
Gavino melajukan mobilnya menuju ke tempat yang sudah ditentukan oleh Verdi. Dia pun meminta pada sang kapten, untuk mengikuti GPS yang dia kirim. Melalui handphone miliknya.
Rencana dan strategi, sudah mereka bicarakan sebelumnya. Jadi, sang kapten hanya mengikuti langkah selanjutnya di tempatnya nanti.
"Semoga Aku tidak terlambat," ucap Gavino penuh harap.
Sebenarnya, dia tidak mau meninggalkan rumah sakit. Karena keadaan kedua orang tuanya yang ada di sana, juga sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Tapi Gavino juga harus bisa menentukan pilihan, mana yang harus dia kerjakan saat ini.
Sekarang dia melajukan mobilnya melalui jalan gang-gang kecil yang bekum pernah dia lalui sebelumnya. Dia hanya mengikuti arah peta lokasi, yang dikirim oleh Verdi beberapa menit yang lalu.
( Ting )
( Good father butuh misi untuk senjata atau kekuatan )
'Hah! Aku... aku butuh semuanya bagaimana?'
( Pilihan dalam waktu 5 detik )
'Huhfff... Aku butuh senjata!'
( Ting )
( Memproses penyatuan senjata dengan penerimaan )
1%
15%
30%
45%
60%
70%
80%
90
100%
( Ting )
( Penyatuan selesai )
Gavino merasa tangannya kesemutan. Bahkan untuk menekan kendali rem saja tidak bisa dia gunakan.
"Arghhhh..."
"Ahhh!"
"Bagaimana ini?"
Gavino panik dengan keadaan dirinya saat ini. Dia takut jika keadaanya saat ini akan terus berlanjut hingga bertemu dengan kawanan Verdi cs.
Bahkan dia harus membanting setir, untuk mengalihkan laju mobilnya. Agar tidak terjadi kecelakaan yang lebih parah. Karena tangannya tidak bisa digunakan untuk mengendalikan rem.
Bruakkk!
Mobil Gavino menabrak dinding tinggi pada sebuah bangunan gudang yang sepertinya kosong.
"Hum... Aduh!"
Kaki Gavino terjepit pintu mobil yang rengsok. Sehingga dia berusaha untuk keluar dari dalam mobil sekarang juga.
Dia juga takut, seandainya mobilnya akan terbakar. Akibat kecelakaan tunggal yang dia alami saat ini. Itu bisa membuat rencananya gagal total. Sehingga Verdi cs bisa bebas berkeliaran tanpa bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
Gavino berjalan tertatih-tatih dengan menahan kesakitan pada tangannya. Dia menuju ke sisi lain, dari posisi mobilnya yang sekarang.
"Huhfff... bagaimana ini?"
Tapi tak lama kemudian, rasa sakit yang tadi ada pada bagian tangannya berangsur-angsur membaik. Dia tidak lagi merasakan kesakitan yang sama seperti tadi.
"Hum... terus ini bagaimana? Apa mobilnya masih bisa digunakan?" gumam Gavino bertanya pada diri sendiri.
Sekarang, dia kembali ke mobilnya. Mencoba untuk menghidupkan mesinnya kembali.
Bremmm!
Brettt!
"Ah, sialll!"
Mobil Gavino tidak lagi bisa digunakan. Padahal jarak yang harus dia tempuh masih jauh. Sekitar 5 kilometer lagi dari tempatnya berada saat ini.
"Coba Aku hubungi kapten."
Dalam hati Gavino berharap, agar sang kapten masih ada di perjalanan. Sehingga bisa menjemput dirinya terlebih dahulu, untuk pergi bersama-sama menuju ke tempat yang mereka berdua tuju.
Sayangnya, ponsel sang kapten berada di luar jangkauan. Sinyal hilang, sehingga Gavino merasa putus asa. Apalagi waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai di tempat Verdi, sudah tidak bisa diulur-ulur. Dia harus berusaha sendiri, agar bisa sampai tepat waktu.
Akhirnya Gavino memutuskan untuk berlari sekuat tenaga. Agar bisa berlomba dengan waktu yang ada.
Dia tidak mau terlambat datang, sehingga transaksi ilegal Verdi bisa berjalan dengan lancar. Tanpa ada orang yang bisa menggagalkannya.
"Hoshhh... hoshhh..."
Gavino terus berlari menuju ke tempat target. Yang sudah ditentukan. Tapi kini dia tidak ada banyak waktu.
"Ck! Bagaimana ini?"
"Aku bisa terlambat untuk tuba di tempat sesuai dengan waktu yang tepat."
Dalam keadaan bingung dan ragu, Gavino mencoba untuk naik ke atas atap bangunan yang ada di depannya.
Ternyata apa yang ada dipikiran Gavino benar. Kini terlihat senyuman tipis di sudut bibirnya. Dia pun merasa lega, kemudian segera melompat dari atap bangunan tersebut.
"Hap!"
*****
Di tempat yang lain.
Verdi dan kawan-kawannya sudah mempersiapkan segala sesuatunya, untuk rencana yang sudah disusun sedemikian rupa.
"Cek lagi semuanya. Pokoknya kali ini Aku tidak mau ada kegagalan, sama seperti waktu Alano dulu!"
Terdengar suara Verdi memberikan perintah kepada anak buahnya.
"Siap Bos!"
"Kita butuh bantuan lagi gak Bos? Geng Tirex siap meluncur jika diperlukan."
"Gak perlu! Dia berjanji akan datang sendiri. Lagipula, tadi sudah ada informan yang memberikan laporan. Jika Gavino berangkat sendiri. Sedangkan temannya yang lain ada di rumahnya sendiri-sendiri."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh Verdi, orang tadi, dan yang lainnya juga, mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
Mereka semua berpikir bahwa, Bos nya itu tentu sudah memilki perencanaan yang matang untuk operasi mereka kali ini.
"Siapkan semuanya. Target akan segera datang."
"Bagaimana dengan barangnya? Sudah dipersiapkan?"
Verdi memberikan perintah dan pertanyaan kepada anak buahnya. Dia tidak mau ada kesalahan dalam rencananya kali ini. Apalagi kesempatan ini, belum tentu bisa diulang lagi dikemudian hari.
*****
__ADS_1
"Hap!"
"Hiattt!"
"Hap!"
"Hoshhh... hoshhh!"
Gavino meloncat dari satu atap bangunan ke atap bangunan yang lainnya, supaya lebih cepat sampai di tempat tujuan.
Dia harus berkejaran dengan waktu. Supaya tidak terlambat datang.
Drettt... drettt... drettt!
Ponsel Gavino berdering, pada saat dia ada di ujung bangunan gedung yang ada di pojok persimpangan jalan.
"Kapten?"
Di layar handphone milik Gavino, ada nama kapten yang sedang menghubungi dirinya.
..."Ya Kapten!" ...
..."Di mana Kamu sekarang?" ...
..."Saya ada di ujung bangunan. Di atap gedung Kapten." ...
..."Hai! Apa yang Kamu lakukan di sana?" ...
..."Ada kejadian kecil yang mengharuskan Saya melakukan ini Kapten. Maaf, tidak bisa bercerita banyak sekarang." ...
..."Ya baiklah."...
..."Kapten sendiri ada di mana?" ...
..."Aku sedang mengintai jumlah mereka. kemungkinan besar ada lima puluh orang. Kamu yakin tidak perlu bantuan tim?" ...
..."Tidak Kapten." ...
..."Baiklah. Hati-hati!" ...
..."Siap Kapten." ...
Klik!
Gavino kembali membuat ancang-ancang, untuk melompat ke seberang jalan. Ke atas atap bangunan yang ada di sana.
Dengan menghela nafas panjang terlebih dahulu, Gavino melompat setelah berjalan kebelakang dalam beberapa langkah. Kemudian...
"Hiattt... Hap!"
"Ehhh...!"
Kakinya yang satu terpeleset dan hampir membuatnya terjatuh dari tempat lompatan yang dia inginkan.
"Huhfff..."
Setelah menarik kakinya, Gavino membuang nafas lega.
Kini dia harus segera bersiap-siap berlari lagi. Karena jarum jam di pergelangan tangannya, memberikan petunjuk, jika dia kurang dari lima menit lagi.
"Semoga tidak terlambat."
Dengan sekuat tenaga, Gavino mempercepat langkah kakinya dengan berlari dan melompat.
Dan pada saat dia melompat turun ke salah satu jalan, yang dipastikan bahwa itu adalah tempat yang ditentukan, jarum jam tepat di angka 11.
"Hah... mana mereka?"
Gavino awas melihat ke sekeliling. Dia tidak menemukan apa-apa di sekitarnya saat ini.
__ADS_1
"Apa Aku salah tempat?"