Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Tidak Tahu Kebenaran Yang Sebenarnya


__ADS_3

Gavino merasakan pusing yang sangat, setelah selesai melihat semua informasi tentang Madalena dan papanya.


"Aduh... kenapa kepalaku jadi pusing seperti ini?" tanya Gavino pada dirinya sendiri.


Dia pun memegang kepalanya, yang terasa benar-bener sakit. Tapi pada saat dia hampir mencapai tempat tidur, dia terhuyung dan jatuh ke lantai.


Bahkan kepalanya juga terantuk pinggiran ranjang yang mau dia duduki tadi.


Bruk!


Tuk!


"Arghhhh..."


Gavino merintih kesakitan, sambil memegang kepalanya sendiri. Dan sekarang, bagian kepala yang terkena pinggiran tempat tidur jadi benjol, dengan warna membiru karena memar.


Dia hanya bisa memejamkan matanya, dan berusaha untuk mengaktifkan sistem sehat untuk kekuatan dirinya.


"Apa Aku bisa mengaktifkan sistem sehat?"


( Ting )


( Sistem aktif )


"Apa Aku bisa kembali sehat seperti tadi? Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing?"


( Informasi yang anda dapatkan terlalu banyak. Itu menguras energi positif pada sekitar Anda Good Father )


"Hemmm... lalu bagaimana sebaiknya?"


( Jika sudah mendapatkan informasi, lanjut lagi beberapa jam, untuk memberikan waktu sistem untuk pulih terlebih dahulu )


"Oh... tadi Aku langsung mencari informasi tentang papanya Madalena, setelah Madalena sendiri."


"Baik. Kau paham."


"Lalu, sekarang Aku ingin aktifnya sistem sehat. Apa itu akan berpengaruh juga pada tubuhku?"


( Bisa Good Father )


"Aktifkan sistem sehat dan kekuatan untuk kembali seperti tadi."


( Sistem sehat aktif )


1%


5%


20%


35%


50%


70%


85%


95%


100%


( Sempurna )


Dan saat ini, Gavino tidak lagi merasakan kesakitan pada kepalanya. Sama seperti beberapa menit yang lalu.


Bahkan, benjolan memar yang tadi dia rasakan saat terantuk pinggiran tempat tidur, juga sudah tidak ada lagi.


Secara perlahan-lahan, dia mulai memahami. Bagaimana cara kerja sistem yang dia miliki.

__ADS_1


Setelah dirasa semuanya sudah selesai dan baik-baik saja, Gavino segera bersiap untuk tidur. Apalagi saat ini, malam sudah berganti menjadi dini hari. Besok pagi, dia juga masih harus berangkat ke sekolah.


*****


Saat berada di sekolah pagi hari.


Madalena tersenyum cerah. Sama seperti biasanya. Tidak tampak adanya kesedihan ataupun perasaan was-was dan rasa takut. Sama seperti yang dia rasakan semalam. Atau pada sat dia berada di rumah.


Jadi, semua orang juga tidak akan ada yang tahu. Bagaimana kehidupan seorang Madalena yang sebenarnya selama ini.


"Hai Gavin. Thanks ya semalam. Kamu benar-benar seorang pangeran!"


Madalena berkata, sambil mendaratkan bokongnya ke tempat duduk. Yang ada di depan Gavino. Jadi, sekarang dia juga duduk membelakangi kelas. Sehingga bisa berhadap-hadapan dengan Gavino.


"Sama-sama. Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Gavino, seakan-akan terdengar sangat khawatir di telinga Madalena.


Dia tersenyum sangat manis. Dia merasa sangat senang, karena diperhatikan oleh Gavino. Meskipun terkesan biasa saja dan datar. Tapi bagi Madalena itu sudah lebih dari cukup. Untuk sebuah perhatian yang dia inginkan.


"Ya. Seperti yang Kamu lihat. Aku baik-baik saja, dan tidak kurang suatu apapun."


Dari arah pintu kelas, tampak Bianca yang baru saja datang dan bermaksud untuk masuk.


Tapi saat netra nya melihat keberadaan Madalena yang bersama Gavino, dia urung untuk masuk ke dalam kelas. Bianca tidak ingin melihat kedekatan keduanya.


"Hai! Kenapa gak jadi masuk?"


Bianca kaget, saat mendengar teguran dari arah belakang. Dan ternyata itu adalah Dante. Sepupunya sendiri.


"Eh, emhhh... gak apa-apa kok. Aku lupa sesuatu aja. Bentar ya!" sahut Bianca gugup.


Dia berjalan cepat menuju ke arah kelas lain, dan mengabaikan Dante yang hampir saja mau bertanya lagi.


"Kenapa sih dia?" gumam Dante, bertanya pada dirinya sendiri.


Pluk!


Sekarang, ganti Dante yang terkejut dengan tepukan dipundaknya.


"Ah, sialll! Bikin orang kaget saja," ucap Dante memaki temannya sendiri. Karena orang yang menepuk pundaknya adalah Cardi.


"Hehehe... abisnya Kamu ngomong sendiri, kayak orang yang sudah..."


"Eh, awas ya ngatain Aku gila!"


"Hahaha... Aku gak ngomong tuh! Kamu sendiri itu yang bilang."


"Hahaha..."


Keduanya berangkulan dari arah samping, kemudian melangkah masuk ke dalam kelas.


Dan keduanya kini saling berpandangan, saat melihat keberadaan Madalena yang tampak sangat akrab dengan Gavino.


...'Pantes Bianca tadi pergi lagi. Mungkin dia lihat ini,' batin Dante. ...


'Putri halu ngapain itu?' batin Cardi bertanya.


Mereka berdua, memang tidak tahu. Apa yang terjadi kemarin, pada saat jam istirahat. Saat Bianca dan Madalena berebut untuk bisa jalan dengan Gavin sepulang sekolah.


Tapi Dante maupun Cardi, tidak ada yang menegur keduanya. Gavino maupun Madalena. Karena mereka langsung menepati tempat duduknya masing-masing. Sampai pada akhirnya, Gavino yang bertanya pada Dante.


"Hai Dante. Tumben Bianca belum datang?"


"Emhhh... itu, emhhh... tadi, anu..."


Dante menjawab pertanyaan Gavino, karena terbata-bata. Dia tidak tahu harus menjawab apa, dan bagaimana menjelaskannya juga. Karena sebenarnya, tadi dia sudah bertemu dengan Bianca di depan kelas.


"Hai... pagi semua!"


Belum sempat Dante meneruskan kalimatnya, Bianca muncul dengan mengucapkan selamat pagi dengan senyum cerahnya.

__ADS_1


"Hai Bi, pagi juga."


"Pagi Bianca."


"Pagi juga..."


Banyak yang menjawab salam dari Bianca, termasuk dengan Gavino bersama dengan Madalena juga. Meskipun kini, Madalena sudah tidak lagi berada di depan Gavino. Tapi sudah duduk di tempatnya sendiri.


Bianca hanya tersenyum tipis, melihat ke arah Gavino. Kemudian duduk ke tempat duduknya sendiri, tanpa punya keinginan untuk menyapa atau bicara pada Gavino seperti biasanya.


'*Bianca kenapa ya? Kok gak seperti biasanya.'


'Apa ini masih soal yang kemarin? saat Aku pergi berdua dengan Madalena*?'


Gavino menebak-nebak sendiri, tentang perubahan sikap Bianca pagi ini.


"Sistem informasi aktif."


( Ting )


( Sistem informasi diaktifkan )


( Informasi apa yang anda butuhkan Good Father )


"Aku ingin tahu, kenapa Bianca berubah sikap?"


( Informasi mencari data )


1%


15%


30%


50%


70%


85%


95%


100%


( Sempurna )


Gavino bisa melihat bagaimana Bianca yang tadi mau masuk ke dalam kelas, tapi merasa tidak nyaman dengan keberadaan Madalena yang sedang bersama dengannya.


( Ting )


( Informasi selesai )


"Hemmm... dia salah paham," gumam Gavino sendiri.


Sekarang dia tahu, jika Bianca tidak suka melihatnya dekat dengan Madalena.


"Tapi apa dia akan tetap pada sikapnya yang seperti itu, jika tahu kebenaran tentang Madalena yang tidak diketahui oleh orang lain?"


Gavino mempertanyakan sikap Bianca, seandainya tahu kebenaran dan keadaan Madalena jika berada di rumah.


"Semoga dia tidak membenci Madalena. Karena sebenarnya Madalena hanya butuh perhatian dan kasih sayang dari keluarganya sendiri."


Gavino berencana untuk bicara dengan Bianca, pada saat jam istirahat sekolah nanti. Atau, bisa juga pada saat pulang sekolah.


Akhirnya Gavino mengirim pesan singkat pada Bianca, agar bisa di baca kapan saja. Tanpa harus terlihat berbicara dengannya.


Sedetik kemudian, pesan yang dikirim oleh Gavino pada Bianca terkirim.


Tapi sepertinya, Bianca belum menyadari jika ada kesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2