
( Ting )
( Status kepemilikan sistem )
Nama : Gavino Giordano Junior
Status : Mahasiswa
Kekuatan : 75%
Kekayaan : 80%
Skill : 85 %
Pesona : 75%
Masa berlaku sistem ada di dalam tubuh : kurang dari 5 tahun
( Ting )
Gavino baru saja selesai mengecek sistem mafia yang dia miliki. Karena masa kepemilikan sistem ini ada batasannya, di mana dia sudah memilikinya secara keseluruhan dalam hitungan 100%.
"Waktuku untuk menyempurnakan sistem ini tunggal sedikit lagi. Apa dengan begitu, Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi setelah sistem itu hilang dariku?"
Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja dari mulutnya, bersama dengan datangnya rasa was-was yang dia masuk ke dalam dirinya.
Bukan tanpa alasan Gavino merasa takut. Sebab selama ini, sistem mafia yang tiba-tiba saja muncul dan aktif di dalam tubuhnya, telah membantunya dalam keadaan apapun.
"Aku tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini, jika tidak ada sistem tersebut."
"Sayangnya, setelah itu papa dan mama justru pergi dengan cepat. Kemudian membiarkan Aku hidup seorang diri tanpa dukungan mereka berdua."
"Lalu, jika semuanya sudah 100% dan tiba-tiba saja sistem itu menghilang, apa Aku masih bisa seperti ini terus nantinya?"
"Hemmm..."
Gavino memang tidak merasa takut, jika suatu hari nanti akan kehilangan dirinya sekarang. Yang sudah berlimpah dengan harta dan kekayaan saat ini.
Yang dia takutkan adalah kekuatan dan kemampuannya, untuk bisa menjadi penyambung dari terkuaknya kasus-kasus kejahatan yang ada di kota ini.
Bahkan dia juga belum menemukan king Black, orang yang sudah mengkhianati kakeknya di masa lalu.
Orang yang sama juga, yang menjadi target balas dendam George dan Robert. Karena merasa tidak mendapatkan keadilan selama king Black menjadi pemimpin mereka.
( Ting )
( Sistem akan menghilang dengan sendirinya, karena semuanya sudah sempurna ada pada diri Good Father suatu hari nanti )
( Tapi, dengan kesempurnaan tersebut, Good Father juga bisa dengan mudah melakukan apa saja. Meskipun tanpa adanya sistem )
'Maksudnya dengan mengandalkan diri sendiri, Aku mampu mengatasi semua permalasahan dan juga kesulitan yang akan terjadi dan Aku hadapi?'
( Ting )
__ADS_1
( Benar Good Father )
( Justru tanpa bantuan sistem, anda sudah bisa melakukan apa-apa sendiri. Asalkan itu dengan keyakinan akan kebenaran yang anda miliki saat itu )
Gavino menganggukkan kepalanya samar, di saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh sistem padanya.
Suara sistem, tentunya hanya Gavino seorang yang bisa mendengarnya.
'Baiklah. Dia tidak siap, semua pasti akan terjadi juga. Aku akan menghadapinya dengan cara dan keadaan yang ada pada saatnya nanti tiba.'
( Ting )
( Pasti Good Father bisa )
'Baiklah, Aku mengerti.'
( Ting )
Layar transparan sistem menghilang dari pandangan mata Gavino. Dia mulai memejamkan mata, karena waktu memang sudah malam.
Bahkan jam dinding yang ada di dalam kamarnya, sudah menunjuk ke arah angka 12.
Itu artinya, ini sudah tengah malam. Dan sebentar lagi sudah dini hari.
*****
Siang ini, saat Gavino ada bersama dengan Lorenzo, di depan kampusnya.
"Bagaimana kabar Madalena? Apa dia masih menghubungi dirimu?"
"Dia... ah, dia semakin cantik Gavin. Kadang aku takut sendiri, jika membayangkan bagaimana keadaan dirinya di sana. Yang pastinya ada banyak sekali mahasiswa yang melihatnya begitu sempurna."
Lorenzo bercerita dengan berapi-api. Mengungkapkan perasaan dan rasa was-was yang ada di dalam hatinya.
Tentu saja Lorenzo merasa was-was, karena bisa saja, Madalena akan tertarik dengan salah satu dari mereka. Secara Madalena ada di sana juga bebas. Belum terikat dengan Lorenzo, yang memang menginginkan sebuah kebebasan tanpa ikatan sebagai sepasang kekasih.
Pluk!
Gavin menepuk pundak temannya itu, untuk memberikan ketenangan. "Percayalah. Jika Madalena memang mencintaimu, dia pasti tetap menjadikan dirimu yang utama." Ucap Gavino, dengan tatapan mata yang menyakinkan.
Lorenzo mengangguk mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Gavino padanya.
"Bagaimana dengan dirimu? Maksudku..."
"Gavin!"
"Ah, Aku mencarimu ke mana-mana. Ternyata Kamu ada di sini."
Lorenzo tidak melanjutkan kalimatnya lagi, saat ada seorang gadis yang memangil nama Gavino. Bahkan, gadis tersebut juga tersenyum dan tampak akrab dengan temannya itu.
Apalagi sekarang, dua juga melihat gadis itu tak hanya mencium kedua pipi Gavino. Tapi memberinya kecupan di bibir, meskipun hanya sekilas saja.
"Dia..."
__ADS_1
"Dia temanku waktu sekolah dulu. Kenalkan," potong Gavino, saat Gress menunjuk ke arah Lorenzo. Meminta penjelasan tentang seseorang yang sedang dia ajak bicara.
"Hai! Aku Lorenzo.'
"Hai juga. Aku Gress."
Akhirnya Gavino memperkenalkan mereka berdua, dan masing-masing dari mereka menyebutkan namanya sendiri.
Sekarang Lorenzo kembali berpikir, jika Gress ini adalah teman dekat, maksudnya teman special Gavino.
Lorenzo berpikir demikian karena, Gress tampak perhatian dan manja. Sedangkan Gavino sendiri, fine-fine saja diperlakukan seperti itu oleh Gress.
Tapi ternyata bukan hanya Gress saja yang tampak akrab dengan Gavino sekarang.
Nyatanya, ada dua cewek lagi yang datang menghampiri mereka, dan langsung menyapa Gavino dengan manja.
'*Ternyata Gavino menjadi idola di kampusnya. Bukan hanya Gress saja, yang bersikap manja dengannya. Apa mungkin semua cewek akan seperti ini, jika demikian idolanya?'
'Apa Madalena juga akan bersikap seperti mereka juga di kampusnya sana*?'
Pertanyaan demi pertanyaan, muncul di benak Lorenzo. Dan kini dia justru teringat dengan Madalena.
"Huhfff..."
Gavino mendengar suara helaan nafas panjang Lorenzo.
"Sorry ya! Aku ada urusan sebentar dengan Lorenzo," pamit Gavino pada cewek-cewek yang mendekatinya, termasuk Gress juga.
Sekarang, dia menarik tangan Lorenzo. Mengajaknya pergi dari tempat duduknya ini.
"Kita pergi dari sini!" ajak Gavino pada Lorenzo. Yang kebingungan sendiri dengan ajakannya.
"Ada apa?"
"Tidak usah banyak tanya. Ayok pergi!"
Akhirnya Lorenzo hanya menurut. Dia hanya menganggukkan kepalanya, melihat ke arah gadis-gadis yang kini mereka tinggalkan.
Ternyata Gavino mengajaknya masuk ke dalam mobil. Dan itu adalah mobilnya Lorenzo. Karena mobilnya Gavino, ada di parkiran kampus.
"Ada apa? Kenapa Kamu mengajakku pergi? Mau ke mana?"
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan oleh Lorenzo yang kebingungan sendiri dengan kelakuan temannya itu.
"Aku tahu, Kamu risih dengan mereka semua."
"Aku? tidak. Kenapa harus risih?"
Sekarang, Gavino ganti menghela nafas panjang. "Hemmm... Kamu berpikir Aku play boy kan?" tanya Gavino dengan tatapan menyelidik ke arah Lorenzo.
"Kenapa harus merasa seperti itu? Aku tidak mengatakan apa-apa tadi." Lorenzo membela diri dengan pertanyaan yang memang benar.
Tadi, dia tidak bertanya ataupun mengatakan sesuatu, yang berkaitan dengan Gavino dan tiga gadis yang datang ke tempat mereka duduk tadi.
__ADS_1
"Kamu hanya perasa Gavin. Aku tidak apa-apa. Tidak ada persoalan apapun, dengan apa yang Kamu lakukan bersama dengan mereka. Dan Aku tahu, merekalah yang mengejar-ngejar Kamu. Hahaha..."
Gavino mendelik tajam ke arah Lorenzo, karena perkataannya yang lebih mirip dengan sebuah ejekan.