Prajurit SMA

Prajurit SMA
24. Tes kedua


__ADS_3

3 Februari 2321, pukul 10.05 WIB.


**


Suasana di kota bawah tanah Kota Karanganyar terlihat seperti biasanya. Seluruh prajurit melakukan latihan bersama tanpa rekan mereka yang sedang mengikuti pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus.


Terutama bagi Jo, dia terlihat tidak bersemangat seperti ada Nio saat berlatih.


Sekarang dia sedang melakukan latihan adu pedang dengan rekan satu regunya. Namun pedang asli terlalu berharga hanya untuk berlatih ‘tarung nyata’. Sebagai ganti nya masing-masing prajurit menggunakan balok kayu yang memiliki panjang dan berat yang sama dengan pedang asli.


Rekan Jo yang akan menjadi lawannya memperhatikan Jo, seperti ada yang aneh dengannya.


“Hei Jo, apa kau sedang sakit?” tanya rekannya yang memperhatikan Jo.


“Eh? Tidak kok. Tapi rasanya saat tidak ada Nio seperti ada yang kurang,” jawab Jo dengan lemas dan menyangga diri dengan balok kayu.


“Benar juga, mungkin saja dia sedang membuat kejutan di sana.”


“Bisa saja.”


Setelah itu Jo mulai beradu balok kayu dengan rekan yang ada dihadapannya dengan menebas secara membabi buta. Rekannya hanya menangkis semua serangan Jo yang diarahkan padanya.


Sementara itu Nike dan Rika yang hari ini kegiatan mereka adalah bebas. Karena keberhasilan tim Peneliti Senjata kota bawah tanah Kota Karanganyar yang menciptakan senapan dan amunisi khusus. Dan sebuah pencapaian lagi, yaitu hampir menyelesaikan pembuatan purwarupa robot tempur.


Setelah itu, tim Peneliti Senjata akan mengirimkan hasil kerja keras mereka ke Peneliti Senjata Pusat yang berada di Kompleks Pemerintahan Sementara Jakarta.


Dua truk pengangkut disiapkan untuk membawa dan mengirim senapan dan amunisi khusus dan purwarupa robot tempur. Nike dan Rika ikut menyaksikan hal ini.


“Wah, itu yang namanya robot tempur?” tanya beberapa prajurit yang meninggalkan latihan untuk melihat pengangkutan purwarupa robot tempur.


“Bentuknya sangar juga.”


“Ya, rasanya aku mau yang jadi pilot nya.”


“Jangan terlalu percaya diri dulu, karena yang akan menjadi pilot robot tempur hanyalah pasukan khusus saja.”


“Iya-iya aku tahu.”


(pilot yang dimaskud disini adalah prajurit atau seseorang yang akan mejadi pengendali dari robot tempur. )


“Wah, sepertinya kalian benar-benar bekerja keras ya?” ucap Jo yang tiba-tiba ada di samping Nike dan Rika.


“Ya, walaupun kerjaan kami cuma membuat bagian-bagiannya saja,” jawab Nike.


“Itu juga pekerjaan yang penting kan?”


“Begitukah?”


Setelah itu truk pengangkut melaju dan keluar kota bawah tanah, tantu saja di lepas dengan tepuk tangan dan sorakan prajurit dan tim lain.


Nike terlihat melirik ke segala arah seperti mencari keberadaan seseorang. Namun orang itu tidak bersama Jo.


“Hei Jo, apa kau lihat Nio?” tanya Nike.


“Apa kau belum tahu?. Dia mengikuti pelatihan menjadi Pasukan Pelajar Khusus tahu,” jawab Jo yang membuat Nike terkejut.


Namun bukan Nike yang marah, melainkan Rika dengan kesal berkata, “Apa-apaan dia, apa dia sudah lupa memiliki teman-teman di tempat ini?”


“Jangan marah padaku, mungkin saja dia ingin membuat kejutan saja kan?” jawab Jo.


“Kejutan?. Hah, kuharap dia mati kelelahan di sana,” sambung Rika.


Sementara itu Nike berkata di dalam hatinya, “Begitu, Nio ingin menjadi pasukan khusus.”


“Hey kalian kenapa tidak berlatih…!” teriak seseorang yang ternyata Surya.


Prajurit dari Kompi 32 juga terlihat dengan seragam latihan mereka. Itu artinya mereka akan melakukan latihan bersama dengan prajurit Kompi 406.


“Sial, sampai kapan mereka ada disini?” gumam Jo dan beberapa prajurit lainnya dengan wajah kesal.


**


Di tempat pelatihan calon Pasukan Pelajar Khusus.


Ini adalah hari pelaksanaan tes kedua, yaitu tes kesegaran jasmani.


Kegiatan tes ini memiliki tujuan, yaitu menyeleksi kesiapan mental prajurit muda dan mengetahui kesiapan fisiknya.


Karena prajurit muda ini akan dibentuk menjadi pasukan khusus yang diharuskan memiliki kekuatan fisik dan mental demi tercapainya tugas khusus dan rahasia yang menjadi tanggung jawabnya.


Beralih ke seluruh prajurit yang sudah berada di luar tempat pelatihan. Mereka semua, baik prajurit laki-laki dan perempuan sudah memakai seragam latihan mereka.


Tes yang akan pertama dilakukan adalah lari dengan waktu 12 menit dengan jarak tempuh 1.500 meter, ini dilakukan bagi laki-laki. Sementara untuk perempuan harus berlari dalam waktu 12 menit dengan jarak tempuh 1.200 meter.

__ADS_1


“Hei, jangan sampai lari lebih lambat dari perempuan ya?” celetuk Rio yang membuat urat di dahi Nio muncul.


“Lihat saja nanti, “Jawan Nio dengan wajah percaya dirinya.


“lihat?, maksudmu aku disuruh untuk melihat kau mencapai garis akhir terakhir begitu?”


“Sialan…!”


Prajurit pelatih yang bertugas mengawasi tes kali ini sebanyak 10 orang. Seluruh pelatih yang mengawasi tes kali ini membawa senapan dan pedang karena situsai masih perang. Bisa saja pasukan dunia lain tiba-tiba muncul dan menyerang peserta tes.


Peluit di bunyikan dengan keras. Seluruh prajurit segera berlari setelah peluit dibunyikan.


Nio yang terkejut karena ‘sedikit’ melamun segera menyusul rekannya yang berlari. Rio yang berlari didepan Nio melihatnya dengan tatapan khawatir.


Pelatih mengawasi peserta tes dengan mengendarai sepeda motor dengan berboncengan. Sementara itu Nio melihat pelatih yang mengendarai sepeda motor dengan tatapan iri. Kerena sepeda motor dengan model supermoto yang pelatih gunakan adalah impiannya.


Namun Nio lebih mengkhawatirkan hal lain.


“Semoga saja kaki ku kuat hingga akhir nanti,” batin Nio yang berharap besar pada kakinya.


Karena Nio tidak memakai kaos kaki, bekas luka jahitan yang cukup panjang terlihat.


Pelatih yang melihat keadaan kaki Nio mempertahankan kecepatan laju motornya agar setara dengan kecepatan lari Nio.


“Apa kaki mu tidak apa-apa?” tanya pelatih yang membonceng rekannya.


“Siap!, saya yakin akan baik-baik saja,” jawab Nio dengan semangat namun tetap mempertahankan kecepatan larinya.


“Jangan memaksakan dirimu ya?. Kalau mulai terasa aneh pada kaki mu cepat bilang pada kami!”


“Siap!, baik.”


Kemudian pelatih melajukan sepeda motornya untuk memantau peserta tes yang lain.


Nio memang bukan di urutan terakhir pada barisan prajurit laki-laki, tapi dia berlari di belakang Rio yang memang ahli di bidang ini.


**


“Untung bukan yang terakhir,” gumam Nio sambil membungkuk mengatur nafasnya.


Rio yang terkejut dengan pencapaian Nio di tes lari segera menghampirinya dan memukul punggungnya.


“Sial, kenapa aku bisa kalah denganmu?” ucap Rio setelah memukul punggung Nio hingga terbatuk-batuk.


“Selanjutnya kita akan melakukan tes selanjutnya, segera siapkan diri kalian!” ucap salah satu pelatih yang tadi mengawasi tes lari.


“Siap,” jawab seluruh prajurit dengan tegas.


Kemudian seluruh peserta tes menuju halaman tempat pelatihan. Namun mereka dikejutkan dengan suara orang terjatuh.


“Nio…!” ucap Rio.


“Bukan aku woy…!” jawab Nio dengan kesal karena Rio mengira dirinya orang yang jatuh pingsan.


Terlihat seorang prajurit perempuan dari Kompi 302 tak sadarkan diri dengan wajah menghada tanah langsung.


Seluruh rekannya mengerumuninya dengan panik dan 2 orang pelatih segera menghampiri dengan membawa sebuah tandu lipat.


“Dia akan di kembalikan ke Kesatuan asal,” ucap salah satu pelatih sambil menaikan prajurit perempuan ke atas tandu.


“Artinya dia tidak lolos ?” tanya Ika yang terkejut.


“Ya, perjuangan rekanmu terhenti karena fisiknya yang kurang kuat.”


Setelah itu kedua pelatih membawa prajurit perempuan itu ke ruang kesehatan. Rekan-rekannya hanya melihat dengan tatapan sedih karena dia harus tidak lolos karena pingsan.


“Kalian lihat apa!?. Cepat ke halaman atau kalian juga ingin pulang dengan rekan kalian itu!?” ucap pelatih lainnya dengan nada keras.


“Siap!, tidak!” jawab seluruh prajurit dengan serempak.


**


“Untuk shit up, silahkan lakukan berpasangan dengan rekan kalian,” kata pelatih.


Seluruh prajurit kemudian memilih pasangan masing-masing untuk melakukan tes shit up yang akan di lakukan sebanyak 30 kali.


Nio tentu saja berpasangan dengan Rio, yang akan melakukan shit up lebih dulu adalah Nio.


Nio berbaring dengan kedua tangan melindungi belakang kepala dan bagian kaki yang ditahan oleh Rio.


Saat aba-aba mulai di bunyikan, Nio dengan cepat mengangkat dan menurunkan tubuhnya dengan cepat yang membuat Rio juga terkejut.


“Kau kuat juga ya?” kata Rio dengan nada tak percaya.

__ADS_1


“Karena aku sudah berlatih sebelumnya,” jawab Nio walau itu hanya kebohongannya.


“Pret….”


“Hah!?. Sepertinya aku mendengar kau mengangatakan sesuatu?”


“Perasaanmu saja mungkin.”


Saat kedua orang ini sedang adu mulut saat melakukan tes, seorang pelatih dengan wajah seramnya mendekati Nio dan Rio.


Seketika Nio dan Rio melakukan tes ini dengan serius agar tidak terkena hal yang tidak diinginkan hanya karena pertengkaran kecil.


Nio sudah selesai melakukan 30 kali shit up, setelah itu giliran Rio yang melakukannya.


Nio melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rio padanya, yaitu menahan kaki. Namun yang dilakukan Nio sedikit berbeda, karena dia menahan kaki Rio dengan cara menginjaknya.


“Kalau punya masalah bilang nyet,” kata Rio karena dia merasa yang dilakukan Nio adalah aksi balas dendamnya.


Tapi yang dilakukan Nio bukanlah hal yang dilarang. Dan hal itu yang membuat Nio terlihat tenang-tenang saja sambil mencari emas di lubang hidungnya.


Saat aba-aba mulai dibunyikan Rio melakukan shit up dengan cepat. Tapi saat baru setengah jalan Rio tiba-tiba berhenti.


“Kenapa kau?” tanya Nio dengan cemas.


“Hanya istirahat sebentar,” jawab Rio dengan wajah kelelahan.


“Jangan paksakan dirimu.”


“Heh, aku berharap yang mengatakan itu kakakmu dan bukannya kau.”


“Hah!?”


Setelah itu Rio kembali melanjutkan shit up nya.


**


“Selanjutnya kita akan melakukan shuttle run,” kata pelatih sesaat setelah seluruh prajurit melakukan tes shit up.


Pelatih menyusun batu bata menjadi lintasan peserta untuk melakukan lari membentuk angka 8.


Pada tes ini peserta diharuskan berlari sebanyak 5 putaran selama 20 detik.


Nio dan Rio serta peserta tes lainnya memperhatikan peserta yang sedang melakukan lari di lintasan yang berbentu angka 8 itu.


Saat tiba giliran seorang prajurit dari Kompi 406, dia dihampiri oleh sebuah masalah. Dia terjatuh saat hampir mencapai putaran ke-4.


Hal yang selanjutnya terjadi sudah jelas, yaitu kembali ke Kesatuan awal. Dengan wajah tertunduk dia berjalan ke arah barak dengan di dampingi seorang pelatih.


Prajurit laki-laki dari Kompi 406 bertepuk tangan untuk menyemangati rekannya yang kembali ke kota bawah tanah lebih awal dari yang lainnya.


**


Nio menyelesaikan tes ini dengan catatan waktu 14 detik, 2 detik lebih lambat dari Rio.


Tes hari ini berakhir dengan pulangnya 2 orang prajurit muda ke Kesatuan awal. Peserta tes yang tersisa sebanyak 128 prajurit.


**


Di Pusat Penelitian Gerbang, seluruh orang di tempat ini tampat terkejut dengan suatu hal.


“Apa ini serius, benda itu sudah menjauh 57 km dari tempat awalnya?” tanya pimpinan tempat ini.


“Benar, menurut berita pasukan yang mengawal benda itu juga melakukan penaklukan pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Belitung,” jawab seorang bawahannya.


Hal ini bukan hanya membuat kecemasan bagi seluruh orang di tempat ini, tapi juga ketakutan.


Mereka tidak dapat menyebarkan berita ini ke umum demi menghindari kekacauan dan hal yang tidak diinginkan lainnya.


Namun hal ini ternyata memberikan kesenangan bagi pasukan dunia lain.


Terutama bagi pasukan dunia lain yang membuat pangkalan di wilayah Surakarta yang berhasil mereka duduki. Karena Kota Karanganyar berbatasan dengan kota ini, bisa dikatakan hal ini menjadi ancaman.


Tidak ada yang bisa memperkirakan pasukan dunia lain yang menduduki Kota Surakarta akan menyerang Kota di sekitarnya.


Tapi hal buruk lainnya adalah tidak ada kewaspadaan yang lebih dari masyarakat yang tinggal di kota-kota sekitar Kota Surakarta yang menganggap pasukan dunia lain tidak segera menyerang.


Bahkan mereka masih dapat tenang saat naga-naga dari pasukan dunia lain berlalu lalang di langit.


Meski sering terjadi perlawanan dari Angkatan Udara dengan pasukan penunggang naga, tapi hal itu juga menimbulkan keruguan pada warga sipil.


Seperti tubuh naga yang terjatuh dan terkadang menimpa rumah yang di dalamnya masih ada penghuninya. Namun yang disalahkan dalam hal ini adalah militer. Padahal sebelum melakukan perlawanan terhadapa pasukan penunggan naga pihak militer sudah melakukan peringatak pada masyarakan untuk mencari tempat perlindungan sementara.


Memang akhir-akhir ini pasukan dunia lain tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang.

__ADS_1


Tapi siapa yang tahu….


__ADS_2