
Mobil yang Nio kendarai berhenti di tempat parkir kosong yang berada di hotel yang seharusnya dia tempati semalam. Hotel ini berada di dalam wilayah Area Terlarang, dan khusus dihuni oleh prajurit Pasukan Ekspedisi. Ada beberapa hotel di luar wilayah Kota Karanganyar yang digunakan sebagai tempat tinggal sementara prajurit sebelum pulang ke kampung halaman.
Lalu, setelah beberapa langkah berjalan di halaman parkir, Nio dihadang oleh dua prajurit. Kedua prajurit yang sama-sama berpangkat Prajurit Dua adalah anggota baru Garnisun Karanganyar, dan beberapa anggota bertugas menjaga hotel atau penginapan yang dihuni prajurit Pasukan Ekspedisi atau para tamu dari dunia lain.
Mereka berdua memberi hormat sesuai protokol kepada Nio, dan dia merasa baru pertama kali melihat kedua prajurit tersebut.
“Apa Anda Letnan Nio Candranala?”
“Ya, itu aku.”
Kedua prajurit Komando Pasukan Utama itu tersenyum, dan terlihat merasa lega setelah bertemu dengan Nio. Pemuda itu merasa jika kedua prajurit tersebut memiliki aura kuat meski baru berusia 18 tahun, seperti orang yang belum lama menyelesaikan pelatihan neraka ala Kopassus. Orang-orang lain bisa menggambarkan prajurit pasukan khusus sebagai tekanan, tapi bagi sesama prajurit TNI, Nio tatapan kedua prajurit di depannya lebih mirip tatapan tajam.
“Anda telah ditunggu orang yang bernama Sigiz, Edera, dan…”
Salah satu prajurit terlihat kebingungan saat akan melanjutkan perkataannya, temannya juga terlihat hanya menggelengkan kepalanya saat ditanya nama-nama lain dari orang yang mencari Nio.
Nio menyadari jika mereka tidak ingat dengan nama gadis-gadis dunia lain. Nio kemudian tersenyum, tapi kedua prajurit muda tersebut justru mundur satu langkah ke belakang. Mereka merasa jika tekanan orang yang pernah berjuang di dunia lain sangat besar, hampir sama dengan anggota pasukan khusus.
“Apa ada beberapa perempuan dunia lain yang mencari ku?”
“Ah… ya, itu maksud saya.”
Dan setelah ini, ada 5 gadis berlari ke arah Nio dan kedua prajurit berada. Itu membuat mereka berdua hanya terdiam setelah melihat para gadis dunia lain, sementara Nio hanya menghela napas dalam-dalam.
Bertemu gadis-gadis dunia lain bukanlah rencana Nio setelah tiba di hotel, dia lebih memilih tidur dan mempersiapkan diri untuk menjadi ajudan Presiden jam 1 siang nanti daripada bertemu dengan mereka.
Lux berlari melewati Nio, dan melompat dari belakang kemudian bergelantungan di punggung Nio dengan tangan yang dilingkarkan di lehernya.
Dan tepat setelah melihat ini, kedua prajurit di depan Nio berkata:
“Ehhhhhhhh~~~!!!”
Teriakan putus asa yang melengking dari kedua prajurit, yang terdengar hampir mirip dengan laki-laki yang ditinggalkan oleh kekasihnya.
Kemudian, dua prajurit lainnya yang berpangkat sama dengan mereka berdua menarik dan menjauhi Nio dan gadis-gadis dunia lain. Jika dilihat lebih dekat, mereka berdua terlihat hampir menangis setelah melihat Nio yang didekati gadis-gadis cantik dengan bentuk tubuh sempurna.
Itu adalah hal yang berlebihan jika sedang merasa iri dengan seseorang, tapi yang terjadi dengan kedua prajurit bukanlah kebohongan. Bagi kebanyakan laki-laki, dikelilingi banyak perempuan adalah sebuah impian.
“Apa yang kalian lakukan di depan Letnan Nio? Apa kalian tidak tahu, dia adalah anggota pasukan khusus yang berhasil membunuh komandan musuh.”
Salah satu teman kedua prajurit yang telah putus asa berkata seperti itu, dan membuat mereka berdua semakin putus asa dengan fakta yang disebutkan.
“Tidaaaaaaaak~~~!!!”
Wajah mereka kini nampak pucat, dan itu adalah kebenaran yang berlebihan. Melihat anggota pasukan khusus yang dikelilingi banyak perempuan, itu membuat mereka berdua ingin mengutuk dunia ini dan meneriakkan kemarahannya terhadap orang-orang yang mereka temui.
Nio hanya berdiri mematung melihat tingkah kedua prajurit tersebut, dan suara tawa terdengar, dan dari jendela hotel terlihat prajurit-prajurit yang tertawa saat melihat rekan-rekan mereka berdua berlari mengejar sambil meneriakkan kata-kata supaya mereka berdua mengerti, lalu menghibur mereka berdua seperti korban kekerasan seksual.
Nio merasa jika pemandangan seperti ini pernah terjadi sebelumnya, ketika dirinya bersama Liben dan Chandra mengawal para gadis-gadis dunia lain yang untuk pertama kalinya mengunjungi Indonesia beberapa bulan lalu. Tidak hanya Nio, Liben juga mengingat kenangan bersama Chandra tersebut, dan tertawa setelah teman-teman kedua prajurit hampir putus asa menenangkan mereka berdua yang telah memancarkan aura kesuraman.
Reaksi mereka berdua yang sangat berlebihan itu adalah masalah tersendiri bagi Nio. Ada beberapa orang yang mengarahkan pandangannya pada Nio, dan tatapan itu terasa seperti Nio telah melakukan kekerasan terhadap yang mengakibatkan luka mental bagi kedua prajurit tersebut.
“Ayo kita pergi, Tuan Nio.”
Permintaan itu datang dari Sigiz yang mengenakan pakaian yang biasa gadis itu kenakan ketika pergi ke suatu acara resmi kerajaan.
"Pergi? Kemana?"
“Berkeliling kota kelahiran anda hingga waktu untuk pertemuan tiba.”
Awalnya, Nio ingin menerima ajakan mereka berdua, tapi dia merasakan ada aura membunuh yang sangat kuat dari belakangnya.
“Kakak, apa kau dan kak Lisa mau menemani mereka berkeliling Karanganyar. Aku masih harus mempersiapkan yang diperlukan untuk pertemuan nanti.”
Tanpa pikir panjang, Nio bisa menebak jika orang yang memancarkan aura membunuh dari belakangnya adalah Arunika. Lalu, ada Lisa yang hanya ingin menemui Nio dan berharap bisa menghabiskan satu hari saja bersama pemuda itu. Tapi, sepertinya rencana mereka berdua untuk menghabiskan hari ini bersama Nio tertunda, dan harus menemani gadis-gadis dunia lain untuk berkeliling kota ini.
Mereka berdua tidak mengira sebelumnya jika hari ini Nio akan mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan gajinya. Pekerjaan yang berhubungan dengan masa depan hubungan Indonesia dengan Arevelk dan Yekirnovo adalah hal yang sulit dan rumit, mengingat pandangan politik dunia lain cukup berbeda dengan dunia ini.
Lalu, keberadaan para gadis dunia lain adalah tantangan tersendiri bagi Arunika. Dia hanya khawatir dengan Nio jika dia melupakan jawaban yang telah gadis ini tunggu-tunggu. Bagi Lisa, mungkin dia memandang Nio sama seperti Arunika, dia tidak memandang Nio hanya sebatas adik sahabatnya. Lalu, prioritas Nio terhadap pekerjaannya terlalu besar, sehingga waktu bersama hanya sedikit. Tapi itu adalah resiko terhadap pilihan Nio menjadi seorang prajurit, dia dan orang terdekat Nio harus siap untuk tidak bertemu dalam waktu lama, dengan resiko pekerjaan yang sangat besar.
Arunika dan Lisa cukup mengerti alasan Nio meminta mereka untuk menemani gadis-gadis dunia lain itu berkeliling kota ini. Lagipula, setelah hari ini masih ada hari esok hingga tiba saatnya Nio kembali ke pekerjaannya.
Tapi, bagaimanapun kehadiran mereka di Indonesia pada saat ini akan menyebabkan banyak masalah jika tanpa pengawalan militer atau polisi. Dan alasan mereka mengajak Nio adalah dia seorang prajurit yang bisa diandalkan untuk sekedar mengawal beberapa gadis.
Sigiz dan Sheyn adalah pemimpin negara yang harus mendapatkan keamanan tingkat tinggi, dan Indonesia akan mendapatkan masalah yang besar dan rumit jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada mereka berdua. Lalu, jika mereka berdua memilih dikawal ratusan prajurit kavaleri yang dibawa ke Indonesia, itu justru hanya akan membuat kehebohan. Lux, Edera, dan Zariv bisa dikatakan mampu untuk menjadi pengawal mereka berdua, namun status mereka di Indoensia adalah VVIP, dan keamanan mereka tetap diprioritaskan.
Mengawal tamu resmi bukanlah tugas yang sepele, bahkan ketika memikirkan hal itu membuat Nio ingin melarikan diri saja. Jika mau, dia akan bersembunyi di tempat yang paling sulit membuatnya ditemukan. Namun, tugas besar pada hari ini membuatnya tidak bisa melakukan hal itu, dan dia tidak bisa keluar dari Area Terlarang tanpa tujuan yang jelas.
__ADS_1
Lalu, bisa saja ada beberapa negara yang mengirimkan orang-orang mereka, dan sedang berkeliaran di sekitar wilayah Kota Karanganyar, atau bahkan ada di sekitar Area Terlarang. Bisa saja tugas orang-orang kiriman negara luar adalah untuk mengambil secara paksa beberapa tamu dari dunia lain, dan itu adalah hal yang harus dicegah pemerintah bersama militer bagaimanpun caranya.
“Bagaimana kalau kita kembali ke tempat masing-masing…”
Seluruh gadis menerima ajakan Nio dengan terpaksa, selama ajakan Nio membuat mereka tak jauh lagi dari pemuda tersebut. Lagipula, tempat menginap para gadis dunia lain tak jauh dari hotel yang ditempat Nio.
Nio berjalan di belakang para gadis, sambil tidak menghiraukan tatapan iri beberapa prajurit laki-laki dan staf hotel.
Arunika menoleh kebelakang untuk memastikan jika Nio masih ada di dekatnya, lalu sedikit memperlambat jalannya agar bisa berjalan di sampingnya. Nio melihat ke arah sampingnya, dimana Arunika berjalan di sampingnya dengan wajah yang nampak senang meski tidak terlalu diperlihatkan. Dia sendiri sangat senang ketika akhirnya memiliki waktu bersama kakaknya, meski waktu tersebut terbatas.
Lalu, Nio tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membiarkan para gadis terus berjalan sambil membicarakan sebuah topik. Arunika yang ada di samping Nio juga menghentikan langkahnya, dan menatap wajah Nio yang terlihat mewaspadai sesuatu dengan kebingungan.
Lalu, Arunika melihat ke arah yang sama dengan Nio, yaitu ke salah satu tiang listrik yang ada di depan hotel. Dia hanya melihat beberapa bulu berwarna putih dan burung dara terbang di sekitar kabel yang disangga tiang tersebut.
“Ada apa?”
Seketika, setelah Arunika bertanya seperti itu, hal yang dilihat Nio menghilang.
Sebelumnya, ada sesosok orang yang belum diketahui kelaminnya duduk di barisan kabel. Dengan dua buah sayap di punggungnya, mungkin itu yang menyebabkan orang itu bisa seimbang di atas sana. Tapi yang menjadi pertanyaannya, mengapa orang itu bisa bertahan sambil duduk beberapa saat di barisan kabel listrik bertegangan tinggi tersebut?
Nio yang menyadari jika ini adalah salah satu fenomena fantasi tak mau banyak berpikir, dan menganggap jika orang yang bertengger di kabel tersebut adalah salah satu pengawal tamu dari dunia lain. Yah… karena Nio juga telah melihat banyak hal tak masuk akal yang hanya ada di novel fantasi, jadi menanggap pemandangan orang yang duduk di kabel milik PLN tersebut bagian dari hal tak masuk akal tersebut.
Nio menyadari jika kakaknya tidak akan percaya jika dia melihat seseorang yang duduk di kabel listrik tersenyum dan menjawab pertanyaan gadis itu, “Tidak… semoga pertemuan nanti berakhir baik seperti cuaca hari ini yang sangat cerah.”
**
Sebelumnya, Nio meninggalkan para gadis di ruang makan hotel yang berada di lantai paling bawah hotel ini agar mereka makan siang. Meski itu membuat mereka kesal karena Nio tidak ikut makan siang bersama mereka, tapi janjinya yang akan menyusul mereka setelah melakukan suatu hal membuat mereka sedikit tenang.
Nio berjalan di lorong ruangan hotel, mencari nomor kamarnya… bersama Arunika yang memasang wajah kebingungan. Ada beberapa orang yang memandang Nio dengan tatapan curiga, tapi beberapa dari mereka memandang Nio dengan biasa karena sebelumnya telah melihat seorang prajurit yang juga membawa seorang perempuan ke kamarnya.
Ketika Nio masih bersabar untuk menemukan nomor kamarnya, Liben yang berjalan bersama Ivy menyapanya dan membuat berhenti untuk menjawab sapaannya.
Nio yang melihat Liben menggandeng tangan Ivy melihat pemuda itu dengan tatapan curiga. Sementara itu, Arunika hanya berpikir dengan tindakan yang akan Nio lakukan terhadapnya di kamar hotel nanti.
“Kalian… tidak akan melakukan apa-apa kan?”
Perkataan Nio benar-benar terdengar mencurigai Liben jika dia melakukan sesuatu seperti sebelumnya.
Sebelumnya, jika Chandra tidak melaporkan perbuatan Liben terhadap Ivy ke Nio, pasti pemuda itu harus bertanggung jawab dan pernikahan mereka berdua berlangsung lebih cepat dari rencana awal.
Ivy mencoba membela Liben, dan menjadikan seorang perempuan di belakang Nio sebagai alasan seperti itu.
“Dia kakakku, aku hanya ingin bicara dengannya.”
Nio menjawab pertanyaan Ivy dengan tenang, tapi dia melihat pandangan mata Liben yang terus melihat kakaknya sejak mereka bertemu di koridor hotel.
“Kau sudah punya Ivy, jadi kakakku jangan kau embat juga.”
Nio kemudian melewati Liben dan Ivy, dan beberapa saat kemudian menemukan nomor kamarnya.
Sementara itu, setelah mendengar ucapan dari Nio, Ivy memberikan tatapan tajam kepada Liben. Pemuda itu merasa jika minta maaf saja pasti tidak akan cukup, dan memilih diam ketika Ivy mulai dengan omelannya.
Suara orang-orang yang terdengar tidak menyukai Nio yang membawa masuk seorang perempuan ke dalam kamar hotel terdengar saling bersahutan. Hal itu membuat Nio ingin berteriak sekeras-kerasnya jika perempuan yang dia bawa adalah kakaknya, dan bukanlah perempuan yang bisa disewa dalam jangka waktu tertentu. Situasi semakin buruk ketika Nio mengunci pintu kamar, dan membuat beberapa orang membicarakannya.
Situasi ini membuat Arunika merasa jika Nio akan melakukan hal yang ada dipikirannya. Dia bahkan bisa membayangkan jika Nio telah membeli alat pengaman ketika mereka berdua akan melakukan hal itu. Jika hal itu terjadi, dia tidak bisa melakukan apa-apa dan tetap bertahan dengan situasi.
Arunika tidak keberatan jika pria pertamanya adalah Nio, tapi perasaan itu juga terasa sedikit aneh jika mereka berdua benar-benar melakukannya, apalagi di tengah kamar-kamar hotel yang diisi prajurit bujangan.
Ruangan kamar yang hanya diterangi oleh cahaya matahari yang keluar dari jendela yang dihalangi gorden, jadi suasana yang remang-remang membuat bayangan Arunika semakin liar.
Beberapa saat kemudian, Nio keluar dari ruangan kecil yang disebut ruang ganti. Dia hanya mengenakan celana seragam harian dan kaos polos berwarna abu-abu. Pakaian yang dikenakan Nio sama sekali tidak identik dengan hal yang dibayangkan Arunika, dia bahkan tidak melihat Nio ganti pakaian.
Yah… pikiran Arunika tentang apa yang akan dilakukan Nio padanya hanyalah imajinasi berbahayanya. Jika Nio bisa menebak apa yang dipikirkan olehnya, hubungannya dengannya pasti akan berantakan.
Nio kemudian berdiri sangat dekat dengan tubuhnya, hingga dia bisa melihat setiap bekas luka di kulit Nio. Kulit pemuda itu kasar dan tidak terawat, sementara rambut ikalnya berantakan seperti biasanya. Pemuda itu memiliki mata panda, tubuh tinggi dengan otot yang bisa terus tumbuh dengan kulit yang semakin gelap dari terakhir mereka bertemu. Meski begitu, Arunika masih merasa jika kulit Nio masih lebih cerah dari prajurit asal Papua yang berpapasan dengannya tadi. Tapi, Nio masih lebih pendek dari prajurit-prajurit laki-laki lainnya. Tapi, dia sudah tumbuh jauh lebih tinggi dari sebelum menjadi prajurit Tentara Pelajar.
Arunika yang telah lebih dari 10 tahun bersama Nio merasa jika aroma tubuhnya masih sama saja, dan itulah yang paling membuat jantungnya terpacu dengan cepat.
Beberapa bekas luka sayatan benda tajam di tangan kiri Nio adalah bukti jika dia sungguh-sungguh dalam melaksanakan tujuannya melindungi Arunika. Gadis itu berpikir akan membiarkan Nio melakukan apa saja terhadapnya sebagai bayaran telah dengan keras melindunginya, bahkan itu hal yang terlarang dalam hubungan saudara mereka.
“Ya.”
Dan itulah kata pertama yang diucapkan Nio sejak masuk ke dalam kamar hotel bersama kakaknya. Tapi, untuk mengatakan hal itu membutuhkan waktu yang lama bagi Nio untuk mengumpulkan keberaniannya.
Dia masih ingat dengan pernyataan perasaan Arunika ketika dirinya menjadi anggota Pasukan Ekspedisi dan akan segera dikirimkan ke dunia lain. Nio kesal dengan pikirannya yang hanya terus teringat dengan perkataan kakaknya, namun akhirnya dia memiliki hubungan dengan Indah.
Namun, situasi yang tidak menguntungkan mengacaukan hubungan Nio dengan Indah, dimana mereka berdua berada dalam kubu yang saling bemusuhan, dan membuat mereka tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama. Nio tidak yakin jika hubungannya dengan Indah akan terus berlanjut jika perang masih terjadi hingga waktu yang belum diperkirakan. Lalu, pasti ada beberapa orang di Aliansi yang tertarik dengan Indah, dan membuat Nio tidak bisa merebutnya kembali.
__ADS_1
Hubungannya bersama Indah membuat Nio sedikit melupakan pernyataan perasaan kakaknya sebelumnya, dan ketika teringat dengan hal itu Nio berpikir dia sudah mengkhianati Arunika.
Nio baru mengenal Arunika ketika dia masih berusia 6 tahun, tepatnya setelah ayahnya menikah dengan ibu kakaknya. Waktu itu, dia masih anak kecil yang belum tahu apa-apa selain jajan dan berkelahi. Nio menganggap jika Arunika adalah kakak kandungnya hingga dia berusia 19 tahun, namun tidak dengan gadis itu.
Ayah dan ibu tiri Nio menulis sebuah rahasia, dan mereka berikan Arunika yang waktu itu telah berusia 16 tahun. Mereka berdua merasa jika Arunika telah mampu untuk bisa menyimpan rahasia besar ini. Dimana dia harus memberi tahu rahasia jika Arunika bukan kakak kandungnya ketika Nio telah berusia 20 tahun. Lalu, rahasia tersebut justru terbongkar sebelum waktunya tiba karena Arunika khawatir jika Nio memiliki perempuan lain.
Lalu, besok adalah tanggal 4 Juni dan pada hari itu Nio akan berusia 20 tahun. Dia tahu Arunika adalah kakak yang baik, dan paham akan situasi sulit setelah kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakan kerja.
Pada saat Nio mendengar jika dia dan Arunika bukanlah saudara kandung, ditambah gadis itu menyatakan perasaannya padanya, saat itulah Nio menyadari kekuatan seorang perempuan yang bisa menyimpan rahasia besar selama itu, dan jarang ada perempuan seperti itu.
Meski ini bukanlah waktu yang tepat, tapi Nio telah menjawab pernyataan perasaan Arunika.
Mereka berdua berada dalam keheningan dan ruangan yang remang-remang, dan Nio merasa situasi ini tidak nyaman. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada saat dia bertarung di perang sebelumnya, padalah di depannya hanyalah seorang Arunika.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Nggak jelas banget sih…”
Nio merasa sudah jelas jika yang dikatakan adalah yang sama sekali tidak jelas apa subjek dan keterangannya.
“A-aku hanya menjawab pernyataan perasaan yang kakak dulu katakan.”
Seketika Arunika berdiri mematung, dan wajahnya sedikit memerah meski hatinya merasa senang setelah mengetahui Nio tidak melupakan perkataannya.
Bagaimanapun ini bukan salah Arunika telah mengatakan rahasia yang dibuat orang tua mereka, karena dia hanya khawatir jika tidak bisa mengatakan hal itu lagi jika hal buruk menimpa Nio selama dia bertugas di dunia lain.
“Aku jadi bingung mau memanggilmu apa…”
Perkataan Arunika itu sudah dengan jelas menandakan kalau mereka sama-sama menerima satu sama lain. Kebingungan Arunika bisa dimaklumi karena umur mereka yang terpaut 6 tahun. Jika si laki-laki yang lebih tua dari si perempuan, dia bisa memanggilnya dengan panggilan ‘Dek’ sementara si perempuan bisa memanggilnya dengan ‘Mas’ di depan namanya. Mendengar Arunika yang ingin memanggilnya dengan panggilan seperti itu membuat Nio menahan tawa.
Lalu, Nio merasa jika mereka berdua telah terlalu lama di kamar, dan dia melihat waktu di jam tangannya. Mata Nio melebar setelah melihat waktu yang ditunjukkan jam tangan yang dia dapatkan setelah resmi menjadi prajurit Tentara Pelajar.
Padahal ada pertemuan penting yang harus Nio hadiri sebagai ajudan dan perwakilan Tentara Pelajar, tapi dia justru kebingungan dengan panggilan yang dimaksud Arunika.
“Sial, aku terlambat.”
Meskipun alasan Nio adalah fakta, ada perasaan bahwa itu mengorbankan sesuatu yang penting. Sebagai kaum muda, mereka ingin melakukan hal selayaknya sepasang kekasih, dan Nio bukanlah seorang pecandu kerja. Lalu, Nio menyingkirkan pikiran kotornya, atau akan ada kasus kejahatan seksual yang menyeret dirinya, dan yang menjadi korbannya kakaknya sendiri yang kini menjadi pacarnya.
Namun, jika dia tidak datang ke pertemuan sekarang, mungkin dia akan dipecat dari pekerjaannya dan kembali ke kehidupan yang suram.
**
Sementara itu di luar kamar yang di dalamnya terdapat Nio dan Arunika…
Orang-orang yang berjalan di koridor hotel memandang heran 6 orang perempuan yang berdiri di dekat pintu kamar yang dihuni Nio, dengan tambahan seorang perempuan. Untungnya, tak banyak orang yang mengetahui jika Nio membawa seorang perempuan ke kamarnya. Dan yang paling penting, Liben dan Ivy tidak mengatakan apapun mengenai hal itu, atau mereka ikut terseret.
Tampaknya keenam gadis tidak peduli dengan orang-orang yang memandang mereka sama seperti melihat pengintip. Bahkan staf hotel yang bertugas memantau keamanan koridor tempat kamar Nio berada melalui kamera pengawas hanya menggelengkan kepala sambil memanggil petugas keamanan. Namun, seluruh petugas keamanan yang akan segera menindak tindakan keenam gadis tersebut justru dihalangi beberapa prajurit pengawal Sigiz dan Sheyn yang mengenakan zirah logam lengkap di dalam hotel.
Jumlah prajurit pengawal di dalam hotel sekitar 60 orang, dan mereka ditugaskan untuk mengatasi petugas keamanan yang mungkin saja akan mengusir keenam gadis tersebut menguping. Tentu saja pemandangan prajurit dunia lain di dalam hotel adalah hal yang membingungkan, dan beberapa orang mengambil foto mereka dengan iseng.
Orang-orang yang melihat 5 gadis dunia lain dengan tambahan Lisa bertanya-tanya, “Apa mereka benar-benar ratu dan pengawalnya?”, “Apa yang mereka lakukan di sini? Menguping?”, “Bukannya mereka gadis-gadis yang dekat dengan Letnan Nio?”
Mendengar perkataan yang terakhir, Lisa justru terlihat khawatir. Bahkan dirinya lebih khawatir adanya perempuan dari dunia lain daripada Arunika yang telah menjadi pacar Nio. Sejauh ini, dia menerima apapun mengenai Nio selama pemuda itu tetap memperhatikannya.
Kabar baiknya, tidak ada perdebatan antara keenam gadis tersebut setelah Nio dan Arunika menjadi sepasang kekasih. Tapi, mereka malah terlihat sebaliknya, dimana Sigiz dan Zariv yang tersenyum bahagia, Shyen dan Lux yang tersenyum seperlunya dan hampir mendekati senyuman kecil, sedangkan Edera dan Lisa tidak tahu harus tersenyum seperti mereka atau bersorak.
Jika Nio mengetahui aksi keenam gadis tersebut, akan sulit mengatakan, “Mereka adalah sudara saya” atau “Mereka teman saya”. Mungkin Nio bisa mencoba pilihan lain, contohnya, “Mereka semua adalah pacarku”, tapi setelah itu dia akan segera menerima panggilan pengadilan militer.
Mengajari orang-orang dari dunia lain tentang cara-cara dan kebiasaan-kebiasaan dunia ini, khususnya Indonesia, tampaknya seperti tugas berat. Tetapi, sebagai remaja laki-laki biasa, dia tentu saja memiliki imajinasi dimana dia memiliki banyak wanita cantik bertubuh bagus.
“Aku senang Tuan Nio dan kakaknya resmi menjadi sepasang kekasih…”
Sigiz mengatakan itu dengan wajah yang nampak bahagia, dan ekspresi yang hampir serupa juga diperlihatkan Zariv.
“Yang Mulia, kenapa anda bahagia Nio dan kakaknya menjadi kekasih? Bukankah itu hal yang dilarang?”
Lisa yang tidak tahu bahasa yang mereka gunakan hanya bisa diam saja, lalu Sigiz meminta Lisa untuk menjawab pertanyaannya. Dia terkejut ketika yang ditanyakan Sigiz adalah hubungan saudara Nio dan Arunika.
“Ya… mereka berdua memang bukan saudara sedarah…”
Hati Lux terasa terguncang setelah mendengar pernyataan Lisa yang diterjemahkan Sigiz.
“Lalu, kenapa Anda terlihat bahagia, Yang Mulia?”
“Karena aku akan menjadi istri kedua Tuan Nio, atau menjadi selirnya saja sudah cukup. Ah~ membayangkannya saja sudah membuatku tidak sabar…”
Mendengar perkataan Sigiz yang terdengar seperti orang gangguan jiwa, Lisa berdiri mematung dengan tatapan kosong dan wajah pucat. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sigiz yang terdengar seperti ambisi terbesar gadis itu untuk menjadi istri kedua atau selir Nio.
Lisa tidak ingin mengatakan sesuatu yang mungkin membuat kesal kesenangan orang lain, juga dia tidak berbohong mengenai perasaannya dengan Nio, dan dengan demikian dia memilih jalur netral daripada mengambil jalur agresif seperti Sigiz dan gadis-gadis dunia lain itu.
__ADS_1