Prajurit SMA

Prajurit SMA
Perang batin: Kecurigaan


__ADS_3

“Aku ke sini untuk mendapatkan pendapat darimu…”


Setelah menggantung mantel lab putih panjang, Dini mengeluarkan teko berisi kopi panas dan dua gelas kertas. Sambil menanggapi ucapan Nio dengan “Hmmm…”, dia mengisi kedua gelas kertas tahan panas. Dia memberikan salah satu pada Nio.


Saat kopi panas mengalir di tenggorokannya, Nio bisa merasakan suatu perasaan di hatinya. Dia memberi tahu Dini segalanya, tentang bocah pinggiran kota yang ditembak, hak-hak penduduk pinggiran kota, perang melawan Aliansi, kekuatan musuh yang tampak tak terbatas, dan semua yang membuat pikirannya dipenuhi beban.


Tapi, apa yang terjadi di antara mereka berdua hanyalah keheningan. Dini, dengan tangan kanan menyangga dagunya memasang ekspresi serius. Tiba-tiba Nio angkat bicara, “Dokter Dini?”


“Hmmm? Oh, maaf, aku sedang memikirkan tentang makan malam nanti.”


“Apa? Ayolah, bukankah perkataan ku barusan sangat penting?”


“Aku mendengarkanmu sampai setengah jalan karena kekhawatiran yang kamu miliki sangat normal. Kukira kamu menemuiku untuk berkonsultasi tentang sindrom Shell Shock.”


“Hah?!”


Melihat Nio yang terkejut setelah mendengar penyakit mental tersebut, Dini berbicara untuk menanggapi perkataan Nio;


“Hei, Nio, kemusnahan manusia adalah hal yang pasti terjadi. Entah itu terjadi di masa depan yang jauh karena bencana alam, matahari yang berubah menjadi Raksasa Merah. Atau peluncuran besar-besaran senjata pemusnah massal yang mengawali dan mengakhiri Perang Dunia 3. Karena hal itu, banyak yang bertanya-tanya untuk apa manusia diciptakan, tapi pada akhirnya tetap musnah juga.”


Mendengar perkataan Dini, Nio tidak dapat menanggapinya. Dia tidak ingin terpengaruh oleh paham perempuan itu yang membingungkan.


“Hei, Nio, kenapa musuh dari dunia lain harus dikalahkan, sih?” tanya Dini.


Nio terdiam, tampak tak menanggapi pertanyaan Dini, dan terkejut sebentar.


“Kamu tidak bisa menjawabnya?”


“Tidak, tunggu,” kata Nio. Menemukan jawaban untuk pertanyaan Dini, dia berkata, “Karena musuh dari dunia lain adalah pelaku kerusakan bangsa ini.”


Dini lalu menyambung jawaban Nio yang dia rasa kurang lengkap, “Mudahnya, itu karena musuh dari dunia lain adalah keberadaan yang mengancam Indonesia, kan? Tapi, bukankah pada masa ini manusia Indonesia terlalu manja? Mereka bergantung pada kekuatan ekonomi, militer, dan bidang lain yang mulai berkembang sejak 100 tahuh lalu. Mereka yakin bahwa semua musuh sangat mudah dikalahkan dengan kekuatan Indonesia saat ini, tetapi itu hanya karena mereka hanya ingin ‘menghibur diri’ untuk diakui oleh dunia bahwa Indonesia sangat kuat tanpa memandang segudang kekurangan yang dimiliki negara ini dan tidak mengakui semua kelemahan Indonesia. Jika disadari, Indonesia abad 24 tidak jauh berbeda dengan Amerika Serikat abad 21, tapi banyak yang menyatakan bahwa Indonesia sudah menjadi negara maju melebihi Amerika dan Eropa. Hanya kesadaran untuk menerima keadaan yang dibutuhkan untuk merubah posisi Indonesia dari negara ‘setengah maju’. Jika setiap masa selalu ada sekelompok orang seperti itu, perang melawan musuh dari dunia lain tidak akan menemui jalan keluarnya.”


Dini melanjutkan;


“Bagaimana peradaban bangsa dunia lain? Mereka memiliki elemen alami bernama ‘energi magis’ yang memungkinkan mereka memiliki kekuatan fiksi seperti sihir dan melakukan hal yang tidak bisa dilakukan teknologi kita. Sebelum perang, kita menanggap sihir hanya fenomena supernatural dan fiksi yang ada di novel dan film. Bukankah kita bisa mengatakan dunia lain melampaui cara berpikir dunia ini? Setelah beberapa negara dunia lain menyatakan perang dengan Indonesia, ada sejumlah organisasi dan agama yang mengaitkan perang ini dengan ‘Perang Akhir Zaman’. Mereka menganggap Aliansi adalah utusan Tuhan untuk menghukum dunia ini, khususnya Indonesia.”

__ADS_1


Nio terkejut dan bertanya, “Begitu, kenapa?”


Dini menanggapi pertanyaan Nio, “Manusia menggunakan semua sumber daya yang mempercepat kehancuran Bumi, dan musuh dari dunia lain datang untuk mencegah hal itu terjadi. Jika musuh berhasil menguasai dunia ini, mereka mungkin dapat mengembalikan dunia ini menjadi lebih baik. Ada yang mengatakan dunia hanyalah tempat persinggahan. Tapi, manusia Bumi meninggalkan persinggahannya penuh sampah dan kerusakan. Bukankah masuk akal jika kita memperbaiki dulu rumah sebelum diwariskan ke generasi selanjutnya?”


Nio tenggelam dalam pikirannya, lalu meminum kopinya.


“Dengan kata lain, itulah alasan ada ungkapan ‘manusia tidak dibutuhkan sama sekali’? Atau, mungkin manusia masih bingung tujuan mereka diturunkan ke dunia ini. Tapi, entah kenapa aku masih tidak suka dengan negara yang menyerukan agar Indonesia menghentikan perang dengan Aliansi. Omong-omong, bagaimana nasib anak-anak pinggiran kota jika perang tidak berhenti?” tanya Nio.


Dini menanggapi, “Merekalah yang paling cocok menjadi pejuang masa depan dalam masa ‘Perang Akhir Zaman’.”


“Tapi, mereka adalah sekelompok orang yang hampir dilupakan negara! Dengan negara yang memperlakukan mereka seperti itu, apa ada alasan untuk berjuang demi bangsa yang menyingkirkan mereka kecuali negara mengiming-imingi pengembalian hak, makanan, dan melindungi kehidupan keluarga kecil berharga mereka?” Nio berkata dengan nada dan ekspresi wajah kesal.


Melihat wajah serius Nio, dan luka yang sedikit terlihat akibat masker buff yang tidak menutupinya dengan sempurna membuat Dini tersenyum, “Itulah alasannya. Kau mulai mengerti, kan kenapa orang-orang pinggiran kebanyakan ingin menjadi tentara, salah satunya kamu?”


“Eh?” Nio kebingungan, dan akhirnya tersadar bahwa yang dia katakan dibenarkan oleh Dini. Dia duduk diam dengan perasaan malu-malu. Jawaban Dini atas pertanyaannya mengenai anak-anak pinggiran kota memaksanya mengatakan semua kata di pikirannya. Perempuan itu benar-benar telah membuatnya terdiam dan kembali berpikir keras.


Dini lalu berkata, “Hei Nio, setidaknya kamu tahu siapa kamu dan dari mana asalmu. Kehidupan mu sebelum perang masih lebih baik daripada anak-anak pinggiran kota sekarang. Kau mungkin bisa berteriak “Aku juga berasal dari pinggiran kota, jadi aku mengerti perasaan kalian!”, tapi kamu tidak melalui hari-hari berat anak-anak yatim piatu yang hampir dilupakan negara setelah perang.”


Mata kiri Nio sedikit menyipit, dan Dini menganggap dia ingin mengetahui kelanjutkan perkataannya.


Lirikan mata Nio tiba-tiba menjadi tajam, orang-orang Kompi 406 menganggapnya sebagai ‘Mode Perang’. Suatu perasaan muncul di hatinya, dan Nio berdiri dari tempat duduknya setelah menghabiskan kopi dalam gelas kertasnya.


“Terimakasih pendapatmu, Dok. Aku akan melakukan sebuah pekerjaan…”


Dini tahu ‘pekerjaan’ yang Nio katakan ada kaitannya dengan kondisi penduduk pinggiran kota. Aura yang dipancarkan Nio benar-benar seperti dia akan pergi bertarung. Dini menatapnya dengan ekspresi kagum, tidak kurang dan lebih. Dia belum menyerah pada perasaannya untuk memiliki Nio meski sudah melihat berita pada TV dan koran tentang kedekatan Letnan Satu 'TRIP' Nio Candranala dengan sejumlah tokoh penting negara anggota Persekutuan, diantaranya adalah gadis cantik. Dia memutuskan untuk hanya menyukai tanpa berpikir dapat mendapatkannya.


“Tidak peduli seberapa keras kau bekerja, orang-orang hanya akan memanfaatkan dan mengkhianatimu.”


Kata-kata dari Darsono mulai Nio libatkan dalam masalah anak-anak pinggiran kota. Banyak pemberitaan yang menyebarkan unjuk rasa penduduk pinggiran yang menginginkan tanah mereka dikembalikan, dan hak-hak anak-anak pinggiran kota yang tampak hanya ‘boleh’ diterima oleh anak-anak kota. Usaha keras penduduk pinggiran direspon dengan pasukan anti huru-hara yang memukul mundur dan disertai tembakan gas air mata serta meriam air meski mereka tidak melakukan kerusuhan yang melukai orang non-demonstran dan kerusakan berat pada fasilitas umum.


Menurutmu, siapa yang melindungi kedamaian Indonesia? Ketika perang, penduduk kota segera berlindung di bunker rumah atau tempat kerja masing-masing. Saat tentara berusaha mencegah pasukan musuh melakukan kerusakan lebih besar pada kota, penduduk pinggiran membantu dengan membangun barikade dan memberi makanan kecil pada pejuang yang kekurangan pasokan. Saat melakukan pembersihan medan kota setelah perang, penduduk pinggiran kota berperan mengumpulkan tubuh-tubuh tanpa nyawa prajurit musuh dan tentara Indonesia.


Nio dipenuhi keinginan untuk kembali ke masa sebelum perang dilakukan di dunia lain. Melihat orang-orang kota mengutamakan kepentingan masing-masing, seharusnya dia tidak perlu berkorban secara berlebihan. Sebagian besar orang kota hanya menonton dan merekam saat ada penduduk pinggiran mendapatkan masalah, lalu menjauh agar tidak tertular problem mereka. Jika orang-orang kota dididik dengan benar, mereka seharusnya tahu bahwa mereka hidup damai setelah perang karena orang-orang pinggiran ikut berperan sebagai tentara sukarela atau semacamnya selama perang.


Saat berjalan ke tempat sepeda motornya diparkirkan, Nio bertemu anggota Kompi 406 dan 32 dan melakukan obrolan kecil bersama mereka.

__ADS_1


Pada saat Nio mencapai tempat parkir dan duduk di atas jok sepeda motor, Sersan Satu Sima juga ada di sampingnya. Pria itu memberi hormat padanya, dan bersikap santai setelah Nio membalasnya. Sima melihat perubahan besar pada Nio selama dia dikirim ke dunia lain, namun dia tidak berubah sama sekali karena selalu bertugas berkeliling Karanganyar selama masa damai ini.


“Kenapa sudah mau pulang, Lettu Nio?”


Nio menjawab pertanyaan Sima, “Tentu saja lanjut kerja. Aku ingin jadi perwira yang benar-benar aktif, bukan perwira yang cuma ngaku aktif.”


Sima tertawa kecil, namun dia tidak tahu ekspresi yang dibuat Nio karena masker buff berwarna hitam yang dikenakannya. Dia penasaran kenapa Nio tidak pernah melepas maskernya, dan apa dibaliknya.


“Aku juga tidak suka terlalu pasif. Lebih baik melakukan pekerjaan lain dibanding menganggur di markas.”


Setelah mendengar perkataan Sima, dia ingin mengatakan bahwa terlalu banyak bekerja di luar tugas bukanlah hal yang baik. Selain tidak akan mendapatkan kenaikan gaji, risiko kehilangan nyawa semakin besar jika kau terlalu sering pergi ke medan perang satu ke medan perang yang lain di luar waktu yang ditetapkan untuk suatu operasi.


“Lettu Nio, kenapa kamu memilih pekerjaan sebagai prajurit?” tanya Sima.


Dengan ekspresi sedikit bingung, Nio menjawab pertanyaan itu, “Kenapa?... Mungkin sama seperti kebanyakan orang bekerja, yaitu agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kenapa kau bertanya seperti itu, Sima?”


Wajah Sima menunjukkan dia membutuhkan jawaban lain. Menurutnya wajah Nio tidak menunjukkan bahwa dia bekerja hanya demi uang, namun untuk tujuan yang lebih besar.


“Aku sebenarnya takut…” ucap Sima dengan nada ragu-ragu.


“Kalau kau menyerah karena hal itu, malah akan lebih sulit untuk terus berjuang, dan kau akan menyesal.”


“Menyesal…” perkataan Sima terhenti, dia sepertinya kehabisan kata-kata untuk menanggapi perkataan Nio tersebut.


“Tapi, bukannya dianggap pengkhianat dan penjahat lebih parah?” Sima bertanya.


“Bener sih. Kenapa kau bertanya tentang itu?” Nio menjawab dengan sedikit kecurigaan.


Sima menundukkan kepala, wajahnya memperlihatkan ekspresi muram. Nio merasa ada keanehan pada Sima selama dia mengobrol dengannya.


“Aku… tidak mau kehilangan semua rekan dan pencapaianku selama berjuang bersamamu, Lettu Nio…”


“Sima, kau tidak akan berperang dalam waktu dekat, jadi tidak perlu mengatakan kata-kata terakhir mu sekarang,” kata Nio dengan nada bercanda. Dia berharap obrolan tidak mengalir ke topik yang lebih serius.


"Tapi aku takut apa yang kulakukan salah."

__ADS_1


__ADS_2