
Sekarang ini, Gavino bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri secara langsung dan nyata, bagaimana keadaan ruangan yang dia lihat di layar sistem.
Bagaimana keadaan kamar yang ada pada gambar sistem, ternyata sama persis seperti yang ada di depannya saat ini.
Sebuah ranjang besi yang ada di sebelahnya itu, digunakan untuk Thomas Bryan yang akan bersenang-senang dengan pasangan prianya.
Dan ruangan yang ada di sebelahnya lagi, digunakan untuk bersenang-senang dengan para wanita cantik, yang pada akhirnya akan kehilangan nyawanya. Karena penyiksaan yang dilakukan oleh Thomas Bryan, atau king Black, sama seperti orang yang sedang mengeksekusi mereka berdua. Yaitu dua wanita cantik, yang saat ini sudah ada bersama dengan Thomas Bryan di ruangan sebelah kanan ruangan ini.
Gavino mengedarkan pandangan matanya, ke seluruh ruangan, dengan matanya yang tetap awas. Sebab dia harus tetap waspada dalam keadaan apapun itu.
Apapun itu bisa saja terjadi di ruangan ini. Dia tidak mau mati sia-sia, karena ketahuan jika sedang menyamar. Dia harus bisa berhadapan langsung dengan Thomas Bryan, ataupun king Black.
Dia harus memastikan bahwa, yang dia hadapi benar-benar king Black sendiri. Bukan orang lain yang digunakan sebagai tameng, karena Gavino juga takut jika, identitasnya sudah bisa diketahui oleh Thomas Bryan.
Jadi, dia harus bisa melindungi dirinya sendiri, sehingga Gavino harus tetap waspada. Seandainya king Black mengetahui identitas aslinya yang sedang menyamar sebagai laki-laki bayaran.
Thomas Bryan adalah orang yang cerdas. Tidak mudah untuk dikelabui, karena pada kenyataannya, selama ini Thomas Bryan tidak bisa digeser kepemimpinannya sebagai king Black di dunia mafia.
Gavino yakin king Black bukan hanya hebat karena orang-orang yang disekitarnya saja. Tapi dia memang hebat secara pribadi. Karena kenyataannya, seorang king Black bisa melindungi orang-orang terdekatnya, Sehingga jauh dari pemberitaan umum, dan tidak pernah tahu, bagaimana kehidupan seorang ketua mafia tingkat dunia yang sesungguhnya.
Tiba-tiba, dari ruangan sebelah terdengar teriakan-teriakan yang tidak biasa. Meskipun di ruangan ini kedap suara, tapi Gavino masih bisa mendengar dengan jelas suara-suara tersebut. Karena pendengarannya juga tajam.
Gavino bergidik ngeri, mendengar semua yang bisa didengar sekarang ini.
"Apa yang sebenarnya dilakukan king Black terhadap mereka? masak iya dia menyiksa
__ADS_1
cewek-cewek tersebut? apakah itu bentuk kepuasan yang dia cari? atau kepuasan tersendiri dengan menyiksa mereka? Sungguh aneh kebiasaannya!" batin Gavino lagi, di saat mendengar dengan jelas, bagaimana suara-suara aneh dari ruangan itu.
Sekarang, Gavino mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari suara-suara tersebut, ke pernak pernik yang dijadikan pajangan di dalam ruangan ini.
Jika dilihat dari luar, semuanya tampak biasa saja. Sama seperti kamar biasa pada umumnya.
Tapi nyatanya, di ruangan yang ditempati ini tidak jauh berbeda dengan sebuah ruangan yang sama seperti ruangan eksekusi.
Mungkin saja, ruangan yang ditempati cewek-cewek di sana jauh lebih mengerikan dibandingkan yang ada di sini. Karena ada beberapa botol obat, alat suntik, dan handuk-handuk kecil yang tersusun rapi di atas rak, tak jauh di pinggir ranjang yang ada di sebelahnya saat ini.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan? jika hanya untuk menyiksa karena kepuasan itu tidak mungkin. Tapi Aku juga tidak bisa memastikan sendiri, apa yang akan terjadi padaku setelah ini." gumam Gavino dengan masih Melihat-lihat keadaan sekitar.
"Apa setiap cewek yang habis bersama dengan king Black harus hilang? tidak ada jejak dan pencarian dari keluarga wanita-wanita cantik tersebut. Lalu tim medis yang selalu standby di sini apa gunanya? apa yang sebenarnya disembunyikan king Black dengan kedoknya ini?"
Gavino terus berpikir keras, dengan apa yang akan dialami selanjutnya nanti. Sebab sistem tidak memberitahu apa yang akan dia alami nantinya. Jadi dia harus tetap waspada, dalam keadaan apapun dan di mana pun itu.
Dia merasa seperti seorang tahanan, yang dikurung di sebuah ruangan yang tidak dikenali. Untuk menunggu keputusan nasibnya dengan jatuhnya sebuah hukuman.
"Apa ini memang yang diinginkan pihak Thomas Bryan? membuat seseorang merasa kesepian lalu berpikir yang tidak-tidak, seperti seseorang yang sedang berhalusinasi. Apa itu yang dia inginkan?"
*****
Di luar sana, George yang tidak diperbolehkan untuk menuggui Gavino, sudah kembali kedalam kamarnya.
"Sialll! Aku malah di usir. Untungnya Aku dalam mode penyamaran sebagai waria." gerutu George dengan hati yang kesal. Karena tidak diperbolehkan untuk menunggu Gavino tadi. Sehingga dia memutuskan untuk di rumah saja.
__ADS_1
Itulah sebabnya, George akhirnya kembali ke kamarnya sendiri, kemudian mengaktifkan alat yang komunikasi yang ditempel di punggung Gavino.
Alat komunikasi tersebut ditempel pada punggung Gavino, supaya tidak diketahui oleh orang-orang king Black.
Tapi bisa jadi, alat tersebut justru ketahuan bisa oleh orang lain. Meskipun bentuknya sangat tipis dengan warna yang sama seperti warna kulit punggung pada umumnya. Karena tidak berwarna alias transparan dan berbentuk tipis seperti plastik bening.
"Semoga Gavino bisa mengaktifkan nya dengan cepat. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya. Aku bisa merasa sangat bersalah, seandainya dia kenapa-kenapa. Bagaimana aku bisa memberikan jawaban pada king Goldblack, jika tahu Aku tidak becus menjaga cucunya? Aku akan merasa sangat bersalah, setelah dulu kehilangan kakeknya Gavino."
"Awas saja kamu king Black, jika sampai terjadi sesuatu pada Gavino!"
"Aku tidak peduli seandainya nyawaku menjadi taruhannya." tekad George, saat membayangkan nasib Gavino.
Dia tidak tenang, memikirkan keadaan anak muda yang sudah beberapa bulan terakhir ini dekat dengannya.
"Gavino, Gavino. Seharusnya Aku tidak menerima usulan mu ini. Sungguh, ini sangat menyiksaku. Menunggu tanpa mengetahui keadaanmu di sana." Kesah George dengan kegelisahannya.
"Apa dia akan baik-baik saja? ahhh... Aku pikir dia bisa menjaga diri, tapi... dia belum berpengalaman. Bagaimana bisa dia menghindari king Black? Aku takut Gavino terkena masalah juga, seandainya ketahuan jika sedang menyusup."
"Sialll... sialll... sialll! Aku tidak mau ada masalah dengannya. Tapi bodohnya Aku, malah menerima usulannya kemarin. Bagaimana sekarang ini?"
George terus merutuki dirinya sendiri. Dia tidak mau kehilangan Gavino, karena Gavino adalah keturunan dari king Goldblack, guru besarnya, ketua mafia nya yang dulu, dan masa depannya di masa lalu.
Sayangnya dia tidak sempat bertemu dengan king Goldblack di masa hidupnya untuk terakhir kali, sebelum king Goldblack meninggal dunia.
Itulah sebabnya, George ingin menjaga Gavino sebagaimana layaknya seorang pangeran. Dia tidak ingin merasa bersalah kepada king Goldblack, seadanya bertemu di alam baka nanti.
__ADS_1
"Aku harus bisa menyelamatkan Gavino, bagaimanapun caranya. Tapi, kenapa dia belum mengaktifkan alat sadap nya sampai sekarang? Bagaimana ini?"
George merasa tidak tenang, karena dia tidak mendapatkan kabar dari Gavino yang sedang bertemu dengan king Black.