Prajurit SMA

Prajurit SMA
Penyerangan pertama 1


__ADS_3

Di kantor komandan kontingen Indonesia, Jenderal Angga.


Nio dipanggil ke ruangan komandan Pasukan Perdamaian tersebut setelah ia dengan sopan mengangkat kursi dengan niat akan melemparkannya ke kepala salah satu perwira. Meninggalkan rapat tanpa perintah adalah perbuatan salah, namun Nio berpikir tidak ada cara untuk menangani para perwira yang keras kepala. Lagipula, panggilan jenderal tersebut jauh lebih penting dan mendesak. Seperti yang Nio harapkan, Angga tampak tidak kecewa atas perbuatannya.


“Aku ingin mendengar apa yang kamu pikirkan.”


Hal itu memang harus Angga katakan, mengingat Nio adalah salah satu anggota Staf Perencanaan Sstrategi Umum dan Khusus yang ia panggil ke ruangannya.


“Singkirkan formalitas, dan katakan semua yang ingin kau keluarkan, Nio.”


Nio kemudian berkata, “Pak, terus terang, mengingat situasi kita sekarang dan permintaan Presiden, melancarkan serangan ofensif adalah hal yang tidak perlu dilakukan, dan bahkan sangat sembrono! Kenapa Anda tidak membalas surat perintah Presiden seperti itu?”


“Letnan ‘Tentara Pelajar’ Nio, aku ingin kamu memberitahuku apa yang sebenarnya kamu pikirkan,” balas Angga.


Nio sadar Angga mengatakan keraguannya secara tak langsung akan perkataan Nio atas surat perintah Presiden Suroso.


Angga cukup menyukai ketenangan Nio dan cara penyampaian pendapatnya dengan semua etika ala remaja yang bebas dan sopan-santun yang kurang, meskipun kekesalan yang teramat tampak di mata pemuda 20 tahun tersebut. Dia sudah pusing dengan permintaan Markas Besar TNI dan pemerintah, sehingga tak ingin mendengar pemikiran yang rumit.


“Maaf Pak, mengingat Anda jauh lebih mengerti atas situasi sekarang, saya tak akan mengulangi perkataan saya lagi.”


“Aku paham. Aku akan mencoba memahami dirimu. Berbicalah dengan bebas!”


“Siap! Terimakasih, Pak!”


Angga berusaha memerintahkan Nio untuk berbicara, tetapi dia menerima tanggapan dari perwira remaja tersebut dengan sopan dan tegas.


“Penolakan dan jawabannya saat rapat tadi memang membuat para perwira kesal. Itu membuatnya semakin menarik,” kata Angga di dalam hatinya.


Meskipun dia tidak mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya, Angga menyampaikan pikirannya dengan satu komentar tak langsung:


“Jadi, ini sebabnya para perwra Korea Utara dan Rusia sering membicarakanmu, dan dikagumi para prajurit muda kita di sini, Letnan Nio. Menakjubkan. Jadi sekarang mari kita mulai pembicaraan.”


“Panglima bahkan sering membicarakannya. Aku juga paham. Aku yakin pekerjaan akan berjalan lancar karena aku memiliki perwira muda yang memiliki berbagai strategi di otaknya dan komandan regu yang mantap,” Angga mengatakannya di dalam hati lagi.


“Apa yang kamu pikirkan tentang rencana serangan ini jika kamu menganggapnya sebuah tindakan sembrono, Letnan?” Angga bertanya pada Nio.


Nio menjawab, “Permintaan Presiden untuk menyerang akan menjadi serangan pertama Pasukan Perdamaian dan Persekutuan sejak awal terbentuk. Menurut saya, rencana itu akan menjadi serangan yang tepat. Tapi, apa mungkin serangan ini akan sebagai umpan, dengan kemungkinan akan ada serangan utama lain?”


Lambang dua balok di kerahnya layak dimilikinya. Nio cepat dalam berpikir, dan yang lebih penting dia memiliki kemampuan untuk menebak apa yang ingin aku katakan, dan mengatakannya dengan apa yang sudah dia ketahui. Dia adalah salah satu perwira langka yang memiliki ketenangan, kestabilan, dan keberanian seorang perwira komandan, begitu pikir Angga.

__ADS_1


“Aku bahkan belum berpikir sejauh itu, tapi kau bisa melihat jauh ke depan seperti itu. Jadi, apa kamu bisa mengevaluasi dampak yang ditimbulkan serangan itu di berbagai bidang?”


Nio menjawab pertanyaan Angga, “Serangan ofensif hanya membuang-buang peluru. Tapi, paling tidak negara-negara anggota Aliansi akan kesulitan mengimbangi alur pertempuran kita yang cepat, dan mereka mudah dialihkan jika kita melakukan serangan ofensif. Sayangnya, keuntungan itu tidak memberi kita manfaat yang besar. Jadi, apa kita akan memulai operasi melalui jalur Yekirnovo maupun Arevelk? Tidak, kemampuan logistik memungkinkan kita untuk meragukan rencana serangan ofensif, bahkan menolak permintaan Presiden tersebut.”


Cara Nio menjelaskan seolah-olah dirinya telah tenggelam dalam pikirannya, dan melupakan amarahnya pada rapat beberapa saat lalu. Hal itu menunjukkan kualitas bawahan yang diinginkan perwira tinggi seperti Angga. Tidak banyak perwira yang bisa memikirkan jawaban atas pertanyaan penting di bawah pengawasan keberadaan tertinggi. Dan itu sebabnya, individu yang memiliki potensi luar biasa selalu diterima di TNI.


“Jika urusan logistik berjalan lancar, kita bahkan mungkin bisa menahan bala bantuan musuh,” ucap Angga.


“Ijin berbicara, Pak. Saya tidak merasa jika mengatasi masalah logistik dapat menahan bahkan menghancurkan pasukan bantuan musuh. Bahkan logistik yang lancar mungkin tidak akan terlalu membantu bidang lain. Saya tidak berpikir pasukan Aliansi yang terlibat dalam pertempuran akan mengirimkan bantuan, kecuali mereka ingin mengorbankan nyawa prajurit secara sia-sia. Itu berarti, serangan ofensif utama harus menjadi tipuan, dan kita harus merencanakan serangan ofensif kecil lainnya dengan tujuan beberapa titik strategis di negara-negara anggota Aliansi,” jawab Nio.


Ketika Angga meminta agar Nio meminta taktik terbaik untuk serangan ofensif, Nio dengan pikiran tenang mengatakan gagasan bahwa serangan ofensif utama harus menjadi pertempuran ‘palsu’, dengan perang ‘asli’ yang lebh kecil. Di dalam hati Angga mengatakan, “Cukup mengesankan, dan hampir tidak bisa kumengerti.”


“Lanjutkan,” pinta Angga kepada Nio.


“Terus terang, apa Anda pernah berpikir untuk menduduki titik terlemah wilayah musuh, atau menguasai garis belakang musuh? Regu saya berfungsi untuk melakukan serbuan gerilya dan terbuka … jadi kita perlu semacam pengalih dan kemudian kita akan menyerang … hmm, belakang? Belakang, ya?”


Nio tampak memasang wajah mengingat sesuatu, namun begitu sulit untuk mengatakannya, sehingga membuat Angga penasaran.


“Ada apa, Letnan Nio?”


Nio membiarkan pertanyaan Angga keluar dari pendengarannya begitu saja, dan mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan buku sejarah perang masa lalu.


Membuat sebagian besar pasukan musuh berada di garis depan, kemudian menghadapkan mereka pada pertempuran tipuan. Sementara itu, pasukan utama kawan menyerbu garis belakang musuh yang rentan. Aku merasa pernah membaca sesuatu seperti itu di buku sejarah yang kusukai…” Nio bergumam di dalam hati, tetap mempertahankan ekspresi layaknya seorang jenius berpikir.


Tiba-tiba sebuah istilah muncul di benaknya.


“Incheon… Itu dia, Pertempuran Incheon!”


Itu merupakan salah satu pertempuran dalam Perang Korea. Sebuah peristiwa terpukulnya pasukan Korea Utara. Seorang komandan Amerika menciptakan keajaiban, Douglas MacArthur. Pasukan PBB melakukan pemotongan jalur pasokan logistik dan menyerbu musuh dari belakang. Itu adalah serangan menentukan yang menyebabkan pasukan Korea Utara kalah.


Itulah awal sebuah sejarah baru tercipta, di mana kapitalis licik mengalahkan komunis jahat.


“Saya pikir penyerangan ofensif pertama kita akan efektif jika pasukan utama musuh terkonsentrasi di garis depan, sehingga operasi pasukan darat yang dimulai dari garis belakang musuh akan menjadi salah satu cara terbaiknya?”


Nio tetap mengingat keberadaan komandannya, tetapi pertanyaannya di atas yang tiba-tiba dan dengan nada tenang mulai menunjukkan jika Nio juga tertarik pada permintaan Presiden Suroso untuk melakukan penyerbuan pertama terhadap Aliansi.


Berpikir tentang Pertempuran Incheon, Nio menyadari bahwa taktik yang digunakan dalam pertarungan tersebut sangat mengagumkan, dan menurutnya dapat digunakan untuk melawan musuh selain komunis. Jika perwira Korea Utara mendengarnya, bisa saja mereka akan memasang wajah kesal dan menentang usulan Nio, tentu saja itu sejarah memalukan negeri mereka.


Tidak ada yang salah dengan operasi ini, karena yang akan melakukannya hanya TNI. Tentu saja Nio tetap berharap kontingen Rusia dan Korea Utara membantu, terlepas dari sejarah kelam masa lalu.

__ADS_1


“Jika Anda mengingatnya, taktik yang digunakan dalam Pertempuran Incheon adalam operasi amfibi berskala besar yang diikuti oleh pengepungan di garis belakang musuh untuk memutus jalur pasokan logistik mereka. Jadi, pertempuran ofensif pertama kita akan menjadi pengalihan untuk operasi pendaratan.”


Yang Nio lakukan hanyalah memanfaatkan kembali sejarah, dia menyadari hal tersebut. Selama buku sejarah tetap tebal seperti biasanya, Nio akan memanfaatkan setiap konsep di dalamnya.


Sudah pasti Angga menyetujui usulan Nio. Tapi dia terkejut ketika Nio ternyata mendukung permintaan Presiden Suroso agar kontingen Indonesia melakukan serangan pertama sejak prajurit pertama menginjakkan kaki di dunia ini. Jenderal tersebut memasang wajah terkejut, seolah-olah perkataan Nio adalah awal untuk memulai operasi.


Lagipula, menurut Angga, melibatkan Unit Laut dan Air dan TNI Angkatan Laut di dunia ini adalah rencana rahasia yang hanya perwira terpilih yang mengetahuinya. Tapi sekarang, seorang komandan lapangan dan anggota Staf Perencanaan Strategi Umum dan Khusus tengah menyarankan terlibatnya kapal-kapal perang Indonesia di dunia ini seolah-olah ia adalah komandan pasukan kontingen Indonesia. Angga bertanya-tanya mengapa Nio tahu dia berencana melibatkan TNI AL dalam permintaan Presiden untuk melakukan pertempuran ofensif.


Angga bertanya dengan hati-hati, “Apa kamu mendengar rencana terlibatnya kapal-kapal perang TNI AL dalam pertempuran ini?”


“Saya tidak paham maksud perkataan Anda, Jenderal Angga.”


Jawaban yang diberikan Nio tidak bisa diterima oleh Angga. Tetapi, Angga tetap tidak bisa membaca semua emosi dan pikiran bawahannya. Tetapi berdasarkan pengalamannya, dia menilai jawaban Nio benar-benar tulus.


“Apa kamu sendiri yang memikirkan rencana itu?” tanya Angga.


“Ya Pak. Mempertimbangkan keingian Presiden agar Aliansi tidak bisa melakukan apapun sesuka hati mereka lagi, saya pikir melakukan taktik dalam Pertempuran Incheon adalah pilihan bagus.”


“Walaupun kamu hanya menemukannya dari catatan sejarah, aku harus bilang itu ide yang sangat menarik.”


Angga menanggapinya dengan mudah. Di saat yang sama, Angga merasa heran terhadap Nio, tetapi dia bisa mengerti bagaimana Nio bisa meyakinkan pihak-pihak penting sehingga Arevelk, Yekirnovo, dan Indonesia dapat bersekutu.


“Baiklah. Jika kamu mendukung pertempuran ini, pasukan akan menggunakan Tim Ke-12. Letnan Nio, ada perintah pengiriman untukmu. Tim Ke-12 akan dikirim bersama unit-unit amfibi.”


“Siap, Pak!”


Nio dengan tenang menerima perintahnya, pemuda itu tampak seperti remaja penurut yang senang dikirim untuk melakukan tugas sepele. Dan Angga merasa dirinya begitu mudah memerintahkan seseorang di bawah dirinya. Di sisi lain, masalahnya adalah Angga belum pernah keluar lebih jauh dari benteng untuk bertempur.


“Tim-mu akan dikirim ke pangkalan militer angkatan laut kita di Kerajaan Yekirnovo. Unit-mu akan menjadi garda depan bagi pasukan amfibi dan tempur bantuan. Aku mengharapkan hal-hal besar darimu, Letnan Nio.”


Memiliki orang yang berpengalaman di garis depan membuat Angga berharap banyak pada ujung tombak tersebut.


“Ijin berbicara, Jenderal.”


“Ada apa, Letnan Nio?”


“Jika dari awal pertempuran ini Anda dukung, maka Anda tidak akan menyarankan kami di bawah komando salah satu kompi, kan?”


Perkataan Nio ada benarnya. Tim Misi Istimewa tidak akan terikat pada unit-unit yang lebih besar dari regu. Untuk pertempuran, lebih mudah mengatur pasukan kecil walau kemungkinan menang lebih kecil daripada memerintah unit sebesar resimen.

__ADS_1


“Apapun yang kamu pikirkan, jika Kapten Lee Baek-ho setuju, aku akan mengirim Tim Ke-12,” kata Angga.


Nio menjawab, “Dimengerti, Pak. Kalau begitu, ijin undur diri.”


__ADS_2