Prajurit SMA

Prajurit SMA
100. Perang dunia 1


__ADS_3

10 November 2321, pukul 13.16 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


Setelah melewati berbagai hal, termasuk deklarasi perang dengan Indonesia dan gempa, Kekaisaran kini menjadi negara ‘kecil’ yang kini berdiri tanpa pondasi yang kuat. Pramuka bahkan jauh lebih siap daripada para militer negara ini. Sungguh menggelikan jika mereka benar-benar menyatakan perang dengan negeri yang menguasai Gerbang itu.


Dengan segala hormat dan tanpa merendahkan kualitas pasukan Kekaisaran Luan, pasukan itu kini diisi dengan tentara amatir dan petani yang nyaris tak terlatih. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan mereka jika terkena roket dan artileri anti-personel milik pasukan hijau itu.


Jauh dari tingkat Pasukan Cadangan milik Indonesia atau tentara yang dikontrak, pasukan Kekaisaran diisi setengahnya dengan petani dan tentara amatir, mirip dengan tentara Korea Utara saat perang Korea. Sekelompok bandit bahkan lebih disiplin dari mereka, kecuali dalam jumlah pasukan ini menang banyak dari pasukan hijau itu.


Kesenjangan dalam kekuatan pertarungan antara militer modern dan pramodern tidak dapat diatasi.


Jika 90.000 pasukan Kekaisaran yang sedang melakukan pergerakan ke benteng pasukan hijau dengan kekuatan udara setingkat jet tempur, maka pasukan hijau memiliki alasan untuk mundur ke dunia asal mereka.


Tetapi, jumlah pasukan sebesar itu bukanlah sebuah masalah bagi pasukan infanteri ‘tidak’ murni ini. Seharusnya, pasukan infanteri hanya memiliki kendaraan bantuan tembakan tidak lebih dari tank medium. Namun, Grup Tempur 1 dan 2 masing-masing memiliki 5 tank tempur utama, yang menyebabkan mereka bukanlah pasukan infanteri murni.


Bahkan, pasukan ini memiliki kekuatan 2 helikopter serang dengan senjata utama meriam 20mm dan beberapa roket yang terpasang. Namun, sepertinya pasukan Kekaisaran yang Sebentar lagi mencapai Tanah Suci itu sudah siap menjadi target pengeboman.


Pengalaman adalah guru terbaik, dan badut Kekaisaran ini akan belajar tentang apa perbedaan yang dihasilkan peradaban modern.


“Aku merasa jika pasukan yang dimiliki Kekaisaran sangat banyak, mereka bahkan seakan-akan seperti tidak pernah habis.”


Itu seharusnya memberitahu Nio siapa yang dia akan lawan. Bisa dikatakan dunia ini setingkat dengan dunia asal saat masa sebelum masehi. Dimana orang yang mati sia-sia dalam perang adalah hal umum bagi dunia kita pada masa itu.


“Pasukan kita adalah pasukan militer modern yang terlatih. Kita akan membuat mereka menyesal sudah menyatakan perang dengan kita.”


Peperangan modern bergantung pada kekuatan tentara hingga tingkat yang melampaui batas. Ada perbedaan yang sangat besar antara pasukan hijau dengan pasukan terbesar di Benua Andzrev ini. Sejarah seharusnya akan memberikan kesaksiannya tentang tak terbantahnya perbedaan ini. Grup Tempur 1 dan 2 akan mengusir pasukan ini dengan gaya.


“Jumlah pasukan musuh sekitar 90.000 prajurit, dengan senjata yang pernah mereka gunakan untuk melawan kita. Seharusnya, kurang dari dua hari kita bisa menyelesaikan pertempuran ini.”


Itu realitas, dimana pasukan dengan jumlah yang besar justru terlihat seperti gerombolan semut jika dilihat dari helikopter serang. Seharusnya, jika yang dilawan pasukan Kekaisaran bukanlah TNI, maka pertempuran ini bisa dimenangkan oleh mereka. Jujur saja, para prajurit TNI merasa kasihan dengan mereka.


Tetap saja, ini adalah pertempuran TNI yang begitu tidak adil. Pasukan Kekaisaran pasti tidak bisa melakukan apa-apa saat artileri menghujam mereka. Namun, biarkan saja ini menjadi pelajaran bagi mereka apa arti perang sesungguhnya.


Tidak lebih dari 90.000 pasukan amatir, itu saja. Pasukan Kekaisaran memiliki pasukan infanteri berat, kavaleri berat dengan ribuan kuda, puluhan meriam dan balista serta ketapel raksasa, dan itu sudah menjadi momok menakutkan bagi negara-negara di dunia ini. Tetapi mereka bertarung di tanah, dan helikopter serang akan menembak dari langit, jadi kemenangan terjamin. Ini akan menjadi kekejaman semu yang hanya bisa dinyatakan sebagai latihan tembak dengan target hidup.


“Sejauh mana kita bisa melawan?”


“Apa?”


“Perlawanan musuh sangat rapuh, sehingga bisa saja kita melawan hingga ke ibukota, itu bisa menjadi masalah logistik.”


“Tunggu, Mayor. Saya tidak paham.”


“Peltu Nio, Kita akan memberikan Kekaisaran pelajaran. Aku bermaksud untuk memerintahkan mereka pulang ke rumah masing-masing daripada melawan kita. Sepertinya mereka tidak membayar guru yang bernama pengalaman.”


Otak Nio masih berputar karena perkataan Komandan Grup Tempur 1 itu. Kemudian Nio merasa, “Oke, saatnya berperang, tidak ada waktu untuk berbicara dengan sekelompok orang lemah.”


Nio menjilat bibirnya yang kering, dan turun dari kendaraan lapis baja pengangkut personel bersama puluhan prajurit lainnya. Hari ini tidak terlalu panas, jadi pasukan ini akan memiliki peluang untuk menyerang sebelum malam.


Para prajurit bersiap untuk melakukan serangan mendadak, pasukan Kekaisaran 9 kilometer mendekati mereka. Unit ini dilengkapi dengan beberapa kendaraan lapis baja, dan tank tempur utama serta dua helikopter serang, begitu pula dengan Grup Tempur 2.


Sesuatu yang menyerupai perang, dan ini akan segera dimulai.


**


“Kita bebas meledakkan mereka dengan bom maupun roket!?”


“Aku serius, ini instruksi dari jendral.”


Bahkan penerbang dan operator senjata pada seluruh helikopter serang tidak bisa menutup mulut mereka.


Dengan begitu, pasukan Kekaisaran tidak akan mendapatkan kesempatan untuk melawan sambil berteriak. Mereka akan menjadi bidikan yang besar daripada bidikan yang ada di tempat latihan. Itu adalah pernyataan biadab bahwa kedua Grup Tempur diijinkan untuk menghancurkan sesuka mereka pasukan Kekaisaran.

__ADS_1


Nio memimpin Regu penjelajah 1-nya, dan berkata, “Oke, kita akan memulai lagi latihan tembak nyata.”


Lalu, musuh kedua Grup Tempur adalah sekelompok orang yang menantang monster modern yang bernama TNI.


Tanpa ragu, strategi apapun yang ada dalam benak pasukan Kekaisaran Luan adalah semacam peninggalan abad pertengahan. Beberapa saat kemudian, seluruh unit bersiap untuk serangan ketika ribuan manusia menggeliat di cakrawala.


Betapa bagusnya mereka mengenakan seragam tempur yang mencolok, dan zirah logam yang nampak sangat berat. Doktrin militer mereka yang terlalu kuno, yang pastinya tidak akan mempertimbangkan adanya pengeboman udara dari musuh. Mereka adalah mangsa sekaligus sumber daya manusia yang sia-sia. Tidak perlu takut untuk menyebut Kekaisaran Luan sebagai negara yang menyedihkan. Mereka memiliki sumber daya manusia yang besar, tetapi tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.


Sebelum peperangan dimulai, seluruh prajurit Grup Tempur berbelasungkawa atas kesedihan para janda dan manula ke Kekaisaran bodoh Luan.


“Ajari mereka yang bodoh apa itu perang!”


Kedua Grup Tempur memiliki dua helikopter serang, tapi itu hanya tambahan dan difungsikan sebagai kendaraan pendukung tembakan.


“Kepada seluruh Komandan Regu, Jendral berharap kalian menunjukkan hasil bagus!”


“ “Mengerti….!” “


Artileri anti-personel menyapu para pria Kekaisaran yang berlari dengan tujuan bertarung dengan pasukan hijau. Tubuh mereka seketika berlubang, beberapa anggota tubuh terlempar ke udara saat mortir menghantam barisan rapat pasukan ini.


Yang bisa dilakukan pasukan Kekaisaran hanyalah panik ketika helikopter menembakkan meriamnya dari langit. Ratusan anak panah tidak yang ditembakkan tidak bisa mencapai tempat para capung besi ini terbang.


Puluhan drone diterbangkan dan mengambil rekaman yang dikirimkan ke markas pusat agar seluruh orang di sana bisa menyaksikan pertempuran ini, meski itu membuat beberapa pihak iri dengan kedua Grup Tempur.


Secara teknis, kita bisa menyebut ribuan pria Kekaisaran ini sebagai gerombolan orang yang mengamuk dengan sembrono. Jujur, apa yang Kaisar mereka pikirkan hingga menyatakan perang dengan negara asal pasukan hijau ini.


Tampaknya, para prajurit yang sedang tengkurap di tanah sambil menembakkan peluru pada senapan serbu mereka mengharapkan pertarungan yang sedikit lebih keras. Beberapa prajurit bahkan berpikir jika pasukan Kekaisaran Luan adalah kekuatan militer yang serius. Namun itu hanya membuat mereka menyesal telah memikirkan hal itu setelah melihat kekuatan pasukan itu yang sebenarnya.


Konflik ini akan menjadi kelanjutan ‘perang dunia pertama' di dunia ini. Pasukan Kekaisaran terperangkap dalam perang yang jauh lebih besar dari pada perang saat melawan dunia asal pasukan hijau ini.


Saatnya menghabisi pemimpin pasukan Kekaisaran.


Helikopter menjatuhkan bom-bom ke tengah barisan, sedangkan para prajurit yang menumpang helikopter menembak dan melemparkan granat tangan. Zirah besi adalah pertahanan terbaik bagi militer dunia ini, namun kepala yang mengenakan helm logam bisa tertembus dengan mudah oleh peluru 12,7mm dari senapan mesin berat yang terpasang di helikopter serang.


Medan perang kini dipenuhi suara keras dari ledakan senjata pasukan hijau, dan suara teriakan yang mengerikan dari pasukan musuh. Bagi infanteri musuh, senapan mesin dan artileri anti-personel adalah mimpi buruk,dengan mudah mereka disapu oleh ribuan peluru yang ditembakkan senapan mesin berat.


Para penembak hampir bertempur dengan semangat. Adegan di depan mereka sangat tidak masuk akal hingga mereka bertanya-tanya, “Apakah mereka serius berperang dengan kita?”


Di lain pihak, Kekaisaran memiliki banyak motivasi dan menyatakan perang hingga mendapatkan kemenangan atas pasukan hijau, tapi mereka tidak tahu apa itu perang.


“Ini benar-benar aneh, apa mereka pikir bisa mendekati kita?”


“Serius, sebenarnya apa tujuan mereka berperang dengan kita?”


Dalam perkelahian, tentu saja ada pukulan balasan setalah pukulan yang diterima, terlepas jika pihak yang membalas adalah sekumpulan pria dengan zirah besi yang dengan mudah ditembus oleh artileri.


Nio dan Regunya terjebak berperang melawan para idiot ini, tentu saja ini semua karena peryataan perang seseorang yang sangat tolol bernama Bogat.


“Apa itu? Apa yang mereka lakukan?”


Penerbang helikopter serang menyesuaikan ketinggian untuk bersiap dengan musuh yang membentuk sebuah barisan, dengan beberapa penyihir diantaranya. Ribuan pemanah membidik anak panah ke arah capung besi yang terbang 20 meter di atas mereka.


“Sepertinya mereka akan melakukan serangan anti-udara!”


“Apa mereka panik?”


Daripada membentuk sebuah barisan yang padat, lebih baik mereka menyebar untuk meminimalkan korban. Namun ini cara bertarung militer mereka, jadi kita tidak perlu untuk memberi tahu mereka tentang cara menyerang.


Atau mungkin mereka telah menemukan sebuah cara untuk menyerang kekuatan udara Grup Tempur? Solusi terbaik untuk mengatasi hal itu adalah menyerang dan mengamati reaksi mereka.


Pasukan Kekaisaran tidak melakukan apa-apa selain mempertahankan posisi mereka dan berani menunggu untuk diledakkan, para idiot yang malang. Mereka seharusnya merasakan rasa sakit akan sumber daya manusia yang digunakan dengan sia-sia.


Anak buah Nio semakin menyebar, untuk menghancurkan barisan rapat musuh. Beberapa dari mereka menenteng senapan mesin ringan di pundak, kemudian melakukan tembakan bantuan.

__ADS_1


Berterimakasih pada pola pikir kuno Kekaisaran yang membuat pasukan mereka masih berjuang untuk mempertahankan barisan, Nio menembak hingga sudah menghabiskan 2 magasin.


Pertarungan ini adalah salah satu yang termudah, bahkan beberapa Regu hanya perlu untuk mempertahankan posisi mereka.


Para capung besi tidak memiliki waktu untuk melihat daging-daging yang berserakan, mereka harus membuat potongan-potongan daging lagi dari pasukan Kekaisaran.


“Kami telah menemukan pusat komando mereka.”


Salah satu operator komunikasi di helikopter serang melaporkan apa yang dia temukan.


“Itu sangat cepat, itu serius?”


Bahkan dua Komandan Grup Tempur tak bisa mempercayai laporan itu.


Ya, kekuatan udara TNI sangat mengerikan menurut militer dunia ini, dan mereka menggunakan taktik menangkap pimpinan pasukan musuh.


“Itu markas pasukan Kekaisaran.”


“Apa? Apa kamu yakin?”


“Kami melihat perkemahan yang besar di belakang pasukan Kekaisaran.”


Meskipun raut wajah mereka setengah tak percaya, tapi kedua Komandan Grup Tempur harus mempercayai ini.


Seharusnya bagus kalau semuanya berjalan lancar dan mudah, tidak ada prajurit yang tidak menginginkan itu. Namun dalam perang, tidak ada yang berjalan sesuai rencana yang dibuat. Sekalipun berpikir jika melawan pasukan Kekaisaran akan membutuhkan waktu yang lama, karena hanya mengirimkan dua Grup Tempur.


Serius, pasukan Kekaisaran begitu mudahnya dilawan sehingga beberapa prajurit berpikir akan dikira sebagai orang sadis.


**


Ribuan mayat dan potongan anggota tubuh berserakan di tanah yang gersang dan keras ini. ada ribuan lagi tawanan yang didapatkan, mereka semua telah menyerah setelah meski tak sadar telah melakukan pertempuran yang sia-sia.


Beberapa Regu diperintahkan untuk menuju perkemahan musuh, termasuk Regu penjelajah 1. Seluruh helikopter serang turun di perkemahan musuh yang berisi ribuan pasukan cadangan yang tiba-tiba mengibarkan bendera putih.


Nio yang pertama masuk ke dalam kemah pimpinan musuh sambil berkata, “Permisi, apa pimpinan pasukan ada disini? Saya memiliki beberapa masalah dengan dia.” Nio berkata seperti itu sambil menunjukkan mimik wajah yang mengejek. Anggotanya yang berada di belakang Nio hanya bisa menahan tawa hingga wajah mereka memerah.


Di dalam tenda yang berukuran cukup besar ini, beberapa orang yang merupakan pimpinan pasukan musuh terlihat menyedihkan. Mereka tidak bisa berkata-kata, tetapi beberapa saat kemudian, orang yang mengenakan pakaian perang paling mencolok berkata, “Selamat datang di kemah kami, apakah pasukan anda sudah ingin menyerah? Tenang saja, jika kalian bergabung dengan Kekaisaran, kalian akan diberikan kekayaan.”


“Apa dia tidak melihat pertempuran?”


Otak Nio dan anggota Regunya seketika mulai reboot setelah mendengarkan perkataan pimpinan pasukan ini. Dalam kebingungan, Nio berkata, “Seharusnya kami yang mengatakan hal itu!”


Jika mereka menyerah, Nio tidak akan punya pilihan selain memperlakukan mereka seperti tahanan perang biasa. Menghadapi puluhan ribu pasukan ternyata sangat mudah. Namun, daripada disebut dengan pertempuran, yang terjadi sebelumnya lebih mirip dengan ‘pembantaian’.


“Tidak! Tentara Kekaisaran tidak akan menyerah! Seharusnya kalian tunduk dengan kebesaran kami!”


“Ini buang-buang waktu. Tembak semua orang kecuali jendral itu.”


Bawahan Nio menembak orang yang ditarget, dan tenda dipenuhi mayat baru. Seperti sekelompok bandit, anggota beberapa Regu menyambar beberapa kertas dan menjejalkan nya kedalam karung.


Nio memperingatkan bawahannya yang terlihat terlalu santai, meski kemenangan hari ini telah didapatkan. Mereka harus tetap waspada, memang dapat dimengerti mengapa mereka terlihat terlalu tenang.


Satu-satunya cara yang digunakan militer Kekaisaran yang jauh lebih lemah adalah melakukan serangan diam-diam dengan taktik serangan kilat. Jika besok ada perwira militer Kekaisaran yang melakukannya, maka mereka layak mendapatkan penghargaan. Namun, ribuan pasukan ini telah menjadi mayat dan tawanan, jadi besok mungkin tidak ada pertempuran.


**


Pesan author:


Akhirnya, saya bisa menulis hingga 100 episode. Ini pencapaian yang membuat saya bangga dengan diri saya sendiri.


Saatnya novel ini mencapai konflik selanjutnya, yakni ‘Perang Dunia Pertama di Dunia Lain’.


Jika pembaca menyadari sesuatu, ada alasan mengapa saya menulis tahun dunia lain dengan ‘1914’. Karena pada waktu itu, Perang Dunia 1 pecah. Jadi saya akan membuat perang dunia pertama versi fantasinya.

__ADS_1


Sebagai penutup, saya mengucapkan terimakasih kepada pembaca setia. Tanpa kalian, saya berencana menamatkan novel ini sebelum mencapai 100 episode.


__ADS_2