Prajurit SMA

Prajurit SMA
Dasar merepotkan


__ADS_3

“Barista ke Mayat Hidup. Musuh seharusnya sudah di dekat sungai.”


Suara ‘Barista’ alias Hassan kembali terdengar di handsfree Nio, lalu ‘Mayat Hidup’ tersebut menyambungkan panggilan ke seluruh anggota grup 1 agar mereka tahu situasi terkini. Tidak ada yang ragu dengan satu sama lain, meski asal masing-masing personel Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran beragam. Lagipula, usia masing-masing orang tidak terlalu jauh, sehingga cukup mudah mempercayai satu sama lain.


“Aku melihat mereka. Tetap jaga jarak grup-mu dengan unit musuh, Barista.”


Musuh yang mendekat terlihat melalui perangkat pendeteksi radiasi termal yang dikirimkan ke layar holo pada bagian helm masing-masing anggota. Pergerakan mereka teratur, namun dengan barisan rapat yang menandakan bahwa pasukan musuh siap menjadi target tembak yang mudah, setidaknya itu menurut penembak jitu Tim Ke-12, Cyzarine Zefanya.


Seluruh orang diam dan mencoba tidak bergerak secara tiba-tiba, sehingga tidak diketahui oleh musuh yang kini hanya berjarak empat puluh meter dari tepi sungai. Di sisi lain sungai, grup 1 sudah tidak sabar untuk menyambut mereka.


Mereka adalah tentara muda yang memiliki bakat dan karakter yang tidak dimiliki oleh mayoritas prajurit reguler, dan yang paling penting, bersama Nio ‘Mayat Hidup’ mereka merasa keberuntungan tingkat tinggi selalu menyertai meski selalu berhadapan dengan jumlah besar musuh. Mereka dipimpin oleh prajurit yang pernah melalui pertempuran mematikan. Dia bahkan tidak dapat mati meski ratusan tentara monster musuh menantangnya bertarung saat itu. Bersama Nio yang pernah kembali dari pertarungan dengan tingkat kelangsungan hidup kurang dari 1 persen, para anggota Tim Ke-12 merasa mampu mengatasi rintangan yang mustahil.


Kode nama yang Nio berikan untuk mereka melambangkan rasa percaya Nio terhadap anggotanya, meski dia tidak memiliki syarat khusus dalam pemberian kode nama tersebut. ‘Mayat Hidup’ tersebut adalah salah satu pahlawan menurut para bawahannya sekarang, namun Nio tidak ingin gelar pahlawan untuk dirinya. Menurutnya, perjuangan di medan perang dunia ini masih terlalu ringan daripada perjuangan pahlawan terdahulu. Namun, rasa hormat yang diberikan satuan oleh prajurit yang pulang dari pertarungan berdarah saat itu adalah sebagai rasa kagum kepada prajurit sebenarnya yang bertarung sambil melangkahi tubuh teman dan musuh mereka.


Nio merupakan anggota paling berpengalaman di antara personel Tim Ke-12 dalam hal pertarungan. Karena itu, seluruh bawahannya mempercayainya untuk memberikan perintah kepada mereka, sekaligus menjadikannya sebagai sahabat saat istirahat. Karena dengan adanya Nio, mereka merasa akan baik-baik saja ketika menghadapi musuh.


“Mana unit utama musuh?”


Nio berada di belakang batu yang berjarak empat meter dari tepi sungai tempat dia dan grup 1 berada. Sedangkan musuh dan grup 2 berada di sisi seberang, dan terlihat terus bergerak mendekati sungai dan zona bunuh efektif. Radiasi termal yang dipancarkan tubuh tentara musuh terlihat terus bergerak dengan warna merah dalam jumlah ratusan dan berbaris memanjang yang membuatnya kesulitan memperkirakan unit utama musuh.


Sementara radiasi termal yang dipancarkan anggota grup 2 terus bergerak dengan warna biru, dan pergerakan mereka diharapkan tidak disadari musuh. Grup 2 mengawasi pergerakan tentara musuh yang berjumlah ratusan dari sisi samping barisan mereka, secara senyap dan tidak menimbulkan suara mencurigakan.


Bersamaan saat mendengar suara aliran sungai, Hassan melihat radiasi termal berwarna biru milik grup 1. Mereka terlihat mengawasi musuh dari berbagai titik, dengan formasi yang akan membuat zona tembakan mereka lebih luas dibanding barisan yang musuh susun.


Untuk melawan musuh yang berjumlah mencapai kurang dari seratus lima puluh tentara, daya tambak yang sebanding atau lebih besar sangat diperlukan. Namun, unit khusus dilatih untuk membunuh musuh yang teridentifikasi dengan efektif tanpa konsumsi amunisi berlebihan. Jika perlu, bela diri atau pertempuran jarak dekat dilakukan.


Sisi kanan barisan musuh berisi dua regu yang berjumlah empat puluh tentara bersenjata SP1, dan grup 2 sedang mengawasi mereka sambil bergerak senyap. Tepi sungai semakin dekat, dan seluruh anggota menyiapkan senapan dalam mode putaran tunggal dengan peredam suara yang telah terpasang. Jumlah musuh yang lebih banyak hanya menjadi situasi yang mengerikan di atas kertas, namun di lapangan akan menjadi pertarungan yang biasa menurut anggota Tim Ke-12.


“Ini lebih mudah dari yang kita duga. Kenapa Tuan Rio sampai memerintahkan kita untuk hati-hati dan membawa empat peleton?”


Misi mereka adalah menyusup secara senyap untuk menyerang desa-desa kecil yang berdiri di sekitar Benteng Girinhi. Jika di desa-desa tersebut terjadi kekacauan, maka beberapa unit pasukan Arevelk pada benteng tersebut pasti akan bergerak untuk memastikan keadaan. Saat itulah jumlah pasukan di benteng akan berkurang dan membuat pasukan utama yang masih dalam perjalanan dapat menyerang secara leluasa.


Kini, Peleton Khusus Aliansi memakai seragam lapangan baru seperti tentara pada masa perang dunia pertama. Dengan hijau sebagai warna mayoritas pada bagian baju dan celana, serta sepatu bot yang terbuat dari kulit hewan, maka itulah penampilan baru mereka. Pelindung diri kini diganti menjadi lempengan zirah logam yang lebih tipis dan kuat , serta hanya melindungi bagian penting seperti dada hingga perut, dan punggung hingga leher bagian belakang. Helm yang mereka gunakan tetap terbuat dari logam, namun dibuat seperti helm militer pada masa perang dunia kedua.


Semua peralatan dan penampilan baru mereka tentu saja atas saran Pahlawan Amarah. Dia yakin meski penampilan pasukannya hanya seperti pasukan pada masa perang dunia yang kuno, perkembangan akan terus terjadi hingga pasukannya akan tampak seperti pasukan modern dengan senjata yang lebih baik dibanding SP1.


“Kabarnya, pasukan musuh berpatroli di hutan ini,”


Salah satu komandan peleton berkata seperti itu setelah agen mereka memberkan informasi seperti itu sebelum keberangkatan seratus tiga puluh delapan prajurit Peleton Khusus Aliansi untuk menyerang desa-desa terdekat.


“Namun, dia tidak memberi tahu kita jumlah musuh, bukan?” sambung salah satu bawahannya.


Prajurit yang mendapatkan pelatihan singkat tersebut telah dilengkapi dengan ilmu pertempuran modern dasar, meskipun mereka tidak dilatih untuk menghadapi pertempuran gerilya. Dengan begitu, kemampuan tempur mereka mulai meningkat setelah insiden penyerangan ibukota Kerajaan Arevelk yang gagal. Mereka merasa musuh sudah tidak dapat meremehkan mereka sekarang.


Dari semua jenis peningkatan yang mereka dapatkan, fakta bahwa Peleton Khusus Aliansi tetap tidak dapat menandingi kemampuan tempur dan senjata musuh yang jauh lebih baik dari mereka tetap menyulitkan mereka untuk menyombongkan diri. Mereka mungkin dapat menyombongkan diri dihadapan pasukan Aliansi lain yang belum dilengkapi dengan senapan dan harus bertarung menggunakan panah dan pedang, namun mereka adalah pasukan yang mudah dilumpuhkan.


“Sialan! Serangan mendadak!”


Sebuah peluru menembus bahu salah satu tentara, namun mereka tidak mendengar suara tembakan sama sekali.


Salah satu tentara Aliansi yang terkena tembakan tersebut terus berteriak hingga kedua pipinya dibasahi air matanya sendiri.


Salah satu rekannya menahan agar dia tidak banyak bergerak, sementara satu temannya yang lain merobek lengan bajunya lalu melilitkan pada bagian yang terluka. Hanya itu yang mereka lakukan untuk menahan pendarahan. Tidak ada ancaman serius terhadap hidupnya, tetapi prajurit itu sudah terluka parah dan dapat dipastikan tidak dapat melanjutkan perjuangan untuk saat ini.


Untungnya, setelah serangan mendadak pertama tidak ada lagi tanda-tanda musuh menyerang lagi. Mereka sama sekali tidak mendengar suara tembakan, dan menemukan musuh di antara pepohonan dan semak yang lebat sangat sulit, sehingga komandan masing-masing peleton merasa akan sangat sulit mengalahkan musuh yang bersembunyi.


“Komandan!”


Salah satu tentara berteriak setelah melihat komandan salah satu peleton tumbang dengan kepala mengeluarkan darah. Meski helm yang digunakan mampu menahan tebasan pedang, ayunan tombak, dan lesatan anak panah, namun proyektil yang mampu melaju dengan kecepatan tak terhingga tidak dapat diantisipasi. Peluru menembus kepala komandan tersebut meski sudah dilindungi oleh helm baja dan membuatkan untuknya kematian instan.


Sudah ada dua tentara yang ditumbangkan oleh serangan senyap musuh. Seluruh komandan yang tersisa memutuskan memerintahkan tentara mereka untuk bersembunyi di balik pohon atau tempat yang aman untuk membalas serangan musuh yang entah bersembunyi di mana. Untungnya, ketika berpencar untuk mencari tempat perlindungan, musuh tidak melancarkan serangan tiba-tiba lagi. Beberapa prajurit langsung melepaskan beberapa tembakan balasan begitu mendapatkan tempat perlindungan.


Beberapa dari mereka maju hingga berada di tengah aliran sungai yang tidak begitu deras dan hanya sedalam lutut, sambil membidik dan berusaha menemukan musuh yang bersembunyi. Mereka sepenuhnya sadar jika berada di tengah aliran sungai akan mengakibatkan pergerakan terhambat, namun perintah komandan untuk bergerak agar dapat menemukan titik musuh menembak harus mereka laksanakan.


Sayangnya, tindakan mereka yang bergerak di tempat terbuka hanya membuat mereka memasuki zona bunuh yang musuh mereka ciptakan


Agar dapat membidik dengan leluasa, Zefanya sengaja melepas helm-nya, dan mempercayakan tembakan perlindungan kepada Nio dan rekan-rekannya. Begitu dia melihat sosok musuh yang terlihat berkostum berbeda, jari telunjuk berkulit putihnya menarik pelatuk dan menembakkan proyektil 7,65mm dalam kecepatan 1.800 meter per detik. Kurang dari satu kedipan mata, seorang tentara musuh langsung tumbang. Tembakan Zefanya meleset, dan hanya mengenai bahu salah satu tentara Aliansi.


“Kau berhasil membunuh salah satu dari mereka?” tanya Nio begitu melihat salah satu tentara Aliansi tumbang dan meronta-ronta.


“Maaf, ternyata tembakan ku hanya mengenai bahu salah satu dari mereka, Letnan,” Zefanya menjawab dengan wajah kesal.


Dengan jeda beberapa detik, Nio memutuskan melepas helm-nya agar dapat melihat dengan lebih jelas. Sesaat kemudian, dia melihat Zefanya menembak lagi, lalu kekacauan kembali tercipta pada pihak musuh. Seorang tentara musuh yang berjarak kurang dari dua puluh meter langsung dibunuh dengan menyasar bagian kepala, dan Nio dapat melihatnya dengan jelas.

__ADS_1


“Mereka itu bodoh atau apa, sih?” Nio berbicara seperti itu setelah tiga puluh tentara Aliansi mencoba menyebrangi sungai sambil membidik ke segala arah dengan waspada.


Tapi, dengan begitu, mereka telah masuk ke dalam perangkap alami yang didapatkan grup 1.


Nio memasang kembali handsfree di telinga kanannya, lalu berbicara ke seluruh anggota, “Grup 1, tembaki musuh di sungai. Grup 2, tembaki musuh yang berjarak paling dekat dengan kalian lebih dulu.”


Instruksi singkat Nio dipatuhi oleh seluruh anggota grup 1, dan semua orang mengarahkan bidikan pada target yang telah ditunjuk dan menarik pelatuk mereka.


Grup 1 mulai menembaki tiga puluh tentara Aliansi yang berada di tengah aliran sungai di depan mereka. Dengan tenang mereka menembak dan tidak berpikir kasihan terhadap musuh. Tetap saja musuh memiliki senjata modern meski hanya mendapatkan pelatihan singkat dan diterjunkan ke pertempuran tanpa bekal yang cukup.


Serangan tanpa peringatan tersebut mengakibatkan sebagian besar mereka tidak dapat membalas tembakan, walaupun bisa mereka hanya menembak batang pohon serta sasaran yang tidak jelas, lalu tetap tumbang dengan beberapa proyektil yang menembus tubuh. Meski mereka dapat melihat kilatan api di beberapa titik, namun serangan musuh begitu cepat dan tidak memberikan mereka waktu untuk membalas. Rekan-rekan tiga puluh tentara Aliansi yang sebelumnya begitu percaya diri dan tenang berada di tengah aliran sungai yang jelas-jelas sangat menghambat pergerakan mereka memasang ekspresi takut dengan wajah pucat.


Sebagian dari unit di belakang mereka mencoba melakukan tembakan balasan, namun persembunyian musuh begitu sulit ditemukan. Akibatnya, mereka tidak dapat melindungi rekan-rekan mereka yang terjebak di aliran sungai dan tengah dihujani dengan proyektil oleh musuh-musuh mereka. Beberapa proyektil memang mengenai balik pohon atau batu yang menjadi tempat berlindung musuh, namun hal itu tidak membuat musuh menghentikan pembantaian terhadap rekan-rekan mereka yang terjebak dan tidak mampu membalas.


Dalam waktu kurang dari lima menit, tiga puluh personel Peleton Khusus Aliansi yang berada di tengah sungai dapat dihabisi oleh grup 1. Puluhan tubuh mengambang, darah yang keluar dari tempat tembakan merubah warna air sungai menjadi merah. Zirah logam tidak cukup berat untuk membuat mereka tenggelam. Senapan tenggelam ke dasar sungai yang kini keruh akibat dari lumpur dan darah tentara Aliansi yang malang tersebut.


Anggota grup 1 berpindah posisi dengan cepat untuk melawan unit musuh yang lain, namun beberapa tentara musuh menyadari pergerakan mereka. Beberapa langkah kaki dari mereka menimbulkan suara yang mencurigakan, sehingga beberapa tentara Aliansi mengarahkan laras senapan ke arah suara. Namun, mereka dilatih untuk bergerak cepat dan kecepatan berpikir menentukan tempat yang aman untuk bersembunyi.


Sementara itu, grup 2 menembaki beberapa anggota regu musuh yang berjarak dua puluh meter dari mereka. Serangan mendadak tersebut disadari beberapa tentara, karena salah satu tembakan menimbulkan suara. Suara tembakan juga didengar oleh Nio yang masih berada di seberang sungai tempat grup 2 berada. Tembakan grup 2 dihentikan sementara, karena beberapa tentara musuh bergerak untuk mencari penembak tadi.


Beberapa tentara Aliansi mengarahkan senapan ke arah tembakan sambil membidik dan mencari posisi musuh yang menembak sebelumnya. Mereka bergerak semakin dekat dengan anggota grup 2 yang lupa melakukan sesuatu sehingga serangan yang seharusnya senyap menjadi diketahui oleh musuh.


“Arif, apa kau lupa memasang peredam suara?!” tanya Nio dengan nada cukup marah.


Author alias Arif mendengar ucapan Nio dari handsfree-nya dengan wajah gugup dan jakun yang bergerak karena meneguk ludah.


“Cepat pasang peredam suaramu! Apa kau tidak melihat musuh mendekat ke arahmu?!” kini suara Hassan yang terdengar dari handsfree Arif, dan terdengar benar-benar kesal dengan kelalaiannya. Jika Nio dan Hassan sudah mengeluarkan kekesalan mereka, Arif dapat membayangkan apa yang akan menimpanya setelah pertempuran berakhir.


Beberapa tentara musuh melepaskan proyektil yang mengarah ke tempat persembunyian anggota grup 2, untungnya serangan mereka seluruhnya meleset, mengenai dahan atau batang pohon, sehingga hanya mengejutkan anggota unit tersebut dan membuat mereka waspada. Grup 2 membalas serangan mereka, namun dengan cepat mereka juga kembali berlindung di balik pohon atau batu.


Seluruh tentara Peleton Khusus Aliansi melakukan tembakan menyebar dengan sasaran imajiner, dengan harapan beberapa proyektil mengenai atau setidaknya melukai musuh. Satu rekan mereka yang sebelumnya terkena lesatan proyektil yang dilepaskan musuh akhirnya tidak bergerak, dengan kondisi mata tetap terbuka namun tanpa napas yang terhirup atau dikeluarkan. Darah yang keluar dari bahunya tidak terus keluar, dan membuat pertolongan pertama sia-sia. Namun, musuh sudah membantai banyak rekan mereka, sehingga perlawanan tidak dapat dihentikan daripada berduka di tengah pertarungan.


“Hei, para agen bilang jumlah tentara musuh tidak terlalu banyak. Tapi kenapa mereka dapat membunuh banyak teman kita?!”


“Jelas-jelas musuh punya lebih banyak pasukan dari yang para agen perkirakan. Kalau tidak, mereka tidak mungkin melakukan perlawanan sehebat ini!”


“Kenapa komandan belum memerintahkan kita mundur?!”


“Apa yang kalian lakukan?! Lawan mereka atau musuh akan semakin semena-mena!” ucap salah satu komandan.


Mereka tidak dilengkapi oleh penyihir militer, sedangkan mereka sangat membutuhkan sihir tameng agar dapat bergerak mundur dengan aman. Musuh tidak hanya melawan dari sisi depan, namun juga sisi samping kanan yang mengakibatkan terjadinya pertarungan dua sisi. Akan lebih baik jika seluruh tentara membagi diri menjadi dua kelompok untuk menghadapi perlawanan dua sisi yang diberikan musuh. Mereka mungkin terdesak, tetapi mereka dapat melakukan perlawanan yang baik ketika musuh menyerang secara sembunyi-sembunyi dan senyap.


Peleton ketiga yang bertugas sebagai unit bantuan menghadapi musuh yang menyerang dari sisi kanan, dan gagal mendapatkan posisi prajurit musuh yang tidak menyembunyikan diri dengan baik. Dalam kondisi satu persatu rekan mereka tumbang oleh serangan musuh, bantuan selalu siap menghadapi musuh untuk membantu unit utama, bahkan jika mereka harus menghadapi musuh paling lama. Mereka pastinya sudah lelah dengan musuh yang melawan dengan senyap dan tidak diketahui keberadaannya, mereka hanya dapat mempertahankan didi sebagai individu dan tidak dapat bertarung sebagai satu unit.


“Komandan, musuh di seberang sungai terlihat, salah satu dari mereka bergerak dengan jelas,” salah satu tentara peleton pertama melapor kepada atasannya yang ikut berjuang.


“Sial, musuh terburuk selalu muncul di saat yang buruk,” ucap komandan peleton pertama sambil terus menembaki musuh yang hanya kelihatan kilatan api tanpa menunjukkan wujud aslinya. Musuh sudah terlalu nyaman membantai tentaranya, parahnya musuh sama sekali tidak terlihat bahkan banyak bergerak untuk menyerang balik mereka.


“Berapa banyak musuh yang bergerak? Mereka tampak tidak berpindah tempat sama sekali,” ucap komandan peleton pertama lagi.


“Hanya satu, dan bergerak dengan gesit!”


Satu ledakan keras mengguncang hutan yang kini menjadi medan perang. Tanah dan asap menyebar setelah ledakan yang belum diketahui siapa penyebabnya. Namun, grup 2 dan grup 1 pasti sudah tahu siapa yang dapat melakukan serangan sembrono seperti itu.


Dua tentara Aliansi malang tidak sempat menghindari ledakan granat yang dilemparkan oleh Nio. Akibatnya, potongan logam pelindung mereka dan darah serta daging tersebar di udara, dengan asap abu-abu yang menyebar menutupi bidang pandang. Bersamaan dengan itu, Nio bergerak di antara kepulan asap dengan gerakan cepat dan lincah, dan jari telunjuknya menarik pelatuk untuk melepaskan tembakan dalam mode semi otomatis.


“Kenapa di tengah kepulan asap begini aku masih bisa melihat dengan jelas?” Nio sendiri juga masih terheran-heran dengan apa yang terjadi padanya.


Dia dapat melihat musuh yang tertutupi oleh asap abu-abu tebal layaknya melihat seseorang di dalam ruangan yang terang. Namun, dia tidak membiarkan dirinya sendiri terpaku pada kebingungan, dan melompat ke samping untuk menghindari tembakan dari tiga tentara musuh.


Dia sengaja menyebrang sungai untuk memberkan dampak tembakan yang lebih besar terhadap musuh, serta memberikan dukungan kepada grup 2 yang sebelumnya salah satu anggotanya melakukan sedikit kesalahan yang membahayakan dirinya sendiri dan anggota yang lain.


Dia melihat sepuluh tentara Aliansi yang berlindung di belakang semak, dan melakukan perlawanan terhadap grup 1. Tanpa pikir panjang, dia berlari dari tempat perlindungannya dan menyebabkan beberapa dari mereka mengetahui pergerakannya.


“Ho-hoi, dia… dia di sana!” salah satu tentara yang mengetahui pergerakan Nio langsung memberi tahu sembilan rekannya yang lain.


“Fokuskan tembakan pada orang itu!” ucap komandan peleton kedua yang tahu bahwa anggotanya berhasil menemukan satu tentara musuh.


Nio berlari sambil mengangkat senapannya dan melepaskan beberapa tembakan dalam mode tembakan tunggal. Begitu juga dengan musuh, mereka melakukan tembakan menyebar dengan harapan mengenai dan menghabisi Nio yang sangat terbuka. Mereka hanya tersenyum ketika melihat Nio menghadapi mereka dalam pertarungan terbuka.


Karena senapan terlalu mengganggu pergerakannya karena ukuran dan berat (setelah ditambah peredam suara), Nio menyelempangakannya ke belakang punggung, lalu mencabut pistol dari sarungnya. Seorang tentara Aliansi yang pemberani keluar dari persembunyiannya, dan berlari mengejar Nio. Dia pasti berpikir jika berhasil membunuh salah satu tentara musuh, lalu mendapatkan senjatanya, maka derajatnya akan naik dengan sangat mudah dan dapat menggantikan posisi komandan Peleton Khusus Aliansi saat ini.


Mengetahui seorang tentara musuh mengejarnya, Nio mengangkat pistol semi otomatis-nya dengan tangan kanan dan mulai menembakinya dalam mode putaran tunggal. Namun, tembakannya dengan cepat dihindari oleh prajurit tersebut dengan melompat ke segala arah dengan acak. Beberapa proyektil 9mm yang ditembakkan Nio memang meleset, namun salah satu proyektil menembus kepala salah satu tentara Aliansi.

__ADS_1


Tentara Aliansi yang mengejar Nio mengangkat SP1-nya, lalu menembakkan beberapa proyektil ke arah Nio yang berlari di depannya. Tiga rekannya bangkit dari persembunyian mereka dan melepaskan tembakan dukungan.


Melihat tentara musuh yang mengejarnya mendapatkan bantuan, Nio menembaki mereka dengan tepat.


“O-oy, kenapa komandan peleton pertama mengejar tentara musuh?”


Ucapan dengan nada terkejut dari salah satu tentara Aliansi dapat didengar Nio, lalu dia menembak kepala pria itu dalam sekali percobaan. Sebelumnya, Nio merasa jika tentara musuh yang mengejarnya hanyalah tentara bawahan.


“Terimakasih atasi infonya,” ucap Nio sambil menembaki dua tentara Aliansi yang menembakinya di saat komandan peleton pertama masih mengejarnya.


Tidak ada yang mengira jika salah satu tentara Persekutuan tersebut mampu membunuh beberapa rekan mereka sendirian, dan berhasil lolos dari serbuan proyektil yang mereka tembakkan.


Nio yang memilih mengistirahatkan SS20 G2-nya dan memilih menggunakan senjata ringan berupa pistol tentu saja memiliki keuntungan dalam pergerakan, namun di atas kertas dia tidak memiliki harapan untuk menang melawan kurang dari seratus tentara musuh yang tersisa. Sayangnya, Nio memiliki pemikiran jika sebagai komandan suatu unit, baik unit besar maupun unit dalam skala tim yang beranggotakan kurang dari tiga puluh prajurit, dirinya tetap harus bertugas sebagai pelindung bawahannya, apapun cara yang akan dia gunakan. Dia merasa bawahannya tidak dapat melarangnya melakukan pertarungan yang dia inginkan, meskipun dia harus memancing musuh di garis pertahanan musuh secara langsung dan terbuka.


Perannya adalah sebagai orang yang terampil dalam pertarungan jarak dekat bahkan diantara anggotanya, serta mengganggu koordinasi musuh adalah hal yang paling dia incar dengan cara menghabisi prajurit musuh yang dirasa memiliki pengaruh di dalam suatu pasukan.


Nio memiliki kebiasaan untuk mengincar area vital pada tubuh lawannya, terutama bagian kepala dan dada. Namun, dia bukanlah penembak jitu, dan pistol tidak memiliki tingkat akurasi melebihi senapan serbu. Dua tembakan yang dia lepaskan terhadap dua tentara musuh diharapkan mampu mengenai bagian vital mereka. Namun, masing-masing proyektil malah mengenai bahu dan perut mereka. Namun Nio tetap puas selama serangannya mampu membuat musuh tidak dapat berjuang lagi.


Itu adalah cara bertarung dan taktik yang dia pelajari dari perang sebelumnya, namun sifat sembrono yang dia dapatkan berasal dari pertempuran yang mengorbankan banyak tentara Indonesia sebelumnya.


Melihat Nio yang bertarung di tengah serbuan musuh membuat beberapa anggota Tim Ke-12 tersenyum. Mereka merasa memiliki ‘Mayat Hidup’ yang memimpin dan melindungi mereka meski dengan cara yang tidak masuk akal.


Dia berlari dari kejaran salah satu komandan musuh, dan menembaki beberapa tentara Aliansi dengan lihai. Setelah pistol-nya tidak mengeluarkan proyektil lagi, Nio dengan cepat mengganti magasin dalam waktu kurang dari tiga detik sambil berlari. Ketika dia berlari dari kejaran komandan musuh dan menghabisi beberapa tentara musuh, tatapannya yang tenang membawakan kematian bagi mereka yang menghalangi jalannya.


“Hmmm?”


Nio bergumam seperti itu ketika salah satu tentara musuh menghadang jalur pelariannya sambil mengarahkan bayonet ke arah perutnya. Tanpa pikir panjang Nio langsung menembak kepala pria itu.


Namun, itu hanya membuat jaraknya dengan komandan musuh semakin dekat, dan akhirnya mereka berdua berhadap-hadapan.


“Aaaaarrrhh!!!~” pria itu berteriak dengan harapan semangat juang Nio turun.


Sesaat kemudian, komandan peleton pertama mengangkat senapannya yang telah dipasangi bayonet, lalu tiga proyektil ditembakkan ke arah tubuh Nio. Namun, Nio segera menunduk dan melompat ke depan… ke arah musuhnya berdiri. Melihat Nio yang melompat hingga ke belakang tubuhnya, komandan peleton pertama membalik senapannya ke arah belakang lalu menembak Nio tanpa memutar tubuhnya. Namun, Nio masih dapat menghindarinya dengan gerakan lincah.


Ketika melompat untuk menghindari tembakan dari salah satu komandan musuh tersebut, Nio mencabut pisau tarungnya dan menggenggam kuat di tangan kirinya. Dengan gerakan kilat, Nio menusukkan pisaunya ke bahu kiri komandan musuh sebanyak dua kali hingga membuat pria tersebut kembali berteriak seperti sebelumnya.


“Kau bajingan…!”


Dia kembali mengangkat senapan miliknya, namun sebelum dia menarik pelatuk, lawannya telah berdiri di depannya.


Dengan gerakan sangat cepat, tangan kiri Nio menyayat kedua tangan lawannya hingga menjatuhkan senapan yang dia pegang. Setelah itu, dia melukai wajah salah satu komandan musuh dalam sekali tebasan hingga pria itu berteriak jauh lebih keras dari sebelumnya.


“Semuanya, lindungi Letnan bodoh kita!” teriak Gita hingga seluruh anggota Tim Ke-12 mendengar suaranya yang keras dari handsfree masing-masing, kecuali Nio.


Mereka menembaki musuh yang keluar dari tempat berlindung mereka hanya untuk melawan seorang Nio. Gerakan Nio yang lincah membuat mereka resah, dan takut jika terjadi peluru nyasar.


Hendra merayap ke arah Ardi yang berlindung di balik semak sambil menembaki musuh meski tidak akurat.


“Hei, aku kehabisan peluru,” ucap Hendra.


“Sial, jangan boros-boros bisa enggak?” Ardi menjawab dengan nada kesal dan memberikan satu magasin yang masih terisi penuh.


Setelah Hendra memuat kembali magasinnya dan membuat senapan dalam mode semi otomatis, mereka berdua menembaki tentara musuh hingga membunuh beberapa dari mereka sambil menjaga agar tembakan tidak ada yang mengenai Nio.


“Dia terlalu berani berdiri dengan pertahanan lemah.”


Zefanya berlutut di balik semak sambil membidik salah satu tentara musuh yang berdiri sambil membidik Nio yang berlari cepat di antara pepohonan. Ketika Zefanya menarik pelatuk senapan penembak jitu ringannya, dalam waktu kurang dari setengah kedipan mata, tentara musuh yang menjadi mangsa Zefanya terbunuh dengan kepala berlubang saking cepatnya lesatan proyektil yang ditembakkan.


Dua orang rekan musuh yang dia bunuh terlihat kebingungan dan menampakkan diri setelah bangkit dari balik semak. Dengan cepat Zefanya kembali menarik pelatuk dan membunuh mereka satu persatu.


“Seharusnya mereka belajar bertempur di tengah hutan. Tapi, apa yang sebenarnya Letnan pikirkan sampai bertarung dengan terbuka seperti itu, merepotkan…” keluh Zefanya setelah menarik pelatuk untuk membunuh salah satu tentara musuh lagi.


Di lain sisi, Hassan bergerak dari persembunyiannya untuk lebih mendekat ke arah unit utama musuh yang terus menghujani anggotanya dengan proyektil 7,62mm mereka. Namun, ketika beberapa langkah dia meninggalkan tempatnya, seorang tentara musuh secara tiba-tiba muncul dari balik pohon. Keduanya memasang wajah terkejut yang sama, meski Hassan memakai helm yang menutupi wajahnya. Mereka berdua menarik pelatuk bersamaan, namun Hassan lebih cepat beberapa detik dan berhasil membunuh lawannya sebelum dia dilukai.


Melihat rekannya yang tumbang, salah satu tentara Aliansi menarik pelatuk senapannya sambil membidik Hassan. Melihat adanya musuh yang mengarahkan moncong senapannya ke arahnya, Hassan segera melompat ke belakang pohon terdekat sebagai perlindungan. Batang pohon yang dia jadikan tempat berlindung di tembaki selama beberapa detik hingga lawannya menghabiskan satu magasin hanya untuk menembaki sebuah batang pohon.


Hassan dengan cepat membalas serangan musuhnya yang masih dalam proses memuat magasin, dan menumbangkannya. Rekan prajurit yang dia bunuh tertawa melihat rekannya dihabisi dalam dua kali tembak dan berkata, “Boleh juga kau!”. Namun, Hassan juga dapat membunuh tentara tersebut sebelum dia menarik pelatuknya.


Nasib mereka sebagai tentara adalah dikirimkan ke tempat yang tidak diketahui, diperintahkan menghadapi musuh yang kekuatan dan cara bertempur belum dipelajari, diperlakukan seperti alat yang dapat digantikan oleh yang baru setelah rusak atau hancur.


Begitu jumlah rekan mereka yang terbunuh melebihi batas yang ditentukan, mereka hanya dapat menyimpulkan bahwa kemenangan dalam pertempuran ini tidak dapat mereka raih, dan tujuan mereka tidak dapat dicapai.


Dengan cepat, seluruh tentara Aliansi yang tersisa menjatuhkan senjata masing-masing dengan wajah pasrah.

__ADS_1


__ADS_2