Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tidak lebih dari tontonan


__ADS_3

Dua minggu kemudian, Tim Ke-12 berkumpul bersama Kompi Bantuan 002 di gerbang timur benteng kura-kura. Kapten tim yang memimpin dua puluh anggota termasuk dirinya, Letnan Satu (Tentara Pelajar) Nio berdiri dan memberi hormat kepada komandan kompi yang berpangkat mayor tersebut. Seluruh bawahannya mengikutinya, memberi hormat dan menyuarakan salam mereka.


“Saya, Mayor Kim Baek-Ki, komandan Kompi Bantuan 002 Pasukan Perdamaian. Senang bekerja sama dengan mu, Letnan Nio.”


Salah satu perwira kontingen Korea Utara, Kim Baek-Ki, yang sering disapa dengan panggilan Baek-Ki tersenyum agar Nio dan bawahannya merasa nyaman. Pria berusia tiga puluh empat tahun tersebut sedikit lebih pendek dari Nio, dan mengangguk puas setelah melirik Nio dan seluruh anggotanya, dengan tambahan dua personel tidak resmi, yakni dua gadis lokal.


Baek-Ki memimpin pasukan yang berjumlah 220 prajurit, termasuk dirinya. Dia memimpin prajurit kontingen Korea Utara, Rusia, dan Indonesia, dan menjadi sebuah kompi infanteri tidak murni karena difasilitasi oleh senjata bantuan berat seperti turret 40mm yang biasa dipasang pada kendaraan tank maupun dipasang di sekeliling benteng sebagai sistem pertahanan kendali jarak jauh.


“Siap, begitu juga dengan saya. Semoga Anda sudah mendengarnya, karena kita mendapatkan perintah pengiriman sebagai pasukan tambahan ke Benteng Girinhi.”


Sebenarnya, Nio memiliki selusin keluhan atas dirinya yang harus bersama tim-nya untuk dikirim ke luar Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru, lagi. Meski dia telah mendapatkan waktu istirahat yang cukup sebelum perintah transfer, serta berkomunikasi dengan Arunika meski hanya sekali dalam satu hari, namun Nio menganggap perintah atasannya merupakan suatu ketidakadilan. Saat ini, dia menyembunyikan kekesalannya dengan nada berbicara dan ekspresi wajah santai agar emosinya negatifnya tidak terbaca.


Saat ini, Nio mengutuk para perwira menengah yang terlalu sering melibatkan dirinya dan Tim Ke-12 dalam misi pertempuran. Memang, Korps Pengintaian dan Pertempuran dibentuk untuk pertempuran spesialis gerilya dan terbuka di medan perang dunia ini, namun masih terdapat sembilan belas tim yang harus diberikan pekerjaan daripada terlalu sering mengandalkan Tim Ke-12. Setidaknya itu salah satu keluhan dari sekian banyak keluhan yang Nio dapat simpan, karena dia tahu apa yang terjadi jika dia meneriakkan seluruh keluhannya di depan perwira yang bersangkutan.


Nio memiliki keluhan khusus terhadap Jendral Angga tentang seberapa banyak pasukan mengirimkan Nio dan tim-nya. Waktu istirahat, latihan, dan misi yang tidak seimbang membuat Tim Ke-12 nampak seperti pasukan andalan Persekutuan dan Pasukan Perdamaian. Sebagian tim memang hanya diberikan misi pengintaian di perbatasan dengan Kekaisaran Luan, maupun dikirim ke Kerajaan Yekirnovo sebagai kekuatan tambahan di salah satu benteng negara tersebut.


Namun, tidak banyak tim yang terlibat di dalam pertempuran dimana musuh selalu mengandalkan jumlah besar ketika berperang, namun Tim Ke-12 hanya memiliki dua puluh personel termasuk Nio sendiri. Nio merasa dirinya pantas melayangkan surat permintaan agar Tim Ke-12 diberikan waktu istirahat setelah misi minimal dua minggu dan maksimal satu bulan.


Meski begitu, bukan kejutan lagi bahwa Tim Ke-12 yang dipimpin Letnan Satu muda tersebut dinyatakan sebagai unit yang dipenuhi dengan anggota terlatih di bidangnya, dan siap untuk dikirim dan ditempatkan di mana saja setelah melalui berbagai pertempuran kecil dan besar.


Hal itu yang membuat Nio merasa dirinya hampir terkena serangan mental jika Persekutuan tidak memfasilitasi psikiater perang. Dalam satu minggu, dia dapat empat kali mengunjungi psikiater untuk menanyakan kesehatan mental dirinya.


“Tentu saja, para perwira mengharapkan kita mampu mencegah pemberontak dan mengalahkan musuh yang dirumorkan bekerja sama dengan pemberontak tersebut. Aku benar-benar tidak menyangka masih ada beberapa orang di Kerajaan Arevelk yang tidak setuju bekerja sama dengan kita,” wajah Baek-Ki memperlihatkan keluhan yang sama sekali tidak disembunyikan.


Meski Arevelk termasuk negara kuat di Benua Andzrev, namun tidak ada pasukan yang selalu meraih kemenangan. Bahkan Amerika, yang selalu membual dapat mengembalikan suatu negara kembali ke zaman batu, telah menderita trauma dengan mimpi buruk perang gerilya. Mereka terlibat banyak peperangan di Timur Tengah, tetapi karena mereka terlalu percaya diri, hasilnya adalah di Afghanistan dan Irak. Bahkan di perang dengan bangsa dunia lain sebelumnya, hampir 40 persen wilayah Amerika dikuasai musuh-musuh mereka yang terus keluar dari Gerbang.


Meski seluruh komandan militer Arevelk merasa percaya diri bahwa pasukan besar mereka mampu menahan serangan Aliansi, namun itu adalah hal yang patut diantisipasi sebelum Arevelk bernasib sama seperti AS. Tugas Pasukan Perdamaian di sini adalah membantu sekutu mereka di dunia ini, yakni Yekirnovo dan Arevelk. Itu termasuk mencegah mereka melakukan hal bodoh karena hasil kepercayaan diri mereka yang menganggap enteng Aliansi karena adanya Indonesia, Korea Utara, dan Rusia di pihak mereka.


“Tapi, meski itu masih berupa rumor, rasanya pemberontakan kupikir akan terjadi. Namun, pihak Arevelk sendiri belum tahu pimpinan pemberontak itu,” ucap Baek-Ki.


“Mereka merasa pemimpin pemberontakan akan memperlihatkan diri ketika penyerangan. Dan mereka memperkirakan pemberontak akan menyerang titik terlemah di perbatasan negara itu, yakni Benteng Girinhi,” di wajah Nio memperlihatkan rasa ketidaktahuannya akan cara berpikir petinggi militer dunia ini. Apa yang dia simpulkan selama ditugaskan di dunia ini adalah selama suatu masalah tidak ada jalan keluar yang memuaskan, maka perang adalah pilihan terakhir untuk menentukan pihak yang benar.


Sementara itu, para prajurit dari Kompi Bantuan 002 saling bercakap-cakap sebelum pesawat pengangkut mereka tiba. Kendaraan pengangkut memerlukan persiapan sebelum digunakan, meski pesawat dan jet tempur tidak sering digunakan untuk melawan musuh, dan itu membutuhkan waktu cukup lama. Enam jet tempur kebanggan Rusia dipersiapkan sebagai pengawal empat pesawat pengangkut besar kontingen Indonesia.


“Sungguh memusingkan, apa Periode Perang besar yang para penyihir Arevelk dan Yekirnovo katakan benar-benar terjadi. Bukankah itu sudah terjadi pada perang yang berakhir dua tahun lalu? Apa perang yang melibatkan hampir seluruh negara di dunia kita belum bisa disebut Periode Perang Besar?”


“Jika kita terus berperang di dunia ini, bukankah itu akan membuat PBB mengecam tindakan kita. Seharusnya musuh juga sadar dengan perbandingan kekuatan antara kita dan mereka yang begitu tidak masuk akal.”


“Kuharap Letnan Nio memiliki strategi yang mampu mengalahkan musuh tanpa mengorbankan banyak nyawa lagi.”


“Atau akan semakin banyak janda?”


“Benar juga, kupikir wanita-wanita yang ku temui di Arevelk dan Yekirnovo cukup cantik dan menggoda.”


Di sisi lain, Nio khawatir jika kemampuan tempur modern pasukan akan perlahan luntur karena terlalu sering menghadapi musuh yang bertarung dengan taktik seperti jaman kerajaan eropa abad pertengahan.


Dia melirik ke arah pasukan dari tempatnya dan Baek-Ki berbicara, yakni di samping kendaraan bantuan serangan yang berupa turret dengan meriam otomatis 40mm yang dipasang pada kendaraan tank. Dia merasa mereka mungkin pasukan yang disiplin dan penuh kepercayaan diri, namun lawan mereka benar-benar tidak sebanding meski musuh memiliki sihir yang dikatakan mampu mengimbangi kekuatan tank railgun.


Bahkan Nio sendiri mengakui tim-nya masih memiliki kekurangan, karena jarang dari mereka mau berjuang dengan cara tradisional – yang diperlukan ketika berjuang di medan perang dunia ini. Meski Nio tidak ingin mengakuinya, Tim Ke-12 masih memiliki beberapa masalah yang membuat Nio pusing sebagai kapten mereka.


Karena mereka telah meyakini jika berjuang melawan musuh yang bertarung menggunakan pedang akan jauh lebih mudah dengan menghujani mereka dengan peluru, terutama cara berperang musuh yang masih mengandalkan kerjasama satu sama lain dalam barisan rapat. Nio berpikir harus mencari cara agar memperlakukan musuh se-manusiawi mungkin, daripada terus mengandalkan senjata berat seperti senapan mesin dan meriam otomatis ringan 20mm – yang memang dapat memberikan kematian instan bagi musuh.


“Mungkin dengan peralatan yang kita bawa, pertempuran akan berlangsung kurang dari satu minggu.”


“Letnan Nio, kenapa kau bisa berkata seperti itu? Yah, kita memang menginginkan pertempuran yang cepat, meski kita harus melakukan cara yang kau sebut dengan taktik ‘ala Amerika’.”


“Maaf, Mayor Baek-Ki, saya hanya belajar dari pengalaman. Senjata seperti ini akan mengalahkan musuh dan meruntuhkan moral mereka secara instan. Yang saya khawatirkan mereka akan terlalu bergantung dengan senjata ini, dan melupakan tujuan mereka dan berakhir membantai banyak prajurit musuh.”


“Kenapa kau tiba-tiba mengkhawatirkan musuh? Bukankah itu tujuan kita di sini? Jelas-jelas musuh mengorbankan banyak pemuda untuk membahayakan kita, jadi kita memberi apa yang mereka inginkan, yakni perang.”


“Mayor, semua yang saya katakan hanyalah pandangan saya mengenai perang ini,” Nio berbicara dengan wajah tenang sebagai antisipasi, namun lebih terkesan dipaksakan. Dia lalu melanjutkan perkataannya, “Ada begitu banyak contoh dari sejarah, dimana adanya anjing-anjing pemburu ganas dan disiplin yang baru saja merasakan kemenangan tiba-tiba berubah menjadi anjing rumahan yang manja dan akhirnya merasakan satu kekalahan yang menjengkelkan. Saya, maksudku Pasukan Ekspedisi pernah berada di posisi anjing rumahan, dan hampir mengalami kekalahan jika saja pasukan bantuan tidak datang.”


Nio menyadari walaupun Indonesia adalah negara yang besar, salah satu kekuatan terkemuka di dunia di bawah Rusia, belum mencapai kekuatan militer yang setara dengan dominasi AS maupun negara-negara Eropa dan beberapa negara Asia. Sehingga Nio merasa benar-benar ingin membantu para bawahannya agar dapat bertahan menghadapi kesulitan dengan caranya alih-alih merasa perlu melatih mereka agar menjadi kuat.


Nio tidak ingin kejadian kehilangan bawahan terulang kembali di Tim Ke-12-nya sekarang, sehingga sebuah kesalahan kecil darinya berarti kematian bagi bawahannya. Meskipun pasukan ‘dunia lain’ seperti mereka tidak akan pernah kalah melawan balista maupun ketapel raksasa milik Aliansi, mereka tetaplah pasukan yang rapuh.

__ADS_1


Bahkan dengan bantuan kekuatan sihir dari penyihir Arevelk serta Yekirnovo dan peralatan canggih kebanggan negeri masing-masing, bukan berarti pasukan seolah-olah secara ajaib dirasuki dengan kemauan keras untuk bertarung.


Intinya, yang Nio bisa lakukan saat ini adalah mengendalikan dan memerintah sembilan belas bawahan yang ia pilih sendiri sebaik mungkin. Sehingga, Nio akan bekerja sekeras dan sebanyak gaji yang dia terima. Dia telah menerima kenaikan gaji pokok meski hanya sebanyak dua puluh ribu rupiah.


“Bagiku, musuh berperang hanya untuk menjadikan prajurit-prajurit malang mereka sebagai sasaran tembak nyata bagi prajurit kita, jadi tidak ada salahnya menyebut mereka bodoh dan terbelakang. Meski mereka memiliki senapan, namun taktik yang mereka gunakan tetap sama, dan itulah yang menambah kebodohan mereka.


“Anda salah, Mayor Baek-Ki. Mereka adalah pasukan yang terlatih, saya pernah terluka oleh pasukan senapan mereka. Itu cukup membuktikan musuh terus berkembang dengan memanfaatkan kekuatan yang mereka sebut sebagai ‘pahlawan’.”


Bagian terbaik dari perang ini adalah aroma demam perang yang muncul dari sebagian besar bawahan Baek-Ki dan Nio, dan musuh secara perlahan mencoba mengimbangi kekuatan mereka. Dalam keadaan normal, hal itu sama sekali tidak baik, tetapi ketika saat prajurit harus pergi berperang, sifat tersebut membuat mereka akan merasa perang jauh lebih baik dari pesta.


“Yah, kau mungkin seharusnya mengatakan semua hal itu kepada perwira tinggi kita, daripada mengatakan pandangan mu yang tidak akan pernah aku mengerti. Kau benar-benar sesuatu, Letnan Nio. Sekarang saatnya menghadap pasukan kita dan memberi mereka satu atau dia kata penyemangat.”


Meski wajah mereka sudah menunjukkan rasa kesiapan untuk dipindahkan ke medan perang baru, namun Nio berpikir kenapa dirinya masih harus memberikan beberapa kata hanya untuk sekedar memberi mereka semangat.


Namun, sebelum Nio dan Baek-Ki menghadap prajurit mereka, salah satu agen ganda Persekutuan tiba-tiba muncul dan berlutut di depan Nio.


“Letnan Nio, siapa orang Aliansi ini?”


Tidak heran kenapa Kim Baek-Ki terlihat terkejut dan hampir menembakkan satu proyektil pada senapan serbu-nya yang telah berada dalam mode putaran tunggal. Tam mengenakan lambang Aliansi di lengan kanannya, sehingga membuat Baek-Ki ingin langsung melubangi kepala pria tersebut.


“Tahan, Mayor Kim Baek-Ki, dia adalah agen ganda kita. Saya dapat menjamin jika dia dapat dipercaya.”


“Terimakasih atas kepercayaan Anda terhadap saya meski saya bekerja untuk Persekutuan dan Aliansi, Tuan Nio,” Tam berkata dengan nada rendah hati dan tatapan terharu.


Sayangnya, Nio belum mempercayai Tam sepenuhnya, mengingat pria tersebut juga bekerja untuk Aliansi, meski organisasi Tam tetaplah Persekutuan.


“Apa yang ingin kau katakan, Pak Tam?”


“Pemimpin pemberontak adalah orang yang bernama Ofra, seluruh prajurit Arevelk di Benteng Girinhi pasti mengenal pria tersebut.”


“Dari perkataanmu, sepertinya pemberontakan benar-benar terjadi ya, Pak Tam?”


“Ini bukan lagi ‘sepertinya’ Tuan Nio, namun pemberontakan dan kudeta benar-benar akan terjadi.”


“Kudeta?”


“Terimakasih atas informasi darimu, Pak Tam.”


“Baiklah, kalau begitu saya akan undur diri, semoga Anda melaksanakan misi dengan sukses, Tuan Nio.”


Tam menghilang dalam satu kedipan mata, dan mengejutkan Baek-Ki yang baru pertama kali melihat sihir yang mampu membuat seseorang menghilang dalam sekejap.


Kemudian, Nio dan Kim Baek-Ki berjalan ke arah pasukan yang telah berbaris dengan rapi, dengan senjata yang telah dipoles sehingga terlihat mewah dan mahal, mereka tampak seperti pasukan elit. Nio bisa saja memberi tahu mereka jika misi yang akan mereka hadapi setelah tiba di Benteng Girinhi akan memakan waktu lama, namun itu bukanlah pilihan bagus kecuali dia ingin para prajurit terus mengeluh.


Seluruh prajurit Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran tampak telah dalam kondisi terbaik mereka, dan terlihat seperti pasukan yang sangat terlatih dalam pertempuran modern.


“Prajurit, musuh tidak lebih dari target tembak nyata. Berikan sekutu kita bantuan terbaik dan kehormatan bagi tanah air kalian. Jangan pernah lupakan tugas kalian di sini.”


“”””Siap, ya Pak!””””


Baek-Ki menatap prajuritnya yang menjawab perkataannya yang membuatnya puas untuk saat ini.


Nio merasa kata-kata Kim Baek-Ki cukup keren, meski tentu saja ada maksud tersembunyi yang pria tersebut rahasiakan. Dia menatap anggotanya – yang berjumlah jauh lebih sedikit dari Kompi Bantuan 002 terlihat jauh lebih siap daripada ratusan anggota unit tersebut.


Nio berpikir mungkin sangat perlu untuk mengingatkan bawahannya bahwa tugas mereka sepadan dengan bagaimana mereka dilatih. Tetapi, melihat wajah mereka saat ini, Nio merasa tampaknya mereka membutuhkan lawan yang sepadan. Tentu saja Nio tidak akan membiarkan mereka mengecewakannya.


Di sisi lain, meski dia mengatakan perjuangan di sini juga demi kehormatan negara, Baek-Ki merasa para bawahannya begitu terikat hanya untuk dirinya. Dia akan meminta bawahannya berjuang melawan musuh demi negara yang kelihatannya akan menjadi perjuangan yang begitu indah dan terhormat. Untungnya, Kompi Bantuan 002 yang dia pimpin cukup kuat, jadi dalam skenario terburuk Baek-Ki dapat menjadikan mereka tameng, itu termasuk Tim Ke-12 yang dipimpin komandan dengan pangkat lebih rendah darinya.


Nio menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya, dan melihat bahwa seluruh pesawat telah siap dan pasukan bantuan dapat segera dikirimkan. Pesawat yang digunakan adalah jenis pesawat militer yang dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, sehingga hanya membutuhkan landasan pacu lebih pendek dari pesawat komersial dan pesawat militer tua. Begitu pula dengan jet tempur yang Pasukan Perdamaian gunakan. Hal itu membuat Nio berpikir “Kenapa Pasukan Ekspedisi tidak diberikan senjata baru seperti itu?”, sehingga Pasukan Ekspedisi tidak harus kehilangan jet tempur yang hanya dapat terbang menggunakan landasan pacu panjang.


“Seperti yang kalian tahu, kita akan menjadi pasukan bantuan bagi pasukan Kerajaan Arevelk di Benteng Girinhi. Jarak benteng tersebut dengan tempat ini hanya satu jam perjalanan, jadi aman bagi kalian yang menderita mabuk udara. Anggota Staf Strategi, termasuk aku, sudah bekerja keras menyusun strategi untuk menghadapi kemungkinan pengepungan yang masih berupa prediksi. Seharusnya mereka udah menyiapkan tempat tidur dan makanan layak bagi orang-orang ‘dunia lain’ seperti kita.”


Nio tidak tahu tunjangan seperti apa yang akan prajurit kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia terima ketika mereka ditugaskan di dunia ini. Tetapi, Nio telah memperkirakan bahwa Staf Khusus yang menangani pasukan militer di dunia ini akan melakukan semua yang mereka bisa dalam hal kenaikan gaji dan peluang untuk promosi.


Apakah semua tunjangan dan semua yang bawahannya terima selama bertugas di dunia ini akan cukup bagi kehidupan mereka di masa depan adalah pertanyaan lain yang tidak termasuk ke dalam tanggung jawab Nio.

__ADS_1


“Hahahahahahahah!”


Yah, dengan tertawa mungkin dapat membuat prajurit meringankan beban yang akan mereka hadapi nanti. Siapa prajurit yang bersedia berperang hanya untuk satu atau dua orang? Pasti para prajurit yang ditugaskan di medan perang dunia ini memiliki tujuan masing-masing untuk apa mereka berjuang. Perwira tinggi dan menengah Pasukan Perdamaian mungkin telah dipastikan akan mendapatkan penghargaan atas pekerjaan mereka di dunia ini, tetapi tamtama hingga perwira pertama lapangan tidak mendapatkan banyak hadiah khusus – kecuali Tim Ke-12 yang telah membantu Kerajaan Arevelk mempertahankan ibukota mereka dari serbuan mendadak musuh, itupun mereka masih dalam pengawasan ketika hendak menggunakan hadiah yang didapatkan.


Bagi Nio, hanya memberikan mereka gaji pokok dan tunjangan biasa namun para prajurit telah membahayakan hidup mereka di dunia ini bukanlah ide yang bagus, terutama bagi 10 persen Tentara Pelajar dalam kontingen Indonesia yang telah meninggalkan masa muda demi berjuang di dunia ini.


Namun, pada akhirnya semuanya tergantung masing-masing individu untuk menilai apakah kehidupan yang mereka terima selama mengabdi telah dalam kategori layak atau pas-pasan.


Ketika perang melawan bangsa dunia lain yang keluar dari Gerbang terjadi, Indonesia mulai menerapkan sistem wajib militer yang keterlaluan. Indonesia bahkan tidak memberikan syarat khusus bagi remaja dalam usia enam belas tahun hingga dua puluh sembilan yang ingin berjuang dalam kesatuan TRIP. Republik tersebut mungkin hanya menginginkan pasukan dalam jumlah besar untuk menghadapi kekuatan musuh tanpa memandang apakan prajurit tersebut berjuang demi negara atau materi semata.


TNI ketika berperang melawan musuh dari dunia lain beranggapan bahwa remaja tanpa pengalaman akan sedikit berguna karena negara tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mempertahankan diri dari invasi musuh. Nio sendiri tidak memiliki pilihan selain menjadi prajurit TRIP karena dia berpikir militer akan memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga prajurit.


Nio menggelengkan kepalanya sekali lagi untuk menjernihkan pikirannya dari ingatan buruk masa lalu ketika dia masih berupa prajurit amatir, lalu memberi isyarat kepada Hassan yang menatapnya dengan wajah kebingungan. Dia menunjukkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan memerintahkan wakil kapten-nya untuk memimpin tim.


“Perhatian! Rapikan barisan!”


Personel Kompi Bantuan 002 sedikit terkejut ketika wakil kapten Tim Ke-12 berteriak agar anggotanya berbaris. Mereka memiliki pemimpin sendiri, jadi Nio menyerahkan kompi tersebut kepada Kim Baek-Ki.


Setidaknya anggota Tim Ke-12 cukup disiplin untuk mengikuti instruksi dengan benar. Lagipula, tentu saja tentara harus dapat melakukan itu.


“Kita akan ditugaskan ke Benteng Girinhi dan akan menjadi pasukan campuran di sana dengan tambahan Kompi Bantuan 002. Komando tim tetap berada di tanganku, dan kompi diwajibkan menjalankan strategi yang Staf Strategi susun sesuai prediksi.”


Bagaimanapun, Tim Ke-12 tetaplah milik Korps Pengintaian dan Pertempuran, dan tidak ada kompi, batalyon, bahkan resimen yang dapat memerintahkan mereka bertarung di garis depan secara langsung. Nio hanya dapat meminta bawahannya mendamaikan diri dengan tugas dan mengikuti perintah untuk tampil di medan perang manapun.


Terkadang Nio merasa tim-nya seperti bahan tontonan unit yang menganggur di benteng, dan mereka dipaksa untuk tampil dalam setiap pertempuran demi unit yang menganggur tersebut. Hal itu tidak jauh berbeda dengan mempekerjakan paksa seseorang.


Sayangnya, prajurit pasukan khusus memang dilatih untuk mencapai batas wajar manusia biasa, sehingga tidak ada organisasi yang melarang mempekerjakan prajurit secara berlebihan, sehingga yang ada adalah ‘tidak akan pulang sebelum menang’.


Nio kira bekerja sebagai prajurit yang selalu berada di medan perang tidak terlalu buruk karena yang mereka lakukan sangat nyata, meski ancaman kehilangan nyawa sangat besar, daripada para binatang politik yang hanya berbicara soal janji, namun pekerjaan mereka tidak lebih seperti siswa taman kanak-kanak yang penuh lawakan meski mereka mendapatkan gaji yang serius.


“Jadi, kita harus menunjukkan pada mereka (musuh dan elit politik) bahwa kita bisa bekerja sangat baik sebagai pasukan remaja! Kita harus tampil untuk rekan-rekan kita yang belum pernah keluar dari benteng!”


“Letnan, itu berarti kita tidak lebih dari tontonan,” ucap Sigit.


“Aku sama sekali tidak keberatan, selama yang kita berikan adalah kemenangan yang nyata!”


“””Siap!”””


Baek-Ki bahkan tidak menyangka Nio dapat dengan mudah menyemangati bawahannya – yang memang terlihat seperti penggila perang. Dia kehabisan kata-kata, dan mengurungkan niat menggunakan kekuasaannya sebagai mayor agar dapat memanfaatkan Nio dan bawahannya sebagai tameng.


Sementara itu, Hevaz dan Edera hanya tersenyum melihat Nio yang berperilaku layaknya komandan sungguhan.


Setelah Nio berkata seperti itu, dia memimpin Tim Ke-12 berjalan dalam barisan rapi ke salah satu pesawat yang telah disiapkan. Ketika masuk ke dalam kabin, kendaraan operasional mereka telah terdapat di sana, dan diikat dengan kuat agar tidak bergeser dan membuat keseimbangan pesawat terganggu.


Sementara itu, beberapa personel Kompi Bantuan 002 juga mulai berjalan ke pesawat yang akan mereka tumpangi. Unit yang mengoperasikan senjata berat sering dilengkapi oleh personel yang memakai exoskeleton, untuk mengangkut senapan mesin berat yang memiliki bobot sekitar 60 kilogram dan senapan mesin sedang dengan bobot 15 kilogram dengan sangat mudah. Selain itu, exoskeleton yang terpasang pada beberapa prajurit membuat mereka mampu memindahkan turret seberat dua ton hanya dengan lima orang.


Setelah semua personel dan perlengkapan telah berada di dalam pesawat, akhirnya empat kendaraan pengangkut besar itu lepas landas secara vertikal dengan para pengawalnya, yakni enam jet tempur kontingen Rusia.


**


Seluruh isi cerita ini hanya fiksi semata, jangan terlalu dibawa serius karena cerita ini hanyalah imajinasi dan harapan penulis.



(ilustrasi pesawat pengangkut, sumber gambar pinterest)



(ilustrasi senapan mesin sedang, sumber gambar pinterest)



(turret 40mm yang dipasangkan pada platform tank, sumber gambar pinterest)


__ADS_1


(ilustrasi senapan mesin berat, sumber gambar pinterest)


__ADS_2