
Setelah kesembilan pahlawan melakukan perjalanan teleportasi dalam waktu tiga hingga delapan jam, mereka semua tiba di sebuah pulau milik Kekaisaran Duiwel. Perjalanan teleportasi untuk perjalanan keluar dari Benua Andzrev seharusnya menghabiskan waktu lima belas menit hingga setengah jam saja. Namun, seluruh pahlawan dan para penyihir yang mendampingi mereka ketika melakukan perjalanan teleportasi sama-sama menggunakan sisa energi magis untuk berteleportasi. Selain itu, baik pembuka gerbang teleportasi dan orang yang akan berteloportasi sama-sama akan mengeluarkan energi magis saat mereka melakukan perjalanan ke suatu tempat.
Mereka tidak bisa membuka Gerbang untuk menuju pulau itu, mengingat penyihir yang memiliki energi magis besar harus melakukan persiapan untuk pertempuran melawan Persekutuan selanjutnya, dan energi magis para pahlawan sangat terbatas. Selain itu, dengan energi magis yang terbatas, perjalanan waktu menggunakan Gerbang tak ada bedanya jika menggunakan sihir teleportasi. Kecuali jika mereka berada di Tanah Suci untuk membuka Gerbang sebagai jalur tercepat bagi pahlawan untuk mencapai Labirin. Tetapi, Tanah Suci merupakan medan perang potensial, dan jika mereka melakukan sedikit saja pergerakan yang mencurigakan maka musuh akan segera menyerang mereka.
Labirin yang dimiliki Kekaisaran Duiwel hampir mirip dengan penjara raksasa yang memiliki banyak jebakan dan tikungan yang menyesatkan, dan hanya orang yang sangat berpengalaman saja yang dapat memasuki dan keluar hidup-hidup. Orang yang memasuki Labirin untuk mencari berbagai jenis sumber daya atau barang berharga yang memiliki nilai jual sangat tinggi disebut sebagai ‘Penjelajah’, dan mereka adalah orang-orang yang mampu menghadapi semua hal yang ada di dalam Labirin. Kebanyakan dari para Penjelajah adalah mantan prajurit atau orang yang memiliki kemampuan bertarung yang sangat hebat, tetapi tidak mendapatkan atau memiliki pilihan selain menjadi Penjelajah sebagai pekerjaan.
Menurut beberapa informasi, para Penjelajah akan mendapatkan uang yang nilainya sama dengan barang yang mereka bawa dari dalam Labirin. Mereka akan menukarkan barang yang mereka dapatkan pada sebuah organisasi yang disebut ‘Persatuan Penjelajah’. Semakin langka barang itu dan semakin berbahaya cara mendapatkannya, maka akan semakin mahal pula barang tersebut.
Setiap negara yang memiliki Labirin akan memiliki Persatuan Penjelajah, dan organisasi ini memiliki fungsi ganda selain menjadi tempat pertukaran barang milik Penjelajah yang didapatkan dari dalam Labirin. Para calon Penjelajah diwajibkan untuk mendaftar pada Persatuan Penjelajah, dan mereka akan mendapatkan beberapa informasi tentang pekerjaan tersebut, termasuk syarat dan ketentuan ketika seseorang memutuskan menjadi Penjelajah. Salah satu syarat dan ketentuan yang harus dipahami bagi setiap Penjelajah adalah mereka akan menanggung sendiri segala resiko selama menjelajah, baik itu terluka ketika pertarungan maupun mati di dalam Labirin. Intinya, Persatuan Penjelajah tidak bertanggung jawab jika ada anggota mereka yang mati ketika melakukan penjelajahan karena mereka telah terikat dengan syarat dan ketentuan.
Syarat tersebut membuat Penjelajah mendapatkan julukan ‘Prajurit Liar’, karena baik prajurit dan Penjelajah sama-sama bertarung untuk mendapatkan uang. Tetapi, para penjelajah tidak mendapatkan perawatan oleh penyihir penyambuh – kecuali jika dalam kelompok mereka terdapat penyihir yang dapat mengobati luka atau penyakit, lalu jika mereka mati di dalam Labirin maka jasad mereka akan dibiarkan begitu saja. Tapi sesekali ada monster atau binatang yang memakan daging jasad para Penjelajah yang mati.
Selain itu, negara-negara yang memiliki organisasi Persatuan Penjelajah dapat memanfaatkan para Penjelajah yang memiliki kemampuan bertarung hebat untuk dijadikan prajurit bayaran. Jika beruntung, Penjelajah terbaik dapat diangkat menjadi ksatria atau prajurit pasukan elit suatu negara yang telah melihat kemampuan mereka ketika membeli jasa para Penjelajah untuk suatu pertempuran. Ada sejumlah nama Penjelajah di Kekaisaran Duiwel yang pernah mengalahkan monster kuat dan paling berbahaya, mereka disebut sebagai Penjelajah terbaik.
Biasanya para Penjelajah memiliki kemampuan unik selain bertarung menggunakan senjata tertentu seperti pedang, tombak, panah, atau senjata lainnya. Biasanya para Penjelajah membentuk grup kecil dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama ketika menjelajahi Labirin. Di kelompok tersebut dibagi menjadi beberapa grup yang lebih kecil lagi sesuai dengan kemampuan masing-masing penjelajah. Penjelajah dibagi menjadi beberapa kelas seperti kelas petarung, penyembuh, navigasi, penyihir, dan pembunuh cepat (pembaca dapat menyebutnya sebagai assasin). Bagi negara-negara yang memiliki Labirin pasti memiliki sejumlah Penjelajah yang hebat pada kelasnya masing-masing, termasuk Kekairasan Duiwel.
Penjelajah yang telah memiliki gelar ‘terbaik’ akan mendapatkan sejumlah keuntungan, termasuk ketenaran. Itulah yang membuat para pahlawan laki-laki tertarik dan tidak sabar untuk menjelajahi Labirin.
Persatuan Penjelajah telah tahu jika Aliansi akan mengirimkan para pahlawan untuk berlatih di Labirin, sehingga mereka semua tidak perlu mendaftar dan dapat langsung berlatih bersama monster-monster di dalam Labirin.
Sakuya berjalan di barisan paling depan dan menatap mulut goa dengan tatapan kagum. Umumnya, Labirin merupakan goa yang sangat luas dan super besar sehingga monster berukuran raksasa dapat hidup di dalamnya. Selain itu, di dalam Labirin akan ditemukan ekosistem seperti di dunia luar, mengingat banyaknya sumber energi yang cukup untuk membuat tumbuhan dan monster hidup didalamnya.
Biasanya sebelum menjelajahi Labirin seorang Penjelajah akan berlatih di suatu tempat atau beristirahat untuk memulihkan badan, tetapi mereka semua nampak tidak sabar untuk segera melihat apa yang ada di dalam Labirin beserta monster-monster nya. Semua pahlawan masih berusia antara dua puluh hingga dua puluh sembilan tahun, sehingga rasa ingin tahu mereka masih cukup besar.
Para penjelajah yang akan memasuki atau yang sudah keluar dari dalam Labirin memandang kesembilan pahlawan dengan tatapan bingung bercampur kagum. Negara mereka – Kekaisaran Duiwel – mampu bekerja sama dengan para pahlawan? Itu adalah pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
“Para pahlawan sekalian, sebelum kalian mulai menjelajahi Labirin, saya sarankan untuk beristirahat terlebih dahulu. Jangan berpikir jika pertarungan dengan monster semudah yang dipikirkan, lebih baik kalian persiapkan diri kalian. Beristirahatlah sebanyak mungkin.” ucap salah satu pendamping mereka.
Kemudian Rio berjalan lima langkah mendekati orang itu dan berbicara, “Aku masih memiliki banyak energi magis untuk mengalahkan semua monster di dalam sana. Jadi, aku akan segera memasuki goa yang kalian sebut sebagai Labirin ini, dan menjadi kuat lebih cepat.”
Setelah mendengar ucapan Rio, pahlawan lainnya berbicara satu sama lain mengenai keputusan Pahlawan Amarah tersebut. Tanpa adanya Indah sebagai Pahlawan Kesedihan tidak membuat kekuatan mereka berkurang sedikitpun. Hingga akhirnya mereka mendapatkan sebuah keputusan.
“Benar, kami akan segera melakukan penjelajahan dan melatih diri kami. Kami tidak dapat menyia-nyiakan waktu hingga penyerangan selanjutnya tiba,” ucap Pahlawan Iri Hati, Theodore.
Beberapa pendamping para pahlawan tidak bisa melawan keputusan mereka, sehingga mereka menyetujui begitu saja apa yang para pahlawan inginkan. Meski Labirin adalah tempat yang akan membuat seseorang tersesat dengan sangat mudah, para pahlawan dapat menemukan jalan keluar dengan mudah menggunakan kemampuan mereka yang disebut ‘sihir navigasi’, dan mereka tidak memerlukan Penjelajah kelas navigasi untuk mendampingi mereka selama penjelajahan. Selain itu, para pahlawan akan berpencar dan melakukan penjelajahan masing-masing hingga waktu yang telah ditentukan, yakni satu minggu.
Pernah ada seseorang yang hidup pada suatu masa yang mengatakan jika ketakutan terbesar manusia adalah ketidaktahuannya. Saat ini, para pahlawan tidak mengetahui dengan berbagai rintangan dan hal berbahaya yang jumlahnya tak terhitung. Tetapi, dengan kepercayaan diri mengenai kekuatan yang dimiliki, kesembilan pahlawan tersebut memasuki mulut goa, alias pintu masuk Labirin dengan perasaan yang membuat mereka dapat menangani apapun yang datang pada mereka, apa pun itu.
Pahlawan Kebencian bertanya pada Rio, “Kau benar-benar berubah setelah dibuat babak belur oleh prajurit Indonesia itu ya, Rio.”
“Hah?” Rio memandang dengan tajam Anurak dan tidak mengerti dengan apa yang orang Thailand tersebut katakan.
“Rio, perkataanmu tadi terdengar penuh dengan nafsu untuk menjadi kuat. Apa kau berniat membunuh orang yang telah membuatmu babak belur?” tanya kembali Anurak.
“Aku penasaran sama orang yang menghajarmu,” Baron bergabung dengan pembicaraan mereka.
Dengan nada santai Rio menjawab pertanyaan Anurak dan Baron, “Ya, aku akan menjadi kuat untuk membunuh orang yang telah membuatku seperti ini, Nio.”
“Nio? Pfffft … hahahahahahahahahahah…~” Tawa Baron menggema di seluruh lorong goa yang para pahlawan masuki. Untungnya tidak ada Penjelajah yang berjalan bersama mereka, sehingga tawa Baron yang mengganggu tidak terdengar oleh mereka.
Aura membunuh Rio yang sangat kuat tiba-tiba keluar, dan membuat seluruh pahlawan dan penyihir di dalam Labirin dapat merasakannya hingga merinding.
“Aku serius dengan perkataanku, Baron. Dan aku benar-benar serius ingin membunuh dan merebut semua yang dia miliki.”
“Aku penasaran dengan prajurit Indonesia yang menghajarmu habis-habisan. Apa dia rekanmu saat menjadi prajurit, Rio?” tanya Sakuya.
Mata Rio melebar seperti mata sapi saat dia mendengar pertanyaan itu. Untuk beberapa saat Rio kembali teringat dengan kenangannya ketika masih berjuang bersama Nio dan Jonathan, serta masa ketika mereka masih bersekolah dan dirinya yang menyukai Indah.
Berbagai hal semacam itu membuat Rio rindu, takut, dan marah – terhadap Nio yang seakan-akan olehnya dianggap telah merebut semua yang dia ingin dapatkan, termasuk Indah. Dia rindu masa-masa yang damai itu, tapi dia juga takut dengan keberadaan Nio yang sangat mengancam baginya dan Aliansi. Meski Rio memutuskan untuk membuang kenangan itu, tetapi ketika terjadi suatu hal tertentu kenangan itu akan kembali lagi pada ingatannya.
“Ya, dia berada dalam satuan yang sama denganku.”
“Kalau begitu dia bukan prajurit sembarangan, faktanya dia mampu membuatmu tidak bergerak di tempat tidurmu selama tiga hari,” ucap Sakuya dengan nada percaya diri dan tidak takut dengan reaksi Rio setelah mendengar perkataannya.
Sebagian besar perkataan Sakuya memang benar, dan Rio tidak dapat marah atau semacamnya setelah mendengar ucapan orang Jepang tersebut. Selain itu, dia juga merasa malu karena Pahlawan Amarah seperti dirinya dapat kalah dalam pertarungan tanpa senjata melawan prajurit manusia biasa, itu adalah hal yang menyedihkan bagi orang yang mendengarnya. Saat itu, dia benar-benar tidak berdaya dan hanya mampu mengeluarkan serangan terakhir saat dia hampir sekarat yang disebabkan oleh Nio. Tidak dapat melawan dalam pertarungan yang sesungguhnya adalah kegagalan terbesar, bahkan sama buruknya dengan kabur dari medan perang.
Mungkin saat itu lebih baik dia berhasil dieksekusi dan mati tanpa penderitaan. Peristiwa itu membuatnya memiliki kenangan buruk yang membuatnya marah dan sangat ingin membunuh seseorang. Rio hanya bisa memendam perasaan itu dan bersikap layaknya pahlawan yang memiliki kekuatan besar.
Di sisi lain, Sakuya penasaran dengan sosok yang telah menghajar Rio sampai pria itu terkena serangan mental ringan. Tipe pria yang diinginkan Sakuya adalah sangat kuat meski orang itu bukan dari kalangan militer atau sejenisnya, lebih tua atau sedikit lebih muda darinya, memiliki penghasilan tetap, dan mampu melindungi dirinya. Dan orang yang berhasil membuat Rio babak belur telah memenuhi salah satu syarat sebagai pria idamannya.
Saat ini, para pahlawan memiliki kegelisahan dan rasa ingin tahu dengan kekuatan para monster penghuni Labirin ini. Mereka semua memiliki ekspresi rumit yang sama, meski mereka memiliki kepercayaan untuk dapat mengalahkan semua lawan dengan kekuatan masing-masing. Terkadang mereka agak bersemangat lalu gugup ketika berjalan semakin dalam di Labirin ini.
“Baiklah, kita akan berpencar dari sini kan?” ucap Pahlawan Penyesalan, Gurion.
Namun, Rio memiliki rencana tentang perpisahan mereka untuk melakukan penjelajahan di labirin ini. Di depan mereka terdapat sepuluh lorong, lorong-lorong tersebut oleh para Penjelajah disebut ‘lantai’. Masing-masing lantai memiliki keunikan masing-masing serta tingkat kesulitan ketika melawan monster-monster di dalamnya. Lorong paling kiri alias lantai satu merupakan tingkat termudah, dan lorong paling kanan disebut lantai sepuluh adalah lantai dengan tingkat kesulitan paling tinggi dan dihuni berbagai jenis monster berakal dan sangat kuat. Rio bisa merasakan jika lantai sepuluh memiliki banyak hal berbahaya yang paling tinggi dibanding lantai lainnya, sehingga dia ingin Sakuya menjelajahi lantai sepuluh.
Tidak ada Penjelajah yang dapat keluar setelah memasuki lantai sepuluh, bahkan para Penjelajah yang memutuskan menjelajahi lantai tujuh hingga sembilan akan keluar dalam keadaan luka berat dan trauma yang berkepanjangan. Dan Rio ingin memanfaatkan hal itu untuk membalas perbuatan Sakuya yang telah membuatnya malu setelah gadis itu membesar-besarkan nama orang yang telah membuatnya babak belur.
“Aku ingin memasuki lorong yang ini,” ucap Sakuya sambil menunjuk lorong paling kanan, alias lantai sepuluh. Hal itu tentu saja sangat menguntungkan Rio karena dia tidak perlu bekerja keras untuk memaksa Sakuya untuk menjelajahi lantai sepuluh. Melihat wajah Sakuya menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, semua orang setuju dengan keputusannya.
Setelah itu seluruh pahlawan memasuki lantai yang mereka ingin jelajahi dan menurut mereka sesuai dengan kemampuan masing-masing. Anurak memutuskan untuk menjelajahi lantai lima dan Theodore menjelajahi lantai tiga. Lalu, Evgeniy menjelajahi lantai dua sedangkan Gurion akan menjelajahi lantai empat. Kemudian Kalle memutuskan menjelajahi lantai tujuh dan Baron memutuskan akan menjelajahi lantai delapan. Dan yang terakhir, Rio akan menjelajahi lantai satu dengan alasan energinya belum pulih sepenuhnya setelah peristiwa tersebut. Tidak ada yang akan menjelajahi lantai sembilan, sedangkan Sakuya akan menjelajahi lantai sepuluh seperti keputusannya sebelumnya.
**
Sakuya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti ketika menghadapi monster-monster yang menganggap dirinya sebagai ancaman, dan menembas semua monster yang menghalangi jalannya dengan katana miliknya. Satu-satunya sihir miliknya yakni melapisi katana-nya dengan kobaran api, dan setiap menebas tubuh musuh kobaran api tersebut akan merubah mereka menjadi abu dalam sekejap. Itu termasuk ke dalam sihir yang kuat, tetapi mengingat dirinya adalah petarung jarak dekat maka dia tetap memerlukan bantuan untuk melakukan serangan jarak jauh.
“Benar-benar tidak ada yang menjelajahi lantai ini,” gumam Sakuya ketika dirinya menyadari tidak ada seorang pun di tempat ini selain dirinya.
Gadis Jepang tersebut melihat ke sekelilingnya setelah mengalahkan beberapa monster dengan sangat mudah. Sebagian monster yang dia habisi kebanyakan berjenis minotaur atau orc raksasa. Langit-langit lantai sepuluh sangat tinggi, bahkan Menara Tokyo mungkin dapat dimasukkan ke dalam tempat ini menurutnya. Penerangan di sini mengandalkan hewan terbang seukuran burung yang dapat mengeluarkan cahaya di bagian belakang tubuhnya seperti kunang-kunang, tetapi berukuran raksasa.
Dia melanjutkan perjalanannya sambil menyaksikan pemandangan menakjubkan di dalam Labirin ini. Dia pernah membaca komik dan novel ringan dengan tema menjelajahi dungeon, dan dia selalu membayangkan dapat melakukan hal itu.
“Ini benar-benar nyata!” Sakuya bersorak dengan senyum yang memperlihatkan ekspresi bahagia.
Bisa dibilang khayalannya untuk menjelajahi Labirin adalah salah satu impian gadis itu, sehingga kenyataan ini membuatnya sangat bahagia. Dapat melawan monster dengan kekuatan luar biasa adalah hal yang paling menyenangkan menurut Sakuya, dan dia telah memiliki semua itu.
Labirin yang seperti tanpa ujung membuat Sakuya ingin menjelajahi tempat ini, dan meninggalkan tanggung jawabnya membantu Aliansi berperang melawan Persekutuan. Meski dia tahu lantai ini sangat berbahaya dan diisi dengan monster menakutkan dan kuat serta pintar, Sakuya percaya jika semua itu hanyalah hal yang dilebih-lebihkan.
Sesekali dia melihat tulang-tulang manusia yang berserakan dan senjata-senjata mereka, Sakuya menganggap mereka adalah Penjelajah yang mati ketika menjelajahi lantai sepuluh yang sedang dia jelajahi ini. Orang menjadi Penjelajah dengan imbalan ketenaran, kekayaan, dan kekuatan selama mereka tidak memiliki rasa takut terhadap semua mara bahaya di dalam Labirin.
“Aaaaaaaaaa….~!”
Tak jauh dari tempatnya saat ini, Sakuya mendengar suara teriakan beberapa orang – dan terdengar seperti suara perempuan. Dia sempat tidak percaya jika di tempat yang dikenal sebagai lantai paling berbahaya akan ada sekelompok Penjelajah yang menjelajahi tempat ini.
**
__ADS_1
Dua orang perempuan yang terlihat masih berusia antara tujuh belas dan dua puluh tahun berdiri di depan tiga rekan mereka yang melindungi seorang pria dengan pakaian aneh, mereka berdua menenteng pedang dengan berani layaknya pria. Mereka berdua merupakan Penjelajah kelas petarung, sedangkan tiga orang perempuan di belakang mereka Penjelajah kelas penyihir dan navigasi. Mereka berlima berusaha melindungi seorang pria – yang sepertinya seorang prajurit tapi berpakaian aneh – yang mereka tamui ketika menjelajahi lantai sepuluh ini.
Ketika berusaha menyadarkan pria yang tergeletak dengan kondisi tak bergerak tapi masih bernapas, sekawanan minotaur mengepung mereka dan bersiap menyerang mereka.
Salah satu rekan mereka berteriak dengan keras, sehingga mengundang lebih banyak manusia berkepala banteng tersebut. Kekuatan minotaur hanya bisa diimbangi oleh kemampuan bertarung kstaria elit atau penyihir kuat saja, sedangkan energi magis yang dimiliki rekan penyihir gadis-gadis tersebut telah habis.
Impian untuk menembukan harta berharga di dalam lantai sepuluh adalah tujuan gadis-gadis tersebut untuk menjelajahi lantai sepuluh ini. Sayangnya, setelah dikepung oleh sekawanan minotaur, impian tersebut seketika berubah menjadi hal bodoh.
Salah satu minotaur membawa senjata berupa pentungan, dan menebaskannya pada kedua gadis yang berdiri sambil membawa pedang di depan dada mereka dengan wajah ketakutan.
“Uughhhh!” itu adalah pekikan keras dari monster manusia berkepala banteng yang berusaha menebas dua gadis di depannya, namun tangannya yang memegang pentungan tergeletak di tanah.
Sesaat kemudian, sebuah pedang panjang menebas tubuh beberapa minotaur dalam kecepatan yang tak masuk akal dan kekacauan timbul di antara monster-monster tersebut.
“Itu… bantuan?” ucap salah satu gadis.
Saat berikutnya kepala seekor minotaur terlempar keudara setelah ditebas oleh pedang panjang milik seorang gadis muda… sama seperti mereka. Kurang dari lima belas minotaur dihabisi dalam watu kurang dari lima menit, dan itu adalah kekuatan yang tidak masuk akal dari seseorang yang mampu melakukan hal itu, kecuali orang tersebut merupakan salah satu pahlawan.
Keterkejutan dan rasa takut yang kelima gadis itu rasakan secara belebihan perlahan berubah menjadi perasaan akan harapan. Mereka berlima berharap jika gadis yang mengalahkan belasan minotaur bersedia membantu mereka tanpa imbalan yang mahal.
“Apa kalian baik-baik saja?”
Kelima gadis melihat seorang gadis muda sama seperti mereka yang membawa pedang tipis yang jauh berbeda dengan pedang standar milik ksatria. Tubuhnya sedikit tinggi dari mereka, dan gadis itu mengenakan pakaian berwarna gelap. Meski terlihat kuat, gadis itu memancarkan aura feminim yang besar. Terlebih lagi, gadis yang membantu mereka adalah yang paling cantik dari yang pernah mereka temui.
Sakuya berdiri tegak meski pakaian kimononya yang longgar memperlihatkan tubuhnya yang bagus. Gunung kembarnya yang cukup besar menonjol dan sedikit terlihat dari pakaiannya yang sengaja dibuat longgar. Kemudian, rajah yang bermotif mirip seperti tato Yakuza perlahan menghilang dan membuat kekuatannya perlahan kembali seperti semula. Dia menebaskan katananya ke samping, dan darah terciprat ke tanah.
Sakuya menatap kelima gadis tersebut dengan tatapan cemas, kemudian lega setelah melihat tak ada yang terluka di antara mereka – kecuali seorang pria yang berpakaian prajurit ‘dunia lain’.
“Terimakasih banyak sudah mengalahkan monster-monster itu. Ka-kami tidak tahu haru membalasnya dengan cara apa,” ucap salah satu perempuan Penjelajah kelas petarung.
“Jika kalian baik-baik saja, itu sudah cukup bagiku. Sykurlah aku datang tepat waktu,” jawab Sakuya yang membuat kelima gadis merasa lega karena mereka tidak perlu membayar bantuan besarnya.
Sakuya lalu berjalan dan mendekat ke tubuh seorang pria yang mengenakan pakaian kamuflase salju – dengan lambang merah putih di lengan kiri seragamnya. Kemudian dia mengamati selama beberapa menit wajah pria itu, dan menemukan satu jawaban.
“Di mana kalian menemukan orang ini?” tanya Sakuya.
Kelima gadis saling pandang sejenak untuk menentukan siapa yang akan menjawab pertanyaannya.
“Kami menemukannya di sini, sepertinya dia dalam kondisi tak sadarkan diri. Lalu saat kami mencoba membangunkannya, sekumpulan minotaur mengepung kami.”
Namun, sesaat setelah Sakuya menjawab jawaban tersebut, terdengar suara raungan khas minotaru yang sangat keras, seakan-akan teriakan mereka mampu meruntuhkan langit lantai sepuluh ini.
“Bantu aku bawa dia,” ucap Sakuya sambil melingkarkan lengan pria itu di bahunya, lalu salah satu gadis membantunya.
Ketika kabur dari sekawanan minotaur, Sakuya berkata di dalam hatinya, “Kenapa ada prajurit Indonesia di sini?”
**
Kota Tanoe merupakan kota yang berada dalam zona perang potensial, mengingat letaknya yang hanya kurang dari seratus kilometer dari garis pertahanan terdepan Persekutuan. Sehingga penjagaan di sini cukup ketat, dan menyebabkan Tim Ke-12 kesulitan untuk bergerak secara diam-diam. Namun, mereka terpaksa bergerak secara terbuka sambil mengenakan mantel seperti milik warga lokal dan mengenakan penutup mulut untuk menutupi seragam dan identitas mereka – kecuali Hevaz dan Edera. Kedua gadis tersebut masih mengenakan pakaian biasa mereka, dan menyamar sebagai penduduk lokal.
Kendaraan tim itu ditinggal di luar kota, dan ditutupi dengan tumpukan jerami dan rumput untuk menutupi jejak adanya mereka di wilayah Kekaisaran Luan ini. Saat ini mereka berada di depan salah satu gerbang masuknya Kota Tanoe, dan akting mereka yang terlatih tidak membuat siapapun – bahkan prajurit penjaga kota – mencurigai mereka semua. Sayangnya, kebanyakan penduduk kota yang melihat Edera masih menganggap dia sebagai budak. Tetapi, Nio meminta agar Edera tetap tenang karena waktu untuk membalas pasti akan tiba.
“Kita akan berpencar, dan akan bertemu kembali di tempat ini pada pukul…,” Nio mengeluarkan jam tangan dari sakunya dan menentukan waktu untuk berkumpul.
“Siap, paham,” jawab semua anggota tim dengan serempak dan bersuara lirih.
Dengan mantel yang menutupi seluruh tubuh membuat senjata dan seragam tempur lengkap mereka tidak terlihat, sehingga mereka tidak perlu ragu mengenai kemanan pribadi karena Nio telah mengijinkan mereka untuk melawan jika keadaan sudah terdesak.
“Hassan, kau yang memimpin grup 2, dan aku yang memimpin grup 1.”
“Siap. Sesuai arahan darimu, Letnan, kami akan melumpuhkan siapapun yang mengancam kami.”
“Bagus, berpencar sekarang! Sertakan Tuhan pada setiap kegiatan kalian! Ijin untuk melaksanakann misi, diberikan.”
“Siap! Ijin untuk melaksanakan misi diterima!”
Kemudian Nio memerintahkan anggota grupnya yang terdiri atas Hendra, Ratna, Arif, Bima, Yogi, Sigit, Herman, Zefanya, Ga-Eun, dan Ika dengan tambahan Hevaz dan Edera untuk bergerak bersamanya. Sekarang, mereka telah memasuki wilayah Kota Tanoe tanpa ada yang mencurigai, meski tinggi tubuh Ika yang sangat tinggi membuatnya sangat mencolok.
Meski kota ini tidak sebesar kota-kota lain yang pernah Nio datangi ketika bertugas di dunia ini, kota ini tetap seperti tidak ada bedanya dengan yang lain. Yang membedakan hanyalah jumlah penjaga di kota ini yang sedikit lebih banyak, serta pedagang yang terlihat lebih banyak dan ramai.
Sebelum perang, kota ini menjadi salah satu bagian dari Jalur Emas, sehingga perdagangan antara Kerajaan Arevelk dan Kekaisaran Luan sering berlangsung di sini, sehingga membuat Kota Tanoe menjadi cukup makmur. Meski masih tergolong kota kaya, namun perdagangan di kota ini lebih mundur setelah perang karena perdagangan hanya sebatas dilakukan oleh pedagang lokal tanpa adanya pedagang dari luar negeri.
Jumlah prajurit di kota ini yang cukup banyak merupakan informasi pertama yang Nio dapatkan, dan akan melanjutkan pengintaian untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Dia sengaja memerintahkan seluruh anggotanya untuk sedikit menyebar, meski dia dianggap oleh beberapa orang sebagai pemimpin rombongan Penjelajah. Meski itu membuktikan jika pergerakan mereka di sini tidak dicurigai, namun kendala bahasa yang dialami anggotanya cukup membuatnya resah.
“Apa yang kau inginkan hah?!” tiba-tiba Nio mendengar suara teriakan dari Zefanya – yang memiliki masalah dengan sekumpulan pria.
“Ayolah nona, apa tidak bisa malam ini saja?” ucap salah satu pria dengan wajah cabul setelah melihat tubuh bagus Zefanya.
Meski cukup membuat mereka menjadi pusat perhatian, tetapi masih belum ada yang mencurigai mereka dan hanya menganggap kejadian itu sebagai hal biasa. Seluruh anggota grup 1 mendekati Zefanya dan mengelilingi enam pria yang mengganggunya.
“Menjauh dari gadis ini, atau kau akan kehilangan masa depanmu.”
Sabit raksasa Hevaz berada di depan leher pria yang memegang pantat Zefanya, dan jika pria itu menggerakkan jakunnya maka lehernya akan terluka terkena sabit. Seluruh teman pria itu lari sekuat tenaga dan meninggalkannya di tengah kepungan rekan-rekan gadis yang dia lecehkan tadi. Lututnya yang gemetar membuat seluruh anggota grup 1 tersenyum, lalu menahan tawa ketika celana pria itu mulai basah dan cairan mengalir di kedua kakinya.
Hevaz melepaskan pria itu sebelum air seninya mengotori jalan, dan seluruh orang yang melihatnya tertawa.
“Zefanya jangan terlalu jauh dengan yang lain, kau tidak mau kan kejadian ini terulang lagi?”
Zefanya menyesal ketika pria tadi menyentuh tubuhnya – dan bukannya Nio yang melakukannya. Tetapi, dia tetap merasa senang saat Nio menunjukkan rasa perhatiannya meski dia tahu itu hanya bentuk perhatian komandan terhadap bawahannya. Selama itu membuat hatinya merasakan senang, dia tidak keberatan pria itu menganggapnya sebagai apa.
Lalu, tiba-tiba seluruh anggota mengarahkan senapannya ke arah Nio dan membuatnya seketika mengangkat tangan. Nio merasa sangat gelisah saat seluruh bawahannya mengeluarkan SS20 G2 mereka. Namun, dia juga merasa ada seseorang yang memegangi mantelnya, dan dia menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang yang memegangi mantelnya.
Beberapa saat sebelum kejadian...
Indah berjalan lalu melihat kerumunan orang yang mengenakan mantel mengelilingi enam orang pria, dan nampaknya mereka memiliki masalahnya masing-masing. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang memberinya hormat setelah memastikan jika dirinya benar-benar Pahlawan Kesedihan, dan berjalan untuk menengahi masalah antara dua kelompok tersebut.
Dia berhenti sejenak ketika salah satu gadis mengarahkan sabit besarnya ke depan leher seorang pria, dan membuat rekan-rekannya melarikan melewati dirinya.
“Nona pahlawan, kami mohon selamatkan teman kami. Orang-orang itu tiba-tiba ingin menyerang kami!” ucap salah satu pria yang melarikan diri.
“Mereka akan menyerang kalian?” tanya Indah, lalu berjalan mendekati kedua kelompok setelah pria yang ditinggal dilepaskan dalam keadaan celana basah.
Pria itu sudah dilepaskan dan tugasnya untuk membantu mereka sudah selesai, Indah kemudian berjalan mendekati kelompok yang mengenakan mantel tersebut. Lalu seorang pria dari kelompok itu berbicara setelah melepas maskernya, dan dia mendengar suara pria yang tidak asing baginya.
“Nio!”
__ADS_1
Dia merasa jika pemilik suara itu adalah Nio, lalu memegang ujung mantel pemuda itu untuk mencegahnya pergi. Tiba-tiba seluruh senapan milik kelompok Nio mengarah padanya dalam mode otomatis penuh. Indah merasakan tubuhnya gemetar dan tidak bisa bergerak, sementara tangan kanannya masih memegangi ujung mantel Nio. Lalu wajah Nio menoleh ke arahnya, dan membuat wajah terkejut yang tidak dibuat-buat.
“Jangan tembak,” perintah Nio.
“Apa kau mengenal dia, Let?” tanya Sigit dengan nada meragukan ucapan Nio.
“Ya, tapi biarkan aku berbicara dengannya dulu. Tapi, sekarang sembunyikan lagi senjata kalian.”
Orang-orang yang melewati mereka menatap dengan wajah heran dan bingung, lalu para prajurit yang berpatroli berlalu begitu saja tanpa melakukan apa-apa ketika grup 1 mengeluarkan senapan mereka.
“Ayo kita bicara di tempat lain – “ sebelum Nio menyelesaikan perkatannya, Indah memeluk tubuhnya dengan tiba-tiba dan sangat erat.
Nio sama sekali tidak merasakan apapun dari pelukan yang dilakukan Indah terhadapnya, alias Nio sebenarnya bingung harus merasa senang, sedih, atau marah terhadap salah satu pahlawan tersebut. Dia bisa melihat wajah rekan-rekannya, termasuk Edera yang menunjukkan ekspresi rumit. Sedangkan Hevaz, dia melihat gadis itu masih menenteng sabit besarnya dan terlihat sangat siap untuk menebaskannya padanya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Nio.
Mendengar komandan mereka berbicara seakan-akan sangat mengenali perempuan yang memeluknya, seluruh anggota grup 1 merasa sangat keheranan, begitu juga dengan Edera dan Hevaz.
“Siapa sebenarnya dia, Tuan?” Tanya Edera.
“Tuan Nio, apa Anda memiliki hubungan dengan perempuan ini?” hal yang sama juga dilakukan oleh Hevaz.
“Ya, suatu hubungan yang sangat rumit.”
Indah lalu melepaskan pelukannya secara perlahan, dan merasakan jika Nio membawa senjata lengkap ketika memeluk tubuh pria tersebut. Nio terlihat tak jauh berbeda, kecuali tubuhnya yang nampak lebih berotot dan kulitnya lebih gelap dari sebelumnya. Namun, perubahan kecil tersebut tidak membuatnya merubah perasaannya suka dan cinta pada Nio yang masih ada di hatinya.
Nio kemudian menghela napas karena kenapa harus bertemu dengan seorang pahlawan sekarang, dan membuat situasi menjadi jauh lebih rumit daripada perasaannya terhadap Indah. Orang-orang yang menaruh curiga terhadap mereka sudah tidak ada, dan Nio merasa jika dia dapat membawa Indah ke suatu tempat untuk membicarakan sesuatu.
“Kau ingin berbicara denganku, kan? Kita bisa melakukannya di rumah makan atau di taman.”
Ucapan Indah yang menunjukkan masih memiliki harapan padanya membuat Nio sedikit kesal, sebenarnya. Dan dengan langkah terpaksa dirinya mengikuti Indah menuju salah satu tempat yang dimaksud, dan diikuti seluruh anggota grup 1, Edera, dan Hevaz.
**
“Kau pasti masih menganggapku sebagai musuh.”
“Jika di medan perang tentu saja aku menganggapmu seperti itu.”
Mereka berdua duduk di bawah pohon besar yang tumbuh di taman kota ini, sedangkan seluruh anggota grup 1 menyebar untuk mengamankan situasi selama Nio menanyai Indah. Sedangkan Hevaz dan Edera tidak bisa menjauh dari Nio dalam radius lima meter, dan mengatasnamakan bahwa mereka adalah ‘pelayan pribadi’ pria itu untuk tidak menjauh darinya.
Indah merasakan jika Hevaz memiliki energi magis lebih besar dari pahlawan seperti dirinya, begitu pula dengan Hevaz yang merasakan Indah memiliki energi magis yang mampu membuat sebuah kota hancur.
“Apa misimu di sini? Melakukan penyerangan tiba-tiba?” tanya Indah.
Nio sedikit tersenyum ketika mendengar perkataan dari gadis itu, namun dia sendiri sebenarnya juga tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaannya.
“Kita tidak sedang berperang, jadi aku bebas berkeliling ke mana saja selama tidak melanggar aturan.”
“Kalau begitu, apa kalian punya paspor atau visa?”
“Ketinggalan.”
Ketidaktahuan antara Nio dan Indah tentang tujuan satu sama lain membuat mereka merasa resah. Dia tahu jika Indah sekarang memiliki kekuatan yang sangat besar, dan dapat membunuhnya jika dia menunjukkan perlawanan.
“Sebenarnya aku bisa memberimu beberapa informasi. Tapi tentu saja dengan beberapa syarat.”
Ucapan Indah sempat membuat Nio senang dengan sedikit rasa curiga, lalu kembali kesal ketika gadis itu memberikannya syarat jika menginginkan informasi darinya.
“Apa syaratnya? Tapi pastikan kalau informasi yang kau berikan berguna.”
“Syaratnya kamu hanya perlu jawab pertanyaanku. Bagaimana perasaanmu pada ku sekarang?”
“Tidak tahu, tapi bukannya kau seharusnya sudah melupakan semua tentang itu?”
Indah menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Nio.
“Penyesalan terbesarku adalah sudah melukaimu, tapi kemungkinan untukku melakukan hal itu lagi masih ada. Perasaanku terhadapmu masih sama, dan aku mengharapkan kita dapat kembali jika keadaan sudah normal.”
“Apa kau pikir perang ini akan berakhir satu bulan? Atau satu tahun lagi? Lalu, jika perang ini selesai, apa kau pikir kita bisa kembali? Kupikir tidak akan, karena aku akan menjaga perasaanku terhadap orang-orang yang membutuhkan perlindunganku. Sedangkan kau, seharusnya kau sudah tahu apa statusmu setelah membantu Aliansi dan membunuh banyak prajurit TNI.”
“Pengkhianat,” tiba-tiba Ika berdiri di depan Indah dan berkata seperti itu.
Seluruh anggota grup 1 telah mencurigai perempuan yang berbicara bersama Nio dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih, sehingga mereka menyadari sesuatu ketika teringat informasi tentang dua pahlawan yang berasal dari Indonesia.
Tentu saja Indah menyadari statusnya setelah memutuskan membantu Aliansi, namun tujuannya hanyalah membuat perang ini selesai lebih cepat dan membuatnya kembali ke asalnya dengan cepat juga. Lalu, ketika dia memutuskan akan memberikan Nio informasi, itu adalah kedok agar dirinya dianggap membantu dan Nio kembali menunjukkan rasanya terhadapnya.
“Aku tahu, dan aku sudah melukai Nio. Kukira dia tidak akan selamat ketika penyerangan besar itu. Tapi aku berharap agar dia tetap melanjutkan hidup, dan terus hidup hingga akhir perang. Hingga saat itu tiba, aku akan berusaha agar kembali pantas menginjakkan kaki di Indonesia.”
“Kau pikir begitu? Setelah perbuatanmu terhadap TNI – Pasukan Ekspedisi – kau merasa dirimu dapat kembali pantas agar dapat menginjakkan kaki di Indonesia?” tanya Ratna dengan wajah yang benar-benar menunjukkan kebencian terhadap Indah.
“Apa ini?!” teriak Nio.
Seluruh orang melihat lingkaran berwarna putih dengan pola geometris dan kata-kata mantra yang menghiasinya di bawah kaki Nio.
“Itu, gerbang teleportasi!” ucap Hevaz dengan nada panik.
Beberapa menit kemudian lingkaran tersebut semakin terang, seakan-akan dapat melahap Nio. Sesaat kemudian, sosok Nio tidak terlihat di depan mereka, alias Nio berteleportasi ke tempat lain.
“Brengsek! Apa yang kau lakukan terhadap Letnan!?” tanya Hendra dengan nada marah yang meledak-ledak. Akhirnya pria itu menunjukkan sifat tersembunyinya, dan akan menjadi informasi berharga.
“Itu sihir teleportasi. Itu digunakan untuk memindahkan para pahlawan, kecuali aku, ke Labirin milik Kekaisaran Duiwel. Mereka sepertinya benar-benar membuka gerbang teleportasi untuk sembilan orang, dan orang kesembilan diambil secara acak, lalu Nio yang menjadi orang itu,” Indah menjelaskan dengan wajah panik.
“Itu benar, jika salah satu orang yang akan dipindahkan menggunakan gerbang teleportasi memutuskan untuk tidak melakukan teleportasi, maka pengganti yang dipilih secara acak akan dikirim menggunakan sihir teleportasi tersebut. Tapi, bagaimana dengan Tuan Nio? Apa dia akan selamat?” ucap Hevaz.
“Tentu saja, bukannya dia adalah orang yang – “ Edera menghentikan kalimatnya ketika melihat Hevaz memegang sabit di tangan kanannya, dan menunjukkan tatapan “Jangan katakan yang sebenarnya!”.
“Jika orang yang akan berteleportasi tidak memiliki energi magis yang cukup, maka tubuh orang itu akan hancur ketika proses teleportasi,” penjelasan Hevaz dengan bahasa Indonesia yang fasih cukup membuat seluruh anggota grup 1, Indah, dan Edera terkejut sekaligus panik.
Lalu, dengan gugup Sigit berkomunikasi dengan pemimpin grup 2, Hassan, dan menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi.
**
Funfact#14: hp nya author kagak bisa buat main genshin impact.
Funfact#15: pastinya tidak ada yang peduli dengan fakta di atas.
__ADS_1