Prajurit SMA

Prajurit SMA
Simfoni pembunuh bujangan


__ADS_3

“Iztok adalah wilayah awal Kerajaan Arevelk, sehingga memiliki masa lalu (sejarah) yang panjang dan terhormat. Kami menerima segala ras di sini, meskipun itu manusia setengah monster…”


Sigiz bertindak seolah-olah seperti pemandu wisata, lalu Nio dan bawahannya serta rombongan perwakilan Kerajaan Yekirnovo adalah wisatawan nya. Dari penjelasan ratu negara ini, seluruh bawahan Nio yang baru pertama kali menginjakkan kaki di ibukota Kerajaan Arevelk tahu jika kota ini telah berusia lebih tua dari Republik Indonesia, dan dimulai sebagai titik awal kelahiran Kerajaan Arevelk yang sekarang.


Sejarah Iztok lebih panjang dari sejarah negara-negara di Benua Andzrev, dan menjadi kebanggan rakyat Arevelk. Meskipun negara-negara tetangga memiliki siklus ‘masa kejayaan’ dan ‘masa penurunan’, justru Kerajaan Arevelk terus menerus mengalami masa kejayaan sejak masih berupa wilayah kecil yang bernama ‘Iztok’, dan reputasinya sebagai ibukota ‘Kejayaan Abadi’ langgeng hingga sekarang.


Dengan luas hampir sama dengan gabungan wilayah daratan Semenanjung Asia Tenggara dengan Asia Timur, mengakibatkan kemajuan yang luar biasa bagi negara ini. Banyak pedagang di menjadikan Iztok basis perdagangan mereka, meski wilayah ini cukup jauh dari wilayah laut. Namun, benua ini memiliki sebuah jalur perdagangan darat yang sangat vital bernama ‘Voske Arahet (terjemahan Indonesia: Jalur Emas)’, yang membentang dari Kota Iztok hingga ibukota Kerajaan Salodki.


(olog note: Jalur Emas di dunia lain dapat disamakan dengan ‘Jalur Sutra’. Jika tidak tahu atau lupa, pembaca bisa membuka lagi buku pelajaran sejarah:v)


Namun, sejak Aliansi terbentuk dan lima negara di benua ini menjadi anggotanya untuk berperang dengan Indonesia dan sekutunya, segala jenis hubungan Arevelk dengan negara-negara lain yang telah terbentuk sejak lama menjadi tidak jelas. Itu menyebabkan Jalur Emas hanya terbatas pada Kerajaan Arevelk dan Yekirnovo, dan Sigiz merasa jika perang dengan Aliansi sama saja dengan memutus Jalur Emas.


Kota Iztok sejak awal kelahiran tidak dikelilingi dengan tembok sebagai pertahanan jika sewaktu-waktu datang serangan dari pasukan negara lain, mereka yakin dengan para prajurit yang siap menjadi benteng bagi rakyat. Bangunan-bangunan di dalamnya terbuat dari mayoritas terbuat dari material kayu, meski beberapa bangunan terbuat dari batu yang disatukan dengan plester. Kerangka atap bangunan sama seperti rumah desa-desa di Indonesia, yakni terbuat dari kayu maupun material serupa. Jarak di antar bangunan cukup rapat sehingga dua orang yang tinggal bersebelahan bisa meraih tangan satu sama lain, sehingga mayoritas jalan pintas (gang) hanya selebar setengah meter.


Sebagian besar bangunan setinggi satu hingga tiga lantai, namun beberapa bangunan seperti penginapan atau kantor perwira militer dan rumah bangsawan kadang dapat setinggi dua hingga tiga lantai.


Di atas jalan yang sempit, orang-orang menggantung cucian untuk dikeringkan dari jendela lantai dua dan tiga, dan pakaian mereka berayun lembut oleh angin sepoi-sepoi.


Lalu, jalan yang dilalui kendaraan Tim Ke-12 dan kereta kuda rombongan perwakilan Arevelk adalah jalan utama Kota Iztok. Jalan ini sebenarnya lebarnya kurang dari enam meter. Anggota tim dapat melihat orang-orang terlihat sangat terburu-buru dan menuju ke arah yang sama dengan mereka. Kendaraan lapis baja mereka terjebak di antara kerumunan… yang padatnya hampir sama seperti jalanan ibukota ketika jam pulang kerja.


Namun, gerobak kuda yang mengangkut barang dagangan seperti sayuran dan buah-buahan mengalami nasib yang sama dengan rombongan ini. Meski bisa tergolong negara setengah maju (jika mengambil sudut pandang orang jaman abad pertengahan), orang-orang di Kerajaan Arevelk tidak mengerti dengan konsep arus lalu lintas. Sehingga, seluruh orang bisa dengan santai berjalan di tengah jalan, atau atau melawan arus tanpa takut terkena tilang, bahkan terlihat beberapa perempuan yang menggandeng anaknya berbincang-bincang ketika kendaraan taktis yang dikemudikan oleh Nio akan melintas. Jika para ibu-ibu itu berbincang-bincang di bangku yang ada di pinggir jalan Nio masih bisa memaklumi, namun berbeda cerita jika mereka dengan santainya menggosip sambil berdiri di tengah jalan ketika situasi sedang macet parah.


Adegan ketika para ibu-ibu yang menjadi ‘tersangka’ lebih galak daripada pembela ada di mana-mana, termasuk di dunia ini. Sehingga Nio dan penumpang hanya bisa diam ketika para perempuan itu menendang gerobak baja mereka lalu pergi begitu saja.


Nio memasang wajah biasa saja, meski Hassan telah memegang remote kontrol senapan otomatis dan siap menembaki makhluk semacam itu. Sementara itu, Sigiz, Lux, dan Zariv berkata, “ Saya mohon maafkan saja jika Anda menemui rakyat Arevelk seperti itu, Tuan Nio”, sehingga Nio hanya bisa memaklumi karena pada saat ini tidak ada gunanya mengutuk atau mengumpati siapapun.


Pengendara panser di barisan belakang kendaraan kedua, Yogi, mencoba membiasakan diri dengan suasana setempat sambil menggerutu, “Sialnya, kenapa kami datang saat jam sibuk?!” dan tanpa sadar alat komunikasi di kendaraan menyala dan dapat didengar semua anggota Tim Ke-12.


“Kenapa kau tidak membuka Gerbang untuk kita?”


Sigiz menanggapi pertanyaan Nio dengan wajah gugup, dan terlihat orang itu sedang meliriknya dengan tajam seperti menyalahkan dirinya atas terjebaknya rombongan ini di tengah kemacetan ‘dunia lain’. Karena seseorang sangat ingin menikmati perjalanan dengan Nio, karena waktu perjalanan darat dari Daerah Istimewa Indonesia di Dunia Baru adalah satu minggu perjalanan jika menggunakan kereta kuda, dan membuka Gerbang hanya akan membuat waktu perjalanan menjadi sangat singkat. Sehingga seseorang tersebut memilih untuk menolak permintaan jendral tertinggi Pasukan Perdamaian untuk membukakan Gerbang agar waktu perjalanan menjadi lebih cepat.


Setidaknya, bahan bakar listrik pada kendaraan taktis dan bahan bakar bensin khusus pada panser bisa bertahan hingga perjalanan sejauh 700 kilometer, sementara itu kuda-kuda yang menarik gerbong kereta yang berisi masing-masing 4 hingga 6 orang harus mendapatkan waktu istirahat sekali dalam sehari atau mereka akan mati kelelahan, sehingga perjalanan benar-benar memakan waktu satu minggu.


Di depan kendaraan pertama, alias kendaraan taktis yang dikemudikan Nio adalah gerobak terbuka yang berisi seorang manusia wanita dengan dua anak perempuan yang bertelinga kelinci.


Kusirnya adalah sang kepala keluarga yang berasal dari ras Demihuman bertelinga kelinci, dan sepertinya mereka menuju ke suatu tempat karena mengenakan pakaian yang terlihat bagus. Kedua anak perempuan yang terlihat masih berusia antara 4 hingga 6 tahun terlihat sangat akrab, dan bersandar satu sama lain. Itu adalah adegan yang membuat orang ingin tersenyum, dan Nio berpikir jika negeri ini benar-benar menghargai keberadaan ras Demihuman atau manusia setengah monster yang dibuktikan dengan pernikahan antara manusia biasa dengan ras Demihuman. Dan dia bertanya-tanya apakah keluarga itu menyadari keberadaan mereka ketika dia menatap keluarga tersebut.


Saat mata kedua anak bertemu dengan tatapan Nio, kedua anak tersebut menarik-narik pakaian ibu mereka sambil menunjuk ke arah kendaraan taktis, dan Nio tersenyum ketika seluruh anggota keluarga itu menoleh ke arah mereka sambil melambaikan tangan dan berwajah sangat ramah.


“Bisakah kalian bergerak lebih cepat?!”


Yang berbicara sambil berteriak tadi adalah Bima yang mengeluarkan kepalanya dari jendela penumpang pada kendaraan kedua, dia benar-benar kehabisan kesabaran ketika kendaraan terjebak macet. Dia dan anggota tim tidak menyangka jika dunia ini memiliki fenomena yang sama dengan kota-kota besar di dunia asal, yakni macet pada jam-jam sibuk.


Namun, seseorang adalah yang pihak merencanakan kemacetan di ibukotanya sendiri, dengan alasan yang sama seperti sebelumnya. Sementara itu, seluruh gadis melirik ke arah Sigiz yang terlihat tidak merasa bersalah sama sekali.


“Bima, kalau kau tidak bisa menjaga kesopanan di wilayah tuan rumah, lebih baik kau kembali ke markas pusat!”


Seluruh anggota terkejut ketika kata-kata itu terdengar, dan suara orang yang berbicara seperti milik Nio.


“Siap, mohon maaf, Letnan.”


Wajah Bima tiba-tiba berubah seperti anak kucing yang baru ditemukan setelah ditelantarkan oleh pemiliknya.


Lalu, tiba-tiba terdengar suara seperti alat musik asal dunia mereka. Kemudian Nio meminta seluruh anggota timnya untuk turun dari kendaraan, dan berjalan kaki menuju sumber suara. Dia meminta seluruh gadis untuk turun dan meminta untuk tidak terpisah dari rombongan, begitu pula rombongan perwakilan Kerajaan Yekirnovo.


Orang-orang yang menciptakan lautan manusia di jalan utama kota tidak hanya berasal dari kalangan warga biasa. Beberapa orang dengan pakaian lebih mewah dari yang lain juga terlihat, yang menandakan jika bangsawan pemerintahan atau bangsawan kecil juga berada di kota ini, dengan tujuan perayaan upacara Pergantian Tahun.


Setelah mendengar suara khas marching band khas Taruna Akademi Angkatan Laut setelah berlayar ke negara tujuan, seluruh orang Tim Ke-12 melangkah maju dengan penuh semangat, dan menghilang dari kerumunan orang-orang.


**


“Bukannya mereka Taruna AAL pada kapal penghancur kita?”

__ADS_1


“Itu benar-benar mereka!”


“Melihat mereka melakukan pertunjukkan di dunia ini benar-benar sesuatu, kan?”


Seluruh anggota Tim Ke-12, termasuk Letnan Satu Tentara Pelajar Nio, berdiri di tempat yang sama dengan para warga, dan berada di barisan terdepan sehingga mungkin bisa dilihat para personel marching band AAL yang sedang melakukan pertunjukkan sambil berjalan di jalan utama Kota Iztok. Terutama anggota dengan tubuh tertinggi tim ini, yakni Ika, gadis itu bisa dengan mudah ditemukan dari jarak dua puluh meter ketika terpisah.


Mereka telah melihat pemandangan yang luar biasa, dan bisa dinobatkan sebagai pertunjukkan marching band yang dilakukan taruna akademi militer pertama dan satu-satunya yang dilakukan di dunia lain ini. Sehingga Nio dan anggota tim lainnya paham mengapa jalanan di sini berubah menjadi lautan manusia.


Orang yang memegang baton, alias mayoret grup marching band mulai terlihat, mereka berjumlah tiga orang yakni dua laki-laki dan satu perempuan. Namun, mereka terlihat tidak mengenakan pakaian yang digunakan anggota marching band dan mayoret nya, namun semua personel mengenakan seragam siswa Angkatan Laut berwarna biru, bahkan pemain bass drum mengenakan kostum yang berupa pakaian selam lengkap disertai gerakan-gerakan yang membuat warga Kota Iztok bersorak senang. Mereka terpesona dengan pemain bass d,rum yang berukuran besar yang juga melakukan beberapa gerakan, meski alat musik itu terlihat sangat berat.


Ketika para warga yang berkerumun menyadari keberadaan anggota Tim Ke-12 yang berbaris bersama mereka, beberapa orang langsung menjauh beberapa langkah dari anggota tim. Para warga tidak akan membiarkan tamu mereka berdesakan bersama mereka, intinya ini demi kenyamanan tamu. Tentu saja kenyamanan itu hanya bisa dibalas dengan ucapan terimakasih yang diucapkan seluruh anggota menggunakan bahasa dunia ini. Namun, perkataan itu justru membuat beberapa warga bahagia, seakan-akan ucapan terimakasih sangat berharga menurut mereka.


Mengingat anggota Tim Ke-12 adalah prajurit pasukan negara anggota Persekutuan yang sangat kuat, setidaknya warga kota ingin memberikan kenyamanan bagi personel mereka yang baru tiba dari perjalanan darat berhari-hari. Namun, hal itu masih kalah dengan perasaan mereka yang sangat ingin menyaksikan pertunjukkan yang dilakukan prajurit ‘dunia lain’. Ini adalah pemandangan yang sangat langka, dan orang yang sangat beruntung di negara ini dapat menyaksikan pertunjukan ini. Itu karena penyebaran berita yang sangat lambat di dunia ini, dan hanya mengandalkan pengirim kabar yang bisa memakan waktu berhari-hari untuk menyebarkan suatu berita… seperti halnya berita kekalahan 300.000 pasukan Aliansi.


Di belakang personel marching band merupakan perwakilan Rusia dan Korea Utara yang telah tiba jauh lebih cepat dari Tim Ke-12. Mereka semua membawa bendera kecil masing-masing negara yang terbuat dari plastik. Namun, lima orang di barisan terdepan membawa bendera Indonesia, Korea Utara, Rusia, Arevelk, dan Yekirnovo berukuran asli. Semua orang di barisan tersebut berwajah sangat bahagia ketika mendapatkan sambutan dari warga setempat, namun wajah Tim Ke-12 justru sebaliknya.


Tentu saja mereka menahan rasa ingin menghajar perwakilan Korea Utara dan Rusia yang bisa melakukan perjalanan tanpa hambatan karena menumpangi helikopter, sementara mereka harus melakukan perjalanan satu minggu bersama perwakilan Yekirnovo yang mengendarai kereta kuda. Tim Ke-12 tidak bisa meninggalkan perwakilan Yekirnovo di tengah jalan tanpa perlindungan, atau mereka akan terkena panggilan pimpinan tertinggi Pasukan Perdamaian karena meninggalkan rombongan sekutu begitu saja.


Seragam lapangan anggota Tim Ke-12 yang sangat mencolok daripada warga kota lainnya membuat personel marching band dan rombongan perwakilan Rusia dan Korea Utara dengan mudah menemukan mereka. Beberapa siswa personel menyapa mereka tanpa menghentikan permainan alat musik.


Sebagai prajurit kontingen ‘dunia lain’ mereka sangat beruntung mendapatkan sekutu dunia lain seramah ini, sehingga tidak ragu untuk menampilkan pertunjukkan marching band yang dilakukan ketika bersandar ke negara tujuan setelah berlayar beberapa hari sebagai bentuk pendidikan siswa akademi. Prajurit kontingen Korea Utara dan Rusia yang tahu lagu yang dimainkan personel marching band ikut menyanyikan lagu, sehingga suasana nampak semakin ramai dan menyenangkan.


Karena upacara Pergantian Tahun penuh dengan berbagai pertunjukan dan tradisi-tradisi setempat lainnya membuat Nio dan anggotanya penasaran dengan kata ‘upacara’. Dia berpikir jika akan ada bagian pada upacara dimana warga akan melakukan doa bersama di kuil, atau makan bersama. Dengan kata lain, dari pengamatan Nio, upacara Pergantian Tahun adalah festival yang ditunggu orang-orang, karena penuh dengan hiburan dan hal-hal yang menyenangkan.


Lagu yang dimainkan grup marching band adalah lagu ciptaan musisi Indonesia pada jaman perjuangan kemerdekaan maupun modern. Meski mereka orang luar Indonesia, perwakilan Rusia dan Korea Utara beberapa dari mereka terdengar dapat menyanyikan lagu tanpa hambatan, meski beberapa dari mereka hanya bisa mendengarkan.


“Apa kalian hanya akan melihat di pinggir jalan seperti itu? Bergabunglah dengan kami!”


Itu perkataan dari salah satu personel perwakilan kontingen Korea Utara yang telah tiba lebih dulu dari Tim Ke-12. Seluruh anggota tim telah menandai wajah prajurit itu, dan akan membalas perbuatan mereka satu per satu jika ada kesempatan. Wajah kesal mereka tak bisa dibendung, hingga beberapa penyihir yang ada di tempat ini merasakan aura mengerikan dari anggota tim.


Kemudian, antek-antek Nio melepaskan diri dari barisan warga dan bergabung dengan barisan. Mereka dengan tenang meninggalkan kendaraan di pinggir jalan, dan akan menggunakan alasan, “Jalanan macet, sehingga kami terpaksa berjalan kaki untuk bisa sampai ke sini” jika mereka mendapatkan teguran dari atasan. Lagipula mereka hanya mengikuti rombongan ini, lalu mengambil kendaraan setelah acara selesai. Siapa warga yang berani menyentuh gerobak baja milik pasukan ‘dunia lain’ selain ibu-ibu setempat? Dan negara ini tidak memiliki peraturan yang melarang kendaraan warganya parkir sembarangan, itu adalah kesempatan pengemudi kendaraan Tim Ke-12 dari negara yang tidak mendenda pemilik kendaraan yang parkir sembarangan.


“Baiklah, mereka sudah bersama prajurit undangan lainnya. Mari kita menuju ke penginapan, perwakilan Kerajaan Yekirnovo.”


“Ratu Sheyn, rombongan Tuan Nio akan satu penginapan dengan kita. Dengan begitu, kita akan bertemu dengan mereka di sana.”


“Langsung saja kita ke sana.”


“Tunggu apa lagi, Yang Mulia.”


“Yang Mulia Sigiz, ayo cepat menuju ke penginapan kita.”


Gadis-gadis lainnya berjalan mengikuti Sigiz yang membelah kerumunan dengan tidak sabar.


**


Di dunia ini, mengatur pasukan dengan jumlah prajurit 3.000 hingga 4.000 adalah hal yang masih cukup mudah untuk dilakukan para komandan. Mereka tentu saja memiliki teknik masing-masing untuk memudahkan pekerjaan menyusun formasi pada pasukan. Lagipula, pasukan dengan jumlah prajurit kurang dari 5.000 termasuk ke dalam pasukan sedang.


Untuk mengatur formasi pasukan dengan jumlah lebih dari 10.000, apalagi pasukan dunia ini masih berperang dengan cara berhadapan secara langsung, pastinya akan menjadi pekerjaan berat bagi para komandan. Sehingga militer masing-masing negara memiliki caranya masing-masing untuk mengatur jumlah pasukan besar di medan perang, menggunakan alat musik contohnya.


Biasanya, para komandan memiliki alat musik masing-masing bagi prajurit bawahan mereka, dan mereka akan mengajari prajurit kode-kode pada setiap instrumen. Alat musik yang sering digunakan adalah terompet yang terbuat dari taring atau tanduk hewan atau monster, dan menjadi salah satu alat penting dalam perang. Alasannya, terompet memiliki suara yang tajam dan bertenaga, tidak tenggelam dalam gaduhnya suara perang. Sedangkan alat musik semacam gendang dan drum memiliki fungsi menyusun barisan dalam suatu formasi atau memerintahkan pergerakan dalam peperangan.


Perang dan musik seperti sebuah sejarah yang muncul berdampingan. Seperti perang saudara yang terjadi di Amerika Serikat pada abad ke-17, yang mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dalam perang. Apakah musik turut ikut membunuh? Bisa saja. Karena memiliki fungsi hiburan bagi para prajurit yang bosan, tegang, stres, atau rindu rumah dan kekasih, musik memiliki fungsi komunikasi dan salah satu senjata psikologis.


Di dunia ini, musik digunakan untuk memandu baris berbaris, memberi komando di medan perang, atau sinyal. Sedangkan sebagai senjata psikologis, musik berfungsi sebagai pembangkit moral, semangat, dan perasaan senasib, serta untuk membangkitkan patriotisme. Sehingga, pastinya negara-negara di dunia ini memiliki grup musik yang dapat berfungsi sebagai penghibur masyarakat atau senjata di medan perang.


Sementara itu, lagu yang dimainkan grup marching band adalah lagu yang mengingatkan prajurit yang memiliki kekasih pada pasangannya. Bagi yang tahu lagu yang dimainkan, mereka bernyanyi dengan keras dan penuh semangat. Sementara bagi yang tidak terlalu suka dengan musik hanya mendengarkan rekan mereka menyanyi sambil menahan malu saking sumbangnya suara mereka.


Ini adalah lagu yang ditulis untuk menghormati sepasang kekasih yang menikmati malam mesra setelah lama tidak bertemu.


“Sengaja aku datang ke kotamu…”


“…Lama kita tidak bertemu…”

__ADS_1


“…Ingin diriku mengulang kembali…”


“…Berjalan-jalan bagai tahun lalu…”


Meski tidak mengerti arti dari lirik lagu yang dinyanyikan prajurit, warga masih dapat mengerti jika lagu itu bersifat romantis.


“Sepanjang jalan kenangan…”


“… Kita s’lalu bergandeng tangan…”


“… Sepanjang jalan kenangan…”


“…Kau peluk diriku mesra…”


Beberapa anggota pria Tim Ke-12 bernyanyi sesuka mereka, meski merasa ingat kekasih atau mantan kekasih mereka.


“Hujan yang rintik-rintik…”


“… Di awal bulan itu…”


“… Penambah nikmatnya malam syahdu…”


Di sisi lain, ada banyak gadis-gadis setempat yang menyapa para prajurit yang membuat mereka tertarik.


Mereka menyapa tanpa malu dan terlihat sangat percaya diri, dan bersuara dengan keras dari atap bangunan atau jendela rumah mereka masing-masing sambil melemparkan bunga ke arah barisan personel marching band dan barisan di belakangnya.


“Walau diriku kini t’lah berdua…”


“…Dirimu pun tiada berbeda…”


“… Namun kenangan s’panjang jalan itu…”


“… Tak mungkin lepas dari ingatanku…”


Suara prajurit yang bernyanyi sama kerasnya dengan alunan alat musik anggota marching ban di depan mereka. Para warga pernah mendengar semua jenis musik, tetapi mereka belum pernah mendengar penampilan yang begitu indah namun megah.


“Sepanjang jalan kenangan…”


“…Kita selalu bergandeng tangan…”


“… Sepanjang jalan kenangan…”


“…Kau peluk diriku mesra…”


Warga yang menonton tidak bisa mengalihkan pandangan mereka, dan mereka melihat seperti orang yang baru pertama kali melihat hal yang baru selama hidup mereka.


Grup musik terbaik Kerajaan Arevelk yang melihat seperti telah kehilangan kebanggan mereka setelah mendengar dan melihat penampilan grup marching band di kota ini. Mereka tidak tahu apa arti dari kata-kata itu, tetapi mereka mengerti maknanya.


“Hujan yang rintik-rintik…”


“… Di awal bulan itu…”


“… Penambah nikmatnya malam syahdu…”


Apa yang muncul dari hati para warga ketika mereka melihat pertunjukan menakjubkan ini adalah rasa hormat terhadap seni dan rasa hormat terhadap sekutu mereka yang kuat.


Grup musik terbaik Kerajaan Arevelk sekarang tahu bahwa ada keberadaan seni yang begitu jauh kualitasnya di atas mereka.


Suara keras alat-alat musik membuat orang-orang penasaran, lalu merasa kagum setelah melihat dan mendengar lagu yang diciptakan alat-alat musik ‘dunia lain’.


Menurut grup musik Kerajaan Arevelk, keberadaan marching band milik sekutu mereka adalah untuk mengejek Dewi Lagu yang mereka sembah, dewi yang melambangkan keindahan dan kekuatan musik. Pada akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa keberadaan dunia lain penuh dengan hal-hal besar dan menakjubkan.


Namun, ini adalah simfoni kematian bagi prajurit bujangan yang tidak memiliki kesempatan untuk memiliki sesuatu yang bernama ‘kekasih’.

__ADS_1


__ADS_2