Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: kepastian


__ADS_3

Hari kedua liburan yang damai, katanya.


...


Dua minggu sebelum awal bulan.


Bahkan dibanding dengan perang melawan bangsa Dunia Lain yang mengurangi populasi manusia di seluruh dunia, perubahan iklim masih salah satu dari sekian banyak masalah serius yang dihadapi bumi tercinta ini.


Sejak perang dimulai, penggunaan senjata yang mengeluarkan panas dilakukan oleh negara kuat. Tanah Beku Abadi (Antartika) yang katanya tidak akan mencair hingga seratus tahun ke depan, sekarang kehilangan 5 persen permukaan es-nya. Karena lelehan es yang menutupi Benua Antartika, Jakarta dan kota-kota pesisir Indonesia lainnya hampir tenggelam ‘lagi’ jika pemerintah 100 tahun lalu tidak membangun Benteng Laut. Hal itu diperparah industri dan pembangunan pasca perang yang tidak akan pernah usai, sehingga menaikkan tren pemanasan global. Media tentu saja hanya berisi informasi perang dan kejadiannya, seolah-olah bumi dapat pulih dengan sendirinya.


Umat manusia menyumbang sebagian dari karbondioksida, dan akan terus meningkat seiring peningkatan populasi mereka. Untuk semua orang yang tahu, tentu saja penyebab utama sebagian es di Antartika mencair dilakukan manusia.


Bahkan walau pulsa listrik di rumah Nike telah dibayar dan dapat bertahan hingga 3 bulan, pendingin udara di rumahnya ditambah sejumlah kipas angin yang dibawa dari rumah Nio tidak bisa berbuat apa-apa terhadap suhu tertinggi pada siang hari bulan Mei di Kota Karanganyar, sekitar 39 derajat celcius. Bangunan tinggi dengan dinding kaca memantulkan panas matahari ke rumah-rumah warga yang lebih rendah, menyebabkan masalah yang bernama ‘gerah’.


Setidaknya, rumah Nike masih cukup luas untuk menampung hingga 20 orang di dalamnya, walau hanya Nio satu-satunya laki-laki di antara banyak gadis di rumahnya. Nike tidak tahu kenapa Nio dan para gadis memilih rumahnya sebagai tempat bersenang-senang.


Nio duduk di bawah dengan bertel*anjang dada namun membelakangi para gadis, menyebabkan seluruh gadis ingin melihat seluruh tubuhnya. Dengan keringat mengucur, Nio berdiri di depan kipas angin untuk menyejukkan dirinya sendiri.


Para gadis dunia lain berbaring di lantai ruang tamu yang sejuk, sedangkan Tania dan Nike sedang mempersiapkan makan siang. Zefanya mengurung diri di dalam lemari es untuk menghindari udara panas memanggang tubuh manusia dari tanah beku-nya.


Setidaknya, tidak ada tetangga yang terganggu adanya tamu dari dunia lain dengan Nio satu-satunya pria dalam kelompok tersebut.


Di depan pintu masuk rumah, Nio berdiri di sana dengan tubuh bagian atas tidak ditutupi apapun, menyebabkan seluruh gadis tidak dapat berkedip walau terdapat banyak kekurangan pada fisik laki-laki tersebut. Di ruang tamu, semua kursi sudah dipindahkan dan diganti tikar dengan meja di tempatkan di tengah. Mereka semua bermaksud makan siang bersama, mengobrol santai, meskipun alasan sebenarnya semua orang akan duduk di lantai adalah Nike tidak memiliki cukup kursi untuk semua tamunya.


Arunika belum pulang dari ‘kencan’, dan Nio akan menerima tamu dari tim Sonia yang akan meminta bantuannya tentang beberapa hal. Sonia dan timnya memilih mencari hotel murah untuk menginap selama mengumpulkan informasi dari beberapa kasus penting yang akan mereka pecahkan dengan bantuan Nio.


Nio tanpa mengenakan bajunya berjalan ke dapur, disaksikan Tania dan Nike yang mengenakan celemek saat memasak. Yang dimasak kedua gadis mengeluarkan aroma pedas dan asin dari beberapa lauk yang mereka masak, dan uap yang menyebar menyapu wajah Nio. Aroma masakan rumah cukup membuat Nio kelaparan. Ransum yang hampir kedaluwarsa tidak sebanding dengan makanan layak yang dibuat dua gadis cantik.


Membuka lemari es yang satunya – karena Zefanya menggunakan salah satu dari dua lemari es untuk bertahan hidup – Nio mengeluarkan ekspresi prihatin.


Nio berbicara dengan Nike dan bertanya dengan bingung, “Nike… apa kamu tidak pernah belanja?”


Nike mendekati Nio yang masih menatap lemari es berisi dua buah mi instan varian goreng, lalu tiba-tiba menutup paksa pintu lemari es yang membuat Nio penasaran.


“A-aku tidak pernah belanja? Bukannya di lemari es ada mi instan, daun pepaya, dan pepaya muda?” jawab Nike dengan senyum dipaksakan.


“Bukan itu yang ku maksud… maksudku, ini semua yang kamu miliki selama dua minggu sebelum hari gajian?”


“Kamu juga belum membayar beberapa tagihan, bahkan tidak ada air keran yang keluar untuk diminum.”


Wajah Tania menegang setelah mendengar pengakuan Nio yang membuat Nike hanya bisa menunduk.


“Apa kamu kekurangan uang? Katakan padaku, aku bisa membantumu,” kata Nio.


“Ya, sangat parah. Tapi, aku malu…” jawab Nike dengan lirih, berharap Nio tidak terlalu mendengar apa yang dia katakan.


“Kalau kondisinya seperti ini, kenapa kamu tidak bilang padaku? Apa karena malu itu?” sambung Tania.


Nike menanggapinya dengan anggukan tanpa ekspresi sedih, justru Tania yang merasa seperti itu.


“Kalau tidak ada uang, apa yang akan kau masak besok?” tanya Nio.


“Mi instan, tumis daun pepaya dan pepaya muda.”


“Besoknya lagi?”


“Mi instan.”


“Hari berikutnya?”


“Nasi dan garam…”


“Hari berikutnya lagi?”


“Tetap nasi dan garam…”


Nio merasa bahwa Nike tidak berani melakukan apa yang harus dia lakukan untuk keluar dari akhir bulan yang menyiksa, meminjam uang pada Tania atau Arunika misalnya.


Kondisi Nike menciptakan suasana hati Nio, yang membuatnya merasa lega telah membeli sejumlah bahan makanan untuk beberapa hari dalam jumlah banyak karena kedatangan tamu-tamu dari dunia lain dan Rusia.


“Apa yang bisa kulakukan, ada nasi saja sudah cukup bagiku. Upah harian dari kerja paruh waktu di minimarket dan gaji bulanan dari rumah penitipan anak tidak cukup untuk bulan ini. Aku juga punya uang simpanan, tapi hanya cukup untuk diriku sendiri dan bahkan merepotkanmu membayar semua tagihan yang belum dibayar. Aku tidak bermaksud merepotkanmu dengan masalahku, Nio.”


Nio membuat ekspresi tidak percaya bercampur sedih. Dia tentu tidak berharap gadis pemalu seperti Nike menghadapi situasi seperti ini sendirian. Namun, dia telah memutuskan untuk membantu Nike, dan akan membuatnya makan enak setiap hari dari uangnya bekerja di medan perang yang tidak enak.


Nio belum mendapatkan pesan dari perusahaan lelang. Dia sempat mengajukan salah satu dari dua puluh Valiki miliknya untuk dilelang. Dia menyarankan penawaran pertama sebanyak 4 triliun rupiah, namun perusahaan lelang justru membuka tawaran di angka 7 triliun rupiah. Alasannya sudah jelas, karena mata uang Valiki dari Kerajaan Arevelk terdiri dari logam-logam mulia yang tidak dapat ditemukan di dunia ini, sehingga dianggap sebagai harta karun. Intinya, Nio masih mencari orang ‘super kaya’ yang mau mengeluarkan banyak uang untuk sebuah harta karun dari dunia lain.


Nike memiliki satu pekerjaan utama dan satu sampingan. Menjadi karyawan di rumah penitipan anak dengan upah 500.000 rupiah per bulan, dan paruh waktu di salah satu minimarket dengan upah harian 50.000 rupiah dalam dua hari kerja dalam satu minggu. Dia tidak mendapatkan uang dari setiap ilustrasi yang dibagikan melalui salah satu media sosial. Sebagian besar uang lenyap untuk membayar sebagian tagihan dan konsumsi sehari-hari.


Nike memutuskan menarik tangan Nio, hingga mereka berdua berdua di dalam gudang rumah sehingga tidak ada yang bisa mendengar obrolan atau segala sesuatu perbuatan yang mereka lakukan.


“Nio…” Nike berbicara, namun lebih mendekati pada bergumam. “Aku tidak berani mengatakan ini pada siapapun. Tapi, sebenarnya aku juga terpaksa mengatakannya. Seperti yang kamu katakan, ini akhir bulan yang tidak menyenangkan. Jadi… aku ingin meminjam uangmu…” Nike berkata seperti itu dengan wajah agak ketakutan, terbukti dari nada bicaranya yang bergetar.


“Hmmmm,” Nio bergumam, dan sudah jelas jawaban darinya.


Nio menjawab pernyataan Nike, dengan melihat seluruh lekuk tubuh kurus gadis di hadapannya, lalu berkata dengan senyum licik yang jahat, “Apa yang kamu gunakan untuk jaminan meminjam uang?”


“Eh…?”


Hanya melihat senyum Nio yang penuh makna tersembunyi, perasaan Nike berantakan. Dia memalingkan wajah, menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, dan mulai terisak.


Namun, Nio sama sekali tidak terlihat bersalah sudah membuat seorang gadis tak berdaya menangis, walau yang dia rasakan di hati berbanding terbalik. Nio sebenarnya tidak tega berbicara hingga mengakibatkan Nike kebingungan untuk menjawabnya.


“… Tu-tubuh…”


“Apa?” Nio ingin mendengar jawaban lebih jelas dari Nike.

__ADS_1


“Aku bilang jaminannya tubuhku! Aku tahu, harga ginjal, mata, paru-paru sangat mahal. Kamu bahkan bisa menjadikanku ‘barang’ untuk mendapatkan uang lebih banyak!”


“Eh, kok malah jadi gini?” ucap Nio di dalam hati ketika perasaannya sangat bersalah setelah mendengar Nike berkata seperti itu.


Apa baru saja gadis ini mengatakan akan menyerahkan tubuhnya untuk meminjam uang? Gumam Nio di dalam hati lagi. Dia tampak prihatin dan tidak enak pada Nike, lalu menepuk lembut bahu kiri gadis itu.


“Jadi… tentang meminjam uang…” Nio berbicara dengan malu-malu.


Nike menanggapi perkataan Nio dengan wajah memerah karena tangis dan malu, “Ya, aku hanya berani berkata seperti itu denganmu. Seperti yang kamu tahu, aku harus melakukan apa yang harus dilakukan demi bertahan hingga awal bulan. Jika garam di dapur dan beras habis, aku tidak punya apa-apa selain air keran di taman untuk diminum.”


Nio benar-benar sangat merasa bersalah membuat Nike menunjukkan ekspresi pasrah seperti itu. Keheningan tercipta di antara mereka ketika para gadis terdengar tertawa dan bercanda akibat ulah satu sama lain.


“Aku bercanda, tapi candaanku sangat berlebihan. Maaf.”


Nike memandang Nio dengan gugup, dan perlahan tenang seolah-olah dia bisa melihat ekspresi sebenarnya yang ditunjukkan Nio di balik maskernya.


“Aku akan memberimu. Kamu tidak perlu mengembalikan pinjaman dariku, tapi pastikan kamu memanfaatkannya dengan baik. Kalau bisa, kamu lakukan sesuatu dengan uang itu hingga jumlahnya lebih banyak dari pemberianku,” ucap Nio.


Lalu, dia mengelus rambut tak terawat Nike dan melanjutkan perkataannya, “Rasa lapar membuat orang melakukan hal tak terduga.”


Namun, beberapa saat dia mendengar Tania berteriak, “Nio, Arunika mencarimu…!”


Nio dan Nike keluar dari gudang bersamaan, dan disambut dengan tatapan misterius dari seluruh gadis. Mereka semua melihat Nike yang tampak baru saja menangis, dan mengarahkan lirikan tajam ke Nio yang membuat pria itu merasa bersalah.


Setiap kali laki-laki membawa perempuan ke tempat sepi, dan kembali dengan kondisi mencurigakan, sering kali orang-orang mulai menduga-duga yang tak jarang menyebarkan informasi palsu. Kasus terdekat adalah Nio dan Nike yang kembali dari gudang. Siapapun yang telah membuat gadis menangis karena melakukan hal tak hal terpuji, akan mendapatkan hukuman dari seluruh pihak.


Tatapan yang Nio terima dari Arunika kurang lebih sama seperti dia melihat Arunika berjalan dengan pria lain. Mereka berdua belum bertukar kata, namun perempuan itu melihat para gadis di rumah Nike dengan tatapan gelisah.


“Aku akan memberimu nanti. Sekarang, kamu ajak mereka belanja. Zefanya, mau sampai kapan kamu mengurung diri di lemari es?! Keluar, dan ikut mereka belanja!” Nio berkata seperti itu saat memberi kartu kreditnya, dan membuat Zefanya terpaksa keluar dari lemari es karena teriakannya.


Wajah Tania dan Nike berbinar, mereka bisa berbelanja untuk makan malam dan membelikan para gadis dari dunia lain barang-barang dunia ini menggunakan uang Nio, tanpa perlu mengembalikannya.


“Kami akan berbelanja seperlunya,” ucap Nike dengan wajah senang ketika dia memimpin para gadis keluar rumah dan menuju tempat belanja.


Suara bahagia para gadis saat mereka mendapatkan kesempatan berbelanja perlahan-lahan lenyap. Keheningan kali ini terjadi di antara Nio dan Arunika.


Helikopter serang yang sedang berpatroli, para ibu-ibu tetangga yang sedang menggosip, dan udara panas menambah suasana panas yang mengusik perasaan Nio. Setelah menutup pintu depan rumah Nike, Nio dan Arunika berjalan ke rumah mereka, dengan Nio berjalan di depan dan Arunika di belakang dengan suasana canggung.


Aroma rumah yang seharusnya menenangkan membuat Nio semakin panas selain akibat udara panas siang hari.


“Hanya ada kita sekarang…” ucap Arunika.


“Terus?” bertanya dengan tatapan mata dingin, sehingga Arunika ingin mengetahui ekspresi Nio sebenarnya di balik maskernya.


“Apa kamu menyuruh mereka berbelanja karena tahu aku ingin berbicara denganmu?” tanya Arunika.


“Ya, semacam itu.”


Arunika meletakkan tas jinjing miliknya ke atas meja, dan sedikit merapikan rambutnya. Dia melepas sepatu lalu meletakkan di rak yang disediakan, dan kembali berjalan ke sofa tempat Nio duduk sekarang dengan ekspresi yang dingin, sepertinya. Arunika sedikit sedih ketika dia duduk dan menatap wajah Nio.


“Dengar Nio… aku mendapatkan lamaran pernikahan.”


“Mari kita bahas hal lain dulu. Menurutmu, apa hubungan kita setelah kita saling menyatakan perasaan dan berciuman?”


Nio sedikit menundukkan kepalanya, dengan suasana hati sama sekali tidak tenang dengan perkataan Arunika. Walau gadis di sampingnya menunjukkan ekspresi tenang, Nio tahu hanya dengan gerak-geriknya Arunika juga merasakan hal yang sama dengannya.


“Kita sudah bukan lagi keluarga…” jawab Nio, namun dengan nada lirih yang sangat jauh berbeda ketika dia berhadapan dengan para bawahannya di medan perang.


“Menurutmu begitu? Tapi menurutku setelah kejadian itu, kamu tidak menjelaskan lebih lanjut tentang hubungan kita. Aku masih tidak tahu apa arti ciuman dan pernyataan perasaan, apakah itu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sedang jatuh cinta atau ungkapan kasih sayang keluarga.”


Nio membungkuk dengan tangan kiri menyangga tubuhnya, lalu tak lama kemudian menutupi wajahnya.


“Tolong, jangan buat aku patah hati,” Nio berkata dengan wajah masih ditutupi tangan kirinya.


“Maaf, tapi itu kenyataannya. Jika kamu menganggap hubungan kita sepasang kekasih, apa yang kamu lakukan kepadaku?”


Nio mengangkat suaranya, “Tapi aku memiliki tugas yang tidak mungkin ditinggalkan. Kau seharusnya juga tahu tugasku di sana. Aku tidak tahu yang ada di pikiranmu, tapi aku di sana benar-benar berjuang.”


Ucapan Nio terdengar penuh keluhan, dan perkataan dengan nada tinggi membuat Arunika agak gentar.


Arunika mengeratkan kepalan tangannya di atas lutut, dan wajah menunjukkan ekspresi sedih bercampur kesal.


“Terimakasih untuk itu. Tapi, aku juga butuh kepastian darimu. Bukan hanya kepastian tentang hubungan kita, aku juga memerlukan bukti kalau kamu masih hidup. Apa kau pikir hubungan bisa dilanjutkan hanya dengan satu orang?”


“Maaf, tapi aku juga tidak punya kesempatan berkirim surat.”


“Nio, aku tidak tahu apakah kamu di sana punya waktu istirahat atau tidak. Tapi, membiarkan orang menunggu dan berharap terlalu lama tidak baik. Sebenarnya, aku merasa takut jika di sana kamu bertemu banyak gadis yang lebih sempurna dariku. Apa kamu tidak punya waktu paling tidak satu bulan sekali mengirimkan bukti kalau kau masih ada, atau memberikan bukti kalau kau memiliki hubungan khusus denganku?”


“Tapi, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu berharap kamu memahami apa yang kulakukan di sana.”


Nio mengatakan apa yang ada dipikirannya, walau terkadang dia memikirkan pertempuran dan cara memenangkan pertempuran.


“Nio, bukan hanya kau yang berharap. Kau berharap aku memahami tugasmu di sana, tapi apa kau sendiri memahami kekhawatiranku? Aku tidak hanya mengkhawatirkanmu saat menghadapi pertempuran, tapi bagaimana dirimu saat dikelilingi banyak gadis dunia lain yang cantik.”


Arunika lalu mendekati Nio, hingga bahunya bersentuhan dengan lengan Nio lalu menggenggam tangan kiri Nio yang menyembunyikan wajahnya. Nio merasakan sentuhan lembut telapak tangan Arunika di tangannya yang kasar, namun suasana hati yang dia miliki jauh dari kata senang atau bahagia.


“Maaf, tapi kupikir tidak mungkin kita melanjutkan hubungan kalau kau sendiri tidak memahami perasaan si perempuan. Bukan berarti hubungan kita sebagai keluarga berakhir, jadi jangan khawatir kau akan sendirian. Lamaran itu dikatakan langsung oleh Darsono. Aku mengatakannya kalau aku belum siap menikah dalam waktu dekat, tapi dia sudah melakukan banyak hal untukku selama kamu tidak memberiku kepastian. Jadi, aku tidak bisa menolaknya begitu saja…”


Mendengar nama ‘Darsono’ disebutkan oleh perempuan yang masih dicintainya, Nio seolah-olah dipenuhi ingatan buruk masa lalu dan membuatnya tertunduk lemah. Darsono pernah menjadi komandannya, dan anak mantan Menteri Pertahanan sebelum Presiden Suroso memulai masa tugasnya. Dia sempat mengenal Darsono, namun sama sekali tidak memiliki kesan menyenangkan terhadap pria itu. Bahkan setelah dia kembali ke kotanya bersama unit baru, dia tidak pernah melupakan masalah yang dia lalui selama menjadi bawahan Darsono.


Namun, yang lebih penting adalah di atas kertas Darsono tetap anak mantan pejabat penting negara. Nio berpikir tidak mungkin akan menolak kesempatan semacam itu, daripada terus melanjutkan hubungan dengan tentara yang lebih sering bertugas di tempat sangat jauh tanpa memiliki waktu libur.


“Dan, ternyata keluarga kakekku menyetujui lamaran dari Darsono.”


“Tapi, kenapa sekarang?” Nio ingat jika Arunika tidak benar-benar yatim piatu seperti dirinya, sehingga tidak terkejut dengan pernyataan bahwa Arunika memiliki dukungan dari ‘keluarganya’.

__ADS_1


Dan Nio tahu, perusahaan milik keluarga Arunika sempat ‘dekat’ dengan pemerintahan sebelum Presiden Suroso.


Untuk alasan itu, Nio tahu mengapa Arunika berencana menerima lamaran pernikahan dari Darsono. Jika Arunika masih ingin dianggap sebagai anggota keluarga yang cukup ‘terpandang’, dia tidak memiliki kuasa untuk menolak lamaran pernikahan. Walau hal tersebut semacam ‘pengorbanan’ demi kelangsungan dan nasib perusahaan dan keluarga, namun pernikahan karena terpaksa masih lazim di masyarakat Indonesia. Nio berharap Arunika terpaksa menerima lamaran pernikahan, dan dia tetap memiliki kesempatan.


“Karena aku tidak bisa menunggu lagi. Karena, jika aku berpikir terlalu lama dan tetap menerimanya, kupikir itu akan menjadi penerimaan yang terpaksa.”


“Jadi, kau tidak terpaksa menerima lamaran Darsono?”


Arunika menggeleng, membuat Nio semakin jatuh.


Apa tujuan Darsono melamar Arunika ketika dia beberapa kali hampir mati di medan perang? Arunika sepertinya memahami ketidaksukaan Nio, tetapi dia menanggapinya dengan mengatakan, “Aku tidak tahu kamu punya masalah apa dengan Darsono. Tapi, kamu akan mempercayai dia bisa menjagaku, Nio.”


“Aku akan bisa mempercayai Darsono, katamu?” Nio tidak bisa lagi menyembunyikan rasa sakitnya.


Arunika lalu mengeluarkan secarik kertas dari tasnya, dan memberikannya pada Nio.


Saat Nio membaca isi di atas kertas, Nio merasa hatinya tersentak.


“Sialan… kenapa harus dengan bajingan ini…? Kenapa?”


Hanya dengan melihat foto Darsono yang sedang tersenyum, Nio merasa dirinya menerima headshoot.


Nio menatap kosong daftar riwayat hidup Darsono yang mungkin digunakan untuk meyakinkan Arunika. Namun, sebagai orang yang sempat bekerja di bawah perintah Darsono, sebagian isi dari riwayat hidup pria tersebut adalah kebohongan. Meski begitu, wajah bersih dan tidak kusam, tanpa bekas luka sama sekali – tidak seperti dirinya – menunjukkan bahwa Darsono benar-benar berasal dari keluarga tidak main-main.


“Darsono pernah bilang kamu sempat menjadi bawahannya. Aku yakin, kamu bisa cepat mempercayai dia.”


Nio melanjutkan membaca isi daftar riwayat hidup tanpa mengacuhkan perkataan Arunika yang terdengar seolah-olah Darsono bersih dari dosa.


Darsono adalah anggota di Markas Besar, pernah menjadi komandan salah satu kompi untuk garnisun Jawa Barat. Seluruh keluarganya merupakan politisi, ayahnya mantan Menteri Pertahanan. Catatan tentang Darsono yang tampak ‘bersih’ ditulis untuk membuat Arunika tanpa sadar mempercayai bahwa Darsono adalah pria baik.


Dia tampak seperti perwujudan pria sempurna, tampan, berpendidikan tinggi, dan berpenghasilan tinggi. Tapi, sebelum itu, Nio tahu jika perbuatan Darsono tidak ditindak akibat kekuasaan keluarganya. Nio hanya keluarga Arunika, komandan regu, kenaikan gaji tergantung jasa dan peran di medan pertempuran, dan tidak tampan serta tidak memiliki dukungan keluarga.


Nio bisa merasakan suatu perasaan sakit di hatinya, sesuatu yang tidak bisa digambarkan. Tapi yang pasti, dia tidak ingin merasakan sakit hati seperti yang dia rasakan saat ini. Dia tidak ingin mendengar hal lain dari Arunika karena alasan tertentu. Nio memiliki keinginan untuk bangkit dan keluar dari rumah. Tapi, tindakan yang dilakukan Nio sebaliknya.


Arunika melihat Nio mengembalikan daftar riwayat hidup, dan dia melihat bahwa Nio tidak apa-apa dengan lamaran pernikahan yang ia terima.


“Jadi, kapan kau akan bertemu dengannya?” tanya Nio.


“Besok.”


“Besok?”


Itu berarti Arunika benar-benar menerima lamaran pernikahan.


“Apa kamu setuju untuk bertemu dulu, atau…?”


Arunika justru memalingkan pandangan dari Nio saat dia menjawab pertanyaan darinya, “Aku tidak akan menyembunyikan apapun. Agak sulit untukku mengatakannya… aku akan menerima lamaran pernikahan Darsono.”


Nio sadar dia mengepalkan tinjunya begitu keras, hingga dia melihat telapak tangan kirinya berdarah.


“Aku ingin kau ada di sampingku, sebagai perwakilan ayah… mungkin,” kata Arunika.


“Mungkin katamu? Apa maksudmu?”


“Darsono tentu saja akan membawa keluarganya, dan aku masih membutuhkan pendamping. Walau aku masih memiliki keluarga, aku masih membutuhkanmu di sana. Aku tahu permintaan ini tidak biasa, tapi bisakah kamu menemaniku?”


Tanpa kata ‘tolong’, Arunika mengatakan hal itu dengan wajah terlihat tenang.


“Aku, bisa.”


“Benarkah? Baiklah.”


Arunika kembali mengarahkan pandangan cemas ke arah Nio, dan bertanya;


“Bagaimana menurutmu, Nio?”


“Apanya yang bagaimana?”


“Apa kamu punya pikiran menentang lamaran pernikahan ini?”


Tentu saja! Nio menahan diri untuk mengatakan hal itu. Hanya membayangkan Arunika dipeluk pria lain membuat Nio mual.


Tapi, Nio hanya bisa berlagak ‘cukup tahu’.


Dia adalah Arunika. Gadis dari keluarga baik yang cukup terpandang, anggota keluarga pemilik perusahaan amunisi swasta terbesar di negara ini. Sistem kelas mungkin terlihat sudah menghilang dari masyarakat Indonesia modern, tetapi di antara keluarga kaya dan berkelas seperti keluarga Arunika, kelas sosial masih berlaku.


Menikah dengan anjing ‘terlalu’ liar malah terkesan tidak masuk akal bagi gadis dari keluarga terpandang. Nio berpikir bahwa akal sehat keluarga Arunika adalah keluarga kaya hanya cocok dengan keluarga kaya lainnya.


Ibu kandung Arunika seharusnya tidak pernah menikah dengan buruh pabrik biasa, dengan akhir hidup tragis. Itu berarti, Arunika seharusnya memiliki kehidupan layak bersama keluarga aslinya, daripada bekerja untuk anak yatim piatu dengan masa depan tidak jelas.


Nio jatuh ke dalam pikiran bahwa dia pernah mendapatkan nasihat dari ayahnya, “Kita hanya orang biasa, jadi hidup harus seperti orang biasa. Jangan bertingkah seolah-olah kamu salah satu dari mereka. Tapi, kalau kau sudah memiliki pangkat, jabatan, dan kekayaan, kamu bisa mengadunya dengan orang kaya lainnya.”


“Kalau kau menerimanya dengan wajah senang, kau berarti baik-baik saja dengan lamaran pernikahan ini.”


“Bagaimana denganmu?”


Keringat keluar dari dahi Nio, lalu mengalir dan meresap pada masker buff berwarna hitam yang menutupi setengah wajahnya. Nio menatap lurus ke arah Arunika.


“Tentu saja…” Nio menghentikan perkataannya, membuat Arunika penasaran.


Wajah Nio tampak seperti menahan sesuatu yang menyakitkan. Setelah beberapa saat, Nio menunjukkan tatapan mata bahagia – walau sebenarnya dia tidak membuat ekspresi bahagia – dan mencoba yang terbaik untuk bahagia.


“Tentu saja aku akan senang kalau kau ternyata sudah menemukan kebahagiaanmu. Karena itu alasan aku berjuang di sana, dan mencegah perang kembali lagi di negara ini. Aku tahu hubungan spesial kita ternyata bertepuk sebelah tangan. Mengharapkan kehidupan romantis denganmu, aku sangat bodoh, kan?” Nio berkata seperti itu dengan wajah bodoh.


Itu percakapan terakhir antara Nio dan Arunika.

__ADS_1


“Aku akan mencari para gadis. Aku takut mereka berbelanja berlebihan menggunakan uangku.”


Nio berdiri setelah dia selesai berbicara, keluar pintu masuk rumah dan menaiki sepeda motor miliknya. Dia pergi tanpa memberikan Arunika kesempatan untuk menunjukkan tanggapan.


__ADS_2