
20 April 2321, pukul 14.19 WIB.
**
Tes terakhir sudah dimulai, yaitu tes bertahan hidup atau kata kerennya ‘survival’. Beberapa warga berdiri di pinggir jalan untuk melihat prajurit peserta tes yang sedang berlari menuju titik tujuan.
Beberapa dari warga juga menyemangati para prajurit dengan berbagai bentuk dukungan, kecuali bahan konsumsi.
Mengenai bahan konsumsi, Nio bahkan harus berpikir keras untuk menyembunyikan mi instan yang ia bawa di dalam tes. Karena bisa saja di salah satu titik yang dijaga pelatih ransel milik peserta tes akan digeledah.
Rute yang akan dilalui masing-masing Regu tentu saja berbeda satu sama lain, namun tetap memperhatikan jarak agar tetap sama satu sama lain.
Tidak ada petunjuk jalan untuk menuju titik pertama, Komandan masing-masing Regu harus bertanggung jawab tentang hal ini.
Namun berbeda dengan Nio, dia cukup familiar dengan jalan menuju titik pertama yang ditentukan. Titik yang harus peserta lalui sebanyak 12 titik dan setiap titik dijaga beberapa pelatih yang sudah siap.
Jarak Kecamatan Jumapolo ke puncak gunung Lawu sekitar 52 km. Seluruh prajurit peserta tes harus tiba di lokasi dalam waktu satu minggu.
Meski waktu yang diberikan terbilang lama, tes yang akan dijalani termasuk beresiko tinggi. Karena memang itu hal yang harus siap dihadapi pasukan khusus.
Beresiko tinggi karena bisa saja mereka bertemu pasukan musuh, atau lebih buruk dari itu. Itu juga kalau ada hal yang lebih buruk dari sekedar bertemu 1 Regu pasukan musuh.
Para pelatih yang mengenakan perlengkapan dan bersenjata lengkap sudah disebar di titik yang ditentukan untuk membuat rintangan yang akan dihadapi peserta tes.
Saat hampir mendekati titik pertama, Nio memberi kode tangan agar seluruh anggota Regu berhenti berlari.
“Keluarkan seluruh isi ransel kalian!” perintah Nio yang dijawab tatapan penuh keheranan seluruh anggota Regu.
“Untuk apa?” tanya Sima.
Nio kemudian mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, yaitu satu bungkus plastik yang sering digunakan di warung untuk membungkus barang yang dibeli.
Nio mendapatkan plastik karena membawanya saat akan berangkat untuk mengikuti pelatihan ini. Pastinya yang menyuruh Nio membawa plastik adalah Arunika.
“Keluarkan saja, kita harus cepat ke titik pertama!” ucap Nio sambil mengeluarkan seluruh isi ranselnya.
Seluruh anggota Regu juga mengikuti apa yang dilakukan Nio dan mengeluarkan seluruh isi ranse keatas tanah.
__ADS_1
Setelah itu Nio membagikan plastik pada anggota Regu, masing-masing orang mendapatkan 5 buah plastik.
“Lalu masukkan seluruh barang bawaan kalian ke plastik!” ucap Nio sambil melakukan hal yang sama seperti yang dia katakan.
Beberapa orang hanya saling pandang karena heran, sebagian lagi tanpa bas-basi langsung mengikuti hal yang dilakukan Nio.
Satu per satu barang bawaan yang dibawa dimasukkan ke dalam plastik berwarna hitam tersebut. Termasuk 2 buah granat tangan yang dibawa salah satu anggota Regu untuk berjaga-jaga dari kemunculan musuh.
Para anggota juga membawa pakaian ganti jika diperlukan. Masing-masing anggota juga dibekali dengan 2 buah korek api dan 10 gram garam, tidak termasuk peralatan memasak. Karena helm latihan dapat digunakan sebagai pengganti panci karena terbuat dari bahan yang mudah menghantarkan panas.
Namun sepertinya Nio tidak mematuhi hal itu karena dia membawa beberapa bungkus mi instan yang tersisa.
Nio menyembunyikan mi instan dengan cara membungkusnya menggunakan pakaian ganti dan dilapisi beberapa pakaian lagi. Dia melakukan hal itu hingga seluruh mi instan yang ia bawa ‘dilindungi’ dengan sempurna.
Beberapa anggota bergumam semacam ‘emang boleh bawa makanan tambahan?’ ‘kalau ketahuan petih gimana dia?’ dan segala pembicaraan yang mengarah pada ulah Nio itu.
Beberapa lagi justru terlihat menahan tawa karena mungkin saja hanya Komandan mereka yang berani melakukan hal itu. Termasuk Sima dan Rio yang terlihat antara kagum dan malu dengan sifat Nio.
“Baiklah, semuanya sudah selesai?” tanya Nio.
Beberapa anggota menggelengkan kepala karena belum selesai memasukkan barang bawaan yang sudah terbungkus plastik kedalam ransel.
**
Di titik pertama sudah ada Regu 4 yang tiba lebih dulu dari Regu 4. Titik pertama merupakan area persawahan yang sepertinya siap untuk ditanami padi.
Setelah itu dua orang pelatih yang menjaga titik pertama menyuruh seluruh prajurit di kedua Regu untuk duduk berjongkok.
“Keluarkan seluruh isi ransel yang kalian bawa!” perintah salah satu pelatih.
Seluruh prajurit mengeluarkan barang bawaan dan meletakkannya diatas tanah yang lembek langsung tanpa pelindung. Namun bagi Regu 3 hal itu bukan masalah karena seluruh barang bawaan mereka sudah terbungkus dengan plastik.
Setelah barang bawaan seluruh prajurit sudah dikeluarkan dari ransel masing-masing, kedua pelatih itu tanpa basa-basi mengambil barang bawaan mereka dan melemparkannya ke kubangan lumpur sawah.
Tentu saja yang hal yang dilakukan pelatih itu mengejutkan seluruh prajurit peserta tes. Karena semua barang bawaan menjadi kotor yang disebabkan lumpur sawah, kecuali ransum yang berisi makanan tidak dileparkan ke sawah dan granat.
Namun prajurit peseta tes tidak dapat melakukan suatu hal untuk menyelamatkan barang bawaan mereka, kecuali jika ingin diperintahkan untuk melakukan push up 10 porsi.
__ADS_1
(Catatan: 1 porsi push up\= 10 kali)
Tidak hanya di lemparkan ke dalam kubangan lumpur sawah, para pelatih juga menginjak –injak barang bawaan prajurit yang berupa pakaian ganti dan peralatan peting lainnya.
Meski begitu, seluruh anggota Regu 3 tetap terlihat tenang karena barang bawaan mereka tetap aman dari lumpur dan berpikir hanya rusak sedikit karena diinjak-injak.
Namun berbeda dengan Nio yang berekspresi tidak tenang saat bungkusan plastik berisi pakaian dan mi instannya diinjak-injak oleh pelatih. Penyebabnya sudah jelas, karena ada beberapa bungkus mi instan milik Nio.
Namun Nio berusaha untuk tetap tenang meski hatinya tidak.
Di dalam hati Nio berkata sambil memegangi dadanya yang sesak karena harus rela mi instannya harus hancur, “Oy, seseorang. Kumohon hentikan mereka.”
Saat melihat barang bawaan seluruh Regu 3 yang seluruhnya terbungkus plastik terlihat heran dan lebih mengarah ke perasaan kesal, begitu juga kedua pelatih itu.
Setelah selesai ‘puas’ menginjak-injak barang bawaan milik peserta, pelatih kemudian memerintahkan para prajurit peserta tes untuk mengambil lagi barang bawaan mereka.
Para prajurit perempuan yang akan mengambil barang bawaan mereka terlihat hampir menangis dan tetap menahannya agar tidak dipulangkan.
Para prajurit memilih barang yang dirasa adalah miliknya.
Seluruh anggota Regu 4 yang barang bawaaan mereka sangat kotor dengan lumpur terpaksa memasukkannya kedalam ransel mereka yang bersih.
Hal yang sama juga dialami seluruh anggota Regu 3, namun setidakknya barang bawaan mereka selamat dan tidak kotor.
Regu 1 dan 2 sudah tiba di titik pertama dan melihat dengan heran anggota Regu 3 dan 4 sedang berada di tengah sawah.
Para pelatih saat melihat kedatangan Regu 1 dan 2 memerintahkan seluruh prajurit Regu 3 dan 4 untuk merayap di lumpur sawah hingga batas yang sudah disiapkan.
Meski dengan terpaksa para prajurit melakukan perintah para pelatih dan segera merayap diatas lumpur dan menjaga senapan agar tidak terkena lumpur.
Batas terpasang di pinggir sungai dengan petunjuk selanjutnya, yakni seluruh prajurit harus menyebrangi sungai tanpa menggunakan jembatan.
Itu menguntungkan para prajurit yang dalam keadaan seluruh badan kotor karena lumpur. Karena menyebrang melewati sungai dapat sekalian membersihkan diri dari lumpur.
Sementara itu Regu 1 dan 2 terlihat seperti anggota Regu 4 saat diperintahkan untuk mengeluarkan isi ransel mereka.
Namun bedaanya para anggota Regu 1 dan 2 harus melemparkannya sendiri di kubangan lumpur.
__ADS_1
Nio dan anggota Regu 3 yang lainnya terlihat ‘miris’ dengan itu. Namun mereka ‘harus’ beranggpan jika ini salah satu hal pembentuk mental prajurit yang akan menjadi bagian pasukan khusus.