Gavino ( Sistem Mafia )

Gavino ( Sistem Mafia )
Selesai Satu


__ADS_3

"Arghhhh... Tidak!"


"Jangan! No..."


Teriakan Alano kesakitan, terus terdengar sampai keluar ruangan.


Tapi anak buah Gavino tidak memberinya ampun. Begitu juga dengan king Black yang ikut menyaksikan eksekusinya.


King Black berwajah datar. Tidak ada rasa kasihan ataupun miris, melihat Alano yang sedang disiksa oleh anak buahnya. Karena dia sudah terbiasa dalam situasi seperti ini.


Berbeda dengan Gavino, yang belum pernah ada dalam situasi seperti ini. Melakukan hal yang biasa dilakukan oleh para mafia seperti dirinya.


"King Black, ma... maafkan Aku! A_aku ti_dak akan mengulangi lagi. A_aku, aaa..."


"A_aku akan pergi men... menjauh dari tempat ini, un_untuk selamanya!"


Alano mencoba untuk bernegosiasi dengan king Black, yang dulu pernah menjadi atasannya di dalam keanggotaan geng yang diikutinya sewaktu masih sekolah dulu.


Tapi ternyata, king Black tidak bergeming.


Aura dingin yang ditunjukkan oleh king Black, justru membuat siapa saja merasa takut. Termasuk Alano, yang sudah banyak mendapatkan luka pada tubuhnya.


"Jadi dihabisi kapan ini Tuan Besar?" tanya anak buahnya, yang sedari tadi memukuli Alano yang tidak bisa melawan.


"Tunggu sampai dia merasakan rasa sakitnya terlebih dahulu," jawab king Black sambil berlalu.


Anak buahnya itu, hanya mengangguk patuh.


Tapi di saat king Black sampai di depan pintu, dia memerintahkan kepada kenal punya dengan isyarat tangannya yang berada di depan leher.


"Siap king Black!"


Tak lama kemudian, terdengar suara erangan Alano yang kesakitan meregang nyawa.


Nasib Alano, berakhir di tangan anak buah dari mantan Bos besarnya sendiri.


Di luar ruangan, king Black bisa mendengar jeritan Alano untuk yang terakhir kalinya. Dia terus berlalu, dari tempat tersebut. Dia masih ada urusan yang harus diselesaikan secepatnya.


*****


Gavino sendiri langsung pergi ke kampus setelah melihat keadaan Alano.


Tapi sebelumnya, dia menghubungi Dante terlebih dahulu. Untuk bertanya keadaan Bianca terlebih dahulu.


Tut tut tut!


Tut tut tut!

__ADS_1


..."Halo Gavin. Ada di mana?"...


..."Aku sedang dalam perjalanan. Bagaimana kabar Bianca hari ini?"...


..."Dia lebih baik. Tapi, dia belum mau keluar dari kamarnya."...


..."Sampaikan pada Bianca, tidak usah memikirkan Alano lagi."...


..."Maksudnya bagaimana Gavin?"...


..."Semua sudah dibereskan. Alano tidak bisa melakukan apa-apa lagi."...


..."Baiklah. Kamu, kapan ke sini lagi? Mungkin Kamu bisa mengatakannya sendiri besok."...


..."Sementara ini, Aku belum bisa ke sana lagi. Jadi, disampaikan saja seperti itu."...


..."Baiklah kalau begitu."...


Klik!


Gavino membuang nafas panjang, setelah selesai melakukan panggilan telpon dengan Dante.


Sekarang, dia sedang berada di perjalanan menuju ke arah kampus, untuk menemui Gress terlebih dahulu.


Tapi di tengah jalan, Gavino mendapat laporan dari Lorenzo. Jika bengkel mobilnya sedang di serbu oleh beberapa orang yang tidak dikenal.


Gavino meminta rekaman cctv yang ada di bengkel, untuk dikirim kepada anak buahnya. Supaya anak buahnya bisa mengejar orang-orang tersebut, dengan cepat dan tidak salah sasaran.


Tapi Lorenzo mengatakan bahwa, orang-orang tersebut menggunakan topeng. Sehingga wajahnya tidak bisa dikenali.


Mendengar laporan tersebut, Gavino mengerutkan keningnya bingung. Tapi dia tetap meminta rekaman cctv tersebut, sebab anak punya pasti bisa melacak siapa orang-orang yang merusak bengkel mobil lorenzo saat ini.


Dan tak lama kemudian, pesan berupa video hasil rekaman cctv dari Lorenzo yang ada di bengkel, diterima oleh Gavino.


"Siall! Ini pasti orang-orang yang merasa tersaingi. Dasar otak kerdil!"


Gavino mengumpat sendiri, karena dia tahu motif yang digunakan oleh para preman, yang menyerang bengkel tersebut.


Akhirnya Gavino hubungi anak buahnya, untuk membereskan kekacauan yang ada di bengkel. Dia tidak mau jika, kekacauan itu akan berlanjut atau terulang lagi pada waktu yang kan datang.


Dia tidak mau jika Lorenzo patah arang, karena tidak bersemangat lagi. Dan itu semua gara-gara ulah para preman yang tidak seberapa.


Anak buahnya, juga sudah siap melakukan intruksinya. Mereka merasa senang, karena mendapatkan tugas di lapangan. Bukan hanya sekedar belajar dan latihan saja di markas mereka.


Akhirnya Gavino tidak jadi pergi ke kampus. Dia hanya memberikan pesan kepada gadisnya, Gress, bahwa dia masih ada urusan di luar.


Dia ingin tahu, siapa yang sudah menyuruh preman-preman tersebut. Jika benar salah satu dari bengkel saingan yang menyuruh kata preman itu, Gavino tidak akan tinggal diam. Karena persaingan itu sudah tidak sehat lagi.

__ADS_1


Sekarang, motor Gavino melaju menuju ke bengkel mobil Lorenzo.


*****


Di tempat lain.


George tersenyum tipis, melihat semua laporan yang masuk ke dalam email-nya.


Dia memang tidak bisa melakukan apapun dengan bebas, karena tindakannya dan semua yang dilakukannya, masih dipantau oleh anak buahnya king Black dan juga Gavino sendiri. Jadi dia hanya bisa memberikan perintah pada orang lain melalui email-nya, yang baru, dengan ponsel yang baru juga.


Ponsel dan emangnya yang lama, sudah disadap oleh Gavino. Sehingga dia tidak bisa bebas menghubungi siapapun.


Semua gerak-geriknya, dalam pantauan.


Sekarang, dia mendapatkan telpon dari orang yang tadi dia beri tugas.


..."Jika Kamu bisa, habisi gadis itu. Aku ingin melihat kesedihan yang akan dirasakan olehnya."...


Suara George yang terdengar datar dan dingin, terasa menakutkan. Karena dia sedang menyimpan dendam dalam hatinya, pada Gavino.


..."Siap Tuan. Kirimkan saja fotonya."...


..."Aku kirimkan sekarang."...


Klik!


Setelah memutuskan sambungan telpon, George mengirim pesan pada orang tersebut.


Pesan yang berupa foto seorang gadis, yang sedang menjadi targetnya. Katena punya bungan spesial dengan Gavino.


Anak muda yang dulu pernah menjadi atasannya, tapi juga saingannya.


Dia lupa, jika dulu Gavino juga pernah menolongnya. Pada saat dia dalam perjalanan dan dalam keadaan yang mengenaskan. Di saat berada di jalan menuju Monte Isola.


Dia yang dulunya tidak tahu latar belakang Gavino, begitu mengagumi anak muda tersebut.


Tapi di saat tahu kebenaran tentang siapa sebenernya Gavino, George merasa tersaingi. Dan akhirnya dia ingin mengalahkan Gavino dengan caranya sendiri.


Sayangnya, setiap usaha yang dia lakukan, selalu gagal.


Bahkan, dia sendiri yang terkena imbasnya. Karena dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi dengan bebas, setelah semuanya terkuak.


Apalagi, orang yang ada di belakang Gavino adalah king Black. Kakak sekaligus mantan atasannya di kesatuan mafia yang pernah dia ikuti di masa lalu.


Tapi semua itu justru membuat George semakin memupuk rasa dendamnya pada Gavino. Dia tidak mau jika Gavino ada di atasnya.


George merasa bahwa, dia lebih layak untuk menjadi orang yang lebih, dan berada di atas king Black, daripada Gavino yang belum punya pengalaman apa-apa.

__ADS_1


__ADS_2