Prajurit SMA

Prajurit SMA
Bantuan dari musuh


__ADS_3

Nio melihat dirinya melayang dengan bebas di ruang yang menurutnya sangat luas, dan disepanjang pandangannya Nio hanya melihat warna putih. Dia teringat apa yang terjadi padanya sebelumnya, dan dia seketika langsung berpikir jika lingkaran sihir itulah yang membawanya ke ruang putih luas ini.


“Apa mereka selamat? Yah, itu sudah jelas, sih. Tapi, bagaimana dengan ku?” tidak ada apapun di sini kecuali warna putih dan Nio masih dapat bernapas dengan normal. Hal pertama yang dia cemaskan adalah seluruh bawahannya, Edera, dan Hevaz. Sementara itu, dia tidak merasa pasrah dengan keadaan, namun dirinya tidak dapat bergerak cukup membuat Nio ingin menghajar siapapun yang membuatnya seperti ini.


Hal pertama yang Nio pikirkan tentang warna putih tempatnya melayang adalah ruang penyiksaan yang disebut ‘Ruang Putih / White Room’. Salah satu ujian yang harus dia lewati ketika melaksanakan bagian pendidikan untuk menjadi Pasukan Pelajar Khusus adalah dikurung di dalam ruangan dengan warna putih, kasur warna putih, alat makan dan makanan berwarna putih, dan pakaian yang dikenakan berwarna juga berwarna putih selama dua hari. Mengurung seseorang di dalam ruangan serba putih dipercaya mampu merusak mental dan meruntuhkan kepercayaan seseorang akan identitas dirinya. Intinya, hukuman dengan cara mengurung seseorang di dalam Ruang Putih berarti menyiksa seseorang dengan salah satu metode penyiksaan paling mematikan.


Jika seseorang terlalu panik atau cemas secara berlebihan ketika dikurung di dalam Ruang Putih, kemungkinan besar ketika keluar dari ruangan mereka akan mengalami kegilaan atau yang lebih buruk. Lingkaran sihir sebelumnya membawa Nio ke tempat serba putih yang jauh lebih luas dari Ruang Putih biasa, namun belum mampu membuat Nio gila atau semacamnya. Dia hanya merasakan gelisah ketika tubuhnya melayang dengan bebas seperti sedang berada tempat dengan gravitasi nol. Dia merasa tubuhnya melayang tanpa arah, dan tidak ada tanah atau sesuatu yang dapat dijadikan media baginya untuk mendarat.


Munculnya Indah secara kebetulan membuat Nio mencurigai jika gadis itu yang membuatnya terjebak dan terus melayang di sini, bahkan dia mulai merasakan perutnya akan mengeluarkan isinya. Pipinya menggembung, dan menahan diri agar tidak mengeluarkan makan siangnya sekarang. Tetapi, mengeluarkan mencurigai seseorang tetap membutuhkan tenaga, dan Nio tidak ingin tenaganya terbuang sia-sia hanya karena mencurigai seseorang tanpa dasar yang benar. Selain itu, Nio berpikir jika situasi yang sedang dia hadapi sekarang adalah salah satu fenomena sihir yang umum terjadi, dan termasuk hal yang dia takutkan saat ditugaskan kembali ke dunia ini.


Dalam novel dan komik Jepang yang pernah dia baca memang dijelaskan seorang tokoh utama yang dipindahkan ke dimensi lain, dan mereka berada di ruangan putih sebelum dipindahkan ke tujuan. Tapi, yang dia alami sekarang benar-benar nyata, dan dewa atau sosok lain yang ditemui tokoh utama dalam komik atau novel Jepang sebelum dipindahkan ke dunia lain mungkin tidak akan dialami olehnya. Tapi, beberapa saat setelah dia melayang dengan bebas dan tanpa arah di ruang putih luas ini, Nio merasakan tubuhnya merasakan kombinasi antara disayat ratusan pedang dan dihajar ribuan kali yang menjadi satu.


Nio tidak tahu siapa yang membuat sekujur tubuhnya terasa perih dan sangat sakit, bahkan efek dari latihannya selama ini tidak pernah separah ini. Meski dia pernah banyak mendapatkan sayatan benda tajam di tubuhnya, namun itu tidak sesakit yang dia rasakan sekarang. Nio hanya dapat berteriak sekeras-kerasnya saat rasa sakit yang dia derita semakin parah. Tapi tetap saja, di tempat ini hanya ada warna putih dan sesuatu yang dapat membuatnya tetap bernapas. Tidak ada yang mendengar teriakkan penuh rasa sakit yang Nio alami, dan teriakannya semakin keras saat rasa sakit di tubuhnya semakin parah.


Tetapi, tidak ada luka sayatan benda tajam atau memar akibat tinjuan, namun Nio terlihat merasakan kedua rasa sakit secara bersamaan seperti sangat nyata. Nio memberontak ketika melayang, seakan-akan melawan seseorang yang membuatnya menderita seperti sekarang. Sayangnya, tidak ada orang lain selain dirinya di tempat ini, dan dia benar-benar sendirian di sini.


Nio yang masih tersadar dan tetap merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, kedua matanya yang hampir tertutup karena menderita dengan semua rasa sakit itu melihat lubang berwarna hitam yang semakin besar – atau dirinya yang melayang dan terbang semakin dekat dengan lubang tersebut. Nio tidak dapat menenangkan dirinya ketika berada di situasi yang ‘mencurigakan’ seperti ini.


“Apa itu lubang neraka? Memangnya dunia memiliki neraka atau surga? Apa surga dan neraka dunia ini sama dengan yang ada di agamaku?” Nio mengatakannya di dalam hatinya dengan nada pasrah, karena dia benar-benar tidak bisa bergerak.


Lubang hitam itu terlihat semakin besar, dan terlihat sesuatu seperti pepohonan dan bukit dari balik lubang tersebut. Nio meragukan jika di balik lubang hitam adalah neraka, karena tidak mungkin neraka pada keyakinannya memiliki pemandangan pegunungan yang menyejukkan mata. Siapapun pasti tidak berpikir jika ada neraka yang memiliki pemandangan indah dan berpotensi menjadi tempat wisata terkenal.


Bersamaan dengan rasa sakit di tubuhnya yang perlahan menghilang, lubang hitam tersebut tampak semakin besar, lalu dengan perlahan menelan tubuh Nio yang lemah dan memindahkannya ke suatu tempat. Kematian memang akhir dari semua makhluk hidup, dan semua makhluk memiliki cara matinya masing-masing tergantung takdir, dan sebagian besar manusia pasti takut dengan hal itu, bahkan prajurit terhebat atau orang terkuat di dunia sekalipun.


**


Lubang hitam muncul enam meter di atas tanah Labirin lantai sepuluh, dan mengeluarkan seseorang dengan pakaian kamuflase salju dan membawa senjata lengkap. Nio dimuntahkan dari dalam lubang hitam tersebut dalam posisi kepala di bawah, dan kedua matanya melihat jika tanah sudah siap menyambutnya. Nio memejamkan mata untuk mempersiapkan dirinya melakukan pendaratan yang sangat kasar dan sangat menyakitkan.


*Gedebuk


Rasa sakit yang diderita Nio bertambah saat tubuhnya menghantam tanah dengan keras dari ketinggian tiga meter, untuk beberapa detik dia tidak bergerak. Tempat Nio berada mirip dengan hutan, namun dengan atap yang sangat tinggi dan tanpa pilar untuk menopangnya. Tubuh Nio dalam keadaan tengkurap, dia meludahkan tanah dan kerikil yang masuk ke mulutnya. Kedua tangannya mencoba membangkitkan tubuhnya yang membawa perlengkapan tempur, sehingga berat tubuhnya bertambah delapan kilogram jika ditimbang bersama seluruh perlengkapannya, termasuk SS20 G2 miliknya dan tujuh magasin sebagai amunisi cadangan.


Pemuda itu berhasil berdiri meski wajahnya meringis karena merasakan rasa sakit yang berlapis-lapis, dan mencoba berjalan meski kakinya terasa berat untuk melangkah. Dia berhasil berjalan beberapa langkah, dan menatap sekitar dengan ekspresi kesakitan dan kagum. Dengan langkah yang berat, Nio berjalan di tempat mirip hutan ini sambil menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


Dengan ancaman perang jika dia secara tak sengaja berjalan di wilayah musuh, Nio mencoba mempercepat langkahnya dan membawa senapan di depan tubuhnya dalam mode tembakan tunggal. Jika ada musuh yang melihatnya sewaktu-waktu, Nio dapat menembak mereka sebagai langkah antisipasi. Tetapi, kedua kakinya juga terasa seperti dipukul dengan ratusan pentungan, dan membuatnya beberapa kali hampir terjatuh meski tidak ada halangan di depannya, kecuali dedaunan yang lebat dan berukuran besar.


Nio menenangkan diri dengan harapan dapat mengurangi rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan sekarang perutnya tidak lagi terasa mual. Suasana begitu hening, seolah-olah hanya ada dia di tempat ini dan para penghuni yang belum diketahui wujudnya namun suaranya menggema. Nio mendengar suara raungan yang saling bersahutan, seakan-akan itulah cara komunikasi makhluk yang mengeluarkan raungan seperti itu. Meskipun tidak ada sumber cahaya yang memadai, namun cahaya yang dihasilkan hewan terbang sejenis serangga raksasa dapat menghasilkan cahaya yang membuat suasana remang-remang. Setidaknya dengan itu Nio dapat melihat sekeliling tanpa bantuan senter atau obor.


Selain itu, dia melihat beberapa batu mineral yang berwarna hijau dan merah yang menghasilkan cahaya tambahan bagi tempat ini. Meski Nio belum mendengar adanya batu yang dapat menghasilkan cahaya sendiri, atau batu yang memiliki energi cahaya tanpa bantuan apapun, tetapi dia menganggap pilar-pilar batu bercahaya di tempat ini sebagai salah satu fenomena dunia ini. Dia memang cukup mengagumi fenomena serangga raksasa yang dapat menghasilkan cahaya sangat terang dan beberapa pilar batu yang menghasilkan cahaya terang, tetapi Nio tidak bisa menahan dirinya untuk tetap fokus.


Setelah berjalan selama beberapa menit dengan keadaan tubuh merasakan sakit yang luar biasa, Nio berhenti dan berdiri sambil memejamkan matanya. Dia merasakan pandangannya mulai menghitam, bersamaan dengan itu terdengar suara beberapa orang yang berteriak, “Lindungi dia!”, dan terdengar seperti suara perempuan. Nio memang bersyukur jika di tempat antah berantah ini terdapat seseorang yang kebetulan menemukan dirinya, namun raungan yang menakutkan kembali terdengar dan semakin jelas dan keras. Dia membalikkan badannya untuk melihat situasi, sambil mengangkat senapannya untuk membidik sasaran. Sayangnya, Nio merasa dirinya kehilangan seluruh tenaga dan membuat kedua kakinya benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya.


Tubuh Nio kembali menghantam tanah, dan kedua matanya menutup, dan lima gadis Penjelajah mendekati dirinya sambil melawan sekawanan manusia berkepala banteng yang berusaha menyerang mereka. Tetapi jumlah monster penghuni Labirin lantai sepuluh berjumlah lebih banyak dari mereka, sedangkan kelima gadis tersebut kebetulan menemukan Nio yang tiba-tiba tak sadarkan diri.


**


Sakuya dan lima gadis Penjelajah membawa tubuh prajurit pria berpakaian aneh tersebut ke sebuah pohon raksasa yang terdapat lubang besar di bagian batangnya. Ya, kelima gadis tersebut menanggap pakaian yang dikenakan Nio sangat aneh dan menganggap pria itu berasal dari dunia primitif, sedangkan Sakuya tentu saja mengetahui darimana asal prajurit tersebut hanya dengan melihat lambang bendera Indonesia di lengan kiri seragamnya. Meskipun dia memberitahu kelima gadis Penjelajah itu tentang asal Nio, tetap saja dia merasa jika mereka tidak akan memahaminya.


Salah satu gadis Penjelajah kelas petarung dan Sakuya dengan hati-hati menyadarkan tubuh Nio, dan beberapa saat kemudian terdengar kembali suara puluhan minotaur yang saling bersahutan. Meski menggetarkan hati, tetapi Sakuya tampak tetap tenang – meski hatinya tidak. Walau dia telah memiliki kekuatan yang mampu membuat musuh-musuhnya menjadi abu, tapi wujud monster berkepala banteng yang menakutkan membuat gadis itu resah.


“Baiklah, aku akan kembali melawan para minotaur yang mengejar kita, dan pria ini ku serahkan pada kalian.”


Seperti yang dikatakan Sakuya, lusinan manusia berkepala banteng dengan tinggi antara dua hingga empat meter tersebut bergerak dan terlihat seperti mencari mereka. Kelima gadis Penjelajah tidak terlihat tenang setelah mendengar raungan dari puluhan monster kuat penghuni lantai sepuluh ini, dan kedua gadis Penjelajah kelas petarung menggenggam senjata masing-masing dengan erat, meski wajah mereka menunjukkan ekspresi gelisah. Sementara itu, dua Penjelajah kelas penyihir belum mengumpulkan energi magis mereka hingga penuh, serta satu-satunya gadis navigasi di kelompok tersebut mengepalkan tangannya dan siap untuk mengeluarkan kemampuan tersembunyi nya.


(olog note: sebenarnya dunia ini tidak menyebut monster berkepala banteng itu dengan panggilan ‘minotaur’. Monster tersebut di dunia ini disebut sebagai ‘Cilvek Zezena’. Tapi agar lebih mudah dalam penulisan dan pengucapan, serta nama minotaur jauh lebih familiar, maka saya tetap menamai monster itu dengan ‘minotaur’. Dan monster itu dipercaya memiliki akal setara remaja untuk beberapa jenis, dapat diajari berbicara bahasa manusia)


“Kami juga akan ikut bertarung dengan Anda, Nona Pahlawan Empati. Pria ini akan aman di sini selama kita bertarung.”


“Setidaknya Anda akan mendapatkan kekuatan tambahan, meski jauh lebih kecil dari kekuatan milik Anda.”


Lantai sepuluh dikenal dihuni banyak monster berbahaya, kuat, dan pintar, dan Sakuya tidak tahu kenapa ada kelompok Penjelajah di lantai ini, bahkan seluruh anggota kelompok tersebut adalah perempuan. Meski dia sebelumnya melihat kelima gadis itu dapat mengalahkan seekor minotaur, namun mereka terlihat sangat kesulitan dan harus mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki hanya untuk mengalahkan seekor dari monster-monster tersebut.


Kelima gadis Penjelajah tersebut terlihat telah beberapa hari di lantai sepuluh, terbukti dari pakaian dan kondisi mereka yang kotor dan pakaian yang dinodai dengan lumpur dan darah monster yang mereka kalahkan. Lalu, timbul pertanyaan di dalam hati Sakuya, “Kenapa Persatuan Penjelajah mengijinkan mereka menjelajahi lantai sepuluh kalau mereka tahu jika tempat ini sangat berbahaya?”. Meski ada sangat banyak barang berharga dan sangat mahal jika dijual, hal itu sebanding dengan banyaknya bahaya dan kesulitan ketika menjelajahi lantai sepuluh ini.


Biasanya Persatuan Penjelajah akan kembali menjual barang berharga yang didapatkan para Penjelajah ke pedagang besar dengan harga yang lebih tinggi daripada ketika mereka membelinya dari para Penjelajah. Tetapi, para penjelajah telah tergiur dengan harga tinggi dari barang berharga yang mereka dapatkan dari Labirin, sehingga mereka memilih tidak mempedulikan fakta tersebut. Beberapa dari mereka mungkin telah mengetahui ketentuan saat mendaftar sebagai Penjelajah, yakni Persatuan Penjelajah tidak bertanggung jawab atas kematian para Penjelajah. Namun, kebanyakan dari mereka tidak memiliki pilihan selain menjelajahi Labirin dan mengalahkan monster untuk mendapatkan barang berharga yang berasal dari anggota tubuh monster atau barang berharga lainnya seperti mineral langka dan semacamnya.


Sakuya menenangkan diri saat dirinya membayangkan wujud minotaur yang menakutkan, menurutnya. Dia menatap kelima gadis Penjelajah dan Nio yang belum membuka matanya, lalu menggaruk kepalanya karena bingung untuk menentukan keputusannya. Para gadis di depannya terlihat seumuran dengannya, dan Sakuya merasa kekuatan mereka tidak terlalu meyakinkan. Tetapi, wajah kelima gadis tersebut menunjukkan kesungguhan yang besar, meski bahaya yang akan mereka hadapi sangat besar.


“’Baiklah, tapi kalian harus membantuku dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati.”


“Kami paham,” jawab kelima gadis dengan serempak.


Begitu mereka keluar dari lubang pohon, suasana tegang yang mereka hadapi meningkat menjadi perasaan gelisah dan takut. Di depan mereka ada lusinan minotaur yang semakin mendekat, dan Sakuya berjalan di depan kelima gadis Penjelajah lalu menggenggam katana di tangan kanannya dengan erat sambil menekan rasa gugupnya.

__ADS_1


Seperti monster pada umumnya yang memiliki kemampuan unik tergantung spesies dan jenis, minotaur dapat bergerak dengan cepat, dan menyerbu mereka dengan kecepatan yang meresahkan. Meski rata-rata tinggi minotaur dua meter, tapi mereka cukup cepat dan kekuatan mereka setara sepuluh prajurit reguler. Sepasang mata berwarna merah berkilau, dan membuat kelima gadis Penjelajah hampir gentar. Puluhan minotaur yang mengepung mereka lebih dari dua puluh, dan semua membawa senjata berupa pentungan. Tubuh mereka berotot dan asap tipis keluar dari kedua hidung banteng seluruh minotaur ketika mereka mendengus.


Kelima gadis Penjelajah yang akan menghadapi puluhan manusia berkepala banteng tersebut memasang ekspresi masam, terutama Sakuya yang berdiri di depan mereka. Minotaur memang besar dan menakutkan, menurut Sakuya.


Seekor minotaur berlari ke arah Sakuya sambil mengangkat pentungan di atas kepala, lalu gadis penyihir mengucapkan beberapa kata mantra lalu dua lingkaran sihir muncul di kedua tangannya. Dari kedua tangannya melesat dua bola api dengan kecepatan tinggi, lalu menghantam dada minotaur yang akan menyerang Sakuya. Sihir yang gadis penyihir itu lakukan adalah sihir dasar, sehingga tidak terlalu kuat dalam pertarungan melawan musuh kuat.


Mengetahui dampak serangan gadis penyihir tidak terlalu kuat, Sakuya mengayunkan katananya lalu menebas dengan cepat memenggal kepala minotaur di depannya dalam sekali tebasan. Pedang Sakuya terlihat membara dengan sedikit percikan api, dan tubuh minotaur yang dia habisi berubah menjadi abu, kecuali bagian kepalanya dan bagian tanduk minotaur dapat dijual sebagai barang berharga.


Kedua gadis Penjelajah kelas petarung melawan seekor minotaur yang berukuran lebih kecil, dan butuh waktu cukup lama bagi mereka untuk mengalahkannya dengan bantuan gadis penyihir. Itu membuat mereka kelelahan, dan membuat Sakuya terpaksa menangani sisanya dengan bantuan gadis penyihir yang satunya disaat penyihir yang lain hampir kehabisan energi magis. Gadis penyihir yang hampir kehabisan energi magis beristirahat bersama gadis navigasi yang masih memegang busur panahnya dan ragu untuk menembak.


Sakuya adalah seorang ahli dalam olahraga ‘kendo’, dan sekarang dia pantas menjadi gadis samurai seperti sekarang. Dia memegang pedang di depan dada, dan melakukan serangan kilat yang membunuh setiap minotaur yang berada dalam jangkauan serangannya dengan keterampilan tebasan kilatnya. Dia telah berlatih olahraga kendo sejak kecil, dan menggunakan kemampuannya sebagai samurai perempuan di dunia ini. Ketika keempat gadis hanya melihat Sakuya bertarung, salah satu gadis penyihir merapalkan mantra yang cukup panjang.


Gadis penyihir mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah salah satu minotaur yang berukuran cukup besar, dan pusaran api besar menyelimutinya, membakar minotaur yang menjadi sasarannya hingga gosong. Minotaur besar itu meraung kesakitan, memberontak dan menebaskan pentungannya dengan liar. Beberapa tebasan mengenai rekan minotaur tersebut hingga beberapa dari mereka mati dengan kondisi kepala pecah, beberapa saat kemudian nyala api yang membakar minotaur besar tersebut merubahnya menjadi arang. Dalam setengah jam, sepuluh minotaur dikalahkan, sebagian besar dilakukan oleh Sakuya.


Kelima gadis Penjelajah mulai tenang ketika sebagian minotaur dapat dikalahkan, namun sebagian lagi masih mengepung mereka. Sakuya terlihat melakukan beberapa tarikan napas, dan keringat mengalir di pipinya yang memerah. Mata tajamnya menatap setiap minotaur yang mengepung dirinya dan lima gadis Penjelajah, lalu pegangannya pada gagang katana semakin erat.


“Nona, kekuatan Anda benar-benar tidak masuk akal,” ucap gadis Penjelajah kelas navigasi.


Sakuya tersenyum karena dia mengatakan sesuatu ketika situasi belum dikendalikan dan berkata, “Lebih baik kamu perlihatkan kemampuan memanah mu, dan bantu kami.”


“Sia-,”sebelum gadis navigasi menyelesaikan kalimatnya, seekor minotaur setinggi tiga meter berdiri di belakangnya dan menebaskan pentungan besarnya ke kepala gadis itu. Pecahan kepala menyebar ke segala arah, termasuk mengenai rekan-rekannya. Isi kepala dan sebagainya terjatuh ke tanah sebagai serpihan kecil, darah dengan deras mengucur dari leher tanpa kepala gadis navigasi yang telah mati tersebut. Tentu saja itu membuat keempat gadis Penjelajah berteriak dengan sangat keras setelah melihat kepala rekan mereka berserakan dan mengenai wajah mereka berempat.


Di lain tempat, Nio berusaha membuka matanya dengan perlahan, karena merasakan kelopak matanya terasa sakit saat digerakkan. Dia terbangun setelah mendengar suara dentingan pedang yang beradu dan raungan hewan buas yang menggetarkan hati. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi kesakitan, namun sebenarnya rasa sakit yang dia derita mulai menghilang. Merasakan kakinya sudah dapat digunakan, Nio berdiri dengan menggunakan senapannya sebagai tongkat. Dia melihat ke sekeliling, dan menyadari jika dirinya berada di dalam batang pohon yang berlubang.


Penglihatannya kemudian dialihkan ke luar tempat ia berada, dan melihat kobaran api serta aroma gosong yang mengganggu indera penciuman. Nio menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk menyingkirkan pusing yang mengganggu, lalu meletakkan ranselnya ke tanah dan berjalan ke luar. Sesaat kemudian, dia mendengar suara raungan dan teriakan perempuan, dia merasa sumber suara tak jauh dari tempatnya sekarang dan Nio berlari dengan sisa tenaganya ke sana.


Dengan kondisi tubuh yang semakin baik, Nio dapat berlari dengan cepat sambil menenteng senapan di depan dada. Dia tidak tahu sebelumnya tentang adanya orang di tempat ini, bahkan dia sendiri masih belum tahu lokasinya saat ini. Dia terus berlari hingga akhirnya melihat puluhan monster berkepala banteng mengelilingi lima orang gadis – dan sebuah tubuh tanpa kepala yang tergeletak di tanah dengan darah mengalir deras dari lehernya.


Dia melihat tiga gadis membawa pedang, namun serpihan kepala yang tersebar di tanah menandakan jika orang itu kehilangan kepala tidak dengan tebasan benda tajam tetapi dibunuh dengan benda tumpul. Ini pertama kalinya dia melihat orang mati dalam keadaan kepala hancur berkeping-keping, namun dia telah terbiasa melihat kematian seseorang di depan matanya sendiri. Hal seperti jasad tanpa kepala seakan-akan sudah menjadi pemandangan umum bagi prajurit yang ditugaskan ke dunia ini, seperti dirinya.


Lalu, dia melihat keempat gadis sangat ketakutan dengan seekor minotaur berukuran sangat besar di depan mereka, dan itu adalah monster terbesar yang pernah Nio temui sejak penugasan di dunia ini. Nio tahu apa yang akan terjadi jika monster yang membawa pentungan besar itu menyerang keempat gadis tersebut, sehingga Nio mengaktifkan senapannya dalam mode otomatis penuh. Ini bukan pertama kali bagi Nio melawan monster, jadi dia cukup terbiasa melihat tampang menyeramkan makhluk dunia ini seperti minotaur atau orc.


Secara refleks Nio berdiri sambil membidik monster yang telah mengangkat pentungan besarnya, lalu menembakkan puluhan peluru dalam hitungan detik. Suara ledakan membuat keempat gadis langsung menutup telinga mereka rapat-rapat, dan puluhan peluru melesat dalam kecepatan sembilan ratus meter per detik lalu menembus kepala minotaur raksasa yang malang itu. Getaran kecil tercipta ketika tubuh besar manusia berkepala banteng itu tumbang dengan kondisi kepala mengeluarkan banyak darah.


Nio bergidik ngeri saat bergerak mendekati keempat gadis yang menangis sambil berjongkok dan menutup kedua telinga mereka. Dengan hati-hati, Nio menepuk pundak salah satu gadis yang menangis hingga tubuhnya gemetar.


“Hei, cepat lari dan cari tempat berlindung!” ucap Nio dengan nada keras.


“Kamu, bantu mereka untuk mencari tempat perlindungan!” Nio menunjuk dan memerintahkan gadis samurai yang dia lihat.


“Tidak, aku akan membantu mu melawan mereka sampai habis. Kita bisa melindungi mereka hingga menemukan tempat persembunyian.”


Setelah mendengar itu, keempat gadis Penjelajah berlari sambil menangis dan meninggalkan tubuh tanpa kepala rekan mereka. Lubang pohon yang menjadi tempat untuk mengamankan Nio dijadikan oleh mereka tempat persembunyian ketika puluhan minotaur masih mengepung area ini.


Katana Sakuya kembali menyala dengan warna merah membara, lalu kobaran api menyelimuti pedang melengkung tersebut disertai dengan rajah yang mulai menutupi sebagian tubuh gadis itu. Melihat itu, Nio tetap menganggapnya sebagai fenomena sihir dunia ini.


Nio mengarahkan moncong senapannya ke arah seekor minotaur yang akan menyerang Sakuya, namun dengan cepat gadis itu berputar dan menebas tubuh besar monster itu. Setelah melakukan aksinya, Sakuya memperlihatkan senyuman kepada Nio, tetapi reaksi pria itu biasa saja dan tetap waspada dengan lusinan monster yang mengepungnya.


Karena sasarannya telah dihabisi oleh orang lain, Nio menembak seekor minotaur yang berlari ke arahnya sambil mengangkat pentungannya. Hanya dengan menarik pelatuk, dia dapat membunuh seekor monster dalam hitungan detik. Apa yang dilakukan Nio memang curang, namun itu adalah cara bertarungnya dengan memanfaatkan peralatan yang ada. Dia akan melakukan apa saja selama itu menurutnya tidak curang dan menjamin kemenangan dapat dia raih.


“Orang Indonesia, lindungi aku!” ucap Sakuya sambil berlari dan menebas setiap minotaur di hadapannya.


Gadis itu mengucapkan bahasa dunia ini dengan fasih, dan dia terpaksa menuruti apa yang gadis itu minta.


“Dari pakaian dan senjata yang dia gunakan, gadis itu berasal dari Jepang, kan?” tanya Nio dalam hati.


Nio mengikuti pergerakan gadis itu, dan menembaki setiap monster yang hendak menyerang Sakuya. Begitu pula dengan Sakuya, dia menebas dengan serangan kilat yang membelah tubuh setiap manusia berkepala banteng di hadapannya, dan menyerahkan yang lain pada Nio. Meski dia menyimpan banyak pertanyaan tentang gadis itu, Nio tetap melindunginya dengan peluru yang harus dihemat.


“Bakar semua yang menghalangi mu-,” Sakuya melantunkan mantranya dan membuat katana miliknya diselimuti dengan kobaran api besar.


Setiap dia menebas tubuh lawannya, seketika seluruh tubuh akan berubah menjadi abu. Nio yang sibuk menahan setiap monster yang terus bergerak ke arahnya bergidik setelah melihat sihir milik gadis yang baru dia temui beberapa menit yang lalu.


“Hei, monster-monster ini seberapa banyak?!” teriak Nio.


“Sangat banyak, tapi mungkin sebagian dari mereka sudah berlari mundur!” jawab Sakuya.


Setelah Sakuya merubah seekor minotaur menjadi abu dan Nio menembak seekor minotaur dengan peluru terakhir di magasin kedua, seluruh manusia berkepala banteng tersebut lari ke segala arah menyelamatkan diri.


“Kau, gadis Jepang, kan?” tanya Nio tanpa pikir panjang ketika Sakuya berjalan ke arahnya.


Setelah menyarungkan kembali katananya, rajah di tubuh Sakuya perlahan menghilang. Dia berjalan ke arah Nio dan tersenyum setelah mendengar pertanyaan pria itu.


“Kalau iya, kau mau apa?” jawab Sakuya.

__ADS_1


“Berarti kau salah satu pahlawan milik Aliansi?”


Kegelisahan melanda Sakuya, dan tidak mungkin baginya untuk mengatakan hal yang sebenarnya tentang dirinya. Namun, Nio terlihat sangat yakin dengan tebakannya, dan Sakuya merasa tidak dapat menyangkalnya lagi.


“Benar. Tapi tenang saja, meski aku tidak tahu kenapa kau bisa sampai ke tempat ini, aku akan melindungimu sampai bantuan untukmu tiba.”


“Apa aku bisa mempercayaimu?”


“Keputusan itu ada di tanganmu sendiri, kan?”


Nio telah melihat dirinya bekerja sama dengan gadis itu untuk mengalahkan lusinan monster yang menyerang mereka dan keempat gadis tadi, namun hal itu tetap tidak membuat mempercayai gadis itu begitu saja. Nio sendiri juga menyadari betapa gawatnya situasinya sendiri, dan dia harus menentukan sebuah keputusan rumit dengan cepat.


“Lalu, siapa yang menolongku? Kau?”


“Ya, tapi keempat gadis tadi juga membantuku menolong mu. Sebenarnya meraka sebelumnya berjumlah lima orang, tetapi salah satu dar mereka dibunuh oleh minotaur.”


Nio menatap sedih ke arah tubuh tanpa kepala, alias alah satu gadis yang menolongnya saat dia tiba-tiba pingsan di tempat berbahaya ini.


Mereka berdua dapat menangani puluhan monster kuat penghuni tempat ini dengan cepat, meski harus mengorbankan satu nyawa yang mati dengan cara mengerikan. Nio menyuruh Sakuya untuk kembali terlebih dulu, sementara dirinya akan menguburkan tubuh gadis tanpa kepala yang telah membantu menolongnya.


Setelah menguburkan tubuh gadis yang tewas tanpa kepala dengan layak lalu mendoakannya, Nio kembali ke tempat dirinya disembunyikan sebelumnya. Di sana telah ada empat gadis dan Sakuya yang akan menyambutnya.


“Terimakasih sudah menolongku,” Nio mendahului keempat gadis untuk mengucapkan terimakasih, dan itu membuat mereka terkejut.


“Tidak, Tuan. Anda telah menyelamatkan nyawa kami, terimakasih saja mungkin tidak cukup,” ucap gadis yang memiliki pedang.


“Namaku Nanaharu Sakuya. Seperti tebakan mu, aku berasal dari Jepang,” ucap gadis itu sambil mengulurkan tangannya dengan harapan Nio membalas perkenalan darinya.


“Nio, dari Indonesia,” jawab Nio tanpa curiga sama sekali, karena dirinya dapat melihat kejujuran hanya dari tatapan mata Sakuya saja.


“Untuk orang Indonesia, kau cukup tampan, ya?” ucap Sakuya dengan nada menggoda.


Nio berjalan melewatinya lalu menggendong ranselnya kembali dan menutupi tubuhnya dengan mantel.


“Terimakasih. Oh, jika kau pahlawan, pasti kau mengenal Rio?”


Sakuya sedikit kesal karena jawaban yang diberikan Nio sangat biasa, dan sama sekali tidak membuatnya terkesan. Namun pertanyaan terakhir yang diucapkan Nio membuatnya cukup terkejut.


“Ya, apa kau yang menghajar orang itu sampai hampir sekarat?”


“Itu bukan salahku, aku hanya melakukan tugasku untuk melawan semua musuh. Sebenarnya aku berhak untuk membunuhmu sekarang, tapi kau sudah menolongku jadi kutarik ucapanku tentang akan membunuhmu. Yang bisa kuberikan hanya rasa terimakasih karena sudah menolongku.”


Mungkin akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat keluar dari tempat ini, dan Nio yakin jika keempat gadis itu dan Sakuya tahu jalan keluar dari tempat ini. Selama itu, Nio akan terus berjuang dan bertahan hingga dirinya mendapatkan bantuan.


“Kau bisa menjelajahi tempat ini bersama kami,” tawaran Sakuya memang menguntungkan, dan keempat gadis itu tampak ingin Nio menyetujui ajakan gadis itu.


“Tapi, di mana tempat ini?” tanya Nio.


“Labirin milik Kekaisaran Duiwel. Artinya kau sekarang sedang berada di wilayah musuh mu, “ jawab Sakuya.


Tanpa sadar Nio tersenyum dengan tubuh membeku, dan tatapannya kosong setelah mendengar jawaban dari Sakuya. Sementara itu, keempat gadis Penjelajah terus mengamati sosok Nio yang mengenakan pakaian aneh, namun terlihat jika dirinya adalah seorang tentara. Nio terdiam seolah-olah telah mendengar kabar buruk.


Nio menyadari jika dirinya berada jauh dari jangkauan bantuan. Jika pusat memperlihatkan gerakan berupa mengirimkan unit kecil untuk menolongnya, oleh musuh pasti hal itu akan dianggap sebagai ancaman dan perang akan terjadi, lagi. Itu adalah kemungkinan terburuk yang dapat Nio pikirkan, masih ada banyak kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpanya, termasuk ditawan oleh pihak musuh jika mereka mengetahui dirinya berada di wilayah mereka. Kakinya kembali terasa lemas, namun tetap terlalu kuat hanya untuk menopang tubuhnya.


“Ayo pergi dari sini,” ajak Sakuya, dan keempat gadis Penjelajah mengangguk untuk meyakinkan Nio.


Nio menoleh ke arah mereka berlima, lalu memasang senyuman yang muram.


Nio terus meyakinkan dirinya jika kelima gadis – yang secara umum merupakan warga negara anggota Aliansi dan seorang ‘dunia lain’ yang memihak Aliansi – jika mereka benar-benar akan bekerja sama dengannya untuk menemukan jalan keluar. Dia harus meyakinkan dirinya sendiri jika tidak semua orang yang tinggal di negara anggota Aliansi membenci prajurit dari negara musuh, seperti dirinya.


“Apa kau sedih, Nio?” tanya Sakuya seakan-akan dapat dengan cepat akrab dengan dirinya dan menunjukkan rasa empatinya terhadap dirinya.


“Tidak perlu khawatir. Jadi, apa aku benar-benar dapat mempercayai kalian?”


“Bagiku, tidak adil jika melawan musuh tanpa senjata, dan kau sedang berada dalam posisi itu. Aku tetap akan membantu mu untuk mencari jalan keluar hingga kau dapat kembali ke asalmu,” jawaban Sakuya membuat hati Nio tergerak, dia merasa apa yang dikatakan gadis itu bukanlah kebohongan.


Di lain sisi, Sakuya sanga tertarik dengan Nio – yang telah membuat Rio, seorang Pahlawan Amarah – babak belur dan tidak dapat bergerak dari tempat tidur selama tiga hari. Namun, prinsip yang telah dia bangun sejak lama tidak akan dibiarkan runtuh begitu saja. Dia sebenarnya mampu membunuh Nio sekarang, namun posisi Nio saat ini benar-benar tidak diuntungkan. Sehingga, pertarungan adil yang sebenarnya adalah dengan cara membantu musuhmu sebelum terjadinya pertarungan yang sesungguhnya.


**



(ilustrasi minotaur, sumber gambar pinterest)

__ADS_1


__ADS_2