
"Gavino, tunggu!"
Suara panggilan dari George, membuat Gavino menghentikan langkahnya menuju ke arah kamarnya sendiri. Kemudian dia berbalik , untuk menunggu George.
"Maaf, Aku tidak kembali ke kantor setelah membawa mobil temanmu tadi."
George memberikan penjelasan kepada Gavino, tanpa ditanya. Ini membuat Gavino berpikir bahwa, George pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Sebenarnya, apa yang ingin Kamu bicarakan George? sepertinya itu penting untuk Aku dengarkan." Gavino menebak jalan pikiran George, yang sengaja menunggu dirinya, hingga teman-temannya tadi pulang.
Saat ini, Lorenza dan Dante memang sudah pulang. Setelah mereka selesai makan siang dan berbincang-bincang sebentar.
"Bisa kita bicara..."
"Ayo ke kamarku!"
Gavino mengajak George untuk pergi ke kamarnya, sebelum George menyelesaikan kalimatnya yang susah diketahui maksudnya.
Akhirnya George membuntuti Gavino dari belakang, sebab dia memang ingin membicarakan sesuatu yang penting. Dan ini masih ada kaitannya dengan Gavino sendiri.
Clek!
Gavino membuka pintu kamar, kemudian mengajak George untuk segera masuk.
"Duduklah George!"
"Di sini Kamu bisa bicara banyak, tanpa takut akan ada yang mendengarnya."
George tahu, jika rumah Gavino aman-aman saja. Karena ada banyak kamera cctv di setiap sudut ruangan di rumah besarnya ini.
Tapi George bukankah orang yang mudah untuk bicara dengan mudahnya, jika itu menyangkut sesuatu yang sangat penting. Sehingga dia mau di ajak ke kamar Gavino.
Dia yakin, jika di dalam kamar Gavino sendiri. Semuanya akan lebih aman.
Mungkin ini adalah pengalamannya yang memang tidak bisa diragukan lagi, selama menjadi anggota mafia besar di negara ini.
Bahkan George juga dipercaya untuk memimpin anggota mafia mereka yang ada di negara Norwegia.
Dan George bukanlah orang sembarangan, yang asal dipilih karena kedekatannya dengan para pemimpin mafia tentunya. Karena untuk menjadi seorang pemimpin, tidak hanya sekedar butuh fisik yang kuat. Tapi otaknya juga harus sejalan dengan situasi yang ada. Meskipun dalam keadaan darurat sekalipun.
George akhirnya mulai bicara. Dia tidak membuat suara yang biasa saja. Karena kamar Gavino ini juga kedap suara.
__ADS_1
Jadi tidak mungkin bisa di dengar oleh orang lain di luar kamar Gavino ini.
"Aku mendapatkan laporan dari seseorang, jika saat ini king Black ada di Perancis. Dia akan melakukan sebuah transaksi, di saat ada acara pameran mode musim panas tahun ini."
Gavino mendengarkan informasi yang disampaikan oleh George padanya.
"Kamu yakin?"
"Sangat yakin Gavin. Tapi tentunya bukan dia sendiri yang bertransaksi. Ada orang-orang yang turun ke lapangan untuk transaksi tersebut. Sedangkan king Black ada di antara orang-orang kalangan atas, menyaksikan pameran mode tersebut."
Gavino terdiam mendengar perkataan George yang memang ada benarnya.
Tidak mungkin king Black turun tangan sendiri, hanya untuk sebuah transaksi biasa.
Kedatangannya ke pameran mode tersebut hanya untuk mengalihkan perhatian aparat keamanan atau polisi Paris, agar terpusat padanya. Yang merupakan orang penting di negara Italia ini.
"Jadi, apa rencana yang ingin Kamu lakukan?"
George terdiam sejenak, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Gavino padanya. Karena sebenarnya, dia juga sudah mempunyai rencana untuk menggagalkan transaksi mereka. Supaya king Black sadar bahwa dia masih ada dan akan terus mengintai segala sesuatu yang dilakukan oleh mantan Bos nya itu.
"Sebenarnya sasaran utamaku bukan transaksi itu Gavin. Tapi bagaimana caranya, supaya pameran mode tersebut gagal dengan kehadiran king Black."
"Wnfhfhgvgf... begitu Gavin. Bagaimana?"
Gavino membulatkan matanya, saat mendengar perkataan George yang berada di depan telinganya barusan.
"Kamu yakin George?" tanya Gavino, dengan membulatkan matanya. Di saat melihat mendengar rencana yang telah dibuat oleh George untuknya.
"Yakin Gavin. Aku sudah persiapkan segala sesuatunya untuk rencana ini."
"Huhhh..."
Gavino mendengus dingin, karena membayangkan bagaimana keadaan dirinya sendiri. Saat mengikuti rencana George nantinya. Dan untuk itu, dia juga harus ikut George ke Paris.
"Bagaimana Gavin? Ini kesempatan kita untuk membalas dendam pada king Black. Meskipun belum tentu berhasil juga. Tapi setidaknya kita sudah mencobanya kan?" desak George menggebu.
"Kita coba. Atur segala sesuatu yang kita butuhkan di sana. Berapa orang yang diperlukan, dan bagaimana situasi di sana. Aku tidak mau mati sia-sia di kota Paris!"
"Siap Bos Muda!"
George justru menanggapi perintah dari Gavino dengan sebuah candaan, dengan menyebut nama baru untuk Gavino.
__ADS_1
"Apa Bos Muda?" tanya Gavino tidak mengerti. Siapa yang disebut dengan Bos Muda oleh George.
"Kamu lah Bos Muda! siapa lagi menurutmu?"
"Hahhh! Ada-ada saja Kamu."
George tidak lagi menjawab. Dia hanya nyengir kuda, kemudian minta untuk undur diri dari kamar Gavino.
Beberapa saat kemudian, setelah George pergi dari kamarnya.
Gavino merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan.
Dia bersyukur karena mengenal George, yang pada awalnya orang yang tidak dia ketahui dari mana asalnya. Karena pada saat itu, George justru menodongkan senjata api ke arah lehernya.
George melakukan semua itu hanya karena ingin ikut pergi ke Monte Isola. Sebab dia ingin mencari keberadaan king Goldblack. Sedangkan di kota Roma ini, George adalah buronan dari anggota king Black.
Itulah sebabnya, sekarang ini George mengubah penampilannya yang dulu sebagai George anak buah dari king Goldblack.
Dulu, rambutnya yang sedikit panjang, meskipun tapi, sudah dipotong plontos. Tato yang ada di area leher, tangan dan area-area yang terlihat, juga dihilangkan. Supaya tidak mudah dikenali oleh sesama anggota king Black, yang tentu saja ada banyak berkeliaran di sekitar kota Roma ini. Karena memang disinilah pusatnya mereka berkuasa.
Gavino percaya dengan George. Selain karena dulu dia adalah anak buah dari kakeknya, king Goldblack, jiwa mafia yang ada pada George sudah mendarah daging. Yaitu rasa kesetiaan pada ketua yang memimpinnya.
Begitulah kira-kira apa yang diketahui oleh Gavino. Tentang jiwa mafia.
Bekerja secara sembunyi-sembunyi.
Memiliki penghasilan yang cenderung tinggi namun, tidak mengeluarkan tenaga yang banyak atau ekstra. Bekerja secara cerdas. Memiliki pekerjaan yang jarang diketahui banyak orang. Beberapa mafia rata-rata memiliki cara kerja yang licik. Jarang bergaul dengan banyak orang.
Dan cara ini memang sangat efektif untuk sebuah pekerjaan ilegal. Sama seperti yang dilakukan oleh king Black saat ini.
Sayangnya, Gavino tidak ingin menjadi seorang mafia yang sama seperti jiwa para mafia di atas tadi.
Dia justru banyak membantu sang Kapten, dalam menggagalkan transaksi yang dia ketahui. Dengan memberikan informasi kepada sang Kapten.
Tapi dari semua yang sudah dilakukan oleh Gavino selama ini, berdampak pada usaha yang telah dirintis oleh papa dan mamanya.
Meskipun pada akhirnya, Giordano dan Mirele harus pergi lebih dulu. Dan itu juga karena sabotase yang seharusnya terjadi pada Gavino sendiri.
"Hummm..."
Gavino hanya bisa menghela nafas panjang, mengingat semua kejadian yang sudah lalu.
__ADS_1