Prajurit SMA

Prajurit SMA
121. Bendera kematian


__ADS_3

Percayalah pada keberuntungan…


Tapi, Nio sendiri tidak terlalu sering menggunakan kalimat itu untuk peneguh hatinya ketika menjalankan misi yang berpotensial terjadi pertarungan dengan musuh. Keberuntungan di medan perang memang cukup pelit untuk menampakan diri, bahkan tak jarang tak ada satupun prajurit yang tersisa ketika terjadi pertarungan.


Nio telah bertarung sebagai prajurit selama dua tahun, dan telah mendapatkan pengalaman tempur tak terbatas. Saat menjadi prajurit amatir, dia telah melihat puluhan teman-temannya mati dengan tebasan pedang atau dicabik-cabik oleh monster, musuh sebelumnya memiliki pedang baja super tajam, lalu terciptalah beberapa senjata keluaran terbaru.


Nio selalu berpikir dia terlalu beruntung dalam perang ini.


Tugas seorang prajurit bukan hanya untuk berpikir, mereka juga mematuhi perintah.


Prajurit yang mengenakan ikatan kain berwarna putih di lengan kiri dengan lambang Tentara Pelajar itu, adalah sekumpulan pasukan remaja dengan talenta sebanding dengan Pasukan Utama dalam pertempuran.


Tapi, Nio tidak hanya memiliki keberuntungan besar untuk bertahan hidup. Dia punya teman-teman yang sangat dapat diandalkan, persenjataan yang brutal, dan tidak diragukan lagi menjadi kunci untuk mengalahkan musuh yang membuat Nio ‘terpaksa’ menjadi prajurit.


Meski dia berada di tempat yang jauh dari teman-temannya yang sedang menjalankan misi, Nio tetap percaya jika mereka masih bisa melewati semuanya. Pemuda ini yakin jika teman-temannya bisa bertarung jauh lebih liar dibanding saat dia memimpin.


Lalu dia berkata di dalam hati, “Aku yakin, mereka semua akan kembali dengan selamat dan utuh.”


Nio memahami arti kata ‘mengontrol diri’, dan dia melaksanakannya ketika melaksanakan misi bersama Regu penjelajah 1. Dia berharap teman-temannya yang sedang melaksanakan misi tidak melupakan hal itu.


**


Helikopter serang menembakkan roket dan artileri meriam, sementara pasukan di darat juga melakukan serangan terhadap puluhan lusin pasukan monster.


Suara ledakan terdengar di mana-mana.


Sejenis binatang yang berjalan dengan merayap terkoyak dan darah mereka muncrat ke segala arah. Namun, anjing yang merayap itu tidak tahu apa itu ‘mundur’, dan mereka melanjutkan serangan bodoh dengan jumlah kawanan yang sangat banyak.


Liben memberi saran kepada jurnalis senior, “Anda masih bisa merekamnya dari udara!”


“Kamu tidak bisa membandingkan kualitas rekaman dari udara dan darat! Musuh hanyalah sekawanan anjing melata, apa yang perlu ditakuti.”


Jurnalis itu menurut Liben terlalu banyak menuntut, dan hanya bisa merengek meminta perlindungan Regu penjelajah 1.


“Anjing-anjing itu memang menakutkan! Mereka cepat, dan pergerakan mereka sangat berbahaya, dan mereka berkelompok dalam jumlah ratusan!”


Sebagai anggota Pasukan Cadangan sebelum memutuskan bergabung dengan Tentara Pelajar, Liben dengan sigap menceritakan sifat menakutkan dari anjing militer yang dia lihat saat pelatihan. Dia melanjutkan untuk menjelaskan kepada ketiga jurnalis sok tahu ini tentang berbahayanya anjing dunia lain ini.


Kecerobohan kecil mungkin dapat merenggut nyawa mereka. Musuh akan menyerang dari segala arah, dan tidak ada zona aman seperti ‘baris belakang’. Jadi, menemukan tempat di mana mereka tidak akan diserang sangatlah sulit.


“Bagaimana dengan gadis itu? Kami harus mengikuti kalian karena kami pengawal kalian! Tapi jika ini terus berlanjut, kalian akan melibatkan gadis itu dalam pertempuran juga!”


Ketika Chandra bertanya kepada ketiga jurnalis apa yang harus mereka lakukan terhadap gadis kucing bernama Kuchez itu, keraguan melintas di wajah ketiga jurnalis itu.


Beberapa menit kemudian, downwash yang diciptakan baling-baling helikopter pengangkut besar mengaduk tanah hingga debu-debu serta rumput kering beterbangan ke segala arah.


Helikopter pengangkut yang dipesan Liben mendarat. Lalu, pintu belakang terbuka seolah menyambut Regu penjelajah 1.


“Ini buruk, mereka mendekat!” teriak jurnalis yang membawa kamera beresolusi tinggi.


“Sial, mereka ogre raksasa!”


Tubuh ogre raksasa lapis baja berat itu menjulang diantara puluhan lusin anjing hitam di bawahnya.


Pasukan ogre raksasa membawa pentungan seukuran tiang telepon. Tidak ada yang berani mendekati monster-monster itu, kecuali jika mereka ingin mati dilumat menggunakan pentungan.


Ogre raksasa berbaris seperti tembok yang kokoh, mereka maju melalui badai peluru 7,62 mm dan 12,7 mm bagaikan pasukan infanteri berat. Kehadiran lusinan raksasa tersebut tampak lebih menekan daripada tank.


Karena tidak memiliki garis pertahanan yang kuat, Liben memutuskan untuk tidak menghadapi mereka secara langsung. Dia memilih untuk mengapit musuh dari kedua sisi dan menyerang mereka. Seluruh anggota mulai beraksi setelah mendapatkan perintah dari komandan pengganti itu.


“Buruan! Kita harus mengudara sebelum pengeboman selanjutnya!”


Penerbang helikopter terlihat panik, dan memberi isyarat agar jurnalis segera naik sambil membawa gadis kucing itu.


“Tinggalkan gadis itu di helikopter, kita akan melanjutkan syuting!”


Saat kameraman mendengar suara jurnalis senior, dia menatap dengan gelisah. Bisakah aku bergerak dengan cepat sambil membawa kamera yang berat? Keraguan menguasai hatinya dengan dalam.


“Pak, ini sangat berbahaya,” kameraman memberanikan diri untuk berbicara, dan berharap bisa mengubah pikiran pria itu.


“Dasar bodoh! Kau tidak akan mendapatkan apa-apa kalau melakukan sesuatu dengan setengah-setengah!”


Si jurnalis senior menarik kerah dan mengumpati si kameraman, lalu memaksanya untuk mengikutinya dengan menyeretnya. Ketiga jurnalis mulai menuju garis depan, di mana anggota Regu penjelajah 1 dan lainnya masih berjuang melawan musuh.


Liben melihat kembali ke Dinda dan anggota perempuan lainnya, dan menyuruh mereka naik helikopter pengangkut bersama gadis kucing itu.


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Kami akan mengejar ketiga jurnalis itu. Tolong minta pos helikopter untuk melindungi kami, jika memungkinkan!”


“Tidak bisakah kita meninggalkan para jurnalis bodoh itu!?” Chandra yang mulai muak dengan ketiga jurnalis berteriak.


“Tidak bisa! Peltu Nio memerintahkan ku untuk mengawasi para jurnalis tolol itu!” jawab Liben sambil mengedipkan mata dan tersenyum, lalu membelai kepala gadis yang menempel di dekapan Dinda.


“Gawat, sepertinya aku merasakan sesuatu,” gumam Dinda.


Gadis itu tersipu saat melihat Liben bergegas menuju garis depan.


**


“Ini tempat yang bagus, ada celah di seluruh dinding. Kita akan dapat melihat apa yang ada di luar bahkan saat pintu tertutup.”


Jurnalis senior memimpin kelompoknya untuk memasuki sebuah pondok kecil di tepi desa, dan mengintip dari dalam melalui celah dinding.


Tempat tinggal ini nampak berantakan, seolah-olah dibangun dalam waktu beberapa hari saja, tetapi dibangun untuk waktu lama, sehingga banyak penyangga didalamnya.


Seorang wanita Demihuman terbaring di lantai, tempat dia diperkosa. Dia tampaknya penduduk setempat. Fakta jika seorang gadis cantik tinggal di pedesaan cukup mengejutkan, tapi mungkin itulah yang mengobarkan nafsu binatang pemerkosanya.


Di sampingnya ada tubuh seorang pria muda, dan sebuah pedang menyembul dari perutnya. Pria itu nampaknya berusaha melindungi wanita itu.


Namun, jurnalis senior tidak memperdulikan kehidupan dan asal-usul orang-orang ini. Dia menoleh ke juru kamera dan berkata:


“Mulailah dari sini!”


“Kita tidak bisa, pak. Terlalu berbahaya di sini. Binatang buas sensitif terhadap bau darah dari mayat-mayat ini, dan mereka akan menemukan kita.”


“Kita akan baik-baik saja, ada mayat di mana-mana. Begitu kita berbaur dengan baunya, monster-monster itu tidak akan menemukan kita!”


Jurnalis senior tampak sangat bersemangat hingga napasnya menggebu-gebu. Saat kedua jurnalis muda itu melihat kegilaan di mata senior mereka, mereka mau tidak mau menjauh darinya. Namun, mereka tidak dapat melarikan diri sekarang, bahkan jika mereka ingin melakukannya. Seolah memberi tahu mereka bahwa waktu sudah habis, helikopter pengangkut terbang di atas bangunan tempat mereka berada.


Selain itu, pasukan monster yang sebagian besar terdiri dari anjing melata mendekat. Seperti yang dikatakan si jurnalis senior, yang bisa kelompok jurnalis ini lakukan hanyalah bersembunyi di gubuk kecil ini dan berdoa agar musuh melewati mereka.


Juru kamera dan yang lainnya, termasuk Chandra dan anggota Regu penjelajah 1 lainnya bergegas ke dalam gubuk dan menutup pintu di belakang mereka.


Tak lama setelah itu, terjadi tabrakan yang keras saat anjing melata dengan ukuran harimau menabrak pintu. Napas binatang buas itu dan caranya merusak pintu membuat kelompok jurnalis ketakutan, dan mereka sangat sadar akan situasi mengerikan yang mereka hadapi.


“Apa yang kalian lakukan? Tutup pintunya!”


Kedua jurnalis muda itu melakukan apa yang diperintahkan senior mereka, dan mulai menumpuk rintangan di pintu.


Mereka terus menumpuk tumpukan kayu, perabotan, dengan harapan rintangan ini dapat menahan pintu dan menghalangi monster-monster itu.


Helikopter pengangkut yang terbang di atas gubuk melancarkan serangan sengit. Bahkan jika itu hanya menghasilkan perbedaan kecil, Dinda melakukan yang terbaik untuk memusnahkan lusinan monster di bawahnya.


Namun, peluru 7,62mm tidak efektif melawan ogre raksasa yang mengenakan zirah baja setebal 2 cm. Peluru senapan serbu memantul begitu saja, dan pentungan para ogre raksasa menebas dengan liar dan menghantam rumah-rumah kosong di sekitarnya dan menghancurkannya.


Beberapa ogre bahkan melempat pentungan mereka, dengan tujuan menjatuhkan helikopter pengangkut besar.


Lemparan mereka meleset, tetapi jika lemparan mereka benar-benar mengenai helikopter, serang itu bisa membelah helikopter. Hanya melihat pentungan yang melesat ke atas setelah meleset mengenai helikopter, para penerbang berkeringat dingin dengan tangan yang memegang kemudi gemetar hebat.


Jurnalis senior terlihat tersenyum saat melihat adegan itu, dan berharap hal itu terjadi lagi agar dia bisa merekamnya untuk ditonton berulang-ulang.


Liben yang belum lama menyusul kelompok jurnalis berkata di dalam hati, “Mereka benar-benar gila.”


Memang, Liben berlari ke medan perang atas kemauannya sendiri, jadi dia sendiri hampir gila. Namun, Liben merasa bahwa makhluk yang disebut jurnalis membawanya ke hal berbahaya yang selanjutnya. Para jurnalis itu bisa saja naik ke helikopter untuk menyelamatkan diri, tetapi mereka memilih untuk merekam adegan orang-orang yang akan dibunuh atau ditelan bencana. Regu penjelajah 1 tidak memperingatkan atau membantu mereka, tetapi dengan tenang mengawasi dari samping dan belakang, menjaga mereka seperti keluarga atau pacar. Seseorang tidak bisa hidup dengan cara ini tanpa hati dingin yang luar biasa.


Tiba-tiba Chandra dan yang lainnya menepuk pundak Liben dengan mengatakan, “Oi, oi, Liben!”


“Apa!?” Liben berbalik dan Sersan Chandra menunjuk wanita Demihuman di lantai.

__ADS_1


“Dia, bukankah dia salah satu informan pasukan basis garis depan?”


Meski mereka tidak mengetahui nama wanita Demihuman ini, tetapi sebagian dari anggota Regu penjelajah 1 pernah melihatnya, dan dia bekerja sebagai informan.


Liben dengan lembut mengusap pipinya yang masih hangat, untuk memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati.


Reaksi pertama yang diberikan wanita itu adalah batuk.


“Dia masih hidup!”


“Ooh, dia masih hidup/”


Chandra dan yang lainnya langsung merasa lega, sekarang mereka tahu bahwa wanita ini bisa diselamatkan. Namun, mereka harus membawanya ke perawatan medis secepat mungkin.


“Baiklah, Sersan Liben, panggil penerbang helikopter lagi. Kami akan keluar dari gubuk ini!”


Namun, si jurnalis senior memprotes keputusan Sersan Chandra.


“Apa kau bodoh? Kau bilang kita akan keluar sekarang!?”


Chandra mendengus dengan kuat, hingga wajahnya berwarna merah setelah mendengar perkataan makhluk jurnalis itu. Namun, anggota Regu penjelajah 1 yang lain menepuk punggungnya dengan tujuan menenangkan pemuda ini.


Tidak ada jaminan jika monster yang berkeliaran di luar tidak akan mengejar mereka jika mereka keluar.


Bahkan seorang amatir seperti si jurnalis senior tahu bahwa enam anggota Regu penjelajah 1 yang ada di gubuk ini tidak tahan melawan gerombolan monster yang mengkhawatirkan di luar itu.


Chandra berkata dengan nada tinggi, “Jadi anda ingin kami meninggalkan wanita ini!? Kalian terus berbicara tentang bagaimana kita membawa hidup dan mati di tangan kita sendiri, tapi bukannya anda sama kejamnya dengan musuh!?”


Namun, si jurnalis senior mencoba menangkis masalah yang dikatakan Chandra padanya dan berkata, “Mengapa kau tidak mempertimbangkan apa yang menjadi prioritas mu!? Menyelamatkan seorang wanita yang sekarat memang penting, tapi apa kau ingin membahayakan warga Indonesia seperti kami demi menyelamatkan wanita setengah hewan ini!? Sepertinya kau lebih peduli dengan wanita hewan seperti dia dibanding warga sipil seperti kami!”


Chandra dan si jurnalis senior saling memelototi. Lalu, sebelum masalah ini semakin runyam, Liben memisahkan keduanya.


“Tidak apa-apa. Kita bisa Mambawa nya ke helikopter tanpa pergi keluar.


“Apa yang kau pikirkan, Sersan?” tanya Chandra dengan tanda tanya di atas kepalanya.


“Kita bisa membuat lubang di langit-langit. Lalu, kita akan mengikatnya dia di tali dan biarkan anggota kita di helikopter menariknya ke atas.”


Liben menunjuk ke langit-langit, dan kemudian mengalihkan pandangan ke si jurnalis senior dengan tatapan menghina.


“Kita bukan prajurit masa lalu. Akan ku tunjukan kepada kalian, para jurnalis sok tahu apa artinya menjadi Tentara Pelajar.”


**


Membuat lubang di langit-langit yang dalam kondisi setengah rusak tidaklah sulit. Pertama, mereka menembaki kerangka langit-langit untuk membelahnya, lalu memanjat pilar untuk membuka atap yang terbuat dari kayu.


Namun, saat mereka mulai memanjat penyangga gubuk yang dibangun dengan asal-asalan, dinding yang tadinya terasa kokoh mulai terasa goyah. Sepertinya rumah ini ditopang dengan penyangga-penyangga ini.


Selain itu, helikopter pengangkut yang hendak melakukan evakuasi tampaknya lebih menarik perhatian monster. Monster mengepung gubuk dari segala sisi, dan hujan artileri meriam 40mm menghujani kepala lusinan monster tersebut.


Debu beterbangan kemana-mana, dan monster dunia lain ini hancur berkeping-keping lalu terhempas ke segala arah berkat downwash helikopter pengangkut.


Helikopter serang yang belum lama tiba melepaskan roket, dan menyapu ogre raksasa lapis baja di bawahnya.


Menghadapi ledakan dahsyat dan dinding yang tak dapat lagi diandalkan dan hampir roboh, si jurnalis senior menutup telinganya dan berteriak, “Brengsek! Ini tidak akan tahan!”


Moncong anjing melata mulai menyembul melalui celah-celah dinding. Kameraman yang terkejut mundur ketakutan dan jatuh tengkurap.


“Tembak! Tembak! Tembak!”


Liben mengangkat senapannya, dan dibantu Chandra yang kehabisan peluru dan terpaksa menggunakan pedangnya. Liben menembakan peluru setelah bilah pedang Chandra menusuk daging binatang dunia lain itu.


Yang lainnya melepaskan tembakan menembus dinding, dan mengenai binatang mirip anjing melata yang menjulurkan hidung mereka melalui celah dinding.


Dua jurnalis muda telah lebih dulu naik ke helikopter melalui tangga tali yang disediakan, lalu Chandra mengapit si jurnalis senior di ketiaknya saat tangga tali mulai digulung lagi dan membuat mereka ke atas.


Dengan begitu, Liben adalah prajurit terakhir yang naik ke helikopter.


Sebelum dia menyentuh tangga tali, ada suara seperti truk tronton menabrak rumah hingga sekitarnya bergetar.


Debu dah serpihan kayu menghujani dari atas. Dinding bangunan berderit dan terbelah, dan monster raksasa berkaki enam yang nampak seperti badak bercula panjang terlihat melalui atap gubuk tempat Liben berdiri. Hewan itu mencoba menerobos rumah-rumah dengan tembok bata menggunakan culanya yang panjang dan tajam.


Monster mirip badak itu penuh dengan peluru dan tersungkur ke tanah sebagai mayat. Namun, lubang di dinding yang dibuatnya menjadi titik masuk para monster, dan mereka menyerbu masuk. Di antara monster-monster yang menerobos, terlihat monster mirip manusia berkepala banteng.


Liben dengan panik mencabut pistolnya, dan menembaki goblin yang berusaha memanjat tiang gubuk ini. Lalu dia menembaki dan menendang monster yang memanjat tiang.


Prajurit yang berada di helikopter melindungi Liben dari atas, dan melakukan tembakan dukungan yang hebat.


Untungnya musuh tidak sepintar itu.


Setelah itu, Liben memanjat tangga tali, dan helikopter pengangkut tiba-tiba naik dengan kecepatan 700 meter per detik.


Dia bergelantungan di atas ketinggian 10 meter dengan laju helikopter yang mengkhawatirkan.


Anggota yang berada di helikopter mengarahkan laras senapan mereka ke bawah, dan menembakan seluruh peluru yang tersisa di magasin masing-masing. Kemudian, sebagai hadiah perpisahan, helikopter serang melepaskan empat roket ke arah ratusan monster di bawah.


Lalu, sebuah jet serang melewati helikopter pengangkut Regu penjelajah 1. Pesawat perang itu menjatuhkan bom napalm, dan langsung merubah medan perang menjadi neraka.


Aroma daging panggang para monster tercium, dan teriakan kesakitan para monster terdengar merdu di telinga prajurit Regu penjelajah 1.


Dengan begitu, rencana Kekaisaran gagal, dan beberapa gerilyawan melarikan diri.


**


Setelah berada di dalam helikopter pengangkut, Liben terlihat sangat lelah hingga terbaring dengan terengah-engah di lantai kabin. Dia dengan bangga bertanya kepada si jurnalis senior, “Bagaimana dengan itu? Apa kau melihat aksi ku?”


Si jurnalis senior menjawabnya dengan nada tidak senang, “Ya,aku melihat semuanya. Tentara tidak melindungi rakyat, itulah yang saya yakini. Tapi kalian bukan tentara biasa, tepatnya kalian anggota Tentara Pelajar.”


Si jurnalis senior terkejut dengan Chandra yang memegang kamera milik kameraman dan merekamnya, dia berkata, “Oi apa yang kau rekam!? Jangan rekam aku!”


Chandra dengan senyum jahil terus merekam si jurnalis senior, disertai tawa gembira anggota Regu penjelajah 1.


“Eh?”


“Apa yang terjadi…!!!”


Chandra menjatuhkan kameranya. Seluruh tubuhnya kaku, darah segar keluar dari mulutnya, dan dia jatuh ke lantai kabin dengan leher memuncratkan darah.


Anggota Regu perempuan berteriak dengan panik melihat itu, dan monster besar muncul dibelakang Chandra.


Monster itu menancapkan cakarnya yang panjang dan tebal ke leher Chandra. Monster itu berteriak dengan keras dan bernada melengking, dan dia masih terus tumbuh besar!


Itu jelas buruk. Tubuh monster itu dilapisi oleh otot yang kuat, dan cakarnya tumbuh semakin panjang dan tajam.


Bulunya berwarna coklat gelap, wajahnya buas seperti hewan karnivora, namun bukan kucing atau anjing. Namun, bagian dadanya adalah tanda yang jelas bahwa monster itu adalah wanita. Ciri aneh mirip manusia itu membuat orang-orang di sini mengira mungkin ada darah manusia di nadi monster itu.


Kuchez sebelumnya adalah seorang gadis hingga beberapa saat lalu, tapi kepalanya sekarang menyentuh langit-langit helikopter, memaksanya untuk membungkuk saat ukurannya terus membesar. Dan kini, gadis itu berubah menjadi monster biadap yang membuat helikopter sesak dengan tubuhnya yang besar.


Liben dan prajurit lannya hanya bisa menatap dengan wajah tercengang, mereka tidak bisa bergerak untuk sesaat saat gadis itulah yang membunuh Chandra dan berubah menjadi monster yang mengerikan, lebih mengerikan daripada minotaurus maupun ogre raksasa.


Mereka tidak bisa melepaskan tembakan dari posisi ini.


Mahluk itu berada di depan kabin, tempat kokpit berada, jika tembakan mereka meleset, mereka mungkin akan menembak ke kokpit, dimana kemungkinan besar peluru akan mengenai penerbang atau sistem penting helikopter.


Takut dengan adegan tak masuk akal ini, si jurnalis senior pingsan seketika saat dia berusaha menjauh.


Monster itu mengangkat tangannya, dan berteriak untuk menebaskan cakarnya ke seluruh objek di dekatnya.


Dinda dengan cepat melesat ke depan, dan menangkis cakar monster itu dengan pedang miliknya.


Liben mengambil senapannya dan meraih wanita Demihuman yang ditemukan, sementara salah satu anggota Regu menarik kerah baju si jurnalis senior dan menyeretnya ke bagian belakang kokpit. Mereka berada sangat dekat dengan pintu belakang, jika mendekat sedikit lagi, mereka akan terjun bebas dengan fatal.


Dinda yang ternyata memiliki brevet pertempuran jarak dekat dengan tangan kosong maupun senjata tajam, membuang helmnya dan menghadapi makhluk itu secara langsung. Helm itu tak cukup kuat untuk menahan tebasan cakar monster itu, dan darah mengalir dari dahinya.


Dinda menyeka darah dari dahinya dengan lengan bajunya, berdiri dengan pedangnya, dengan tatapan tajam mempelajari monster Kuchez untuk mencari kelemahan.


“Untuk berpikir wujud aslimu adalah monster seperti ini, kau adalah gadis yang sangat imut tadinya.”


Dengan tatapan bingung, monster itu memandangi manusia perempuan kecil yang akan melawannya.

__ADS_1


Perbedaan antara perawakan fisik mereka terlihat jelas. Tetap saja, Dinda yang memiliki tinggi tubuh 162 centimeter, berhadapan dengan monster dengan tinggi lebih dari dua meter, tapi gadis itu melangkah maju sebagai tantangan. Tentu saja, makhluk monster itu tidak mengerti tentang ‘tantangan’.


“Haaaaaaah….!!!”


Dengan teriakan nyaring, Dinda mengacungkan pedangnya dan menerjang untuk menyerang.


Suara dentingan dengan keras terdengar saat pedang beradu dengan cakar monster itu.


Dinda menebaskan pedangnya lagi, suara dentingan yang dihasilkan bergema di seluruh kabin sekali lagi, dan percikan api beterbangan saat baja beradu dengan cakar.


Monster itu memamerkan teringnya untuk menakut-nakuti musuhnya, dan mengayunkan lengannya dengan kekuatan besar.


Dinda menjatuhkan diri ke lantai, dan berguling untuk menghindari tebasan cakar yang terus bergerak maju. Dia menyelinap dan berusaha mencapai jangkauan lawannya sebelum memulai pertempuran jarak dekat, menebas dan menikam musuhnya dengan pisaunya.


Setiap kali beradu, luka baru tercipta di tubuh keduanya, dan darah mereka mengalir.


Lengan dan kaki Dinda penuh dengan luka.


Demikian pula dengan si monster, dia mengeluarkan darah keunguan dari luka tusukan yang dihasilkan Dinda, dan menodai bulunya.


Dinda menanggalkan pelindung tubuhnya yang berat, seolah-olah merasa itu mengganggu. Dia mempermainkan monster itu dengan gerakan gesit, melakukan gerakan tipuan beberapa kali dan memanfaatkan celah musuhnya untuk menutup jarak dan akan membunuhnya.


Namun, monster itu mengayunkan lengannya yang kuat, dan menghempaskan Dinda ke dinding kabin dengan keras.


Tapi, Dinda berhasil menebas ketiak kiri monster itu, dan menyebabkan darah yang keluar mengotori lantai, dia mengerang dengan keras.


Kemudian, monster hendak menerkam Dinda, seolah-olah berkata, “Kau melakukan pertarungan yang luar biasa!”


Namun, Liben dan anggota yang lainnya mengangkat senapan mereka dan membalasnya.


Serangan mereka tidak memiliki tujuan untuk melukai si monster, tapi melindungi Dinda.


Marah dengan gangguan para prajurit, monster itu berteriak dengan keras yang memekakkan telinga, lalu mengayunkan lengannya dengan liar. Cakar tajam itu mengenai dan memecahkan jendela helikopter dan menebas bagian dalam kabin.


Setelah menggelengkan kepalanya dengan kuat karena pusing, Dinda kemudian melanjutkan serangan kombinasinya. Karena tidak dapat menahannya, monster itu memeluk tubuhnya sendiri untuk melindungi dirinya. Saat itulah, Dinda menancapkan bilah pisaunya ke ujung siku monster.


“Saraf ulnaris manusia jika terpotong, lengan mereka menjadi tidak berguna. Bagaimana dengan monster sepertimu?”


Monster itu yang lengannya kini patah dan terlipat, kini memilih mengayunkan tangan kirinya ke arah Dinda. Namun, hanya dengan satu lengan, lebih banyak celah yang muncul.


Dinda melompat mundur untuk menghindari cakar monster itu, dan kemudian berteriak, “Pak penerbang! Saat saya memberi sinyal, balikkan helikopter!”


“Apa yang kau rencanakan!?”


“Tenanglah! Aku hanya akan mengusir brengsek yang sudah membunuh Chandra ini!”


Mendengar itu, Liben menggenggam erat si gadis Demihuman, dan memberi sinyal agar beberapa anggota melindungi tubuh tak bernyawa Chandra dan berpegangan erat supaya tidak terlempar keluar.


Dinda berdiri diatas kedua telapak tangannya seperti seorang pesenam, dan kakinya berayun menyapu lengan kiri monster.


Dengan seluruh rasa sakit yang terpusat pada lengannya, si monster mendapati dirinya menghantap lantai. Itu sangat menyakitkan hingga dia menggertakan giginya kesakitan. Namun, dia segera bangkit berdiri sambil mengulurkan tangan itu, dan berusaha menangkap Dinda.


Itulah saat yang ditunggu Dinda. Dia menyerang ke dada monster itu yang tak terlindungi.


“Sekarang!”


Dengan itu, dia melempar monster itu dari bahunya ke arah pintu belakang helikopter.


Namun, Dinda tidak bisa melakukan lemparannya, dia ditekan oleh tubuh besar monster itu.


Monster itu mencari-cari bagian dalam helikopter untuk menghindari terlempar keluar. Kamudian dia menunjukkan taringnya pada Dinda, dengan niat untuk mengunyah kepalanya.


“Seberapa kuatnya kau, aku masih belum kalah!”


Dinda berusaha mendorong wajah monster itu dengan cara menendangnya dengan sepatu bot kerasnya.


“Menjijikan!”


Dinda memiringkan kepalanya ke samping untuk menghindari mulut yang meneteskan air liur, dan kedua rahang yang tertutup gigi tajam.


Saat gigi-gigi tajam itu hendak menyentuh wajah Dinda, gadis itu menghantamkan dahinya dengan kuat ke moncong monster itu.


Rasa sakit menjalar dari hidung si monster, dan Dinda meronta-ronta dari tubuh besar monster itu, lalu mengikat kakinya di leher monster itu, dan melakukan choke dari belakang punggungnya.


“Jatuh, sialan!”


Menghadapi pembalikan keadaan ini, monster itu mencoba melepaskan lilitan kaki Dinda pada lehernya. Tiba-tiba dia bangkit dan membenturkan kepalanya ke langit-langit kabin.


Kepala monster dan tubuh Dinda menghantam langit-langit. Setelah suara hantaman keras itu terdengar di seluruh kabin, tubuh besar monster meluncur ke arah pintu belakang yang terbuka.


Dinda yang tak sadarkan diri juga meluncur ke pintu belakang.


Liben dengan cepat mencoba meraih tangan Dinda. Tiga anggota Regu penjelajah 1 mengulurkan tangan mereka untuk meraih kaki Liben. Dengan kesempatan kecil, Liben meraih pergelangan tangan Dinda dan berpegangan dengan benda yang cukup kuat untuk menahan beban tubuhnya.


Lalu, penerbang helikopter dengan cepat mengendalikan helikopter agar terbang sedikit menurun.


Monster itu masih mencengkram ujung kabin, tergantung di tepi palka. Sepertinya dia mencoba naik kembali kedalam helikopter dengan lengan kirinya.


Beberapa anggota Regu penjelajah 1 melihat ini dan mencoba menendangnya, menyerang berulang kali dengan sepatu bot keras mereka. Monster itu berjuang mati-matian untuk menahan dirinya agar tidak terlempar keluar, tapi kemudian Liben mengarahkan pistolnya ke wajah monster.


“Selamat tinggal!”


Rentetan peluru mengubah wajah monster, alias Kuchez menjadi penuh lubang. Saat kepalanya terkena rentetan tembakan peluru pistol, monster itu meneriakkan lolongan dengan keras, anggota tubuhnya tidak bergerak saat jatuh ke tanah.


Saat Dinda sadar, dia diberi selamat oleh seluruh orang dengan nada kagum, “Kamu benar-benar perempuan yang luar biasa.”


“Dimana ini?”


Sepertinya itu adalah efek setelah kepalanya terbentur cukup keras tadi, jadi ingatannya tidak jelas. Penglihatannya kabur dan matanya terasa berputar.


“Apa kau baik-baik saja? Apa kau ingat siapa aku, kami? Ayolah, jangan bercanda!”


Liben dan yang lainnya menghujani Dinda dengan puluhan pertanyaan, sampai dia mulai muak. Namun, itu mengembalikan ingatannya dalam waktu singkat, dan dia ingat dimana dia berada.


“Jangan banyak tanya!”


“Maaf, maaf. Tapi, sumpah, kau luar biasa tadi.”


Dinda tersenyum saat mendengar kata-kata Liben.


“Jadi kau sudah jatuh cinta padaku? Kenapa kita tidak berkencan setelah ini?”


Seluruh orang terlihat terkejut, beberapa bahkan tidak sanggup untuk menutup mulutnya.


Dinda mengatakan itu dengan nada setengah bercanda, karena dia tahu Liben sudah memiliki pacar. Satu lagi, dia sudah menyerah dengan perasaanya pada Nio setelah menyadari jika ada cukup banyak perempuan yang mendekati komandannya. Dia mengatakan itu bukan hanya karena tidak apa-apa ditolak, tetapi dia ingin bertaruh pada satu banding sejuta kesempatan bahwa dia siap untuk itu.


Namun, jawabannya cukup jelas, dan Liben menanggapi dengan cara yang tidak diharapkan Dinda sama sekali.


“Maaf kalau aku harus menjawabnya seperti ini. Kau tahu, aku dan Ivy berencana menikah setelah perang ini berakhir.”


Kabin helikopter seketika hening, dan hanya terdengar suara mesin dan baling-baling helikopter pengangkut.


“Eh…?”


Anggota Regu yang lainnya, Fariz dan Triana sekarang menunjukkan wajah pucat, dan tidak tahu harus menganggapnya dengan cara apa. Dinda gemetar saat dia menyadari situasi mengerikan yang ditimbulkan oleh kata-katanya yang ceroboh.


Selain tidak ada yang tahu kapan perang menyebalkan ini berakhir, Dinda juga tidak tahu jika dia telah mendapatkan bendera kematian (dalam novel romantis biasanya identik dengan karakter yang sial, alias tertolak perasaannya).


Dinda meringkuk ketakutan setelah menyadari jika dia tidak tahu jalan keluar dari situasi seperti ini.


“Apa yang harus kulakukan?”


Dinda mengatakan itu dengan nada panik, jauh lebih panik daripada saat melawan monster tadi.


Lalu ada hal lain yang jauh lebih penting, dimana Liben masih belum tahu bagaimana dia harus mengatakan laporan mengenai Chandra yang tewas dalam misi ini. Dia bisa membayangkan wajah Nio setelah mendengar kata-katanya, dan dia lebih kasihan dengan Nio daripada dirinya. Karena Nio juga harus melaporkan hal ini kepada atasan, dimana aura di ruang perwira jauh lebih menekan daripada medan perang.


**


Napalm, juga disebut campuran bahan bakar firebomb, memiliki konsistensi seperti gel yang memungkinkannya menempel pada target. Napalm sering digunakan dalam kombinasi dengan bensin atau bahan bakar jet untuk membuat bom dengan kulit terluar tipis yang mudah meledak dan menyala saat terkena benturan.

__ADS_1


__ADS_2