
Seluruh anggota Regu penjelajah 1 menggerutu setelah mendapatkan misi yang bisa dibilang cukup berbahaya. Nio menunjuk wakilnya untuk memimpin unit ini, yakni Sersan Mayor Liben. Itulah yang membuat seluruh orang di Regu ini menggerutu, karena tugas yang Komandan mereka dapatkan sangat mudah, dan meninggalkan mereka bersama prajurit Garnisun Sorong ini. Hal ini membuat Liben menyeringai, karena saatnya dia menunjukkan kebolehannya dalam memimpin.
Nio untuk hari ini bertugas ‘menyambut’ kedatangan Pasukan Ekspedisi gelombang ke-2 yang beberapa jam lagi akan keluar dari Gerbang. Tugas ini dimanfaatkan baik-baik olehnya untuk beristirahat atau mengistirahatkan mata dari asap mesiu dan aromanya.
Misi yang didapatkan unit ini mengharuskan mereka untuk melintasi perbatasan antara Negara Yekirnovo dan Kekaisaran Luan, dan menuju salah satu kota Kekaisaran yang akan menjadi target misi kali ini. Pasukan yang ada di garis depan juga akan membantu mereka dalam misi ini, termasuk beberapa kendaraan tempur milik Grup Tempur 5 dan 6.
Tetapi, ada sebuah masalah yang harus ditanggung Regu ini, bahkan Nio sendiri tidak menyukai keberadaan mereka.
Mereka memang bukan tentara Amerika maupun Cina, bahkan Israel. Mereka hanyalah sekelompok orang yang membawa kamera, mikrofon dan mengenakan rompi sebagai identitas seorang jurnalis.
Identitas mereka merupakan bagian dari ‘media’, yang memuat berbagai informasi. Ya, beberapa veteran menganggap informasi merupakan senjata terkuat dan setara dengan kekuatan militer sebuah negara, jauh lebih kuat dari pasukan Kekaisaran dan aliansi nya. Nio pantas bertindak waspada dengan mereka.
Nio mendekati Liben, dan memegang bahunya sambil sedikit meremasnya hingga membuat putra Papua itu sedikit terkejut, selain tatapan waspada yang Nio pasang.
“Liben, kau tidak hanya memimpin teman-teman bertempur, tapi juga menjaga para jurnalis ini. Pastikan kau tetap mengawasi mereka, dan jangan sampai meliput hal yang membuat reputasi Pasukan Ekspedisi menurun. Paham!?”
Meski Nio mengatakannya dengan bisikan, dan cukup pelan, namun itu cukup membuat Liben bergidik karena tugas yang dia terima dari Komandannya cukup berat.
“Siap! Paham.”
Nio menepuk bahu Liben, kemudian memutar tubuhnya dan berjalan untuk menyerahkan beberapa lembar kertas kepada ketua kelompok jurnalis yang berjumlah tiga orang ini. Mereka cukup santai berada di medan tempur potensial ini, dan dihadapkan dengan tatapan sinis para prajurit remaja dan senior.
(Note: medan tempur potensial adalah tempat atau wilayah yang berpotensi terjadi penyerangan atau pertempuran mendadak musuh. Koreksi bila salah, karena ini pendapat penulis sendiri.)
Undang-undang kebebasan pers membuat mereka merasa bisa meliput apapun di benteng Pasukan Ekspedisi. Sucipto sebenarnya merasa ragu saat memberikan ijin kepada tempat kerja ketiga jurnalis tersebut, karena bisa saja mereka membuat berita burung mengenai peperangan, dan keadaan pasukan yang ‘memprihatinkan’.
Dua jurnalis terlihat berkeliaran di area untuk prajurit Tentara Pelajar, dan memotret beberapa sisi wilayah prajurit remaja ini. Bahkan toilet yang dipasang berjajar tanpa pembatas terkena ekspos kamera milik kedua jurnalis itu.
Saat salah satu jurnalis memotret puluhan prajurit remaja yang sedang bertanding basket, voli maupun futsal, dia berencana membuat artikel mengenai ini.
“Lihatlah mereka, itu menandakan tidak berguna nya prajurit remaja itu di sini.”
Yang berbicara tadi adalah jurnalis yang nampak sudah berusia 38 tahun-an, sedangkan jurnalis yang satunya nampak lebih muda nampak masih berusia 25 tahun-an.
“Apa maksudmu?”
“Mereka menghambur-hambur kan uang pajak di sini, dan yang mereka lakukan hanya bermain-main seperti itu.”
Puluhan prajurit yang sedang bermain---maupun yang hanya sekedar menonton itu memang terlihat senang, dan nampak tidak memiliki tugas berat di dunia lain yang penuh dengan bahaya ini.
Itu adalah penyebab informasi merupakan hal yang berbahaya, siapapun bisa membuat sebuah informasi meski dia tidak menyaksikan kejadian tersebut secara langsung, atau sekedar melakukan wawancara dengan narasumber. Tetapi, pihak yang mengendalikan para jurnalis juga tak kalah berbahayanya.
Pada masa ini, uang mendekati kekuasaan dewa, selama ada uang yang dibutuhkan para jurnalis, mereka bebas memerintahkan kelompok tersebut untuk membuat berita yang sifatnya menjatuhkan pihak lain. Pihak yang tidak memiliki pengaruh di masyarakat tentu saja akan dengan mudah tumbang dengan berita bohong yang dibuat, namun hal sebaliknya akan terjadi bila target penjatuhan memiliki pengaruh yang cukup besar di masyarakat. Bahkan, bila orang itu sangat bodoh, namun memiliki pengaruh yang besar di tengah masyarakat.
Para prajurit juga warga negara biasa yang butuh perlindungan hukum, namun hukum yang melindungi mereka bisa dibilang cukup lemah, dan sebagian besar hanya membahas mengenai tugas para prajurit saja.
Intinya, kebebasan pers pada masa ini tidak disertai dengan kejujuran dan keteguhan hati para jurnalis.
Setelah mereka mendapatkan beberapa foto, beberapa saat kemudian sepuluh orang anggota Regu penjelajah 1 menyeret mereka untuk segera berangkat ke medan tempur.
**
Wajah Nio seketika berubah menjadi pucat, dan hanya bisa berkata, “Kebetulan macam apa ini?”
Namun, Arunika dan Lisa hanya tersenyum manis di depan Nio yang masih memasang ekspresi bodoh.
“Apa yang kalian lakukan di sini hah!?”
Lalu, Arunika mengambil langkah maju, dan berdiri di samping Nio sambil mengusap-usapkan kepalanya di bahu adiknya.
“Tentu saja menjadi sukarelawan.”
“Apa?”
“Maksudku, Pasukan Ekspedisi membuat pengumuman jika mereka membutuhkan sukarelawan untuk menjadi pengajar. Kami berdua yang dulunya guru tentu saja mengajukan diri.”
Nio hanya bisa pasrah dengan yang terjadi pada hari ini, dan membiarkan petinggi militer melakukan apa yang mereka suka terhadap pasukan di dunia lain.
__ADS_1
“Apa kau melupakan aku, Nio…?”
Yang bicara tadi adalah Herlina, yang kini menempati posisi wakil Komandan Grup Tempur 1, dan Regu penjelajah 1 merupakan bagian dari pasukan itu.
Nio sekarang berada di tengah-tengah kebimbangan. Dia tidak tahu harus bersyukur karena tidak harus jauh lagi dengan kakaknya, atau dia harus mengeluh karena ada beberapa orang yang sangat dia kenal dikirim ke dunia ini melalui pengiriman Pasukan Ekspedisi Dunia Lain gelombang kedua.
Kemudian Nio menoleh ke arah lain, dimana Jonathan sedang melambaikan tangannya ke arah Nio.
Lalu, terlihat Sigiz dan beberapa prajuritnya berjalan mendekati Nio. Ratu ini mengenakan pakaian tempur baru miliknya, yang hampir seluruhnya berwarna gelap. Dia juga membawa tombak baru, yang entah apa keunggulannya dengan senapan mesin.
Rambut kecoklatan milik Sigiz berkilau setelah memantulkan sinar matahari cerah pada siang hari ini.
Dan seperti biasanya, pesona Sigiz mampu melihat siapapun terpesona, tak terkecuali Nio.
Sigiz berdiri di depan Nio, namun dengan wajah yang nampak sedikit memerah.
“Ba-bagaimana baju tempur baru ku?”
**
Hamparan ladang gandum yang membentang ke arah cakrawala, dan hamparan tanah kosong yang tampak seindah lukisan nampak dari atas helikopter pengangkut dan pengawalnya.
Lalu, terlihat pula pemandangan desa-desa yang terbakar, dan asap hitam mengepul dengan tinggi dari sumber kebakaran.
Sersan Dua Chandra dari Regu penjelajah 1 mengamati asap hitam yang mengepul di kejauhan. Itu membuatnya berpikir tentang raja naga api yang lain, dan pihak yang membuat kebakaran besar di sana. Namun, kobaran api itu diciptakan dari rumah-rumah penduduk, dan persediaan panen yang ikut terbakar.
Helikopter pengangkut besar, dan pengawalnya menerbangkan sisa pembakaran dibawahnya saat melewati desa yang terbakar.
Liben menyaksikan kobaran api di bawahnya melahap rumah beserta perabotannya dengan lidah api yang panas. Kebakaran disertai suara retakan keras saat api melahap bangunan yang materialnya terbuat dari kayu dan bahan mudah terbakar lainnya.
Namun, suara kobaran api di bawah masih kalah dengan suara deru mesin helikopter serang dan pengangkut.
Baling-baling kendaraan tempur tersebut membelah awan asap hitam tebal, dan mengaduk udara di bawahnya menjadi downwash dan memadamkan api di bawahnya.
Beberapa anggota Grup Tempur 5 dan 6 yang tidak terlalu sering berpergian dengan Regu penjelajah 1 dari Grup Tempur 1 memberi anggota Regu tersebut tumpangan, dan memandang dalam diam pemandangan tragis di bawah mereka.
Satu-satunya pihak yang terus mengoceh adalah jurnalis berita.
Saat melihat ketiga jurnalis itu melakukan pekerjaan mereka, Sersan Liben berbisik ke telinga Sersan Chandra.
“Peltu Nio memerintahkan kita untuk terus mengawasi para jurnalis ini, supaya mereka tidak merekam sesuatu yang menurunkan reputasi Pasukan Ekspedisi.”
“Sial, itulah kenapa aku membenci berita. Apa itu dihitung sebagai pekerjaan pengintaian lagi?”
Sebenarnya, mereka berdua hanya mengeluarkan unek-unek, jadi mereka tidak bertukar banyak kata. Sebaliknya, mereka bertatapan dan mengangkat bahu.
“Teman-teman, seperti yang kalian lihat, di bawah sana ada pemandangan yang mengerikan. Misi kita adalah memburu pasukan Kekaisaran dan aliansi nya. Kita akan menemukan tubuh utama pasukan mereka dan menghancurkan mereka tanpa ampun. Mengerti!?”
Anggota Regu mengangguk serentak setelah mendengar suara keras Sersan Mayor Liben.
“Kita akan segera mengakhiri perang ini!”
“Jawaban yang bagus, sekarang isi senjata masing-masing!”
Anggota Regu penjelajah 1 mengeluarkan satu magasin mereka dari kantung yang terpasang pada rompi mereka. Beberapa anggota Regu mengetukkan magasin ke helm, ini untuk memastikan bahwa magasin benar-benar berisi 25 buah peluru, tidak kurang dan tidak lebih. Memastikan jumlah peluru dalam magasin adalah hal kecil, tetapi senapan yang macet gara-gara hal itu adalah masalah fatal di pertempuran. Seorang prajurit harus sangat berhati-hati ketika dia menuju ke medan perang, di mana garis antara hidup dan mati sangat tipis.
Mereka memasang magasin pada senapan serbu 20 generasi pertama dengan gerakan teratur, lalu membuat senapan pada mode aman. Lalu, senapan yang mereka pegang akhirnya menjadi alat membunuh yang buas dalam beberapa detik.
“Magasin terpasang! Senjata aman!”
Meski begitu, tampang senapan yang dipegang oleh masing-masing anggota Regu tidak seganas anjing pemburu militer. Logam hitam dan beberapa bagian pembentuk yang materialnya lebih kuat dari plastik totalnya hanya seberat 4,5 kilogram. Senjata itu akan dengan patuh meludahkan sepotong timah pembunuh ke arah target penggunanya.
Dalam hal ini, prajurit hampir sama dengan senapan itu, alias mesin pembunuh.
Dalam keadaan damai, prajurit adalah teman dan tetangga yang kurang akur. Mereka tidak akan dikenal sebagai prajurit begitu mereka tidak mengenakan seragam.
Beberapa pihak mengatakan, begitu sekelompok prajurit remaja memegang senapan dan ‘tali pengekang’ mereka dilepaskan, mereka berubah menjadi sekelompok serigala pemburu yang ganas, mencari mangsanya seperti binatang buas yang kelaparan. Mereka maju tanpa rasa takut untuk memusnahkan musuh mereka, didorong oleh senapan yang pelatuknya sudah ditekan oleh mereka.
__ADS_1
Beberapa anggota Regu memasang peredam suara untuk menghilangkan kebisingan, dan memakaikan senapan gendongan. Para petinggi Tentara Pelajar telah mengijinkan prajurit mereka untuk memodifikasi senjata mereka, bidikan optik buatan perusahaan dalam negeri salah satunya.
Bayangan helikopter pengangkut besar berhenti di atas tanah sebelah timur desa.
Dari kejauhan, prajurit bisa melihat dua helikopter serang melayang di udara, siap melakukan tembakan pendukung Regu penjelajah 1 di darat.
Tali kawat dibentangkan ke tanah, dan komandan Regu menurunkan tangannya yang terangkat.
Setelah itu, anggota Regu penjelajah 1 turun menggunakan tali dengan cepat, mendarat di tanah satu demi satu.
Juru kamera merekam para prajurit yang turun melalui tali kawat.
Beberapa prajurit membidik ke bawah, berjaga-jaga terhadap musuh yang mungkin akan menyerang prajurit yang turun.
Setelah anggota Regu turun dengan cepat, helikopter pengangkut menarik kembali tali kawat dan kembali naik untuk melanjutkan penerbangan.
“Hey, cari tempat untuk mendarat. Kami tidak bisa turun dengan tali seperti Prajurit SMA itu!”
Penerbang di kabin nampak menunjukkan wajah kesal, tetapi yang mereka bisa lakukan hanya tersenyum dan menjawab, “Dimengerti, namun kami perlu memastikan bahwa kondisi tanah aman sebelum mendarat.”
“Itu berarti kami akan melewatkan bagian-bagian yang menarik ‘kan? Turunkan kami sekarang juga!”
Jurnalis senior itu berhasil membuat kepala penerbang dihiasi dengan urat karena menahan kesal.
Waktu paling berbahaya bagi helikopter di medan perang adalah saat mendarat atau lepas landas. Turun menggunakan tali adalah cara tercepat dan teraman untuk meminimalkan resiko tersebut. Ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan amatir (jurnalis) yang terus memaksa penerbang ini untuk segera mendaratkan helikopter. Salah satu penerbang berkata, “Anjing! mereka golongan warga sipil yang paling ku benci.”
Saat ketiga jurnalis sudah berada di atas tanah, helikopter pengangkut itu perlahan naik ke ketinggian. Setelah penerbang yakin bahwa mereka aman di tanah, helikopter melayang di atas desa yang terbakar.
**
Anggota Regu terbagi beberapa tim, dan segera menyebar ke segala arah begitu mereka mendarat.
Sepertinya mereka sedang berlomba, melihat cara mereka memegang senjata dan kecepatan dalam berlari. Mereka mengamati sekeliling, mata mereka yang waspada mengarah ke bidikan senjata masing-masing.
Mereka melihat melalui bidikan ke arah pintu, pohon, tempat manapun yang berpotensi menjadi persembunyian seseorang. Namun, mereka tidak menemukan sesiapapun yang hidup. Yang mereka lihat hanyalah orang-orang yang pingsan di mana-mana, beberapa pria dan wanita tergeletak di tanah. Tubuh mereka ditutupi oleh tebasan pedang, tusukan tombak, atau robek karena diterkam binatang buas.
“Gunakan pemindai inframerah!”
Mematuhi perintah ketua tim, salah satu anggota tim mengeluarkan perangkat berbentuk kacamata menyelam, dan mengenakannya. Dia memandang ke arah pepohonan dan tempat-tempat gelap di dekatnya.
Alat ini akan menangkap radiasi inframerah yang dipancarkan oleh makhluk berdarah panas, dan bisa menemukan siapa saja yang bersembunyi di tempat gelap.
Namun, perangkat ini bukanlah peralatan standar yang dikeluarkan TNI, melainkan miliki pribadi anggota tim. Sayangnya, di TNI yang beranggaran ketat, seorang prajurit terpaksa menutupi peralatan pribadi dari dana pribadi.
“Tidak ada pancaran termal di mana-mana. Ini tidak berguna.”
Alat itu memang bagus, tetapi sumber panas yang besar dari kebakaran berdampak besar pada kinerja alat tersebut.
“Cih,” ketua tim berpangkat Kopral Kepala berdecih.
Jika teknologi tidak efektif, maka mereka harus menggunakan mata dan telinga sendiri untuk memantau keadaan.
Kemampuan untuk mengamati sekitar dan memperhatikan hal-hal yang tidak biasa adalah keterampilan inti bagi prajurit, mirip dengan pertempuran jaman dahulu. Mereka harus mengasah kemampuan ini karena tidak peduli seberapa maju teknologi, ada banyak keadaan di mana teknologi tersebut tidak bisa digunakan, atau peralatan musuh menghalangi atau merusak peralatan tim.
Anggota tim mencari yang selamat di antara reruntuhan, sekaligus mencari jejak penyerang yang mungkin bersembunyi. Namun, derak kayu yang terbakar menyulitkan mereka untuk mendengar teriakan minta tolong. Bahkan derit sepatu bot mereka di tanah menghambat kemampuan mereka untuk merasakan kehadiran musuh, dan itu membuat mereka gelisah.
Anggota tim dengan tenang mengontrol pernapasan mereka, dan mengikuti pergerakan sekecil apapun. Mata mereka bergerak dengan kecepatan sedang, mereka memindai, memeriksa dan mencari orang dimana-mana di sekitar mereka.
Suara tembakan tiba-tiba terdengar di seluruh desa.
“Apa yang terjadi!?”
Suara tegang memenuhi saluran komunikasi tim.
Anggota tim begitu gelisah, hingga detak jantung mereka berpacu dengan cepat.
**
__ADS_1
(Ilustrasi penampilan baru Sigiz (seharusnya bagian dadanya jauh lebih besar:v) sumber gambar pinterest)