Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Pesan Mirele Untuk Gavino


__ADS_3

Pemakaman Giordano dan Mirele, hanya dihadiri oleh satu pendeta, sang Kapten dan kedua asistennya yang menjaga Gavino, empat petugas rumah sakit, pengacara Gavino dan tentunya Gavino sendiri sebagai pihak anak dan keluarga.


Tidak ada karangan bunga besar atau pelayat. Tidak ada acara besar apapun, yang mengiringi penurunan peti mati kedua orang tuanya Gavino.


Hanya ada dia yang diucapkan oleh sang pendeta, untuk arwah kedua orang yang sudah pergi meninggalkan dunia ini terlebih dahulu, menuju surga_Nya.


Setelah selesai, pendeta pamit pulang, di antar oleh pengacara Gavino. Yang juga pamit terlebih dahulu. Karena dia juga harus menyelesaikan pekerjaannya mengurus semua hal, tentang usaha kios serta warabala. Milik mendiang Giordano dan Mirele.


Empat orang yang merupakan petugas rumah sakit juga sudah pergi. Tinggal Gavino dan sang Kapten, yang masih ada di antara dua makam baru tersebut.


Sedang dua asisten sang Kapten, sudah lebih dulu beranjak dari tempatnya. Mereka berdua siap di luar pintu masuk area pemakaman.


"Gavin. Apa yang akan menjadi rencana Kamu ke depan nanti?"


Pertanyaan yang diajukan oleh sang Kapten, tidak segera dijawab oleh Gavino. Dia masih tetap menundukkan kepalanya, melihat tanah basah di dua gundukan makam Giordano dan Mirele.


"Hemmm..."


Terdengar suara helaan nafas panjang, yang keluar dari lubang hidung Gavino.


"Saya mau pergi dari kota ini Kapten."


Ucapan Gavino yang menjawab pertanyaannya tadi, membuat sang Kapten mengeryit heran.


"Pergi, maksudmu melanjutkan kuliah ke luar negeri atau ke luar kota?" Sang Kapten berusaha untuk memastikan tebakannya.


"Hum..."


Tapi Gavino tidak memberikan jawaban yang jelas. Dia tidak mau ada yang tahu, ke mana dia akan pergi untuk sementara ini. Karena sebenarnya dia hanya ingin menghilang dari pandangan orang-orang yang mengenalnya.


"Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Tapi jika Kamu butuh bantuan, atau apapun itu. Jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku."


Gavino hanya mengangguk samar, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh sang Kapten.


"Pergilah Kapten. Aku tidak perlu ditunggui. Kapten pasti masih banyak pekerjaan. Aku tidak apa-apa."


Sang Kapten tahu, jika ucapan Gavino barusan adalah cara untuk mengusirnya. Meskipun dengan cara dan kata-kata yang halus. Tapi dia juga tidak mau menganggu Gavino, yang sedang butuh waktu untuk sendiri.


"Baiklah. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Gavino menerima uluran tangan dari sang Kapten, yang pamit untuk pergi dari area pemakaman tersebut.


"Hati-hati."


Hanya itu saja yang bisa diucapkan oleh Gavino, saat mereka berdua berjabat tangan.


Beberapa saat kemudian, setelah Gavino sendirian di antara dua makam baru Giordano dan Mirele.


"Maafkan Gavin Pa, Ma."


"Sebenarnya, Gavin tidak mau ini terjadi. Gavino merasa sangat bersalah."


"Jika diberikan pilihan, Gavin lebih memilih untuk hidup di masa lalu. Di mana kita bisa bersama-sama terus. Meskipun ada banyak kekurangan dan cacian dari mulut orang-orang."


"Apa artinya semua ini Pa, Ma? Gavin tidak tahu harus bertahan untuk siapa lagi, jika kalian berdua sudah tidak ada lagi sekarang."


Pertanyaan dan perkataan Gavino masih terus terdengar di tempat itu. Di mana dia meluapkan rasa sedih dan kecewanya, tanpa ada yang tahu.


Air matanya juga keluar tanpa bisa dia tahan. Meskipun dia sudah berusaha untuk tegar dan kuat, untuk kematian mereka berdua.


Tapi pada kenyataannya, dia tetap saja menangis. Di saat sendirian seperti ini.


*****


Kepala maid di rumah Gavino, terkejut saat melihat kedatangan Gavino yang dalam keadaan seperti sekarang ini.


Pakaian yang dikenakan Gavino tampak lusuh, dan ada bekas tanah di kedua lututnya. Begitu juga dengan wajahnya yang terlihat jelas jika sedang dalam keadaan bersedih hati.


"Tuan muda dari mana? Ini kenapa celananya juga kotor? Ada tanah dibagian lutut."


Perkataan dari pelayannya itu membuat Gavino tersadar. Tadi dia memang berlutut di depan pusara kedua orang tuanya. Dan dia tidak memperhatikan keadaan celananya setelah itu.


"Tidak apa-apa. Hanya kotor sedikit."


Gavino menjawab sekenanya. Dia tidak mau membahas lagi tentang celananya yang kotor, kemudian segera berlalu begitu saja menuju ke arah kamarnya sendiri.


"Oh ya Tuan muda. Kemarin ada dua teman Tuan muda yang datang ke rumah ini. Mereka mencari keberadaan Tuan muda."


Langkah Gavino terhenti. Dia menoleh ke arah kepala maid, tapi tidak juga mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Baiklah. Terima kasih." Hanya jawaban datar yang keluar dari mulut Gavino. Yang akhirnya berbalik lagi untuk menuju ke kamar.


Tapi langkahnya kembali berhenti, Du saat kepala maid memberikan laporan. "Tuan besar dan Nyonya juga tidak pulang sedari kemarin Tuan muda."


Sekarang, Gavino menghela nafas panjang. Tapi tidak membalikkan badannya lagi.


"Papa dan mama sedang berada di luar negeri." Gavino memberikan penjelasan kepada kepala maid, supaya tidak lagi bertanya-tanya.


Dari kaca yang ada di samping tempanya berdiri, Gavino bisa melihat bayangan kepala maid yang mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah mendengar penjelasan yang dia berikan.


Sekarang dia masuk ke dalam kamar, langsung menuju ke kamar mandi. Dia ingin berendam sebentar, untuk melupakan semua kesedihan yang ada di dalam hatinya.


"Aku harus pergi dari kota ini untuk sementara waktu."


Pikiran Gavino sedang kalut. Dia ingin menenangkan dirinya, untuk pergi menyendiri. Tanpa ada yang tahu keberadaannya.


"Apa Aku pergi ke Monte Isola saja ya?"


Terbesit keinginannya untuk pergi ke kota asalnya. Di sana dia masih ada rumahnya sendiri. Meskipun kecil, tapi banyak sekali kenangan tentang Giordano dan Mirele di sana.


Ada juga beberapa tetangga dan teman, meskipun hubungan antara mereka tidak bisa dikatakan Baik-baik saja.


Apalagi jika Gavino ingat masa-masa kecil waktu sekolah. Gavino kembali menghela nafas panjang, untuk melupakan semua kenangan buruknya di masa lalu.


"Sebaiknya Aku pergi ke kota lain. Yang tidak ada satupun mengenaliku."


"Tapi bagaimana dengan sekolahku?"


"Aku bisa minta tolong pada pengacara, untuk mengurusnya. Toh sekolah sudah selesai. Tinggal menunggu kelulusan. Aku bisa ambil kuliah di kita tempatku tinggal nanti. Meskipun tidak sebesar kita Roma."


Akhirnya Gavino memutuskan untuk tetap pergi dari kota Roma ini.


Kota yang dulu menjadi kota impiannya, supaya bisa mengubah nasibnya sendiri dan juga kedua orang tuanya.


Memang semuanya berubah. Dan lebih dari apa yang dia inginkan. Karena pada akhirnya, dua justru kehilangan kedua orang tuanya sendiri. Di tengah-tengah usahanya untuk bisa melawan kejahatan.


Tapi pesan yang disampaikan oleh Mirele waktu itu, membuat Gavino sedikit lebih lega. Sebab Mirele menginginkan dirinya menjadi orang kuat, tapi tetap ada di jalan yang benar.


Mirele juga memberikan bocoran tentang pembunuh neneknya. Maka dari Mirele, yang merupakan orang kepercayaan dari Kakek Gavino sendiri.

__ADS_1


"Dia tidak hanya seorang mafia hebat saat ini. Tapi orang itu sudah masuk ke dalam jajaran pemerintahan. Sering dielu-elukan namanya. Kamu harus bisa melawannya Gavin."


Itulah pesan yang masih diingat Gavino dari mamanya, hingga saat ini.


__ADS_2