengirimkan mata-mata di villa yang tadi dia tinggalkan beberapa menit yang lalu.
"Sebentar! tadi, Bos mengatakan bahwa ada pemuda yang ditangkap. Dan histori panggilan ponsel terakhir pemuda tersebut adalah Aku. Apa maksudnya itu... Gavin?"
Sang Kapten akhirnya ingat, jika tadi Gavino sempat menghubungi dirinya. Pada saat dia baru saja keluar dari villa.
"Apa Gavin melihatku keluar dari villa, sehingga dia pura-pura menelponku. Kemudian bertanya, di mana Aku berada? Apa dia tahu, apa yang Aku lakukan di sana?"
Sekarang, sang Kapten justru berpikir bahwa, saat ini Gavino sudah mengetahui, apa yang dia lakukan bersama dengan Bos tersebut.
Wajahnya tampak terkejut, saat menyadari apa yang saat ini sedang terjadi.
__ADS_1
"Gawat! Ini bisa jadi kehancuran karir dan hidupku!"
Sang Kapten akhirnya sadar, jika dia sudah tidak bisa lagi mengelak dari semua pihak. Seandainya Gavino sampai melaporkan dirinya, dengan apa yang sudah dilakukan di luar tugasnya sebagai seorang kapten polisi. Yang seharusnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Sebab dia adalah seorang abdi negara.