Prajurit SMA

Prajurit SMA
27. Kuntilanak: mi instan


__ADS_3

6 Februari 2321, pukul 15.31 WIB.


**


Di sekitar Gerbang yang masih terus bergerak mendekati Pulau Jawa.


Di kapal perang terbesar angkatan laut pasukan dunia lain yang bertugas mengawal Gerbang, Komandan pasukan ini terlihat sangat kesal setelah mendengar sebuah kabar.


“Apa itu benar kalau kau melihat penyihir dunia kita keluar dari Gerbang?” ucanya dengan tangan mengepal.


“Ya, sa-saya melihat ada dua orang penyihir yang terbang bersama menuju pulau tujuan,” jawab bawahannya dengan gemetar karena mata Komandannya yang terus melotot.


Meski penyihir merupakan salah satu ‘senjata’ yang pasukan dunia lain miliki, namun hingga sekarang belum satu orang penyihirpun yang ikut pada penyerangan.


Karena alasannya sudah jelas yaitu pasukan dunia lain yang telah mendapatkan banyak kemenangannya dari peperangan melawan negara-negara di Bumi.


“Kapan perkiraan Gerbang mencapai pesisir pulau itu?” tanya Komadan pasukan ini sambil menunjuk Pulau Jawa yang berada di peta Indonesia yang mereka rampas dari wilayah taklukan.


“Perkiraan 4 bulan lagi,” jawab bawahannya.


“Kalau begitu kirim kabar ke pasukan yang ada di pulau itu untuk mencari kedua penyihir itu.”


“Siap.”


“Dan jangan lupa untuk meminta bantuan dari penyihir militer.”


Setelah perintah Komandannya, prajurit yang mendapatkan tugas itu langsung menulis surat yang kemudian di kirimkan melalui seeekor burung elang yang sudah dilatih untuk mengirim surat dengan cepat dan tepat.


Beberapa saat kemudian terdengar suara gemuruh dari langit dan terdengar semakin lama semakin keras suara itu.


Seluruh prajurit yang ada di seluruh kapal perang yang mengawal Gerbang keluar untuk melihat sumber suara yang ternyata 5 jet tempur TNI AU yang terbang melintas diatas mereka.


Selain 5 jet tempur, AL juga terlihat mengirim 6 kapal perang kelas Kapal Cepat Rudal dan 2 kapal kelas LDP atau Landing Platfrom Dock yang masing-masing mengangkut sebuah helikpter tempur dan membawa ratusan personil.


Dan kesemuanya berada dalam jarak tembak efektif senjata yang dipasang di seluruh kapal perang itu. Tentu saja arah tembakkan mengarah ke puluhan kapal perang yang mengawal Gerbang.


“Peringatkan seluruh awak untuk menyiapkan meriam…!” teriak Komandan pasukan angkatan laut dunia lain yang mengawal Gerbang.


“Siap…!” jawab salah satu bawahannya dan segera membunyikan sebuah terompet besar yang suaranya dapat terdengar oleh seluruh prajurit.


Namun sesaat kemudian terdengar suara tembakkan yang keras dari seluruh kapal perang AL.


**


Untuk hari ini Ivy dan Ilhiya tidak lagi berada di bawah pohon beringin yang tumbuh di sendang, lebih tepatnya mereka berpindah dari tempat itu. Sepertinya mereka mulai sadar jika tempat itu adalah sarana umum milik masyarakat sekitar sendang.


Selain itu suasana sendang hari ini memang cukup ramai dengan para remaja perempuan yang mandi bersama di situ.


Saat berjalan di jalan, sudah pasti tidak ada satupun orang yang dapat melihat Ivy dan Ilhiya. Kecuali orang yang mereka kehendaki untuk dapat melihat wujud mereka.


Salah satunya Nio yang merupakan satu-satunya orang dapat melihat Ivy di dunia ini karena mereka berdua ada ‘sesuatu’ yang ingin disampaikan pada Nio.


Ilhiya masih belum memberi tahu kenapa Ivy diperintahkan untuk menampakkan dan berbicara dengan Nio.


Suasana jalanan cukup sepi sebelum terjadinya perang dan hanya beberapa kendaraan yang lewat. Sisanya para warga yang berjalan kaki menuju tempat tujuannya.


“Tuan, aku lapar,” ucap Ivy dengan wajah lemasnya karena semalam dia hanya diberi makan oleh Ilhiya berupa beberapa buah rambutan yang ia curi dari halaman warga.


Mengambil buah dari pohon yang cukup tinggi bukanlah hal yang sulit bagi Ilhiya yang dapat ‘terbang’.


Ilhiya menjawab sambil memeriksa isi tasnya, “Sepertinya ini sisa uang kita.”


Karena Ilhiya dan Ivy harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menemukan seseorang yang bernama Nio itu.


Setidaknya mereka berdua tidak perlu mengeluarkan uang transportasi karena kemampuan ‘fantasi’ yang Ilhiya miliki, yaitu sihir terbang menggunakan tongkat yang dia miliki.

__ADS_1


Ivy melihat dengan mata melebar sebuah koin dengan lubang ditengahnya yang ada diatas telapak tangan IIlhiya.


“Apa kau ingin membeli negara ini tuan?” tanya Ivy sambil terus memperhatikan sebiah koin berkilau tersebut.


“Pasti di dunia ini uang seperti ini tidak berlaku,” kata Ilhiya sambil memasukkan kembali satu-satunya uang yang dia miliki.


Melihat Ilhiya yang memasukkan lagi uanggnya, Ivy terlihat tidak rela dan meratapi dirinya harus menahan lapar.


Melihat Ivy yang terlihat benar-benar lapar, Ilhiya mengeluarkan sebungkus roti yang dia ‘beli’ dengan uang yang membuat pemilik warung mendadak kaya.


Ya, mendadak kaya karena Ilhiya membayar 4 bungkus roti dengan sebuah koin emas seberat 3 gram.


Tentu saja dia memakai sihir khusus agar dirinya terlihat seperti masyarakat Indonesia saat ini. Namun tetap saja sebuah kesalahan itu membuat beberapa orang heran dan terkejut.


“Ini untukmu,” kata Ilhiya sambil memberikan sebungkus roti pada Ivy.


“Ini apa?. Kenapa benda ini dibungkus bukan dengan kertas dan tembus pandang?. Lalu didalamnya juga seperti ada anginnya,” tanya Ivy yang mengatakan semua keanehan pada sebungkus roti yang sebulan lagi akan kedaluarsa itu.


“Di dunia ini, benda yang membungkus roti ini disebut dengan plastik dan diberi udara agar roti itu tahan lama,” jelas Ilhiya.


Ivy mengangguk tanda mengerti dan kemudian memperhatikan lagi sebungkus roti itu. Namun setelah itu Ivy terlihat memiliki masalah lain dan berkata, “Bagaimana mengeluarkan roti yang ada di dalamnya?”


Ilhiya menepuk dahinya karena lupa jika Ivy masih belum mengerti beberapa hal tentang dunia ini dan tentu saja Ilhiya belum mengetahui hal yang tersembunyi di dunia ini, terutama Indonesia.


Ilhiya kemudian mengambil lagi sebungkus roti yang dipegang juga ditekan-tekan oleh Ivy dan menyobek bagian pinggir bungkus roti.


Kemudian Ilhiya memberikan roti yang sudah dia keluarkan dari bungkusnya dan memberikannya pada Ivy.


Ivy menerima roti berbentuk bundar itu dan menyobeknya yang dari dalamnya keluar selai coklat.


“Kenapa roti ini berisi lumpur?” tanya Ivy dengan panik dan membiarkan selai coklat menetes.


“Itu isian roti, coba kau rasakan,” ucap Ilhiya meyakinkan Ivy.


Ivy kemudian menjilat selai roti yang hampir menetes dan merasakan rasanya yang membuat Ivy terlihat terkejut.


Ilhiya juga melihat Ivy dengan senang dan berkata, “Setelah ini kau harus menemuinya lagi. Sebelum itu apa kau sudah menanyakan hal ‘itu’ padanya?”


Ivy yang terkejut dengan perintah dan pertanyaan Ilhiya tersedak dan menelan paksa roti yang belum terkunyak dengan sempurna.


“Ma-maaf. Sepertinya aku lupa. Tapi dia ternyata orang yang benar-benar aneh tuan,” kata Ivy yang membuat Ilhiya terlihat seperti seseorang yang akan mendapatkan informasi penting.


Ilhiya sudah menduga jika Ivy akan melupakan hal sepenting itu dan berkata, “Memangnya dia berperilaku seperti apa?”


“Saat pertama kali melihatku, dia hanya sedikit terkejut dan selanjutnya dapat berbicara dengan biasa denganku,” jelas Ivy yang membuat Ilhiya menggangguk sambil memegang dagunya.


“Itu menandakan jika dia benar-benar orang yang kita cari. Saat bertemu dengannya jangan lupakan tanyakan hal ‘itu’ padanya,” ucap Ilhiya yang membuat Ivy melesat cepat ketempat Nio berada.


Ilhiya kemudian berjalan lagi untuk mencari makanan dan tempat untuknya dan Ivy beristirahat nanti.


**


Di tempat pelatihan calon Pasukan Pelajar Khusus.


Seluruh prajurit, baik siswa calon PPK dan pelatih mendapatkan kabar jika Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang melakukan serangan ke angkatan laut musuh yang mengawal Gerbang.


Karena hari sudah sore dan jadwal tes untuk hari ini sudah selesai, seluruh prajurit tinggal menunggu kabar baik dari AU dan AL yang sedang melakukan perlawanan.


Semuanya menunggu kabar dengan melakukan kegiatan yang disukai masing-masing. Ada yang melakukan lari keliling lapangan, makan, mengirim kabar dan menelpon kekasih bagi prajurit yang memilikinya.


Sementara itu Nio bersama Rio dan Sima serta 3 prajurit dari Kompi 406 yang ikut pelatihan ini melakukan kerja kelompok, yaitu memasak mi instan yang dibawa Nio.


Mereka mengelilingi kompor kecil yang sering dibawa ketika mendaki gunung yang ada panci diatasnya yang berisi penuh air untuk merebus mi instan.


Prajurit lainnya terlihat tidak peduli dengan yang mereka lakukan meski sedikit mengganggu.

__ADS_1


Tentu saja mereka melakukannya di pojok barak agar tidak diketahui pelatih.


“Baunya enak ya…?” ucap ivy yang sudah ada di samping Nio.


Nio tentu saja berteriak karena terkejut meski Ivy berbicara melalui telepati dan tidak menampakkan dirinya dan membuat Nio hampir menumpahkan baskom yang berisi bumbu mi instan.


“Kenapa kau?” tanya Rio.


“Kau belakangan ini terlihat aneh,” ucap Sima yang dilanjutkan anggukan dari yang lain.


“A-aku juga merasa begitu,” jawab Nio dengan senyum kecut sambil menggaruk belakang kepalanya.


Nio melirik Ivy yang terlihat berjongkok di sampingnya sambil memperhatikan mi instan yang sedang direbus.


“Apa nama makanan itu?” tanya Ivy kepada Nio dengan menggunakan telepati.


“Mi instan, kau belum tahu namanya?” jawab Nio dengan wajah biasa karena dia berkomunikasi dengan bertukar pikiran dengan Ivy.


“Apa itu mengenyangkan?”


“Tidak terlalu sih, karena mi instan bukan makanan pokok.”


Saat mereka berdua sedang ‘berkomunikasi’, mi instan yang direbus sudah matang dan dikeluarkan dengan memisahkan airnya oleh Sima.


Rio mendekatkan baskom yang berisi bumbu mi instan pada Sima yang kemudian menuangkan mi instan yang sudah disaring dari air rebusannya.


Mereka berdua kemudian mengaduk mi instan dengan bumbunya hingga merata, sedangkan yang lain sudah siap dengan tempat makan masing-masing.


“Ini untukmu,” kata Rio sambil memberikan bagian mi instan untuk Nio.


Setelah menerimanya, Nio kemudian berdiri dan berjalan keluar barak.


“Mau kemana kau?” tanya Sima.


“Makan di luar,” jawab Nio sambil memakan sesuap mi instannya.


“Kalau ketahuan pelatih gimana?”


“Tenang saja, mereka pasti sedang mendengarkan berita di ruangannya.”


Setelah itu Rio dan Sima melihat Nio benar-benar keluar barak dengan membawa sepiring mi instan.


Di luar Nio memakan di kursi yang disediakan dengan Ivy ada di sampinya sambil memperhatikan Nio yang sedang makan.


“Kau mau?” tanya Nio pada Ivy yang terlihat membuka mulutnya sambil berliur.


“Eh, boleh?” tanya Ivy dengan senang karena hari ini dia hanya diberi makan roti oleh Ilhiya.


“Apa kau bisa makan?. kau kan kuntilanak.”


“Sudah kubilang aku ini bukan kuntilanak tahu!”


Agar tidak perlu melihat Ivy marah lagi, Nio segera memberikan sesuap mi instan pada Ivy.


Setelah memakan mi instan yang diberi Nio, Ivy terlihat memejamkan mata sambil tersenyum.


“Minta la-…” ucap Ivy yang ingin meminta lagi mi instan Nio namun sudah dihabiskan oleh pemiliknya.


“Oh, maaf sudah habis,” jawab Nio dengan mulut penuh dengan mi.


Ivy membuang muka dari Nio, namun Nio hanya bersikap masa bodoh dengan yang dilakukan Ivy tersebut.


Ivy kemudian menatap Nio lagi dan bertanya, “Hei, apa kau anak dalam ramalan itu?”


Nio seketika tersedak dengan mi instan yang belum selesai dia kunyah.

__ADS_1


“Hah, apa maksudmu!?” tanya Nio setelah memaksa menelan mi instan yang belum terkunyah sempurna.


__ADS_2