
Di mana keseimbangan antara tingkat kemampuan umum dan kecakapan khusus, khususnya bagi penulis? Dikatakan sejak dulu oleh masyarakat umum bahwa penulis memiliki kekuasaan absolut atas karyanya dimulai dia menulis kata pertama, menyelesaikan naskah, lalu mempublikasikannya. Tetapi, menurutku semua itu tidak terlalu benar. Waktu dapat mempengaruhi kualitas dan kemampuan penulis, yang tidak jarang banyak waktu menulis justru menimbulkan sakit kepala.
Tergantung pada orangnya, gagasan bahwa siapapun dapat mengerjakan sesuatu dengan sempurna dalam waktu cukup bisa benar bisa salah. Tetapi, bagaimanapun keterampilan dan kondisi masih diperlukan. Mungkin terdengar bagus kamu memiliki gaya sendiri dan tidak mendengarkan tuntutan orang lain ketika mengerjakan sesuatu. Tetapi, selalu bertindak seperti itu akan mempengaruhi beberapa hal, dan tidak akan bisa menjadi pencipta suatu karya yang baik.
Bagaimana dengan penulis yang telah memiliki pekerjaan, dan dengan terpaksa mengurangi waktu mengerjakan karya untuk bekerja? Sejak aku diterima magang di sebuah perusahaan, mengabaikan pekerjaan dan memilih menulis adalah hal gila. Jika aku melakukan perbuatan itu di tengah jam bekerja, manajer akan memanggilku dan berteriak alih-alih menegur. Aku sama sekali tidak memikirkan perubahan kualitas karya, itu tidak ada apa-apanya dibanding dipaksa kerja lembur dengan upah yang tidak masuk akal sebagai hukuman. Bagaimanapun, aku bukanlah anak magang yang baik.
Namun, menulis sebagai pekerjaan sampingan bukanlah larangan, namun tidak mungkin tidak menyebabkan masalah.
Ya, bahkan aku sudah mulai merenungkan apakah akan melanjutkan proyek Prajurit SMA atau tidak. Aku mulai menghitung masalah yang akan disebabkan jika aku menulis sepulang bekerja yang melelahkan, dan aku meragukan kesehatan fisik dan pikiran dapat bertahan menghadapi kedua hal tersebut.
Secara kebetulan, aku menemukan cara ‘cerdas’ dengan menggunakan aturan 80-20. Penulis pro mampu mencapai 80 persen kualitas dengan 20 persen upaya, tetapi menggunakan 20 persen untuk kualitas dan 80 persen upaya masih belum cukup bagiku.
Untuk mencapi 80 persen kualitas, aku memerlukan waktu beberapa hari untuk menyelesikan satu episode, sehingga menjadi lebih dari sekadar 20 persen upaya. 80 persen kualitas tidak sepadan dengan waktu yang kugunakan untuk menyelesaikannya, tidak memiliki waktu istirahat yang cukup misalnya.
__ADS_1
Saran yang lebih baik adalah menggunakan hukum sturgeon, yang menyatakan; 90 persen semuanya omong kosong, atau tidak berguna. Setidaknya aku telah membuat sesuatu yang memuaskanku dengan baik sebelum berpikir akan mengakhirinya.
Lalu, apakah berkompromi akan hal di atas benar-benar diperlukan? Kompromi seperti merobohkan domino, di mana jika kamu berusaha mencari jalan tengah suatu masalah, tapi kamu harus mencari jalan tengah masalah yang lain, itu akan menyebar secara perlahan.
Seperti yang dikatakan tentang industri, penawaran dan permintaan jelas berbeda dari beberapa tahun lalu. Sebut saja sebagai ‘perubahan yang sangat cepat’.
Jika ternyata aku kembali memiliki kesempatan untuk menerbitkan sebuah karya dengan masa depan penjualan yang belum jelas, dan membuang pekerjaan berharga yang telah didapatkan dengan susah payah, dan ternyata menurut pembaya karya tersebut sangat membosankan di banding lautan karya yang lain, akankah aku masih bisa tersenyum pada saat itu?
Tentu saja membuat karya ada masa pasang surut, dan itu merupakan masa yang sulit ditaklukan untuk menjaga keseimbangan kualitas. Lebih penting lagi, selama aku menulis, aku belum pernah menulis hingga ratusan episode dengan memeras otak unuk menemukan hal-hal menarik untuk karya ini. Tapi, bukan berarti mengakhiri cerita ini adalah hal yang baik jika dilakukan, karena sangat berarti bagiku.
Aku minta maaf untuk semua pejuang yang setia menanti tiap episode Prajurit SMA.
Apakah Prajurit SMA bernasib baik dengan dilanjutkan, atau memiliki takdir buruk dengan diakhiri di tengah jalan?
__ADS_1
Aku tidak bermaksud untuk memberi diriku sendiri masalah mulai sekarang, entah itu permasalahan pekerjaan atau kelangsungan Nio dan tokoh-tokoh lainnya.
Jadi, tolong kerja sama denganku dalam membuat cerita yang bagus. Aku tidak ingin mengakhiri perkembangan cerita yang bahkan belum terlihat penyelesaian konfliknya.
Aku memanggil seluruh pengamat militer abal-abal dan wibu akut yang memiliki ilmu segunung tentang militer dan dunia fantasi untuk melanjutkan proyek Prajurit SMA!!!
Realita yang kejam adalah aku mengibarkan bendera putih tanda menyerah, dan harus mengakhiri Prajurit SMA dan semua karya yang lain.
Tapi aku tidak akan melakukannya hingga Prajurit SMA benar-benar mencapai akhir kisahnya!
Akhir kata, untuk kamu pengamat militer abal-abal, pembaca yang tidak mengantuk melihat tulisan tanpa ilustrasi, wibu yang mengaku anime lovers:v, dan lain-lain, dengan penuh keyakinan aku tetap melanjutkan Prajurit SMA dan Kisah Di Dunia Ajaib hingga tamat dengan jadwal update tidak menentu. Bisa saja episode terbaru Prajurit SMA terbit dua hari lagi, semoga saja tidak ada yang kecewa.
Terimakasih banyak telah mendukung dengan memberi vote,suka, komentar, kritik, dan saran.
__ADS_1
Aku berdoa untuk kesehatan diriku, keluargaku, dan semua pembaca beserta keluarganya.
Olog.