
Tidak peduli seberapa sepele perkataan yang dilontarkan Sigiz, jika itu tentang pernikahan, Nio sangat tidak ingin mendengarnya. Jika dia bisa mengerti mengapa Jenderal Angga mengijinkannya meninggalkan tim-nya untuk sementara dan membantu Kerajaan Arevelk, maka mungkin inilah alasan pria itu mengijinkannya memberikan bantuan untuk negeri ini.
Nio memang sudah mengatakan penolakan atas pernyatan bahwa Pertukaran Cawan adalah upacara pernikahan, dan dia sedang memasang ekspresi pahit seperti meminum jamu daun pepaya. Dia sangat ingin pulang sekarang, dan memeluk kekasihnya sambil berkata “Ayo kita segera mengumpulkan syarat pengajuan agar tidak ada wanita lain yang ingin merebutku darimu!!!”
Namun, sebelum dia menyelesaikan tugasnya di dunia ini, Nio tidak akan diijinkan untuk kembali. Bahkan jika dia menyerahkan seluruh hartanya untuk membayar penyihir agar membuka Gerbang untuknya, hukuman telah menantinya begitu menginjakkan kaki di Indonesia.
“Katakan padaku kalau yang kamu ucapkan adalah salah, Tuan Nio. Tolong dengar, perkataanku tadi sangat serius. Aku khawatir jika kau mendapatkan masalah selama membantu kerajaan-ku, jadi aku mengatakannya sebelum hal buruk menimpamu. Tolong maafkan aku kalau mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanmu!”
“Apa?! Tidak bisakah kau mengatakan kalau di dunia ini arti kata ‘pernikahan’ sangat banyak? Katakan padaku, Ratu Sigiz, ‘pernikahan’ yang kau katakan barusan maknanya ‘tolong bantu Arevelk menumpas para pengkhianat’, kan?!”
Soh kemudian menyambung pembicaraan setelah melihat wajah Sigiz masih memerah dan lidahnya kaku, “Sayang sekali, Jenderal Tamu Nio. Hanya ada satu makna dari kata ‘pernikahan’, yaitu bersatunya satu laki-laki dengan satu atau beberapa perempuan selamanya. Maafkan saya, saya tahu ini bukan urusan saya, tetapi menjelaskan hal ini kepada orang dunia lain seperti Anda saya merasa menjadi kewajiban saya, Pak Nio.”
“Tolong jangan panggil aku ‘Pak’! Aku belum setua itu, tahu!” Nio hampir menangis putus asa.
Dia berhasil tidak menahan diri meski di tempat ini ada banyak orang yang lebih tua darinya, salah satunya Sigiz. Nio terus menekan gadis itu agar mengatakan jika Pertukaran Cawan hanyalah upacara formal milter, dan sangat penting. Sayangnya, jawaban yang Nio terima selalu sama, dan seluruh orang di ruangan pertemuan ini bersorak mendukung pernikahan ‘orang yang diramalkan’ dengan Ratu Sigiz, kecuali beberapa gadis.
Sebuah jalan terbuka lebar di depannya, namun Nio tidak bisa berjalan di sana. Yang Nio bisa lakukan hanyalah menanggapi pernyataan itu dengan wajah kesal dan menggigit bibirnya, lalu membayangkan wajah Arunika jika mendengar dan melihat hal ini dengan matanya sendiri.
Sigiz, Luhe (Lux), Zariv, Ilhiya, melihat Nio berjalan cepat ke ruangan yang disediakan khusus untuknya. Liben dan Ivy yang baru datang menyapa pria itu, namun Nio tidak menanggapinya dan terus berjalan dengan kepala tertunduk.
“Kenapa Letnan Nio, dia terlihat merasakan sesuatu.”
“Aku tidak tahu, Sayang. Bahkan Yang Mulia Sigiz, Komandan Luhe, Zariv, dan Tuan Ilhiya bahkan tampak kebingungan juga.”
“Yah, pastinya tugas yang dia dapatkan pasti sangat berat. Selama aku menjadi bawahan Letnan Nio, dia belum pernah menunjukkan wajah seperti itu. Aku memang pernah melihatnya kesal dengan atasan, tapi tidak membuatnya memperlihatkan wajah marah dan sedih bercampur menjadi satu, kecuali saat kematian tiga teman kami.”
“Sayang, bagaimana Tuan Nio jika dia sedang sangat marah?”
“Kau tidak bisa membayangkannya, Ivy. Dia akan seperti makhluk liar jika seseorang membuatnya sangat marah.”
Pemulihan mental puluhan tawanan setelah menerima tantangan Nio berkelahi kabarnya belum selesai, kabar tentang Nio membunuh salah satu jenderal Aliansi menyebar di seluruh media berita di Indonesia, dirumorkan anak dari mantan Panglima TNI yang mati miskin, semua hal itu yang membuat Liben bersumpah tidak akan mencari gara-gara dengan Nio
**
Ketika Nio memukul sebuah pohon di sudut markas Pasukan Penumpas Pemberontak, Lux dan Zariv, Edera, Hevaz, Huvu, dan Ebal muncul dan menghentikan tindakan Nio yang kemungkinan dapat menumbangkan pohon buah ‘mangga setengah pisang’ tersebut. Nio menamakan buah dari pohon tersebut demikian karena meski berbentuk seperti pisang, namun kulit dan rasa buahnya sama seperti mangga bercampur anggur.
“”””““Kau tukang selingkuh sialan!”””””” keenam gadis tersebut berteriak seperti itu dengan tiba-tiba.
Nio tidak bisa membalas perkataan mereka, dan menatap langit-langit berharap penugasannya di dunia ini segera berakhir. Namun, dia tahu masa penugasannya baru berakhir setelah misi menangkap dalang perang dan penyerangan Karanganyar terpenuhi.
“Kenapa kalian tiba-tiba berkata seperti itu?”
“Yah, padahal kau sudah memiliki kekasih. Namun kau malah menolak lamaran Yang Mulia Sigiz. Apa sebutan yang pantas untuk tukang selingkuh sialan sepertimu?” Hevaz berbicara sambil berjalan beberapa langkah ke hadapan Nio.
Nio menjawab, “Bukannya aku seharusnya tidak mendapatkan julukan rendah seperti itu?! Apa salah kalau aku sadar diri, dan memilih menolak lamaran Ratu Sigiz?! Kalian itu bodoh atau apa, sih?!”
Nio mencoba membebani keenam gadis tersebut dengan cerita-cerita pahit kehidupannya selama dikirimkan ke dunia ini, tapi dia sendiri paham jika mereka pasti tidak akan mempedulikannya.
Dia hanya tidak ingin memancing keributan ketika Arevelk sedang menghadapi dua ancaman yang sangat serius. Untuk itu, Nio memilih mengatakan semua yang ada di pikirannya, meski dapat dipastikan perkataannya akan melukai hati beberapa pihak dan merubah pandangan orang-orang terhadap dirinya.
Dan sebagai hasilnya…
“Lihat, kau benar-benar tukang selingkuh sialan. Kenapa kau tidak benar-benar menjadi tukang selingkuh dan menerima kami semua?!”
Nio hanya bisa memasang ekspresi yang memperlihatkan perasaannya atas betapa konyolnya perkataan Hevaz itu.
__ADS_1
“Apa menurut kalian seorang lelaki dapat menikahi banyak wanita, meski kedua belah pihak saling mencintai dan menerima?”
Nio merasa jika yang dikatakan Hevaz hanyalah candaan, namun dia tetap tidak tahu apa yang dirasakan keenam gadis di depannya. Menambah Huvu dan Ebal di daftar perempuan yang dia sukai? Tentu saja jawabannya benar. Meski pria itu baru bertemu kedua gadis Demihuman tersebut kurang dari tiga minggu lalu, namun dia terpesona dengan pesona kedua gadis tersebut.
Saat menghadiri pertemuan para komandan Kerajaan Arevelk, dia menerima banyak tawaran dari mereka untuk menikahi anak gadis mereka. Tapi karena dia belum melihat anak-anak gadis para komandan dan melihat sendiri sifat mereka, Nio merasa harus menolak tawaran tersebut.
Terlebih lagi sebagian besar bawahannya bujangan. Dia merasa tugas seorang komandan adalah menjaga perasaan bawahan, dan mendahulukan perasaan bersama daripada pribadi meski sebagian besar bawahannya sudah tahu ada sangat banyak wanita dan gadis yang tertarik dengan Nio.
Dan Nio tahu jika ayahnya telah menikah sebanyak dua kali, meski dia tidak ingat nama ibu kandung dan ibu tirinya akibat hilang ingatan yang ia derita sejak kematian kedua orang tua Nio dan Arunika.
“Hah?! Bukannya Anda mengatakan kalau semua gadis yang ada di dekatmu adalah tipe perempuan idamanmu?! Dada mereka besar, lebih dewasa darimu, sangat cantik, dan benar-benar tertarik denganmu. Anda adalah ‘orang yang diramlkan’ Tuanku. Artinya, Anda bebas mendapatkan apapun yang Anda sukai, termasuk wanita.”
“Tunggu, kenapa pembicaraan malah mengarah ke hal perempuan, bukannya penumpasan pemberontak?” Nio mengeluh.
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan, Nio,” giliran Zariv yang berbicara.
“Jangan berbicara seolah-olah kalian memiliki banyak pengalaman tentang pria,” ucap Nio kesal.
Di usianya sekarang, memiliki pengalaman dengan perempuan adalah sesuatu yang memberinya status sosial diantara remaja, ‘tidur’ dengan perempuan misalnya. Sayangnya, pencapaian terbesarnya adalah pernah mencium Arunika, dan tidak memiliki pengalaman membanggakan selain itu.
Kata-kata Hevaz kemudian membuat Nio terperosok ke dalam kegelisahan, “Hmmm, bagaimana jika Arunika sudah melakukan ‘itu’ dengan pria lain. Mungkin sekarang dia sedang melakukannya saat dirimu sedang berjuang.”
“Ap-apa yang kau katakan?! Apa kau bisa melihat dia sedang melakukan hal ‘itu’ dengan orang lain?”
“Hee hee! Apa Anda cemburu, Tuanku?”
“Jelas!”
Perkataan Hevaz sama sekali tidak membuat Nio bahagia. Kegelisahan dan rasa takut yang bercampur menjadi satu sudah cukup membuat enam gadis di depannya tergila-gila padanya.
Dengan siapa? Apa dia benar-benar melakukannya saat aku mempertaruhkan nyawa di sini????!!!!
Nio dan Arunika pada akhirnya menjadi sepasang kekasih setelah Nio mengetahui jika mereka berdua bukanlah saudara kandung, sehingga memutuskan kesempatan mereka yang tidak sedarah. Namun, melihatnya jatuh cinta pada orang lain ketika dia berjuang menghadapi Aliansi dan mencari dalang perang yang hampir menghancurkan Indonesia, Nio tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya jika hal itu benar-benar terjadi. Meski dia tertarik dengan hal yang berbau ‘kenikmatan’, dan sering memuaskan hasrat pribadi dengan ‘tangan’ sendiri, dia sudah terlanjur bersumpah pada diri sendiri tidak akan melakukan ‘itu’ sebelum menikah.
Semua kemarahan yang memenuhi kepala Nio sebelumnya belum hilang, kini ditambah dengan pertanyaan tentang apa dan dengan siapa Arunika sekarang, dan apa yang sedang apa yang dia lakukan di Indonesia, serta apakah ada pria lain yang memiliki hubungan dengan Arunika ketika dia bertugas di dunia ini.
Meski ada kasus seorang prajurit ditinggal menikah oleh kekasihnya ketika bertugas berperang menghadapi musuh, atau yang paling parah perselingkuhan ketika prajurit tersebut sudah menikah, namun kejadian itu adalah salah satu kemungkinan terburuk ketika kau adalah seorang prajurit dan memiliki kekasih atau istri, sementara dirimu dikirim ke tempat yang sangat jauh dan sedang bertempur mempertaruhkan nyawa.
“He-Hevaz, jika kau memiliki sihir yang bisa melihat kegiatan Arunika. A-apa yang sedang dia lakukan, dengan siapa, dan di mana?”
“Ohh, jadi Anda ingin tahu?”
“Tolong, jangan mempermainkan diriku,” wajah Nio benar-benar seperti orang yang memohon dengan sangat, bahkan mata kirinya sudah berkaca-kaca dan mungkin akan segera mengalirkan air mata.
Nio ingin menggunakan status ‘orang yang diramalkan’ yang diberikan olehnya, lalu meminta Hevaz atau siapapun untuk memantau kegiatan Arunika di Indonesia. Dia tidak peduli jika hal itu termasuk kedalam kegiatan memata-matai dan sabotase, namun Nio tidak mempunyai pilihan lain jika ada orang yang bersedia membantunya.
Nio lebih muda dari Arunika, dan dia menyukai perempuan dengan tipe seperti itu karena pasti memiliki pengalaman yang lebih darinya. Namun, Nio sendiri tidak menilai Arunika memiliki pengalaman apapun, kecuali berciuman dengan dirinya. Sayangnya, dia sendiri tidak dapat memastikan apakah ciuman pertama mereka adalah yang pertama bagi Arunika atau malah yang kesekian kalinya.
“Ayolah Tuan Nio, bukannya orang yang memberi Arunika ciuman pertamanya adalah Anda sendiri?”
“… Hah?”
“Apa Anda berpikir akan ada perempuan yang mengkhianati Anda, sementara Anda adalah orang penting di Persekutuan? Perempuan yang dengan percaya diri mengkhianati Anda di belakang Anda adalah yang terbodoh.”
“Ooh… ummm…”
__ADS_1
Nio memaksa otaknya untuk berpikir dalam kecepatan penuh, dan mencoba menganalisis dengan dalam dan menyeluruh perkataan Hevaz. Dia memiliki perasaan yakin jika yang dikatakan Hevaz adalah benar.
Nio bersandari di pohon yang dia jadikan samsak tinju dan menghela napas panjang, “Haaaah… jangan menakuti-nakuti aku seperti itu.”
“Oh, prajurit yang telah menerima gelar ‘Lariq Sodur’ ternyata benar-benar masih remaja, ya?” ucap Huvu dan disertai senyuman oleh teman dan adiknya, Ebal dan Edera.
“Tunggu, jika kalian mengajukan diri sebagai istri-istriku, bukankah kalian akan merasaka apa yang sedang kurasakan sekarang. Bukankah kalian akan merasa sakit hati saat pria yang kalian cintai bergandengan dengan perempuan lain, lalu melakukan hal menyenangkan lainnya?”
“Bukankah ada ungkapan ‘pria dapat mencintai banyak wanita, tetapi wanita hanya mencintai satu pria’.”
“Tidak, ungkapan itu sepenuhnya salah. Aku bahkan ingin menghajar orang yang sudah membuat pernyataan itu. Menurutku, tidak ada perempuan yang benar-benar setia, kecuali pria itu telah melakukan sesuatu yang telah membuat si perempuan tertarik dengan si pria. Memang benar pria menyukai banyak perempuan, termasuk aku. Tapi –“
“Nah, kalau begitu tidak masalah bagi Anda untuk menikahi kami, kan?”
“Dengerin omongan ku dulu, woy! Jangan asal potong pembicaraan orang seenak udel! Bahkan cerita ini belum mencapai 250 episode, dan aku sudah disuruh menikahi banyak perempuan, itu akan melanggar perjanjianku dengan si author, woy!”
(olog note: kenapa bawa-bawa gw sih? Emang sih gw jomblo, terus kenapa?)
“Ahahahah. Maaf, saya hanya mengatakan apa yang para wanita dan gadis yang menyukai Anda rasakan.”
“Hevaz, kau bahkan tidak terlihat menyesal sedikitpun.”
“Memang tidak.”
“Sialan! Apa yang akan kalian lakukan kalau aku sudah menikah, hah?”
“Ya, kami akan melakukannya.”
“Melakukan apa memangnya?”
Bagaimanapun, baik keenam gadis di depannya, ditambah Sigiz dan Sheyn, tahu jika Nio tetap akan terus bersama kekasihnya hingga ke pernikahan di masa depan. Jika mereka mendapatkan kepercayaan dan berjuang bersama Nio hingga perang usai, mungkin mereka bisa mengatakan perasaan masing-masing yang sesungguhnya.
Tidak, seluruh gadis tersebut harus membuat Nio memahami perasaan mereka bagaimanapun itu.
“Maafkan saya jika mengganggu waktu Anda, Jenderal Tamu!”
Seorang prajurit Arevelk datang dengan tiba-tiba, dan berlutut di depan Nio. Namun, dilihat dari tingkah prajurit tersebut, jelas ada hal yang tidak sepele. Nio dan seluruh gadis memiliki firasat buruk tentang ini.
“Apa yang terjadi?” tanya Nio.
Wajah Nio tidak menunjukkan ekspresi remaja dan semangat masa muda. Yang terlihat sekarang adalah ekspresi seorang perwira muda yang menunjukkan rasa waspada yang sangat tinggi.
Prajurit Arevelk tersebut menatap keenam gadis tersebut dengan berkata di dalam hati “Sial!”, lalu langsung menjawab pertanyaan Nio sambil menahan rasa jengkelnya, “Ka-Kami baru saja menerima kabar dari prajurit Pasukan Angkatan Udara Pengintai. Pasukan Pemberontak menyerang kota terdekat dari Benteng Girinhi. Dan juga, pasukan Aliansi dengan jumlah puluhan ribu bergerak dan dua hari lagi akan memasuki hutan di dekat Benteng Girinhi juga!”
“Apa kau bilang. Benteng Girinhi akan segera terjebak di dua pertempuran?!” mata kiri Nio terbuka lebar akibat terkejut.
**
Funfact#20: pangkat Jenderal berbintang lima di cerita ini bukanlah pangkat resmi. Tepatnya, (dicerita fiksi ini) bintang lima adalah tanda pangkat kehormatan jika jenderal bintang empat melakukan prestasi yang melebihi pangkatnya. Jenderal Anumerta Sucipto mendapatkan pangkat jenderal bintang lima setelah gugur di penyerangan besar pertama Aliansi terhadap Pasukan Ekspedisi (sekali lagi, ini cerita fiksi).
Tambahan…
Maaf jika update tidak teratur (kadang aku berpikir berapa banyak pembaca yang menyukai cerita ini). Aku masih dalam proses pengetikan naskah untuk novel terbit cetak, jadi jangan harap aku akan update setiap hari. Kemungkinan aku akan update dua hari sekali.
Terimakasih.
__ADS_1