Prajurit SMA

Prajurit SMA
Penyerangan pertama 3


__ADS_3

Dua orang pria yang mengenakan mantel militer berwarna hitam berdiri bersebelahan, menghadap perairan Teluk Tanduk yang sempit. Di dada kiri masing-masing pria tersebut terdapat lencana berbentuk lambang Aliansi. Senyum di wajah mereka seperti topeng.


“Apa kamu pernah menyusun taktik tempur nyata sebelumnya, Gurion?”


“Belum. Kebetulan saja aku pernah membaca berbagai macam taktik pertahanan pantai masa Perang Dunia 2. Theodore, apa kau tidak keberatan berjuang di sini? Kau bisa membuat senjata kimia di laboratorium-mu, kan?”


Biasanya, Gurion akan sangat senang dengan adanya rekan di sisinya yang membantunya berjuang. Mantan prajurit Israel tersebut menyadari situasi menyedihkan yang mengharuskan apoteker asal Amerika bernama Theodore itu harus bersamanya di medan perang potensial ini.


Biarpun Aliansi tidak pernah meraih kemenangan sepanjang perang ini, Gurion si Pahlawan Penyesalan selalu berdoa untuk adanya harapan. Belum tentu Israel dan Amerika Serikat yang bersekutu selalu saling membantu. Namun, Pahlawan Iri Hati alias Theodore mencoba tidak marah pada keberuntungan yang selalu berpihak pada Indonesia dan sekutunya, dia memiliki sedikit optimisme.


“Semua prajurit di sini berhadap pada mantan pejuang sepertimu, Gurion,” kata Theodore.


Dan itu sebabnya 50.000 prajurit yang mempertahankan pesisir memahami kekalahan Aliansi yang selalu didapatkan. Hati mereka selalu dihabiskan untuk merasakan jengkel dan putus asa, serta takut jika Persekutuan menyerang wilayah ini.


“Kita berjuang bersama di sini demi menemukan jalan pulang. Aliansi dalam situasi krisis, dan jalan pulang kita ada di tangan para petinggi Aliansi. Aku harus berharap jika kau akan membantu dan melakukan tugasmu sebagai prajurit, Theodore,” sambung Gurion.


“Tidak ada cara lain, kan?”


Theodore bisa membayangkan betapa bahagianya pasukan Indonesia di dunia ini yang memiliki jalan pulang yang mudah. Walau seluruh Pahlawan memiliki kemampuan untuk membuka Gerbang Tak Sempurna, tanpa adanya Penghubung hal tersebut tetap saja sia-sia. Bahkan jika dia bisa kembali, dia akan muncul di tempat adanya Penghubung di Indonesia. Ketika Theodore merasakan hal tersebut, hanya kata-kata penghinaan bagi TNI dan sekutunya yang ia lontarkan di dalam hati.


“Luar biasa,” gumam Theodore, tentu saja dengan ekspresi wajah penuh kebencian.


Karena janji Aliansi yang berjanji akan memulangkan seluruh Pahlawan jika mereka dapat mengalahkan Persekutuan, pilihan untuk berjuang harus dipilih meski sangat buruk. Tugas mereka sebagai Pahlawan adalah mengeluarkan kekuatan besar hasil pemberian, memimpin pasukan untuk dibantai baja-baja tempur dan pasukan Persekutuan.


Karena kekalahan yang selalu diderita Aliansi itulah membuat Theodore lelah. Satu-satunya reaksi yang ia perlihatkan ketika diperintahkan untuk menjadi bantuan sementara bagi unit penjaga Teluk Tanduk adalah kebencian yang mendalam, mendekati kedengkian ekstrem.


Gurion dan Theodore menatap para prajurit yang mengoperasikan artileri pesisir. Beruntung bagi pasukan di sini, Pahlawan Nafsu telah menciptakan senjata pertahanan udara L70 ( sebanyak empat unit) dan M55 ‘Triplegun’ (sebanyak empat unit) dan senapan mesin berat 12,7mm ‘M2 Browning’ (sebanyak dua puluh unit), untuk berjaga-jaga jika Persekutuan mengirimkan pesawat dan Wyvern tempur. Artileri pertahanan udara yang dipilih adalah L70 dan M55 ‘Triplegun’.


(olog note: M2 Browning, L70, dan M55 ‘Triplegun’ adalah senjata nyata, dan masih digunakan TNI. Jika penasaran dengan spesifikasi senjata tersebut, kamu bisa menemukannya di YouTube, atau Google)


Meskipun Aliansi memiliki Pahlawan Nafsu yang mampu menciptakan senjata dari dunia asalnya, Persekutuan tampak tak terkalahkan. Meskipun sangat mengecewakan, senjata-senjata modern dari dunia asal para Pahlawan sebenarnya sangat dibutuhkan Aliansi dalam perang ini.


Para Pahlawan seharusnya melindungi rahasia teknologi dunia asal. Sebaliknya, dengan ‘bangga’ mereka membantu Aliansi dalam rangka ‘menghancurkan para penjajah biadab dari Dunia Lain’. Di sisi lain, sungguh sial berjuang bersama organisasi yang hanya bisa meminta para prajurit untuk mati demi tujuan samar.


Meskipun pejuang-pejuang Aliansi telah bersumpah akan bertempur dengan berani, pada akhirnya mereka terlambat menyadari bahwa langkah tersebut sangat salah. Aliansi hanya menjanjikan jalan menuju kematian alih-alih kemuliaan.


Gurion dan Theodore memandangi para prajurit yang bertugas mengawasi Teluk, bersiaga jika pasukan Persekutuan mengirimkan armada untuk menyerang. Salah satu agen Aliansi, Tam, membawakan kabar jika Persekutuan akan mengirimkan dua kapal pendarat dalam operasi pertempuran ofensif pertama. Memikirkan musuh hanya mengirimkan dua kapal, Gurion tidak merasa tenang sama sekali.


Jika ada sesuatu untuk Gurion berharap, maka itu adalah rekan-rekan Pahlawannya. Mungkin saja mereka akan terlambat datang membantu pasukannya, seperti film superhero buatan Barat kebanyakan. Aliansi mungkin masih memiliki peluang untuk meraih kemenangan kecil, dan lolos dari rasa malu. Namun, Gurion mencibir petinggi Aliansi yang tidak mendengarkan saran Pahlawan, khususnya mantan pejuang seperti dirinya.


Dia tahu, 50.000 prajurit di pesisir Teluk Tanduk tidak memiliki jalan keluar jika musuh benar-benar menyerang wilayah ini.


Kekalahan yang dapat dipastikan sebelum pertempuran dimulai harus Gurion dan Theodore hadapi. Mereka berdiri diam, tidak berdaya meski memiliki kekuatan besar. Namun, tekad Pahlawan Penyesalan dan Pahlawan Iri Hati untuk membantu Aliansi dan pulang ke tanah air tak tergoyahkan.

__ADS_1


Tapi, ini bukan akhir. Mereka hanya perlu menghadapi sebagian kecil pasukan Persekutuan, tanpa harus takut kehilangan tanah air. Para prajurit penjaga Teluk Tanduk ini bermimpi suatu hari dunia mereka akan mengalami masa damai yang sangat indah. Perjuangan pasukan Aliansi sangat sulit, tapi tidak pernah berakhir. Nasib tanah air dan nyawa ada pada kedua tangan masing-masing prajurit Aliansi.


Biarpun pasukan Aliansi tahu jika Indonesia bertempur secara terhormat dengan tujuan bertempur bukan untuk menaklukan, mereka merasa tetap harus menjaga hati rakyat. Rakyat, keluarga, dan tanah air lebih dari apapun. Itulah alasan pejuang-pejuang Aliansi mengorbankan diri, itulah dedikasi total dan layak bagi prajurit yang menginginkan perjuangan abadi di surga para pejuang.


“Kami tidak akan meninggalkan dirimu, Tanah Air dan Aliansi tercinta.”


Dengan salah satu kalimat propaganda yang penuh tujuan, mereka mempersiapkan diri berjuang tanpa perasaan putus asa.


Tidak ada yang tahu dimulainya penyerbuan pasukan Indonesia. Namun, semua prajurit terkejut dengan siluet puluhan kapal.


Pada awalnya siluet tersebut hanya berupa titik-titik seukuran kerikil, namun dalam hitungan menit berubah menjadi seukuran pulau berjumlah 15 buah. Bendera merah putih di tiang seluruh kapal terlihat, menandakan armada pasukan Indonesia benar-benar datang.


Para prajurit Aliansi langsung memperingatkan rekan-rekan mereka dengan wajah cemas bahwa musuh sudah datang. Perlawanan yang akan diberikan Aliansi pada pulau-pulau bergerak Indonesia yang disebut ‘kapal’ tersebut mengalihkan perhatian mereka pada kekuatan mengerikan musuh.


**


Di salah satu pangkalan angkatan laut Kerajaan Yekirnovo, berbaris 15 kapal berwarna perak seukuran pulau. Empat di antaranya adalah kapal perusak kelas Gajahmada, satu kapal induk helikopter kelas 250 meter, dua kapal pengangkut personel, dua kapal pengangkut tank, dan sisanya merupakan kapal kawal rudal berupa Light Fregat dan Kapal Cepat Rudal. Di sekitar kapal-kapal milik TNI Angkatan Laut yang bertugas di dunia ini, ada ratusan kapal perang milik Yekirnovo dan Arevelk, dengan ukuran kebanyakan tak lebih dari 60 meter, paling besar berukuran 110 meter, termasuk kapal induk kedua kerajaan tersebut.


Beberapa menit lagi, hampir tiba waktunya untuk penyerbuan pertama semenjak Pasukan Perdamaian berdiri. Sebuah suasana khas peperangan mengalir di pangkalan, namun 1.000 prajurit TNI tampak santai. Kontingen Rusia dan Korea Utara yang mempersiapkan operasi penarikan pasukan tidak mengirimkan unit pada pertempuran ini, namun Zefanya dengan sukarela tetap berangkat bersama Tim Ke-12.


Banyak bangsawan dan warga Kerajaan Yekirnovo yang tercengang pada ukuran kapal-kapal perang Indonesia, terutama senjata yang memperkuat armada. Mereka melihat meriam seukuran menara lonceng, dan sebuah kapal yang cukup luas hingga pantas disebut sebagai pulau bergerak.


Namun, semua ekspresi tercengang tersebut berubah menjadi gelisah saat sejumlah prajurit TNI AD dan AL menjelaskan jika Indonesia masih memiliki banyak kapal dengan ukuran jauh lebih besar dari yang mereka lihat saat ini.


“Mereka juga memiliki golem baja?!” seorang penyihir tempur Arevelk bertanya dengan wajah terkejut yang berlebihan.


Tampak 10 Gandiwa berjalan ke dalam kapal dua pengangkut tank, diikuti 10 tank tempur utama dan 30 tank ringan, serta sejumlah kendaraan serbu amfibi. Kapal pengangkut tank juga mengangkut masing-masing dua helikopter anti-kapal selam yang membawa torpedo, untuk berjaga-jaga jika Aliansi memiliki senjata rahasia maupun makhluk laut raksasa fantasi seperti Kraken atau dinosaurus laut fantasi.


Seluruh prajurit yang akan bertempur tampak memiliki semangat juang. Bahkan kapal-kapal perang Indonesia yang akan segera berlayar sepertinya sangat ingin menunjukkan kekuatannya di dunia ini.


Keuntungan akses dan kondisi laut yang memungkinkan kapal-kapal perang raksasa TNI untuk berlayang harus dimanfaatkan dengan penuh pertimbangan. Sejauh mata memandang, hanya ada kapal perang yang bersandar di pangkalan angkatan laut, karena fasilitas ini memang khusus dibangun bagi militer. Sebagian fasilitas angkatan laut ‘kuno’ Yekirnovo telah diganti oleh Indonesia, dengan dibangun mercusuar dan menara kontrol dengan teknologi canggih. Efisiensi Indonesia yang seperti biasanya kembali tampak di negeri ini, membuat Yekirnovo terasa sangat maju selama Indonesia dan sekutunya masih ada di sini.


Di lain sisi, Nio berdiri di depan barisan bawahannya dan para Pembunuh Senyap, memandang kapal pengangkut yang akan mereka tumpangi. Nio merenung, menyadari bahwa Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap yang ia pimpin diharapkan banyak orang sebagai garda depan. Itu tugas dan tanggung jawab berat.


Sepertinya dia menyembunyikan perasaan berat untuk memenuhi harapan itu, dan dengan wajah serius menatap para bawahannya, termasuk Pembunuh Senyap dan Hevaz.


Seperti informasi yang Nio dapatkan, peran Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap ditambah Hevaz cukup besar. Membuat anak buah melakukan kinerja yang menentukan berhasil atau gagalnya sebuah operasi adalah tanggung jawab besar.


Mendarat, berpencar, lalu hancurkan senjata pertahanan pesisir lawan. Tugas tersebut memang mulia, namun juga sebuah tantangan. Jika gagal, pasukan pendarat amfibi akan terjebak di lautan.


“Sebentar lagi kita akan berlayar, jadi aku ingin menyampaikan beberapa hal. Kita akan melakukan misi penyerangan pertama, dihitung sejak berdirinya Pasukan Perdamaian. Misi Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap adalah sebagai pendukung operasi tempur pasukan pendarat amfibi,” kata Nio, dan disimak dengan serius oleh seluruh orang-orangnya.


Dengan kata lain, rencana penyerbuan pertama yang dilakukan Indonesia setelah yang dilakukan Pasukan Ekspedisi beberapa tahun lalu adalah rencana dadakan yang penuh risiko. Operasi tersebut sarat dengan kepentingan pemerintah dan Markas Besar. Tetapi, bisa dikatakan Nio tetap ingin melaksanakan taktiknya.

__ADS_1


Dengan harapan perang akan semakin membaik dan ditemukannya jalan keluar, maka operasi penyerbuan terhadap wilayah Kerajaan Salodki, tepatnya Teluk Tanduk, layak dilakukan.


Adanya armada 15 kapal perang TNI AL adalah sebagai pendukung dan penekan bagi angkatan laut Aliansi. Misi mereka adalah mencegah serangan balik dari darat dan laut, serta menghambat serangan bantuan musuh dari darat dan laut ketika pertempuran berlangsung, dan mendukung manuver pasukan kawan ketika melakukan pendaratan.


Armada TNI AL di dunia ini sudah ada terlebih dulu sebelum kontingen Rusia dan Korea Utara bergabung ke dalam Persekutuan, dan belum melakukan peran besar selama perang. Aliansi pasti tidak akan mengabaikan armada Indonesia, namun tidak ada yang tahu rencana lawan.


TNI AL mungkin bisa saja mengalahkan kapal-kapal perang kayu bersenjata 100 meriam Aliansi, namun penyihir lawan tidak dapat dibiarkan menyerang dengan sihir-sihir pertempuran mereka, ditambah Aliansi memiliki artileri pertahanan pesisir. Alasan Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap menjadi garda depan adalah merusak dan menghabisi sebagian penyihir dan senjata musuh.


Kapal-kapal perang Aliansi pasti dikerahkan untuk menghabisi pasukan pendarat amfibi, dan tugas pencegahan, serangan perlindungan dan pendukung diserahkan pada TNI AL. Jika armada Indonesia mampu mengalahkan kapal-kapal musuh, operasi akan berjalan mudah.


Keberhasilan saat melakukan serangan menyusup sangat menggoda Nio. Bisa dibilang pertarungan hanya bisa dimenangkan oleh TNI. Rencana pertempuran ofensif pertama relatif aman dilakukan untuk mencapai hal-hal yang diharapkan.


Tidak ada yang aneh tentang adanya banyak prajurit yang bergabung ke dalam pertempuran demi kemenangan. Dengan bantuan rekan-rekan baru – Pembunuh Senyap – Nio merasa senang.


Jika ada satu masalah, itu adalah cuacanya. Prajurit Indonesia belum sepenuhnya terbiasa dengan udara dingin Benua Aandzrev belahan utara. Jika operasi pendaratan berlangsung lama, atau musuh berhasil menenggelamkan kendaraan serbu amfibi atau perahu cepat pendarat, maka yang terjadi seperti tragedi ‘Titanic’, alias para prajurit dari negara beriklim tropis tersebut akan mati kedinginan.


Aliansi diuntungkan oleh kondisi pasukan mereka yang terbiasa dengan cuaca dingin yang ekstrem. Jadi, jika para prajurit dari negara beriklim hangat seperti Indonesia tenggelam ke lautan utara yang dingin, mereka akan berubah menjadi daging beku.


Kemudian, Teluk Tanduk merupakan perairan sempit dengan tebing di kedua sisi, disitulah Aliansi menempatkan artileri pertahanan pesisir dan memungkinkan mereka untuk menembak dari segala arah. Bahkan, jika musuh tidak memiliki ranjau laut, kapal-kapal perang akan keluar dari teluk dalam kondisi rusak ringan, atau lebih buruk rusak berat hingga memerlukan waktu lama dan biaya besar untuk perbaikan. Para penembak artileri akan menghujani armada dengan peluru ketika kapal-kapal berjuang melakukan manuver di perairan Teluk Tanduk yang sempit.


Untuk mencegah hal-hal di atas terjadi, maka Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap diberi misi untuk menghancurkan sebagian atau seluruh artileri pertahanan pesisir lawan untuk hasil yang lebih bagus. Menghabisi penyihir dan menetralkan senjata pantai dalam satu serangan, unit kecil yang dipimpin Letnan Satu Nio benar-benar telah dianggap lebih dari elit.


“Misi kita adalah menetralkan senjata pertahanan pesisir dan penyihir musuh. Kita akan melakukannya dalam waktu sesingkat mungkin, jadi aku berharap pada Pembunuh Senyap. Pergerakan kalian yang lincah adalah keuntungan, jadi aku akan memberi kalian beberapa peledak untuk menghancurkan senjata pantai musuh. Mengerti?”


Seluruh Pembunuh Senyap mengangguk sebagai tanggapan.


Seperti prajurit Arevelk dan Yekirnovo yang mudah diajari menggunakan granat tangan atau granat anti-tank, para Demihuman jauh lebih menakjubkan. Hanya dengan satu kali pengamatan, seluruh anggota Pembunuh Senyap mampu menggunakan granat anti-tank.


Untuk misi penyusupan semi-gerilya seharusnya baik-baik saja, karena Tim Ke-12 memiliki penembak jitu. Bahkan jika para perwira memperlakukan Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap seperti pasukan andalan, Nio tidak keberatan. Tapi, untuk tugas menetralkan artileri pertahanan pesisir musuh bukankah lebih masuk akal jika menyerahkannya pada kapal-kapal perang?


“Kita tidak memiliki dana untuk memperbaiki kapal jika mengalami kerusakan ketika bertempur. Jadi, untuk mendukung mereka dan memberikan serangan yang menentukan, aku ingin Tim Ke-12 yang melakukannya,” begitu kata Jenderal Angga sebelum hari keberangkatan.


Mudahnya, Tim Ke-12 dan Pembunuh Senyap bertugas menggelar karpet agar armada TNI AL melenggang dengan indah tanpa halangan di medan perang.


Untuk misi menekan pasukan infanteri musuh, Nio masih dapat memikirkan berbagai taktik untuk melakukannya. Tetapi, menetralkan penyihir dan senjata pantai musuh adalah tugas dengan tanggung jawab besar.


Ada batas sebuah regu yang berisi prajurit elit dapat melakukan serbuan pendukung langsung untuk armada laut. Tapi, jika artileri pertahanan pesisir dan penyihir musuh masih ada, maka kapal-kapal perang TNI AL tak dapat melakukan pendaratan dan serangan bantuan. Cukup mengherankan memang jika unit yang dikirimkan hanya Tim Ke-12 yang dibantu Pembunuh Senyap dengan total anggota 48 orang saja.


Komandan yang baik akan melakukan pertimbangan serius terharap risiko yang akan dihadapi jika unitnya gagal melaksanakan tugas. Dan tentu saja Nio telah mempersiapkan beberapa pilihan jika anggotanya tidak mampu melaksanakan tugas sepenuhnya.


“Baiklah, kita akan segera berangkat!”


Perkiraan armada tiba ke wilayah Teluk Tanduk Kerajaan Salodki adalah satu minggu, jika mereka berlayar tanpa henti.

__ADS_1


__ADS_2