Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tawuran, namun jauh lebih sadis


__ADS_3

Hari pengiriman pasukan tambahan bagi kompi yang mempertahankan sebuah pos di Garnisun Yekirnovo tiba. Seluruh prajurit mempersiapkan senjata masing-masing, tampilan holo pada helm seluruh tentara memperlihatkan kondisi pribadi dan kondisi medan perang. Sebagian besar orang mencibir jumlah musuh yang besar, namun primitif.


Berbeda dengan orang-orang yang memandang remeh musuh, Nio berkata, “Aku tidak ingin merindukan siapapun lagi. Artinya, jangan sampai salah satu dari kalian mati karena sombong, seperti mereka” sambil menunjuk sekumpulan prajurit yang mentertawakan musuh.


“Kita sudah bersama sejak awal pembentukan tim khusus. Mengucakpkan selamat tinggal itu sulit, kan?” Zefanya mengucapkan hal itu, dan Nio menanggapinya dengan manatap bagian atas kabin helikopter sambil mengangguk dan tersenyum.


Ada banyak pertanyaan yang gadis Rusia itu tujukan pada Nio, namun kondisi tidak mendukungnya. Pertarungan yang mungkin akan pecah membuat Nio memerintahkan seluruh bawahannya untuk mempersiapkan diri, alih-alih bersantai dan mengandalkan teknologi untuk mengalahkan musuh.


Dia menunduk, sebagai rasa hormat, terimakasih, serta menyembunyikan perasaan suka seorang gadis terhadap Nio yang babak belur melindunginya dan anggota tim lainnya. Mungkin sangat berlebihan, namun Zefanya merasa harus melakukannya. Ada banyak prajurit Rusia dan sekutunya yang kuat telah ia temui, namun Nio berbeda.


Kontainer-kontainer berisi amunisi, perbekalan, dan kebutuhan hidup selama satu bulan untuk seluruh personel Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 berjejer di belakang kabin helikopter angkut besar. Itu menandai jika pesan pasukan di Garnisun Yekirnovo tentang musuh yang bergerak ke pos mereka tidaklah bohong, dan pertarungan mungkin akan pecah.


Kim Baek-Ki mendatangi Nio, dan berkata, “Bisakah kita berbicara sebentar, Letnan Nio. Kamu juga, wakil komandan Tim Ke-12.”


Wajah pria itu membuat Nio tidak nyaman, namun berbeda dengan tatapan para bawahan Baek-Ki mengenai fisiknya. Kata-kata perwira Korea Utara tersebut terdengar seolah-olah mengajak Nio dan Hassan rapat darurat dan membutuhkan pengambilan keputusan sangat cepat dan tepat.


Nio dan Hassan berdiri, dan mengikuti Kim Baek-Ki ke bagian belakang salah satu kontainer.


“Tentang pesan yang dikirim salah satu kompi Pasukan Perdamaian di Yekirnovo, pasukan musuh yang bergerak membuatku khawatir.”


“Begitu kita datang, yang menyambut kemungkinan bukanlah komandan pos, dan kita akan langsung bertarung.”


Mendengar perkataan tenang Nio, seolah-olah dia sedang berangkat ke medan perang biasa, membuat Baek-Ki agak gelisah.


“Kita ke sana untuk menjadi pasukan tambahan sementara kan? Kita tidak bisa menghindari pertarungan,” Hassan menyambung.


“Aku memeriksa seluruh bawahanku. Hasilnya, mereka mengkhawatirkan.”


Cara bicara Baek-Ki mencurigakan, membuat Hassan sangat penasaran. Sementara itu, Nio paham maksud perkataan komandan Kompi Bantuan 002 tersebut.


Mereka bertiga masih bisa mendengar suara tawa dari sejumlah bawahan Kim Baek-Ki, yang begitu membuat Nio kesal.


“Mereka sangat bodoh, Mayor. Karena menganggap musuh masih lemah seperti sebelumnya.”


“Seperti yang kau katakan, Nio. Saat perintah pengerahan kita ke salah satu pos di Garnisun Yekirnovo, mereka jsutru tertawa, dan menganggap pertarungan yang akan dihadapi akan mudah. Mereka justru menganggap tidak perlu mengerahkan banyak pasukan, dan akan menang mudah hanya dengan satu serangan peluru kendali.”


“Mereka sepertinya menginginkan dimulainya pergerakan Amerika, dan membuat isu HAM jika keinginan mereka untuk meluncurkan rudal terpenuhi,” ucap Hassan dengan wajah khawatir.


Tujuan Kim Baek-Ki mengajak Nio dan Hassan berbicara adalah demi mencegah kepercayaan diri bodoh bawahannya. Pada akhirnya, sangat sulit untuk mengembalikan akal sehat bawahannya, dan dia hanya berharap seluruh tentaranya berjuang dengan tetap mempedulikan kelebihan maupun kekurangan musuh.


Layar hologram pada kabin helikopter angkut besardipenuhi dengan ribuan titik-titik berwarna merah yang terus bergerak ke pos salah satu kompi di Garnisun Yekirnovo, menandakan adanya musuh. Jumlah titik terus meningkat, dan jarak antara pasukan tambahan ini dengan tujuan mereka hanya sejauh 5 kilometer. Pos yang berada di salah satu titik perbatasan antara Yekirnovo dengan Kekaisaran Luan, hancur dan sedang menunggu pasukan bantuan.


Sistem manajemen medan perang pusat yang mendapatkan informasi dari pos tersebut mengirimkan berbagai informasi tentang musuh yang menyerang.

__ADS_1


Infanteri berat Aliansi mengisi garis depan. Di belakang mereka adalah unit kavaleri campuran yang terdiri dari pasukan penunggang kuda biasa, kavaleri berat dengan zirah tebal, dan penunggang kuda bersenjata senapan. Lima kilometer di belakang pasukan tersebut adalah pasukan utama musuh, dengan sususan yang sama. Berdasarkan informasi singkat tersebut, mungkin jumlah pasukan Aliansi lebih dari 100.000 tentara.


Sudah jelas Aliansi berusaha mengulangi taktik gelombang manusia seperti penyerbuan pertama mereka terhadap Pasukan Ekspedisi TNI. Namun, kontrol pusat tidak menyertakan taktik musuh dan tujuan mereka setelah menyerang, dan hanya memberi saran taktik untuk menghadapi Aliansi.


Nio berpikir mereka mengerahkan pasukan besar ke pos yang dipertahankan pasukan sebesar kompi, bukan hanya karena kompi tersebut hanya berjumlah kurang dari 300 tentara, tetapi mereka sengaja memancing dan menantang pasukan di Benteng Girinhi, fasilitas yang paling dekat dengan pos tersebut.


Nio mendecakkan lidah kesal. Karena begitu Kompi Bantuan 002 dan Tim Ke-12 yang memiliki kekuatan besar di Benteng Girinhi dikerahkan untuk membantu teman keluar dari sarang, pasukan Arevelk di benteng akan kehilangan bantuan dengan kekuatan besar mereka. Serangan besar di pos hanyalah umpan, dan pasukan Aliansi lain mungkin sedang bersiap untuk menyerbu Benteng Girinhi.


“Kita akan mendarat dalam 5 menit. Medan perang sangat kacau, dan pasukan kawan hampir hancur. Harap bersiap!” ucap Nio dengan nada keras.


Manajemen medan perang yang diterima masing-masing komandan unit membuat mereka mengatakan hal di atas.


Seluruh prajurit memuat magasin pada senapan masing-masing, memakai perlengkapan pelindung diri, dan berdoa.


Nio memasang wajah datar, dingin, dan mencekam. Menyebabkan Hevaz, Sigiz, dan Zariv yang memiliki kemampuan merasakan aura orang lain memasang wajah suram, dan sulit bernapas.


**


“Ah… aku akan mati, kan?”


Komandan kompi yang mengeluh terdengar tanpa sengaja oleh Nio yang melompat untuk membunuh satu prajurit infanteri musuh yang berencana membunuhnya. Namun begitu dia melihat lambang pada kain yang terikat di lengan kanan Nio, dan bendera yang terpasang di antena transimi komunikasi radio salah satu prajurit, membuatnya tersadar.


Matanya melebar, dan dia menjatuhkan remote kontrol – untuk meledakan seluruh area pos dan agar musuh hancur – ketika menyadari prajurit yang membunuh prajurit musuh di depannya.


“Tentara Pelajar?! Prajurit SMA?”


Prajurit di depannya terdapat perban yang melilit sebagian wajahnya, dan bertarung dengan dingin, tanpa ampun. Bahkan tanpa senapan, prajurit di depannya bertarung menggunakan pedangnya, dan melumpuhkan setiap musuh yang berlari ke arahnya.


Hal itu membangkitkan ingatan komandan kompi tentang seorang Prajurit SMA yang bisa mengalahkan banyak musuh tanpa senapan, berkeliaran di medan perang seperti anak muda yang sedang tawuran, namun jauh lebih sadis.


SS20-G2 dari seluruh anggota Kompi Bantuan, dan senapan sedang7,62mm tipe gatling serta senapan mesin berat 12,7mm yang terpasang pada cantelan di exoskeleton sejumlah prajurit, dan peluncur roket portabel pada bahu sejumlah prajurit pengguna exoskeleton, menyerbu bersama kavaleri musuh yang memiliki senapan SP-1. Sementara itu, pendukung yang berupa mortir 120mm dan howitzer 230mm yang tak tertandingi tengah dipersiapkan. Namun, sengitnya medan perang, membuat operator kedua senjata berat tersebut agak lambat dalam berkerja.


Di langit, empat capung besi besar menyemburkan hujan serangan pada kavaleri berat Aliansi. Prajurit di helikopter serang dan angkut besar menembakkan semua senjata yang dimiliki, dan menyebarkan ketakutan sejauh mata musuh memandang.


“Sial! Di mana kavaleri senapan?!”


Prajurit infanteri berat Aliansi mengerang seperti itu, bertarung dengan teriakan putus asa menghadapi bantuan musuh yang belum lama datang. Karena beratnya zirah yang mereka kenakan, mobilitas pergerakan infanteri berat cukup lambat, dan sangat mudah diburu.


Tentu saja pasukan yang baru saja datang tidak menyia-nyiakan keuntungan tersebut, sebelum kavaleri senapan musuh datang. Pertempuran menghadapi Aliansi selalu saja dimulai dengan serangan satu arah, dan formasi rapat.


Di sisi lain, kavaleri senapan Aliansi adalah pasukan yang dirancang untuk mendobrak taktik unik Arevelk, dan memberikan serangan kejut cepat terhadap musuh-musuh dari dunia lain. Walau memiliki keunggulan dalam mobilitas, kendaraan tempur musuh mampu meruntuhkan keunggulan mereka.


“Jangan gentar! Musuh tetap akan mengejar kita bahkan jika kita mundur!”

__ADS_1


“Terus tembak! Terus gunakan tongkat ini untuk mengalahkan musuh!”


“Mereka jauh lebih sedikit dari kita, jangan takut!”


Prajurit infanteri dan kaveleri Aliansi berusaha untuk menekan rasa takut akan kematian mereka, menyerang musuh biadab yang membalas dengan ejekan dari hujan peluru dan ledakan dahsyat. Jeritan medan perang adalah mimpi buruk, dan memenuhi medan perang dengan suara teriakan prajurit yang mati secara memilukan.


Beberapa benda panjang berekor asap abu-abu melayang dari empat capung besi, membuat pasukan Aliansi di bawah terpesona. Lalu terhempas dan hancur begitu propelan peluru kendali menghantam tanah, menciptakan ledakan besar dari hulu ledak yang dibawa sejumlah rudal tersebut.


Setelah itu, beberapa mortir kaliber sedang 81mm dan 120mm, dan howitzer 230mm menembakkan amunisi, melepaskan sejumlah peluru berdaya ledak tinggi dan bunyi ledakan yang menggetarkan udara. Seluruh tembakan mengenai sasaran dengan akurasi yang menakjubkan, meledak dan menyebarkan cangkang peluru ke segala arah dalam kecepatan tinggi. Pemboman menyebar, menghancurkan sebagian formasi pasukan Aliansi.


Serangan artileri tersebut tidak lain dari usaha untuk menghancurkan musuh dalam waktu singkat. Infanteri lapis baja dan kavaleri musuh seketika dibungkam. Pasukan utama yang hampir mencapai medan perang dihancurkan oleh rentetan roket yang diluncurkan dari helikopter serbu dan howitzer.


Senjata yang digunakan Nio adalah pedang di tangan kanan dan pistol mitraliur 10mm di tangan kiri. Tingkan ancaman pedang rendah, namun akan menjadi mematikan jika dia menggabungkan tebasan dengan tembakan jarak menengah.


Walau dia menggunakan dua senjata pertarungan jarak pendek, tetapi prajurit tersebut menunjukkan kecakapan tempur yang melebihi semua bayangan orang-orang yang meragukannya. Memutuskan melakukan pertarungan jarak dekat, Nio memanfaatkan senjatanya sebaik mungkin.


Jika pasukan utama musuh bergabung dalam pertempuran ini, tentu saja Nio akan kesulitan. Menghindari tebasan horizontal pedang seorang musuh yang mengarah ke lehernya, Nio membalasnya dengan melepas empat tembakan dari pistol mitraliurnya, dan menendang perut tentara Aliansi sekarat tersebut. Tentara Aliansi tersebut mengerang, dan mengundang beberapa prajurit infanteri musuh lainnya untuk membalas perbuatan Nio.


“!!!”


Nio terkejut dan berkata di dalam hati, “ Apa mereka tidak lihat ada aku di sini?!”


Serangan mortir yang tidak bisa diantisipasi tanpa alat, membuat ledakan besar dan cangkang peluru menyebar ke segala arah. Kemudian, serangan tanpa ampun dari senapan mesin mengacaukan sebagian pasukan berkuda.


Ledakan mortir di dekatnya sangat keras, sehingga Nio berpikir dia mungkin sudah tuli. Gelombang kejut yang kuat membunuh lawan-lawannya, menghancurkan zirah besi kokoh mereka. Puluhan serangan artileri yang telah dilepaskan layaknya hujan meteor, menciptakan kawah dan hujan logam setelah menumbuk tanah.


Beberapa prajurit Aliansi muncul dari balik asap hitam, dengan satu tangannya putus. Menatap pentungan berpaku yang prajurit itu angkat hingga di atas kepalanya, Nio menatap datar tanpa ekspresi yang jelas.


Tebasan prajurit yang terluka itu masih bertenaga, dan Nio terlempar ke belekakang akibat serangan itu. Pedang yang ia gunakan untuk menangkis masih utuh, dengan sisa peluru pada pistol mitraliur-nya sekitar dua magasin berisi 30 peluru.


Berdiri dengan sisa tenaga, Nio memandang lawannya dengan tatapan serius. Ketika mendengar sejumlah suara tembakan, Nio mengambil tameng milik salah satu tentara Aliansi yang sudah mati. Dia terkejut, ada beberapa peluru yang menghantam tameng kuat tersebut, menandakan musuh benar-benar menjadikannya target.


Sebuah sensasi yang membuat Nio melangkah dengan yakin. Menyerbu musuh di medan terbuka dengan suara-suara teriakan dan kematian dari musuh yang terbunuh dan kawan yang berusaha mengumpulkan keberanian.


Kemudian, dimulai serangan lain.


Ledakan besar kembali terjadi di medan perang.


Armor kokoh infanteri dan kavaleri berat seharusnya mampu menahan pecahan logam, dan mengurangi dampak dari proyektil 7,62mm. Namun, sejumlah artileri dari menghancurkan kebanggaan mereka, dan menghempaskan para pasukan lapis baja tersebut seperti daun kering.


Rentetan berturut-turun senapan mesin dan artileri merobek-robek seluruh pasukan Aliansi di wilayah Yekirnovo ini. Pasukan yang hampir hancur itu tidak memiliki cara untuk membalas serangan curang musuh. Dan itu sebabnya, mereka hanya menyerang secara asal-asalan, menembak ke segala arah, tanpa tahu kata mundur.


**

__ADS_1



__ADS_2