
Di rumah Thomas Bryan, Gress yang sudah bisa keluar dari kamar justru langsung ditangkap oleh bodyguard yang memantau pintu kamarnya, sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh Thomas Bryan.
"Maaf Nona. Anda tidak diperkenankan untuk keluar dari kamar!" terang bodyguard tersebut, melarang Gress pergi.
"Siapa Kamu berani melarang-larang?"
"Chi sei tu per osare proibire? Osi con me?" Gress membentak keras bodyguard tersebut.
"Bukan begitu Nona. Ini adalah perintah dari Tuan Besar langsung," ujar bodyguard memberitahu.
"Apa?"
"Assolutamente no! Devi comporre liberamente, vero? Vuoi solo sembrare diligente, giusto?"
Gress memarahi bodyguard tersebut, memintanya untuk menyingkir dan tidak menghalangi jalannya, sebab dia mau pergi.
"Maaf Nona. Anda tidak diperbolehkan pergi!"
Scusi signorina. Non puoi andartene da qui! vi prego di capire il mio lavoro." Bodyguard tersebut minta pada Gress supaya bisa bekerjasama tolong tidak merepotkan pekerjaannya, karena jika tidak dia yang akan celaka.
"Saya bisa di bunuh oleh Tuan Besar, jika sampai Nona pergi dari rumah ini."
Mendengar penjelasan dan alasan yang dibuat oleh bodyguard tersebut, akhirnya Gress menghela nafas panjang. Dia tidak mau memberatkan orang lain untuk keegoisannya sendiri, jadi dia memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.
"Baiklah. Aku akan kembali ke kamar dan tidak pergi kemana-mana. Tapi ingat, ini adalah keputusanku untuk membantumu aman, supaya tidak dihukum oleh papa. Jika suatu hari nanti Aku membutuhkan bantuan, Kamu harus berjanji mau menolongku. Bagaimana?" Gress justru membuat sebuah kesepakatan dengan bodyguard tersebut.
"Saya tidak bisa berjanji Nona, tapi Saya akan tetap mengusahakan," jawab bodyguard tersebut, yang tidak bisa memberikan janjinya.
"Huhfff... ya sudah!"
Gress balik badan dengan cemberut dan kesal, karena dia yang merupakan Nona Besar di rumah ini, tetap tidak bisa melakukan apa-apa, karena semua keputusan dan kekuasan dipegang papanya secara mutlak.
Blommm!
Pintu kamar ditutup Gress dengan keras, karena dia sedang dalam keadaan marah.
"È inutile che sono una grande signorina! Percuma juga Aku jadi Nona Besar jika seperti ini ceritanya!" gerutu Gress dengan membanting tas yang dia bawa ke atas tempat tidur.
"Papa! Aku mau bebas seperti dulu, Voglio essere libero come prima!" kesah Gress tanpa ada yang bisa mendengar.
__ADS_1
Tapi ternyata Thomas Bryan tetap bisa mendengarkan semua keluh kesah anaknya, melalui kamera cctv yang di pasang, tanpa diketahui oleh Gress sendiri. Hanya dia orang yang mengetahui dan memegang kendali cctv tersebut, dan tidak ada yang lain.
*****
Bianca sedang tertidur di sofa, dengan menyender pada bahu Gavino. Padahal Gavino sendiri juga sudah mengantuk.
Mereka berdua masih berada di dalam kamar rawat inap Lorenzo dan Dante, menunggui mereka berdua. Sedangkan Robert baru saja pulang, karena pekerjaannya sudah banyak yang menunggu untuk besok pagi.
Robert tidak bisa menemaniku Gavino dan teman-temannya, dan itu dimaklumi oleh Gavino sendiri. Pekerja yang sudah dianggap Gavino seperti seorang paman, Robert, memang memegang sendiri kendali usaha kios dan warabala Giordano dan Mirele, karena Gavino tidak mau menambah orang lain, yang tidak bisa diajak kerjasama, atau setidaknya Robert harus bisa nyaman jika ada orang lain yang jadi rekan kerjanya.
Gavino menyerahkan semuanya pada Robert, karena laki-laki paruh baya itu bisa dipercaya. Dia juga tahu betul bagaimana cara kerja Robert di perusahaan. Itulah sebabnya, dia tidak ingin membuat Robert merasa terabaikan dengan adanya orang lain. Padahal sebenarnya Robert tidak pernah mempermasalahkan, seandainya ada orang lain yang masuk dan bekerjasama dengannya, di perusahaan Gavino yang dipegangnya.
"Sayang. Kamu tidur yang benar ya, sini!"
Pluk pluk...
Gavino meminta supaya Bianca memperbaiki posisi tidurnya,dengan menepuk-nepuk kaki bagian atasnya, supaya dijadikan bantalan kepala kekasihnya itu, agar Bianca bisa nyaman saat tidur.
"Emhhh... eghhh..."
Bianca sudah terlalu mengantuk, sehingga tidak bisa menyahuti perkataan Gavino. Dia banyak menurut saja, di saat Gavino mengangkat kepalanya untuk diposisikan pada kakinya sendiri, sehingga Bianca bisa tidur dalam posisi rebahan.
Dante yang baru saja bangun tidur, memperhatikan bagaimana interaksi antara Gavino dan Bianca, sepupunya.
"Aku pernah salah, karena telah menilai Gavino tidak baik, dengan menduakan kekasihnya sendiri. Meskipun sebenarnya dunia barat seperti italia ini tidak tabu dengan hal itu, tapi Aku tetap tidak rela, jika sepupuku itu menempati posisi seperti kebanyakan gadis di luar sana*."
Dante membatin sendiri, dengan apa yang dilakukan Gavino pada Bianca. Dia hanya tersenyum di tempat tidurnya, memperhatikan mereka berdua.
Lorenzo sendiri masih tertidur pulas, dan tidak terganggu dengan kegiatan kedua insan sepasang kekasih yang menunggui mereka.
Hal ini membuat Dante berdecak kesal, karena temannya yang satu itu terlalu banyak tidur. Meskipun sebenarnya mereka memang dianjurkan dokter untuk banyak beristirahat.
"Ck! Dasar kebo! di solito marca se pieno. idiota!" gerutu Dante dengan senyum sinis.
Tapi tetap saja tidak bisa membuat Lorenzo bangun, sebab Lorenzo memang film kartun benar-benar tidur bukan hanya pura-pura saja.
Clek!
"Hai! siete tutti cattivi! Come mai non sono stato informato di questa situazione?"
__ADS_1
"Huhuhu... Sayang, Kamu tidak apa-apa?"
Magdalena datang membuka pintu secara tiba-tiba, kemudian berteriak keras dengan mengendap setempat kekasihnya tidur. Tentu saja ini membuat Lorenzo bangun, menggerjapkan matanya berkali-kali, untuk memberinya kesadaran, jika yang dateng memang kekasihnya.
"Dari mana Kamu tahu Sayang?" tanya Lorenzo nyengir. Dia merasa bersalah karena memang tidak memberikan kabar sakitnya ini pada kekasihnya itu.
"Kamu pikir Aku tidak punya temen lain? Aku mendapat kabar dari mereka. Dan langsung terbang pulang ke sini, tidak pergi kemana-mana, dan lihatlah! Aku masih dalam mode mengantuk, bau dan capek banget karena perjalanan jauh."
Magdalena terus berbicara, memberitahu tentang keadaannya saat ini, membuat Bianca yang baru saja tertidur dengan posisi nyaman, pada pangkuan Gavino terbangun.
Tapi Dante dan Gavino justru tertawa-tawa kecil, menertawakan nasib Lorenzo, dengan kedatangan kekasihnya, yang pastinya akan banyak bicara, menuntut ini itu padanya. Meskipun mereka semua tahu, jika Magdalena melakukan semua itu demi kebaikan Lorenzo sendiri, yang kadang kala tidak perhatikan keadaannya.
Semua itu tidak luput dari kebiasaan mereka masing-masing, basic dari keluarga, berbeda satu sama lain.
Akhirnya dalam kamar ini tidak ada yang tidur, tapi hanya beristirahat dengan mencari posisi yang nyaman, sehingga mereka tetap bisa berbincang-bincang, bertanya satu sama lain.
Setelah berapa saat kemudian, bianca tidak bisa menahan rasa kantuknya. Akhirnya dia pun tertidur bersama dengan Magdalena, di tempat tidurnya Dante.
Sedangkan Dante sendiri, harus mau berdesakan dengan Lorenzo. Sebab itu semua demi sepupu dan kekasih temannya.
Lorenzo juga harus terbesar hati, berbagi tempat tidur dengan Dante. Hal yang membuat Gavino tersenyum-senyum sendiri, karena pada akhirnya kedua temannya itu bisa akur.
( Ting )
( Tampilan brangkas sistem terakhir kalinya )
# Tampilan on
# Hadiah utama : 0 poin
# Hadiah bonus cek : 20 poin
# Kemampuan :
# Keahlian Khusus : Kekuatan bertambah sesuai jumlah lawan yang kalah
# Sisa umur \= 2.394 hari
# Tidak ada aktivitas yang berlangsung.
__ADS_1
( Ting )
"Umurku semakin berkurang. Aku harus bisa segera menentukan pilihan untuk kehidupan ke depan, yang Aku gunakan menghabiskan sisa waktu umurku," batin Gavino dengan menghela nafas panjang.