Prajurit SMA

Prajurit SMA
Lagipula rasanya memang ‘menantang’


__ADS_3

Kedua helikopter serang mendarat 50 meter dari tenda Tim Ke-12, baling-baling yang menciptakan downwash dan mengakibatkan badai debu kecil membuat sepuluh orang prajurit Aliansi yang berhasil ditawan bertanya-tanya “Apakah memang ada binatang besi seperti itu di dunia ini?” dengan wajah ketakutan.


Lalu, yang tersisa di medan perang (yang tidak bisa disebut dengan medan perang) adalah kobaran api, asap hitam yang membumbung tebal dan tinggi, serta ratusan mayat prajurit Aliansi dan kuda-kuda mereka yang anggota tubuhnya berserakan.


Pada awalnya tidak ada yang menyangka dengan tibanya kedua helikopter berbendera Indonesia dan Korea Utara itu dan memberikan bantuan serangan. Musuh sebelumnya hanya diperintah untuk melintasi perbatasan dan menyerang Tim Ke-12, dan tidak memiliki informasi jika tim itu memiliki bantuan yang sangat kuat dan brutal.


Prajurit yang berada di kedua helikopter turun dengan gerakan cepat, dan berjalan mendekati Tim Ke-12 berada. Wajah prajurit kontingen Korea Utara memang terlihat galak, namun wajah dari prajurit kontingen Indonesia terlihat merasakan puas yang luar biasa setelah melakukan balas dendam terhadap musuh lebih menyeramkan menurut kesepuluh tawanan. Jika bisa, mereka dengan hormat akan tunduk dengan mereka… itupun jika takdir baik berpihak pada mereka.


Tapi bagaimanapun Aliansi tidak akan menerima kedatangan kembali bangsa dunia lain (Indonesia, Rusia, dan Korea Utara), apalagi memiliki rencana berdamai dengan mereka. Mereka telah ketagihan dengan hasil ‘nyaris menang’ yang didapat di perang besar sebelumnya, dan berencana terus berperang hingga mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya.


Lalu, kesepuluh prajurit Aliansi yang ditawan Tim Ke-12 mungkin akan berlutut di depan mereka dan memohon belas kasihan agar tidak dijadikan budak atau dibunuh. Jika mereka berlutut dan mencium kaki pasukan yang menawan mereka, kesepuluh prajurit Aliansi itu mungkin benar-benar akan melakukannya. Mereka akan melakukan apa saja demi bisa terus melihat hari esok, meski itu menjadi tawanan atau pekerja paksa yang kotor.


Mereka dengan takut menunggu apa yang akan dilakukan Tim Ke-12 dan pasukan yang menunggangi binatang besi mengerikan tersebut.


“Kami akan membawa tawanan kalian.”


Komandan helikopter kontingen Indonesia yang membantu mereka berdiri di depan Nio, dia berpangkat Letnan Dua. Dengan jelas Nio bisa melihat ekspresi yang menunjukkan rasa puas yang luar biasa setelah menghancurkan ratusan musuh sebelum matahari tenggelam.


Tawanan dari Aliansi yang diurus Persekutuan dan Pasukan Perdamaian berjumlah lebih dari 30.000 orang, yang seluruhnya didapatkan dari perang besar sebelumnya. Sebagian besar tawanan perang yang didapatkan memang prajurit manusia, namun jumlah monster yang ditangkap juga menyumbang 20 persen dari jumlah total.


Arevelk dan Yekirnovo menyarankan seluruh tawanan dijadikan pekerja paksa, atau dipaksa untuk membantu pembangunan kembali fasilitas Pasukan Ekspedisi yang hancur pada perang sebelumnya. Mereka menyarankan para tawanan membantu pada pekerjaan membangun kembali ‘benteng kura-kura’, barak, tempat tinggal personel, dan fasilitas lainnya. Namun, kalimat ‘kerja paksa’ adalah pengingat masa lalu ketika masa kolonial Belanda dan Jepang, ketika masa Indonesia masih bernama ‘Hindia Belanda’.


Kontingen Rusia dan Korea Utara tidak setuju dengan saran Arevelk dan Yekirnovo, itu mengingatkan masa lalu kelam mereka ketika masa Perang Dunia 1 dan 2. Tepatnya pada masa Rusia masih menjadi bagian dari Uni Soviet, dan kamp-kamp kerja paksa yang berisi tawanan perang masih berjumlah sangat banyak, salah satunya kamp kerja paksa yang paling terkenal di Uni Soviet adalah ‘Kamp Gulag’. Meski itu adalah masa lalu, masih ada doktrin jika Rusia terlibat dalam program kerja paksa pada masa Perang Dunia 1 dan 2 itu, dan memaksa tawanan perang yang berasal dari prajurit dan penduduk yang negaranya dikalahkan untuk melakukan kerja paksa.


Sedangkan kontingen Indonesia tidak ingin dicap sebagai ‘penjajah yang pernah dijajah’ seperti yang terjadi pada bangsa itu di masa lalu. Meski mendapatkan pekerja paksa adalah hal yang menguntungkan karena mereka tidak perlu mengirimkan pekerja bayaran (kuli) dari beberapa wilayah di Indonesia, tetap saja mereka adalah pasukan yang terikat dengan hukum perang internasional. Mereka tidak bisa membiarkan tawanan perang yang terluka tidak mendapatkan perawatan dan membiarkan mereka kelaparan begitu saja.


Mengobati tawanan yang telah membunuh rekan mereka, memberi mereka makan dengan layak, kamp tawanan yang tidak seperti kandang ternak, itu semua adalah hal tak masuk akal bagi dunia yang masih menerapkan sistem kerja paksa bagi musuh yang berhasil dikalahkan. Para petinggi kontingen Arevelk dan Yekirnovo hanya bisa menggaruk kepala melihat pasukan sekuat mereka memperlakukan tawanan seperti orang biasa.


Arevelk dan Yekirnovo menilai jika Indonesia yang berhasil mengalahkan musuh sebesar Aliansi adalah bangsa yang gila, karena tidak bisa memanfaatkan hak pasukan yang menang. Tatapi saat mereka mendapatkan pernyataan seperti itu, jawaban yang seharusnya diberikan hanya, “Kami tidak ingin mengulang masa lalu, tepatnya bangsa kami juga pernah mengalami masa kerja paksa yang dilakukan para penjajah. Kami bukanlah bangsa biadab yang memaksa prajurit terluka untuk bekerja keras seperti ternak, apalagi menjual mereka sebagai budak. Kami adalah pasukan beradab yang terikat dengan hukum perang internasional, dan tidak ingin menjadi penjajah yang pernah dijajah. Itu hanyalah sejarah yang kelam, namun berhasil membuat bangsa kami bersatu hingga menjadi sebesar ini.”


Merawat tawanan memang menyusahkan, apalagi mereka adalah pihak yang membunuh banyak prajurit TNI di perang sebelumnya. Namun, hukum perang internasional adalah sebuah kebijakan yang harus ditaati, dan akan menjadi pekerjaan yang ringan jika para tawanan tidak berbuat macam-macam seperti merencanakan pemberontakan atau semacam itu.


Kesan pertama Arevelk dan Yekirnovo setelah kedatangan Indonesia dan sekutunya di dunia ini adalah mereka bangsa dengan kekuatan luar biasa, bangsa yang besar, dan sangat gila untuk tidak memanfaatkan hak pemenang perang. Sedangkan Rusia dan Korea Utara tidak ingin masa lalu gelap mereka terulang lagi, apalagi bangsa dunia lain yang terlihat sangat mudah dikalahkan adalah sebuah kesempatan bagi kekuatan besar yang sedang mencari sesuatu yang bernama ‘budak’. Kedua bangsa itu telah melupakan sejarah, dimana mereka sama-sama ‘pernah’ menjalankan sesuatu sistem bernama kerja paksa.


Nio memikirkan hal itu, tepatnya dia hampir mendapatkan panggilan dari pengadilan militer atas perbuatanya yang telah menghajar 40 tawanan hingga terluka parah. Namun, beberapa atasan yang baik hati telah membuat Nio melewati hal itu, dan hanya mendapat teguran untuk tidak memperlakukan tawanan seperti samsak tinju.


**


Meski hari sudah hampir malam, Nio dan anggota timnya saling membantu untuk menurunkan puluhan kotak plastik yang berisi logistik untuk mereka. Pastinya mereka belum mendapatkan perintah untuk mundur dalam waktu dekat, dan mereka akan membutuhkan kebutuhan untuk satu bulan kedepan. Mungkin mereka telah menghabiskan sebagian dari amunisi saat menahan serangan musuh hari ini.


Tim Ke-12 telah menghabiskan 40 persen persediaan amunisi mereka untuk melawan serangan musuh, namun persediaan makanan dan pakaian masih cukup banyak hingga beberapa minggu kedepan, atau setidaknya hingga perintah untuk kembali didapatkan.


Beberapa prajurit memotret pemandangan senja dunia lain yang sangat indah dengan kamera dan kamera ponsel masing-masing, dan seharusnya hal itu menjadi pemandangan yang menenangkan hati jika perang tidak terjadi.


Mereka telah mengambil beberapa foto sejak mereka diresmikan menjadi Tim Ke-12, dan semua tingkah laku mereka ketika bertugas di Zona Perbatasan Ke-21 juga diabadikan dengan kamera dan kamera ponsel masing-masing. Semua kegiatan dari hari pertama hingga hari ini telah dipotret, termasuk foto Edera yang berhasil menangkap ‘ayam purba’. Foto ketika personel laki-laki membandingkan ukuran anu masing-masing juga dilihatkan, meski anu mereka tidak diperlihatkan, namun bisa terlihat jelas siapa pemilik anu terbesar diantara anggota pria Tim Ke-12.


Mereka memperlihatkan foto-foto tersebut ke rekan-rekan mereka yang sebelumnya membantu mereka. Helikopter masih terparkir di tempatnya, dan personelnya masih menikmati waktu istirahat di wilayah Tim Ke-12, alias Zona Perbatasan Ke-21.


Hingga dua buah bulan di langit dunia ini nampak dengan jelas bersinar dengan warna merah dan kebiruan nya, yang menandakan jika malam sudah tiba.


Anggota timnya berhasil menangkap sepuluh ‘ayam purba’ dengan bantuan Hevaz dan Edera. Mereka menyebut unggas dunia ini dengan sebutan seperti itu karena ukurannya yang jauh lebih besar dari ayam biasa, yakni sebesar kambing. Dengan senapan, mereka tidak perlu memasang jebakan di sana sini, dan hanya perlu menunggu gerombolan unggas tersebut melintas di wilayah mereka.


Kemudian, mereka membakar seluruh ayam purba yang sudah disembelih, dicabuti bulunya, dan dikeluarkan jeroannya, lalu para perempuan mengoleskan bumbu ayam bakar yang dibuat sendiri oleh Koki (Ratna).


Selain sepuluh orang tawanan, mereka juga menangkap 27 ekor kuda milik pasukan berkuda Aliansi yang tersisa. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang bisa mengendarai kuda, mereka hanya handal memegang gagang tongkat baja hitam panjang daripada tali kekang. Sedangkan untuk personel bantuan, mereka tidak bisa membawa kuda-kuda itu di dalam helikopter, tepatnya mereka hanya takut jika kuda-kuda itu membuang kotoran secara sembarangan. Kuda-kuda itu bisa dikirim untuk dijadikan kuda cadangan bagi kontingen Arevelk dan Yekirnovo, atau dalam keadaan benar-benar kepepet bisa dimasak menjadi sate kuda.


Malam ini seperti rutinitas Tim Ke-12 sejak dikirim ke Zona Perbatasan Ke-21, dengan tamu personel bantuan yang tak diundang sebelumnya. Nio dan anggotanya tidak menyadari jika pusat memantau mereka dengan pesawat tanpa awak, sehingga bantuan dikirim tanpa diminta.

__ADS_1


Kesepuluh tawanan bisa mencium aroma ayam 'purba' bakar yang sepertinya dibumbui dengan rempah-rempah yang menciptakan aroma senikmat itu. Mereka melihat tim tersebut dan prajurit yang menunggangi monster besi menyantap daging unggas raksasa dengan lahap, dan sepertinya sangat nikmat hanya dengan melihat ekspresi orang yang memakannya.


Mereka menggigit daging tanpa susah payah, karena Ratna menggunakan teknik rahasia untuk membuat daging unggas dunia lain itu lembut ketika dimasak. Ayam bakar yang lama tidak dinikmati, akhirnya mereka makan lagi meski menggunakan daging ayam dunia lain.


Orang-orang Korea Utara itu makan dengan cepat seperti baru pertama kali memakan yang namanya ayam bakar. Satu-satunya orang Rusia di kelompok ini, Zefanya makan dengan tenang seperti tuan putri.


“Sepertinya kalian melupakan nasinya.”


Barista, alias Hassan berkata seperti itu dan meletakkan panci berukuran sedang yang berisi nasi di depan ayam panggang. Tanpa diperintah, seluruh anggota pria termasuk Nio dan prajurit bantuan kontingen Indonesia berebut mengambil nasi yang hampir mereka lupakan. Sementara itu, prajurit bantuan kontingen Korea Utara, Nam Ae Ri, dan Ro Ga Eun melihat dengan wajah datar para pria Indonesia itu berebut mengambil nasi yang tersedia seperti orang kelaparan.


Zefanya melihat Nio makan tanpa menggunakan sendok, begitu pula dengan pria Indonesia yang ada di sini. Setidaknya mereka telah menyiapkan sesuatu yang bernama ‘air kobokan’ yang diambil dari danau kecil itu.


“Ratna, mana sambelnya?”


Ferdi mencari-cari keberadaan sambal sambil mulut masih mengunyah.


“Kerupuknya juga, aku tidak melihatnya.”


Sementara itu, Penulis alias Arif heran dengan kerupuk yang seharusnya disajikan ketika makan.


“Sambel? Kerupuk? Apa itu Tuan Nio?”


Meski sudah dua kali mengunjungi Indonesia, Edera belum pernah merasakan dan mendengar ‘sambal’ dan ‘kerupuk’. Walau dia sudah pernah mengunjungi warung mi ayam, dia belum sempat merasakan kedua jenis makanan itu.


“Sepertinya itu makanan yang enak, apa aku juga boleh mencobanya?”


Hevaz terlihat bersungguh-sungguh ingin merasakan makanan itu. Kemudian, Ratna menghentikan makannya, dan berjalan kedalam tenda penyimpanan bahan makanan setelah meletakkan piring plastiknya di tempatnya makan. Dia terlihat seperti sudah menduga hal seperti ini akan terjadi, mengingat daya tampung perut para pria yang seperti jauh lebih besar daripada para perempuan.


Sesaat kemudian Ratna membawa sebuah rantang dan sebuah plastik bening raksasa yang benar-benar berisi kerupuk udang. Setelah tutup rantang terbuka, isinya adalah ‘sambal korek’ dengan tingkat kepedasan luar biasa. Ratna tahu jika kebiasaan makan orang Indonesia anggota Tim Ke-12 masih dibawa meski bertugas di dunia lain ini. Sehingga dia sengaja membuat sambal untuk anggota tim ini, dan menggoreng kerupuk udang yang diimpor langsung dari Indonesia.


Dengan pemandangan bintang yang sangat langka karena polusi cahaya yang sangat sedikit di dunia ini, para pria Indonesia itu makan seperti orang yang belum memakan apapun selama satu tahun.


Mereka baik-baik saja dengan kerupuk udang yang sangat gurih dengan sedikit mengandung perisa udang, namun ketika menjilat sedikit sambal di ujung jari telunjuk, mereka langsung memejamkan mata dengan air mata di ujung mata.


“Apa-apaan makanan ini?” Ae Ri berkata seperti orang memakan makanan terpedas di dunia.


“Apa makanan ini hanya dibuat dari cabai?” Ga Eun dan prajurit kontingen Korea Utara terlihat megap-megap sambil mencari air untuk diminum.


Melihat para prajurit Korea Utara di sini terkena dampak yang dihasilkan sebuah makanan yang bernama ‘sambal korek’, Zefanya menjadi ragu untuk mencoba makanan yang berwarna merah itu.


“Apa kau belum tahu, sambal memang terbuat dari cabai dengan sedikit garam.”


Ratna dengan tenang menjelaskan mengenai jenis-jenis sambal di Indonesia kepada para prajurit Korea Utara, dan Zefanya ikut menyimak dengan seksama penjelasan dari pengetahuan makanan Indonesia Ratna. Sedangkan Nio merasa tidak salah memilih Ratna untuk menjadi anggota tim ini, karena dia dan anggota laki-laki bisa mengingat Indonesia dari makanan yang dibuat gadis itu.


“Lagipula rasanya memang ‘menantang’.”


Hevaz berbicara seperti itu setelah mengambil satu sendok makan penuh sambal korek yang mampu membuat para prajurit Korea Utara tersiksa dan Zefanya ragu untuk mencobanya. Dia terlihat seperti makan makanan biasa setelah mengambil lagi sesuap satu sendok sambal, dan memakannya bersama ayam bakar dan nasi.


Edera yang sudah mencoba sedikit juga terlihat bereaksi seperti Hevaz, lalu dia juga mencoba kerupuk udang setelah dicolek pada sambal korek di hadapannya. Dia memang merasakan pedas, namun reaksinya tidak seperti orang-orang Korea Utara itu yang terlihat sangat berlebihan dengan makanan yang bernama sambal tersebut.


“Jangan sampai kalian merupakan mereka.”


Hevaz menunjuk ke suatu arah, lalu Nio menoleh ke arah yang ditunjuk dengan jari telunjuk gadis itu. Dia melihat para tawanan meratap seperti mengatakan, “Tolong beri kami sedikit makanan”. Wajah mereka juga terlihat pucat dengan bibir yang sangat kering karena belum meminum apapun dan hanya menelan ludah untuk membasahi tenggorokan.


Lalu, Nio merasa sudah terlalu berlebihan makan dengan tenang disaat ada sepuluh tawanan yang terluka dan belum diberi makan sejak pertempuran usai. Seluruh orang saling tatap, dan melakukan rapat darurat dengan tema para tawanan perang sebelum mereka dikirim ke kamp tawanan.


“Apa kalian mampu menghabiskan makanan sebanyak ini? Memang ini adalah makanan terenak yang kita makan sejak ditugaskan ke sini.”

__ADS_1


Ratna terlihat tersipu namun merasakan bangga juga ketika Nio mengatakan hal itu.


“Kita juga tidak bisa membiarkan mereka tidur dalam keadaan seperti itu. Tidur sambil menahan lapar dan haus, dan mungkin mereka juga menahan sakit karena terluka. Sementara kita tidur dengan nyenyak karena sudah merasa kenyang dan kita tidak terluka, meski kita terluka kita akan langsung mendapatkan perawatan meski itu hanya luka kecil.”


Nio, sebagai pemilik tim merasa kata-katanya sangat keren, bahkan dia memuji dirinya sendiri setelah mengatakan hal itu.


Sementara itu, Hevaz meletakkan lagi cangkir yang berisi kopi hitam instan dan menatap ke arah sepuluh tawanan.


“Yah… aku juga ingin menjadi prajurit TNI yang dicintai banyak orang. Kita datang ke sini bukan untuk berperang, namun melindungi Indonesia dan dunia asal kita dengan berjuang dari sini. Mereka (para tawanan) hanyalah sekelompok orang tanpa senjata, dan mungkin keadaan mereka sangat lemah.”


Ucapan Ferdi mendapatkan tanggapan berupa anggukan dari seluruh orang.


“Persediaan makanan kita cukup untuk dua bulan, jadi aku tidak keberatan membagi makanan dengan mereka.”


Sebagai anggota yang bertugas mengurus semua hal mengenai konsumsi pangan tim, Ratna juga telah memperkirakan jumlah makanan untuk kedepannya.


Mereka juga tidak ingin terkena hukuman karena menelantarkan tawanan, dan dikenal sebagai ‘penjajah’. Nio juga tidak ingin para tawanan terlihat tak diberi makan dan minum ketika dikirim ke kamp tawanan, insting para penjaga tawanan sangat tajam sehingga mereka mampu membedakan tawanan yang diberi makan dan tawanan yang tidak diberi makan.


**


“Seharusnya aku tadi memakan sesuatu.”


“Aku sangat lega masih hidup setelah melawan musuh sekuat mereka, setidaknya mereka masih membiarkan kita hidup.”


“Menurutku besok kita akan dikirim ke penjara tawanan mereka.”


Kesepuluh tawanan dengan kondisi kaki ditahan dengan borgol, dan dihubungkan dengan rantai yang diikat ke sebuah batang pohon. Sehingga kemungkinan mereka kabur sangat kecil, kecuali mereka memiliki keahlian khusus untuk melepaskan diri dari hal seperti ini.


Mereka adalah pihak yang memutuskan untuk menyerah kepada musuh mereka, jadi kehidupan selanjutnya berada di tangan pihak yang menawan mereka. Itu adalah doktrin turun-temurun di sejarah peperangan dunia ini, bahkan warga sipil yang hidup di negara yang kalah perang akan berpikiran seperti itu.


“Yah… marah dengan keadaan juga akan membuat kita semakin lapar, jadi jangan terlalu banyak mengeluh.”


Mereka bisa tahan dengan udara malam yang dingin dengan pakaian tipis. Zirah logam dan senjata mereka telah dilucuti dan disimpan pada sebuah tenda milik pihak yang menawan mereka. Mereka kini hanya mengenakan pakaian tipis yang berfungsi melapisi tubuh ketika mengenakan zirah logam yang beberapa sisi cukup untuk menciptakan lecet pada tubuh.


Kesepuluh tawanan mengangkat tangan ke depan mata mereka setelah cahaya putih yang sangat menyilaukan mengenai mereka. Cahaya itu berjumlah tiga, dan terlihat ada tiga orang yang 'mengendalikan' cahaya putih yang sangat terang itu.


Lalu, terlihat dengan jelas Nio, Ika, dan Arif yang memegangi senter untuk menerangi jalan Edera dan Hevaz agar tidak tersandung sesuatu yang menyebabkan makanan untuk para tawanan tumpah.


Ya… mereka memberi para tawanan sebuah ayam ‘purba’ bakar yang berukuran paling kecil, lengkap dengan sambal dan nasinya.


“Ini untuk kalian, makanlah. Aku tidak ingin kalian pingsan saat dikirim ke kamp tawanan.”


Edera dan Hevaz meletakkan tempat makan yang berisi ayam ‘purba’ bakar, nasi, dan sambal ke depan para tawanan.


Seketika mata mereka berkaca-kaca setelah melihat adanya makanan yang berjumlah cukup banyak menurut mereka.


Nio bisa membayangkan reaksi kesepuluh tawanan ketika merasakan sambal saat makan. Yah… bisa dibilang memberi para tawanan sambal adalah ide konyol dari pemuda itu, meski beberapa anggota perempuan sempat mencegahnya namun anggota laki-laki mendukung kejahilan Nio tersebut.


Tanpa mencuci tangan atau semacamnya, kesepuluh tawanan langsung memakan bersama ayam bakar, namun mereka sempat ragu jika makanan berwarna putih (nasi) dan merah (sambal) tersebut bisa dimakan. Setelah Nio mengatakan jika kedua makanan itu dapat menghasilkan rasa kenyang yang sangat lama, mereka langsung melahapnya bersama ayam bakar. Dan yang ditunggu-tunggu Nio dan anggota laki-laki tiba.


Nio dan Arif menahan tawa ketika melihat reaksi mereka yang seperti kontingen Korea Utara itu merasakan sambal. Sementara Ika, dia hanya melihat dengan tatapan datar kedua pria yang lebih pendek darinya itu hampir tertawa. Namun, para pria di belakang terdengar tertawa lepas setelah para tawanan memakan sambal hingga terlihat sangat tersiksa.


Menjadi tawanan berkemungkinan besar menjadi bahan tertawaan dan mainan pihak yang menawan, dan tawanan yang ditawan Tim Ke-12 sangat sabar menghadapi itu karena mereka tetap diberi makan dan tidak disiksa sedikitpun… meski rasa pedas dari sambal yang mereka makan mendekati siksaan.


Ratna hanya menatap datar Nio dan para pria yang tertawa melihat reaksi para tawanan ketika memakan sambal buatannya.


“Bukannya kalian juga bereaksi sama seperti mereka setelah memakan sambal buatan ku?”

__ADS_1


Ga Eun, Ae Ri, dan kontingen Korea Utara lainnya seketika berhenti tertawa, dan meminta maaf kepada Ratna dan orang yang mereka tertawakan. Sementara Zefanya hanya tersenyum melihat perilaku Nio yang seperti remaja biasa yang dipenuhi dengan kejahilan.


__ADS_2