Prajurit SMA

Prajurit SMA
105. Hari terakhir di 'dunia lain'


__ADS_3

28 November 2321, pukul 10.18 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.


**


Gorden yang menutup jendela hotel ditarik ke samping, dan memperlihatkan sinar matahari yang berusaha menembus gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.


TV yang Nio nyalakan menunjukkan dua orang reporter yang membacakan berita tentang sesi tanya jawab dengan tamu dari dunia lain dan Nio. Tidak ada guna nya mendengarkan ocehan mereka berdua, berita yang disiarkan nampak dilebih-lebihkan. Bahkan berita pernyataan perang Kekaisaran dengan Indonesia juga disiarkan, itu dikhawatirkan bisa menimbulkan gelombang demonstrasi di beberapa daerah.


Agar tidak mengganggu Arunika yang masih tertidur, Nio mengecilkan suara volume TV, dengan sarapan berupa roti bakar lengkap dengan susu sereal.


Dari ruangan sebelah, terdengar jika gadis-gadis dunia lain sedang melakukan pembicaraan mengenai sesuatu. Yang paling dominan berbicara adalah Lux dan Sigiz, sementara Edera dan Ivy lebih memilih untuk menyelimuti tubuhnya dari dinginnya AC. Sementara Chandra dan Liben masih mendengkur keras di kamar sebelah para gadis dunia lain.


Setelah menyelesaikan perjalanan di alam mimpinya, Arunika melihat Nio duduk di tepi ranjang dengan tubuh masih diselimuti dengan sarung dan sedang menyantap sesuatu. Tidak ada kegiatan ‘aneh’ yang dilakukan mereka berdua, hanya Nio yang tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pertama kali tidur satu ranjang dengan kakaknya.


Nio menoleh kebelakang karena merasakan ranjang bergoyang, dan melihat Arunika tidak kehilangan kecantikannya meski baru bangun tidur.


Melihat Nio yang menatap dirinya tanpa bergerak, Arunika merencanakan sesuatu untuk mengambil situasi ini. Setelah memilah-milah semua rencana, dia menemukan satu rencana yang mungkin akan mempan terhadap Nio. Sambil menyeringai, Arunika merangkak dan mendekati Nio.


“Kita sudah mendapatkan jatah sarapan, apa kakak mau?”


“Aku mau sarapan yang lain.”


Arunika membelai lembut pipi Nio, dan tidak mempedulikan bekas jahitan di hidung Nio dan beberapa bekas luka sayatan benda tajam. Menurutnya, semua itu tidak akan menutupi ketampanan milik Nio.


Saat jari-jari lentik Arunika membelai pipinya, Nio merasakan tubuhnya terasa seperti tersetrum, bahkan jantungnya berdebar tidak terkendali. Sementara Arunika, dia masih memperlihatkan senyum menyeringai nya setelah mengetahui jika tindakannya mempan terhadap Nio.


Nio merasa jika kakaknya bukanlah tipe wanita yang agresif, tapi tindakan yang dia lakukan sekarang berbanding terbalik dengan sifat Arunika sebelumnya yang selalu nampak tenang. Jika Nio tidak bisa menahan diri, dia merasa akan terjadi hal yang akan membuat luka permanen di tubuh kakaknya.


“….”


“….”


Tidak ada reaksi yang diberikan Nio atas perbuatan kakaknya, lebih tepatnya dia juga tidak tahu kenapa Arunika melakukan ini. Ini memang kesempatan yang bagus bagi Nio untuk memahami sepenuhnya diri Arunika.


Ini memang masih berada di batas kewajaran hubungan saudara, meski mereka berdua ingin melakukan hal lebih dari sekedar berpelukan dari belakang.


Punggung Nio yang kini semakin besar, membuat tangan Arunika tidak bisa melingkar sepenuhnya di tubuh Nio. Dia memendam wajahnya di punggung Nio, meski bukan ini hal yang ingin dia lakukan terhadap Nio. Sesuatu yang lembut, Nio rasakan melalui punggungnya.


Arunika mencoba sedikit meraba tubuh Nio, dan yang dia dapatkan adalah otot-otot tubuh adiknya yang mulai tumbuh. Padahal sebelumnya, Nio hanyalah anak kurus dan selalu terlihat lesu.


“Kakak, hentikan….”


**


Nio memasuki kamar para gadis dunia lain setelah selesai sarapan, tapi wajah Arunika nampak menunjukkan ekspresi kesal. Itu terbukti dengan bekas tamparan di pipi Nio, tapi pemuda ini mencoba bersikap seakan-akan dia tidak membuat kakaknya marah hanya karena Arunika memegang dadanya. Memang seharusnya perempuan lah yang marah ketika dada mereka dipegang, tapi saat Arunika tak sengaja memegang dada bidang Nio, justru dialah yang menampar pipi Nio.


“Komandan, kenapa pipi mu?”


Liben dan Chandra yang baru selesai mempersiapkan diri dan bergabung dengan mereka.


Mereka berdua nampak menahan tawa hingga hampir tidak bisa ditahan lagi. Bekas tamparan yang Nio terima nampak jika dia habis melakukan pelecehan terhadap para gadis.


Setelah selesai sarapan, para gadis dunia lain sedang melihat tayangan berita di TV. Saat ini, siaran ulang saat Pertemuan Nasional sedang mengudara.


“Baiklah, kita akan menghabiskan hari terakhir dengan bersenang-senang.”


Bersenang-senang yang mereka lakukan bukan berarti bisa melakukan hal dengan bebas. Mengingat para tamu dari dunia lain harus membutuhkan penjagaan dengan tingkat ketetatan sangat tinggi.


Tapi bukan itu masalahnya, kedua bawahan Nio hanya tidak menyangka jika dia memerintahkan mereka untuk ‘menghabiskan hari terakhir dengan bersenang-senang’, ini bukan sifat yang menunjukkan prajurit berpangkan Pembantu Letnan Satu bukan?.


Nio meminta para gadis untuk tetap di kamar yang di huni para tamu dari dunia lain, karena dia ingin melakukan pembicaraan yang serius dengan kedua bawahannya. Pada akhirnya, Liben dan Chandra merasa lega jika Nio belum kehilangan harga dirinya menjadi atasan mereka berdua.


Nio mengajak mereka berdua ke kamar yang dia huni bersama Arunika, masih ada beberapa sisa potong roti bakar yang belum selesai Nio makan.


“Apa kalian bawa senjata?” setelah Nio bertanya seperti itu, Liben dan Chandra masing-masing mengeluarkan dua pisau tarung, pistol lengkap dengan magasin dan peredam suara, serta pedang milik Lux yang belum dikembalikan. Tapi senjata yang terakhir tadi tidak termasuk perlengkapan milik mereka bertiga.


Tapi, Nio hanya mengeluarkan sebuah pistol listrik dan pisau tarung. Perlengkapan yang Nio bawa hampir sama dengan milik para penegak hukum. Tapi, militer Indonesia di didik untuk mengeluarkan potensi maksimal senjata yang mereka miliki, meski itu hanya berupa tongkat.


Saat mereka bertiga berdiskusi mengenai pengamanan yang akan mereka lakukan, terdengar suara ketukan dari luar. Jika didengar dengan telinga milik anggota pasukan khusus, ketukan pintu itu memiliki makna tersembunyi yang Liben dan Chandra tidak ketahui. Itu adalah ‘kode ketukan’ yang baru-baru ini dipelajari, dan memiliki keamanan informasi yang lumayan.


Nio meninggalkan kedua anggotanya untuk menemui orang yang mengetuk pintu. Liben dan Chandra menyiapkan sikap siaga jika orang yang mengetuk pintu adalah pihak asing. Mereka berdua memasang peredam suara pada pistol, dan menyiapkan pistol pada mode semi-otomatis.


“Letnan Bagus, ada apa?”

__ADS_1


Bagus terlihat membawa tiga rekannya, dan mereka semua nampak membawa koper yang entah apa isinya. Nio menebak jika Bagus juga memiliki informasi yang akan diberikan padanya, itu terlihat dari kode kedipan mata yang Bagus lakukan.


“Kami hanya ingin memberikan perlengkapan untuk para tamu kita.”


“Kami sudah punya perlengkapan yang lumayan bisa mempertahankan para tamu dan kami. Perlengkapan apa yang anda bawa?”


Bagus meminta ijin agar dirinya dan rekan-rekannya diperbolehkan masuk kedalam kamar, sebagai antisipasi jika pada kamar-kamar yang lain ternyata dihuni agen negara luar. Saat memasuki kamar, Bagus meminta Liben dan Chandra tidak perlu waspada.


Seluruh koper memuat perlengkapan pertahanan diri yang seharusnya dipakai pasukan pengawal. Yang paling mencolok adalah jaket hoodie yang memiliki teknologi anti peluru penembak runduk, pakaian ini akan dikenakan Nio dan kedua anggotanya. Sebagai perlengkapan tambahan, sebuah kain yang nampak seperti selimut juga dipersiapkan. Tetapi, benda itu bukanlah selimut maupun sarung, tetapi jubah tembus pandang yang sering dikenakan para penembak runduk anggota pasukan pengawal. Jubah ini tidak hanya menyembunyikan bentuk fisik saja, tapi juga bisa menyembunyikan panas tubuh agar tidak terdeteksi perangkat inframerah.


Nio dan kedua anggotanya tidak diperkenankan menolak seluruh perlengkapan yang disiapkan, karena tidak tahu bahaya seperti apa yang mengancam para gadis dunia lain. Jika bahaya hanya berupa preman dan semacamnya, dengan mudah Nio dan kedua anggotanya bisa menanganinya. Tapi Nio tidak tahu apakah dia bisa menangani bahaya yang berupa agen dari pasukan khusus negara lain.


Sebagai keamanan tambahan, Nio harus membawa para gadis dunia lain untuk bersenang-senang di tempat yang ramai orang-orang. Karena jika ada sesuatu yang menimpa mereka, akan ada saksi yang bisa memberitahukan situasi sebenarnya.


Jika mereka berada di tempat yang terdapat cukup banyak orang, kesempatan orang yang akan mencelakai para gadis dunia lain akan cukup kecil, kecuali jika mereka anggota pasukan khusus yang memiliki kemampuan khusus menculik seseorang di keramaian.


“Tapi, tidak mungkin kita membawa mereka ke pasar kan?”


Pertanyaannya bukan harus pergi atau tidak, tetapi ke mana mereka harus pergi.


Nio dan kedua anggotanya bukanlah pecandu kerja, jadi remaja laki-laki seperti mereka pasti tahu keinginan para gadis. Ya, pasti tidak ada gadis yang menolak diajak berbelanja.


Paling tidak, jika mereka tidak membeli sesuatu, para gadis dunia lain bisa mengetahui jika di Indonesia tidak hanya ada pasar tradisional. Window shopping adalah pilihan yang tidak buruk, karena para gadis dunia lain bisa mengetahui mode perempuan Indonesia meski hanya dengan melihat-lihat.


**


“Apa kakak mau baju baru?”


“Heh…, mentang-mentang banyak duit, jadi sombong ya kamu….”


Nio hanya bisa tersenyum miring dan membanggakan diri sendiri setelah Arunika berkata seperti itu. Selain menggunakan uang dari dompetnya sendiri, uang anggaran juga masih tersisa banyak untuk membeli sebuah sepeda motor bebek sport. Jika untuk uang makan, uang sebanyak 25 juta rupiah bisa digunakan untuk makan selama setengah tahun, tapi para gadis dunia lain tidak akan berada di Indonesia selama itu.


Selain Arunika yang bahagia karena akan dibelanjakan oleh adiknya, para gadis dunia lain juga ingin pergi melihat pasar modern yang dimaksud Nio dan kedua pengawal mereka. Karena mereka melihat kebanyakan wanita Indonesia mengenakan pakaian yang ‘tertutup’, bahkan pada bagian kepala.


Bertolak belakang dengan keinginan para gadis yang ingin berbelanja, ketiga laki-laki itu justru ingin mencari cewek untuk digebet. Karena ada banyak perempuan yang melirik kearah mereka bertiga dengan tatapan manis, itu malah membuat mereka menjadi percaya diri bisa mendapatkan cewek dengan mudah.


Tapi, Nio hanya bisa menatap wajah kakaknya dengan tatapan tenang, sementara Arunika terlihat sangat ingin membunuh Nio karena melirik wanita lain yang lebih muda darinya. Indera keenamnya memberitahu jika tatapan Arunika memberi tahu jika, “Kau tidak boleh melirik cewek lain, pokoknya aku tidak akan membiarkanmu!” kira-kira seperti itu.


Sebagai seorang laki-laki, berbelanja bersama perempuan adalah mimpi buruk. Masing-masing pria memiliki alasan mengapa mereka tidak suka mengajak kekasih atau istri untuk berbelanja.


Keinginan semua orang pastinya tidak akan sama, dan Sigiz ingin dibawa ke perpustakaan yang ada di Jakarta. Namun, Edera nampak selalu berada di belakang punggung Nio, seperti sedang berlindung dari sesuatu. Padahal hanya ada beberapa ekor kucing liar yang mendekatinya.


Gadis ini jika sedang cemas, justru lebih terlihat imut, itu menurut Nio.


“Ini adalah hari terakhir kita disini, jadi lakukan sesuka kalian!”


Lalu Liben dan Chandra menjawab, “Siap!” yang mengejutkan orang-orang yang melintas di depan hotel tempat mereka menginap.


Jadi, para gadis dunia lain dan Arunika pergi ke mal di ‘dunia lain’.


**


Banyak orang yang melakukan streaming maupun menyaksikan langsung siaran di TV siaran Pertemuan Nasional. Jadi mereka tidak bisa mendekati para gadis dunia lain, karena ada tiga pemuda dengan tubuh tegap yang mengawal mereka. lagipula, penampilan Sigiz, Lux dan Ivy terlalu mencolok, berbeda dengan Edera yang mengenakan celana panjang dan T-shirt berwarna abu-abu dengan alas kaki sepatu kets.


Ketiga pengawal mereka tidak mengenakan pakaian resmi, dan digantikan oleh jaket. Tapi, di balik pakaian, mereka bertiga menyimpan pistol dan pisau tarung sebagai persiapan.


Jika dengan mengenakan jaket dan hoodie, Nio, Liben dan Chandra justru terlihat seperti remaja biasa, dan tidak memperlihatkan jika mereka bertiga adalah tentara. Orang-orang pasti bertanya-tanya, “Siapa mereka ini?” saat melihat mereka bertiga berjalan bersama empat gadis cantik.


Kemungkinan terbaiknya adalah, jika mereka bertiga dikira sebagai anggota kelompok kriminal yang menculik gadis-gadis ini.


Lebih baik jangan hiraukan opsi terakhir, karena tidak mungkin warga Indonesia mengabaikan seseorang jika dia sedang berada dalam bahaya, karena hubungan sosial warga Indonesia yang tinggi.


Nio memandang sekilas ke arah para gadis, terlihat jika Edera masih mencemaskan sesuatu dan tidak bisa sejauh 1 meter dari Nio. Sementara Liben dan Chandra di belakang para gadis sebagai pengawal mereka.


Nio melihat Ivy yang menempel di lengan Liben. Meskipun dia dan Chandra memiliki perasaan sesuatu setelah melihat Ivy yang selalu dekat dengan Liben, pada akhirnya mereka berdua berkata, “Selamat ya….”


Sementara itu, Liben tidak pernah berpikir jika ada seorang gadis cantik yang mendekatinya, karena dia merasa cukup untuk menikah dengan perempuan asli Papua, bahkan mendekati perempuan dunia lain tak pernah dia pikirkan. Lagipula, sebagai remaja lajang, Liben cukup senang didekati seorang perempuan.


Sementara itu, Nio dan Chandra cukup tidak menyukai atmosfer romantis antara Liben dan Ivy, tapi mereka berdua mencoba bahagia melihat mereka.


Sementara pada sisi Nio, ada tiga perempuan yang berebut untuk berjalan di sampingnya. Tapi Nio lebih memilih melindungi Edera yang terlihat masih merasa cemas dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Ketika melihat Edera yang cemas, Nio tergoda untuk menjahilinya, tapi dia mengurungkan niat ini agar semua orang tidak marah kepadanya.


Pembangunan yang masih berjalan di seluruh daerah di Indonesia, membuat negeri ini memiliki lebih banyak gedung dengan tinggi lebih dari 80 meter. Dan Sigiz merasa jika penataan kota di negeri ini sangat baik, dia berpikir ingin merombak ibukota Kerajaan menjadi seperti Jakarta.

__ADS_1


Meskipun udara di sini kotor, namun para gadis dunia lain nampak menikmati berjalan kaki menuju mal terdekat.


Jajanan yang dijual para pedagang di pinggir jalan membuat para gadis dunia lain tertarik, meski yang dijual berupa rujak dan martabak serta es blender. Yang paling penting adalah harga yang ditawarkan sangat murah, sehingga Nio memutuskan membelikan para gadis makanan pinggir jalan.


**


“Edera, kenapa kau selalu cemas?”


“Apa di dunia anda juga ada jenis burung besi? Apa mereka juga mengeluarkan api?”


Nio tidak paham dengan perkataan gadis kucing ini, kecuali jika Edera berhasil menyembunyikan ekornya dengan sangat baik di balik pakaiannya.


Beberapa jenis unggas di dunia lain memang ada yang bisa mengeluarkan api, tapi lebih mirip dengan nyala api pada lilin, namun cukup untuk membuat kulit melepuh ringan. Tapi, di dunia ini, yang mendekati dengan burung besi yang di maksud Edera adalah pesawat, tapi jarang ada pesawat melintas pada siang hari.


Nio kemudian mendongakkan kepalanya ke langit, untuk mencari burung besi yang dimaksud Edera. Tapi, hanya ada beberapa burung merpati serta burung liar lainnya yang terbang di atas mereka. Tapi, ada satu burung yang secara penampilan cukup aneh, selain burung ini terbang cukup rendah dan sangat stabil.


Biasanya, burung-burung akan menghentikan kepakan sayap untuk beberapa detik ketika terbang, tapi burung yang Nio lihat terus menerus mengepakkan sayap. Sesaat kemudian Nio menyadari sesuatu sambil berkata, “Sial, kami diawasi!”


“Komandan, apa yang kau maksud kalau kita diawasi? Siapa yang mengawasi kita?”


Nio kemudian menunjuk ke arah ‘sebuah’ burung yang terbang beberapa meter di atas tanah.


“Itu drone burung seperti milik militer Amerika kan?”


Nio mengangguk untuk menjawab pertanyaan Liben, sementara Chandra sudah siap dengan pistolnya yang sudah dipasangi peredam suara serta magasin dengan 20 butir peluru.


Beruntung bagi Nio, karena dia mengenakan masker untuk menutupi luka di wajahnya, tapi bagaimana yang lain? Tentu saja wajah mereka sudah terekam di kamera yang terpasang di drone burung tersebut.


Penggunaan drone burung di kalangan militer berfungsi ketika melakukan misi mata-mata di tempat banyak orang-orang. Selain itu, penggunaan drone berkamera biasa juga sering dilakukan, karena drone biasa sering digunakan oleh warga sipil.


Nio membiarkan drone burung tersebut untuk terus mengawasi mereka, hingga perkiraan tempat yang pas untuk menembak. Jika mereka menembak begitu saja, bisa saja drone burung menghantam kepala seseorang dan menyebabkan kematian seketika pada korban.


Beberapa orang mungkin tidak menyadari jika drone burung itu milik militer negara lain, dan menganggap jika itu hanyalah burung liar biasa. Setidaknya hal itu bisa dimaklumi, karena informasi mengenai teknologi militer negara lain cukup dibatasi.


Drone burung masih terbang dengan ketinggian yang sama, dan ada ribuan orang di jalur pejalan kaki ini. Tapi operator drone burung telah mengunci wajah para target, jadi kemampuan bersembunyi Nio akan tidak terlalu berguna.


“Aku akan kesini sebentar.”


Chandra dan Liben menunjukkan kode ‘ok’ dengan jari mereka, dan Nio kemudian masuk ke dalam toilet umum. Saat di dalam toliet umum, dia mengeluarkan sebuah benda yang berbentuk seperti jas hujan. Saat mengenakan benda ini, tubuh Nio tidak terlihat, tapi masih bisa dirasakan fisiknya, dan panas tubuhnya tidak akan terdeteksi.


Chandra dan Liben mengajak para gadis untuk melanjutkan perjalanan, dan berkata jika Nio akan menyusul mereka. Tidak ada penolakan seharusnya, tapi para gadis terlihat keberatan jika harus meninggalkan Nio di toilet umum.


Nio berjalan di belakang mereka setelah mengenakan jubah tembus pandang, serta menyiapkan tembakan karena orang-orang yang berjalan mulai cukup jarang. Tubuh Nio yang sudah terbungkus dengan jubah tembus pandang, membuat pihak yang memata-matainya kehilangan satu target mereka. Itu membuat pihak ini sangat kesal, tapi yang terpenting adalah satu pengawal para gadis dunia lain sudah menghilang.


Penggunaan drone pada perang modern merupakan hal yang biasa, tapi Nio berharap jika dia tidak melibatkan para tamu dari dunia lain terlibat dalam hal ini.


Selain mewaspadai drone burung, Nio ingin mencari pihak yang nampak seperti agen dari negara lain. Perang tidak lagi dengan cara bergerilya, maupun di medan terbuka dan bertarung secara langsung. Musuh akan bersembunyi di antara warga sipil tak berdosa, dan mereka mengenakan jas atau pakaian biasa untuk menyembunyikan diri sebelum melakukan tindakan.


Namun, jika melibatkan warga sipil dalam situasi yang berhubungan dengan operasi militer, pihak terkait akan dikecam.


Tidak ada seorangpun yang bisa melihat Nio sekarang, namun jika mereka tidak sengaja menyenggol Nio yang sedang mengenakan jubah tembus pandang, mereka akan bisa merasakan jika itu adalah seseorang.


Seperti yang terdapat pada identitas Nio di berkas anggota Pasukan Pelajar Khusus, pemuda ini ahli dalam bersembunyi maupun menyembunyikan sesuatu.


Lalu, Nio melepaskan tiga tembakan dari pistolnya yang seluruhnya mengenai drone burung. Dia tidak perlu takut dengan kebisingan yang dihasilkan, karena peredam suara benar-benar membuat suara tembakan tak terdengar.


“Itu pasti Komandan….”


Chandra bisa menebak pelaku yang membuat drone burung jatuh tepat didepannya, beberapa centimeter lagi benda ini akan menimpa kepalanya jika Nio tidak memperkirakan waktu dan tempat jatuhnya drone burung.


Ternyata tidak ada yang mempedulikan jika ada sebuah pistol yang nampak melayang, itu keberuntungan bagi Nio. Karena tidak ada pembungkus senjata dengan teknologi semacam jubah tembus pandang.


Nio kemudian melepaskan jubah tembus pandang, dan tanpa menghiraukan orang-orang yang terkejut saat dia tiba-tiba muncul entah darimana. Dia bergegas menghampiri para gadis dan kedua anggotanya.


“Bagaimana? Apa benar itu drone burung milik militer Amerika?”


Karena berat drone burung hanya sekitar 5 kilogram, jadi Liben bisa memegangnya dengan satu tangan. Di bagian tubuh drone, hanya terpampang perusahan yang memproduksi perangkat ini, dan itu memang berasal dari Amerika dengan kerja sama Uni Eropa.


Dan para gadis menyadari jika mereka tidak perlu terlibat dalam masalah ini, serta berusaha untuk tidak terlalu terbuka.


Beberapa saat kemudian, lima mobil patroli polisi tiba setelah mendapatkan laporan jika sebuah drone ditembak jatuh. Mereka akan memeriksa drone tersebut, dan Nio berusaha agar data di dalam memori tidak dihapus sebelum polisi melakukan pemeriksaan.


Polisi yang datang ke lokasi mengetahui jika ketiga pemuda yang bersama para gadis adalah tentara, jadi mereka tidak akan berbicara panjang lebar dengan mereka.

__ADS_1


Kamera yang dibuat menyerupai mata burung ternyata masih berfungsi, sebelum menyerahkan drone ini kepada polisi, Nio mengacungkan jari tengahnya ke arah kamera sebagai salam bagi operator drone burung.


__ADS_2