Prajurit SMA

Prajurit SMA
95. Budet farsh4


__ADS_3

23 Oktober 2321, pukul 20.09 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, malam hari.


**


Alun-alun ibukota Kekaisaran hampir mengalami kerusakan sedang. Panggung yang akan digunakan sebagai pertunjukan sudah diperbaiki dengan cepat oleh para tukang.


Para perempuan bangsawan yang juga ingin menyaksikan pertunjukan, beberapa dari mereka terlihat masih menangis setelah gempa sudah berhenti. Beberapa kesatria Barisan para Mawar jatuh pingsan, itu membuat Sheyn berpikir jika mental para kesatrianya kurang terlatih.


Beberapa prajurit Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro terlihat masih bersujud di tanah, berdoa kepada dewa untuk menyelamatkan mereka dari gempa.


Ketika melihat pemandangan menyedihkan ini, Sheyn memerintahkan pengawalnya untuk mengumpulkan para bangsawan fraksi perdamaian, karena keberadaan mereka yang sangat penting untuk perjanjian perdamaian yang sebentar lagi terwujud.


“Kualitas pasukan sudah menurun,” Panglima pasukan Kekaisaran menghela napas ketika melihat para tentara membeku hampir di seluruh sudut alun-alun. Itu menandakan jika dia tidak bisa memulai pertempuran begitu saja ketika pasukannya tidak dalam kondisi prima.


Panglima Kekaisaran memanggil para jendral untuk menyusun kembali pasukan. Kebanyakan prajurit yang mengikuti pertempuran adalah rekrutan baru, sehingga mental mereka belum terlatih. Dia masih kecewa betapa menyusahkannya mengatur para prajurit amatir ini.


Meskipun pasukan yang dikirimkan adalah amatiran, namun keunggulan mereka terdapat pada jumlah. Hanya sekitar lebih dari 200 prajurit yang dibawa perwakilan, sementara pasukan yang menyebar di wilayah ibukota terdapat sekitar 62.000, termasuk pasukan Kerajaan Hrabro yang dikirimkan.


Nio dan para perwira sedang melahap makan malam yang di masak para koki istana Kekaisaran. Tidak ada yang menarik dari makanan ini, mereka menilai lebih suka memakan pecel dari pada daging yang sangat keras ini. Entah daging apa yang dimasak para koki istana, karena terlihat Sucipto yang berusia hampir 50 tahun tidak mampu untuk mengunyahnya.


“Mungkin lebih baik kita membawa ransum nasi rendang.”


Nio hanya tersenyum kecut sebagai tanggapan perkataan Sucipto, sementara dia hanya meminum anggur tanpa alkohol yang disediakan selagi menunggu pertunjukan dimulai.


**


Sementara keadaan di istana Kekaisaran, suasana di sini hampir sama dengan keadaan istana raja iblis. Para prajurit penjaga terlihat menangis hingga gemetar di pojok ruangan bangunan ini.


Bogat dan Lukav yang sedang menyusun rencana jika perang telah berlangsung terlihat berkeringat dingin. Ruangan rapat yang hanya dihuni oleh mereka berdua terlihat sangat berantakan, mulai dari peta, keramik dan berang hiasan lainnya yang hancur di lantai. Meskipun mereka agak kecewa karena rencana yang berjalan tidak sesuai yang disusun, sekarang mereka akan melakukan pertunjukan tersebut.


Mereka berdua kemudian berjalan keluar istana untuk menemui para perwakilan. Tentu saja untuk memberikan pertunjukan yang mereka janjikan, “Semoga saja pertunjukan ini menghibur mereka.”


**


Ketika para kesatria Barisan para Mawar mendengar perintah Sheyn untuk melakukan penjagaan di istana, mereka menuju ke tempat itu dengan tertib. Saat mereka mendengat suara Sheyn, para pelayan yang dibawa Sheyn teringat dengan tugas mereka.


Pada akhirnya, Sheyn yang mengatur ini semuanya hampir sendirian. Para jendral tidak membantu banyak dan tidak diketahui keberadaannya.


Sheyn menahan napas saat melihat suasana suram alun-alun, panggung dan tempat duduk penonton yang berantakan mulai disusun ulang.


Pada kesempatan ini, menjaga keamanan para perwakilan adalah harga diri kesatria, dan itu adalah tugas Sheyn dan kesatria pilihannya. Orang-orang mulai tenang saat ratusan kesatria Sheyn menjaga alun-alun, itu membuat panglima Kekaisaran khawatir. Kualitas pasukan utama dengan Barisan para Mawar tidak bisa dibandingkan, satu orang gadis di Barisan para Mawar memiliki kekuatan setara 3 prajurit reguler di pasukan utama.


Sang panglima dan bawahannya hanya bisa menggerutu melihat Sheyn dan kesatrianya. Sebaliknya, para perwakilan terlihat sangat tenang saat terdapat ratusan kesatria perempuan di sekitar mereka.


Sebelumnya, para kesatria perempuan ini meremehkan kekuatan para prajurit pria dari pasukan hijau, namun mereka kini telah mencoba untuk menghormati mereka atas anjuran Sheyn.


Bogat dan Lukav menyeka keringat di dahi mereka karena harus berjalan kaki untuk mencapai alun-alun ibukota, karena kereta kuda yang turut menjadi inventaris Kekaisaran yang hancur. Saat ini, perwakilan belum tahu tentang sosok Kaisar, dan untuk pertama kalinya Kaisar Kekaisaran Luan menampakan diri bersama raja Kerajaan sekutunya, Raja Lukav dari Hrabro.


Sheyn dan beberapa kesatrianya beralih untuk mengawal ayah dan Lukav.

__ADS_1


“Sheyn, sepertinya para tamu kita sudah menunggu. Bisa kau perkenalkan pemimpin mereka padaku?”


Sheyn mengangguk, dan kemudian sedikit menurunkan suara. Kemudian dia memperkenalkan pemimpin perwakilan dari pasukan hijau.


“Izinkan saya untuk memperkenalkan jendral pasukan dari tanah Indonesia, Tuan Nio.”


“Eh?”


Sucipto dan para perwira terlihat menahan tawa hingga wajah mereka memerah, hingga akhirnya mereka tidak bisa menahan tawa dan tertawa dengan keras. Para perwira ini tertawa dengan keras seperti tidak memperhatikan jika bawahan mereka menyaksikan.


Sedangkan di sisi Sheyn, gadis ini terlihat bertingkah tidak melakukan kesalahan. Tidak ada yang tahu ini kesalahan yang disengaja atau tidak. Karena sejak kedatangan perwakilan TNI di ibukota, orang yang selalu di dekat Sheyn adalah Nio, dan Nio menurut Sheyn seperti jendral pasukan itu sendiri.


Sudut mata Nio berkedut saat beberapa perwira pria tertawa dengan keras sambil berkata, “Semoga saja besok kamu jadi jendral, Nio….”


Seakan kesabarannya sudah diujung ubun-ubun, Nio menujuk jari telunjuknya ke arah Sucipto yang juga tergabung kedalam para perwira yang mentertawakan dirinya.


“Perkenalkan, beliau ini jendral pasukan kami, Tuan Sucipto!”


Tidak ada tanggapan yang diberikan dari pihak yang ingin diperkenalkan kepada perwakilan. Sheyn hanya tersenyum kecut saat Nio mengeluarkan aura dingin saat dia melakukan sebuah kesalahan.


Sucipto berhenti tertawa, lalu mengambil langkah ke arah Kaisar dengan dadanya terangkat tinggi, lalu melakukan sikap hormat yang tegas. Dibelakangnya, Nio dan para perwira memberi hormat mereka seperti yang dilakukan Sucipto. Cara mereka melakukan salam sangat berbeda dari etika sopan-santun biasa.


“Tanah Indonesia ya, jadi itu nama negara dunia di balik Gerbang.”


“Maafkan aku, ayah. Tapi aku mendengar jika mereka tahu tentang tanah berguncang ini, dan mereka berkata akan ada guncangan lagi. Karena itu, saya meminta mereka untuk duduk di disini sambil menunggu pertunjukan dimulai.”


Kata-kata itu membuat Bogat pucat. Orang-orang seperti mereka tahu tentang bumi berguncang ini? itulah yang dipikirkan Bogat dan Lukav.


Namun, mereka tidak menjawab salam dari perwakilan pasukan hijau ini dan hanya memasang wajah angkuh, seakan-akan posisi mereka jauh lebih tinggi dari prajurit hijau ini.


“Terimakasih sudah memperkenalkan diri kami kepada Kaisar, Yang Mulia Sheyn.”


Seluruh orang Kekaisaran di ibukota merasa heran dan takut terhadap pasukan hijau yang terlihat bersemangat dan tenang setelah bencana sebelumnya.


“Semoga saja kita mendapatkan waktu untuk membahas masa depan bangsa kita.”


Sucipto mundur beberapa langkah setelah Bogat menolak berjabat tangan dengannya. Dia telah mengatakan apa yang ingin dia katakan.


Tepat beberapa saat setelah itu, seseorang naik ke atas panggung sambil membawa rantai di tangannya.


Si panglima beserta antek-anteknya tidak menyembunyikan wajah panik. Itu sudah jelas, karena melakukan pertunjukan secepat ini tidak ada dalam rencana, atau diluar urutan tata acara.


Beberapa budak wanita diseret naik keatas panggung oleh panglima dan beberapa prajuritnya. Para budak wanita tersebut sebagian berasal dari ras Demihuman dan sisanya manusia biasa. Ada gadis-gadis berambut hitam, merah dan keperakan, dan tubuh mereka dipenuhi dengan lecet dan lebam yang membiru.


Ketika Nio dan para perwira melihat para budak, mereka terkejut tanpa kata. Sucipto sang jendral tetap tenang, tetapi Nio merasa jika dia juga terkejut.


“Panglima, kenapa kau membawa budak-budak itu kesini?”


Sudah jelas dari nada dan mimik wajahnya jika Bogat sedang berakting.

__ADS_1


“Kaisar Bogat dan Yang Mulia Lukav, saya membawa budak yang mengetahu tentang bumi berguncang ini. Dewi sudah mengatakan mungkin ada getaran dua atau tiga kali lagi!”


Sheyn berpikir jika dia harus menenangkan si panglima apapun yang terjadi. Jadi dia mulai memikirkan topik yang mungkin menarik perhatiannya. Kemudian Sheyn berbicara kepadanya lagi dengan nada untuk menenangkan si panglima.


“Aku tidak tahu kalau anda tahu tentang bumi bergetar. Bahkan saya baru belajar dari perwakilan pasukan hijau ini.”


“Sudah saya bilang bukan? Jika Dewi berkata begitu.”


“Tapi, siapa Dewi ini?”


Ketika Sheyn menanyakan hal itu, si panglima dan antek-anteknya menarik rantai yang terpasang di leher para budak.


Para budak perempuan berteriak saat rantai dileher mereka ditarik dengan kuat. Beberapa dari mereka hanya bisa merintih sambil berusaha tetap tegar.


“Ini, para budak-budak berambut hitam ini, kami menangkapnya dari tempat di balik Gerbang.”


Sebelum si panglima menarik rantainya sekali lagi, sebuah pukulan secepat kilat menghantam dagunya. Beberapa buah gigi terlempar ke udara setelah itu.


“Bangsat! Aku akan membunuhmu!”


Nio melepaskan pukulan secepat kilat di wajah si panglima, hingga beberapa gigi terlepas lagi. Antek-antek si panglima menghunus pedang mereka, beberapa dari mereka berlari untuk memanggil pasukan yang lain.


Sementara Bogat, dia hanya memalingkan wajahnya agar tidak melihat kejadian ini, alias melihat rencananya hampir gagal.


Si panglima terjatuh ke lantai panggung, dan pria jangkung itu jatuh telungkup sambil memegang wajahnya yang penuh dengan lebam. Para bangsawan militer tidak sanggup melihat ini, dan memilih untuk meninggalkan alun-alun, namun para perwira mencoba mencegah mereka.


Wajah orang-orang yang melihat Nio menghajar si panglima Kekaisaran seketika berwajah pucat.


“Bajingan! Beraninya kau memukulku, sang panglima Kekaisaran Luan!” dia mengeram sambil menatap Nio.


Sementara Nio, dia hanya mengacungkan jari tengah ke arah si panglima meski puluhan prajurit mengelilinginya dengan pedang terhunus.


“Peltu Nio, jangan sampai kamu terluka ya?”


Sementara Sucipto dan para perwira lainnya menyiapkan peluru di pistol mereka, dan berkomunikasi dengan seluruh Komandan Regu penjelajah yang tersebar di seluruh ibukota agar menuju alun-alun ibukota.


“Siap! Mengerti!”


Nio melepas jas PDU-nya dan melipatnya, lalu menggulung lengan kemeja putih hingga di atas sikut, kemudian memasang kuda-kuda. Entah apa alasan Nio hingga dia tidak membawa pistolnya, bahkan sekedar pistol listrik.


Biasanya, hanya berjalan sambil menenteng senjata di depan Kaisar adalah kejahatan. Sementara kesatria Barisan para Mawar hanya bergerak jika mendapatkan perintah dari Sheyn, namun gadis ini hanya diam mematung dengan wajah pucat saat melihat Nio tiba-tiba beringas di atas panggung.


Satu Regu penjelajah telah tiba di alun-alun dan langsung dihadapkan dengan 1.300 prajurit Kekaisaran dan Kerajaan Hrabro. Seluruh operator senjata menyiapkan senapan mesin masing-masing, dan para prajurit mengaktifkan senapan serbu ke mode otomatis penuh.


“To-tolong kami.”


Nio semakin terkejut ketika beberapa budak wanita berbicara menggunakan bahasa Indonesia asli. Pemuda ini memasang wajah miris terhadap para budak perempuan ini.


"Segodnya vecherom budet farsh!"

__ADS_1


**


Note: dialog terakhir yang dikatakan Nio adalah bahasa Rusia, yang berarti "Akan ada daging cincang malam ini!"


__ADS_2