Prajurit SMA

Prajurit SMA
Panjang banget


__ADS_3

Pasukan bantuan yang berjumlah dua puluh ribu tentara, termasuk beberapa penyihir militer dipimpin oleh salah dua jenderal Arevelk, Salul dan Lux , lalu ada juga Zariv yang diperintahkan menjadi kekuatan tambahan sekaligus komandan para penyihir militer. Tidak adanya Sigiz pada rombongan pasukan, kedua gadis tersebut sama-sama merencanakan sesuatu setelah tiba di Benteng Girinhi. Perkiraan mereka tiba di sana sekitar dua hari perjalanan lagi.


Salul, pria berusia 40 tahun-an yang sudah ketagihan akan cita rasa petai, padahal dia sebelumnya cukup membenci polong-polongan tersebut. Meski dia seharusnya bersama Zvail di kantor kontingen Arevelk di benteng kura-kura, namun wajahnya masih dipenuhi dengan tekad masa muda. Dia tidak ingin kalah dengan Lux, Zariv, dan pemuda terbaik Arevelk yang rela mengajukan diri menjadi prajurit Arevelk setelah Aliansi menyatakan perang dengan Arevelk dan sekutunya.


Seperti yang dikatakan ratu mereka, Sigiz, serta jenderal Pasukan Perdamaian. Jumlah kecil pasukan bantuan di sana mungkin tidak akan membantu banyak, sehingga pasukan tambahan yang berasal dari Arevelk sendiri dikirimkan sebagai kekuatan tambahan setelah kabar jika musuh memperlihatkan pergerakan dan terus mendekat ke garis perbatasan yang dilindungi oleh pasukan di Benteng Girinhi.


“Apa tidak apa-apa mengirimkan 18.000 tentara dan 2.000 penyihir militer dari ibukota ke Benteng Girinhi?” Salul baru bertanya hal tersebut setelah mereka hampir mendekati Benteng Girinhi.


“Ibukota telah dipertahankan oleh ratusan ribu tentara dan penyihir. Tidak perlu takut untuk pengkhianatan untuk sementara, kita akan terus maju ke Benteng Girinhi. Jika para pengkhianat menyerang kita, pasukan gabungan di Benteng Girinhi pasti akan bergerak untuk membantu kita.”


Para komandan di dekat Lux berkeringat dingin meski udara terasa sejuk meski di tengah siang hari.


Rumor akan terjadinya perang saudara yang direncanakan salah satu jenderal sekaligus tangan kanan Zvail adalah mimpi buruk Arevelk dan tentaranya. Jika para pemberontak mampu mengumpulkan kekuatan dalam waktu singkat, maka mimpi buruk akan menjadi sejarah yang hina bagi sepanjang sejarah berdirinya Kerajaan Arevelk selama ribuan tahun. Pernyataan Lux yang menyinggung rumor pemberontakan membuat para prajurit menggelisahkan hal tersebut, dan berpikir hal tersebut benar-benar akan terjadi jika waktunya tiba.


“Apa agen ganda yang memberi informasi padamu dapat dipercaya, Jenderal Lux?” Salul bertanya dengan nada gelisah.


“Maksudmu Tam?”


“Bukankah dia mantan salah satu komandan Aliansi yang ditangkap?”


“Benar. Tapi, entah apa yang kontingen ‘dunia lain’ itu lakukan pada agen ganda yang dipekerjakan dari tawanan yang tertangkap. Mereka benar-benar patuh dan setia, mereka tidak akan memberikan Persekutuan informasi palsu.”


Memang faktor utama kontingen tiga negara yang berasal dari ‘dunia lain’ adalah kekuatan tempur mereka, senjata brutal yang digunakan ketika pertempuran mampu menghasilkan jumlah korban tak terhitung. Prajurit yang disiplin dan banyak personel pasukan elit yang dikirimkan ke dunia ini menjadi kekuatan tambahan tiga negara ‘dunia lain’ tersebut. Sehingga Salul beranggapan semua hal tersebut adalah yang membuat para agen ganda tidak berniat merugikan Persekutuan meski mereka juga bekerja untuk Aliansi.


Awalnya, pasukan yang dipimpin oleh Salul ditempatkan di sebuah pos yang berjarak tiga hari perjalanan dari Benteng Girinhi, yang bertugas sebagai pertahanan lapis kedua jika musuh tidak hanya menyerang benteng tersebut. Perintah Sigiz untuk memindahkan mereka ke Benteng Girinhi terbilang mendadak, namun para tentara telah siap untuk kemungkinan terburuknya dari perintah mendadak tersebut.


“Apa itu? Tidak, kenapa mereka di sini?”


Beberapa kilometer di depan, Zariv melihat ribuan tombak berdiri dengan beberapa tombak panjang dipasangi bendera. Indera penglihatan penyihir lebih baik dari manusia biasa, terlebih lagi penyihir militer berpangkat tinggi seperti Zariv. Namun, bendera yang terpasang pada puluhan tombak tidak berwarna hijau sebagai latar belakang dan lambang matahari berwarna emas yang membentuk bendera Kerajaan Arevelk, baik itu bendera kerajaan maupun militer.


Bendera yang dilihat oleh Zariv berwarna hitam, namun tetap terdapat lambang matahari berwarna emas. Warna hitam memang melambangkan keberanian, namun warna tersebut tidak dipakai pada bendera perang pasukan Arevelk. Sehingga hal tersebut membuat perasaan Zariv tidak menyenangkan dan mengakibatkan firasatnya buruk.


“Apa yang kau lihat, Zariv?” Lux mencoba bertanya pada Zariv apa yang membuat gadis penyihir tersebut tampak gelisah.


“Apa kita pernah memakai bendera perang dengan latar belakang hitam, dan bukannya hijau seperti yang kita bawa sekarang?”


Ekspresi Lux yang sulit dibaca membuat Salul harus memastikan dengan matanya sendiri apa yang dikatakan Zariv.


Lux sama sekali tidak terlihat curiga atau semacamnya dengan pernyataan Zariv yang melihat bendera Kerajaan Arevelk yang berlatar belakang hitam dan bukannya hijau. Namun, tiba-tiba Lux merasa perasaannya berubah menjadi menggelisahkan sesuatu.


Meskipun dia yakin bahwa pasukan tambahan yang dia pimpin bersama Zariv dan Salul cukup kuat, namun setelah melihat pasukan yang membawa bendera Kerajaan Arevelk berwarna hitam membuat Lux menyadari sesuatu. Bagaimanapun, rumor tetaplah hal yang belum tentu kebenaran dan faktanya.


Pasukannya kini berada di medan terbuka yang berupa padang rumput dengan jalan setapak yang dilintasi tentaranya. Pasukan kavaleri yang diikutsertakan kurang dari tiga ribu, sehingga cukup lemah dari standar militer Arevelk itu sendiri jika sewaktu-waktu mereka diserang. Prajurit infanteri tidak banyak pengalaman, sehingga ketika tiba di Benteng Girinhi mereka mendapatkan pelatihan dari prajurit senior di sana. Lalu, penyihir militer hanya menguasai sihir perang dasar hingga tingkat ketiga, dan hanya sebagian kecil yang mampu menggunakan sihir artileri sebagai senjata sihir andalan.


Di lain sisi, Zariv melihat pasukan dengan jumlah besar berbaris dan membentuk formasi menyerang dasar.


“Apa itu pasukan tambahan?” tanya Salul yang belum mengetahui kebenaran dari pasukan besar yang berbaris di depan bala tentaranya.


“Bajingan, itu Ofra!” Lux mengatakan hal itu dengan wajah yang benar-benar menunjukkan kebencian terhadap seseorang yang namanya ia sebut disertai umpatan.


“Jadi itu pasukan yang dipimpin Ofra?” Salul justru berkata dengan wajah senang dan tenang. Dia senang jika pasukan yang dipimpin tangan kanan panglima militer Kerajaan Arevelk, Zvail, juga mengirimkan pasukan tambahan.


Tentu saja wajah senang Salul membuat Lux menatap pria tersebut dengan pandangan gelap dan dipenuhi kemarahan. “Dia sekarang musuh kita, tolol!” Lux mengatakan hal itu dengan keras di depan wajah Salul, hingga pria itu sangat terkejut hingga tidak dapat berkedip.


“Whooooo!!! Whooooooo!!!”


Suara yang memekakkan telinga menggema di telinga prajurit pimpinan Lux dan Salul di medan terbuka padang rumput ini. Suara tersebut berasal dari pasukan yang berbaris di depan mereka.


“Tunggu, kenapa mereka bergerak ke arah kita?” Salul bertanya dengan wajah polos yang membuat Lux semakin kesal.


“Mereka pemberontak yang dirumorkan! Mereka akan menyerang kita!” Lux berkata dengan suara yang ditinggikan.


Memiliki wilayah yang begitu luas membuat Kerajaan Arevelk memiliki medan terbuka yang luas. Akan semakin berbahaya jika prajurit yang dia pimpin akan bertempur di medan terbuka tanpa persiapan. Dan jika pasukan itu adalah pemberontak yang dipimpin oleh Ofra, maka perang saudara yang sangat ditakutkan dimulai dari sekarang.


Lux memerintahkan para komandan-nya untuk memimpin unit masing-masing dan membentuk barisan untuk bertahan, begitu pula dengan Salul. Zariv bergerak ke arah belakang barisan untuk memimpin para penyihirnya, dan memerintahkan mereka untuk memulai merangkai kata-kata mantra.


Mereka benar-benar sekumpulan tentara Arevelk yang bergerak maju untuk menyerang pasukannya, para prajurit itu tampaknya adalah pasukan Ofra. Mereka maju untuk menyerang pasukan bantuan untuk pasukan di Benteng Girinhi. Itu tidak bagus, jika mereka menghadapi para pemberontak itu sekarang, maka mereka akan sangat terlambat untuk menyusul pasukan di Benteng Girinhi.


Mereka terlihat berjumlah lebih besar dari pasukan yang dia pimpin. Lux tahu jika Ofra memimpin pasukan berjumlah 30.000, dan ditempatkan di salah satu kota yang berjarak dua hari perjalanan dari kota tempat pasukan Salul ditempatkan.


Lux hanya berharap jika 20.000 prajurit yang dia pimpin bersama Salul dan Zariv mampu mengimbangi kekuatan pasukan Ofra.


Kavaleri yang berada di barisan tengah akhirnya berbenturan dengan kavaleri musuh. Mereka hanya dapat bertahan dari terjangan ratusan kuda dan tombak panjang milik penunggangnya. Puluhan prajurit kavaleri Lux seketika mati dengan tusukan tombak panjang musuh atau terjatuh dari kuda lalu terinjak-injak oleh kaki kuda perang milik musuh maupun kawan.


Sementara itu, unit kavaleri musuh lainnya bergerak ke arah sayap kiri yang diisi infanteri dan pemanah. Sayangnya, ratusan tentara kavaleri musuh dilindungi oleh hujan panah yang diciptakan para pemanah mereka. Tak bisa diam melihat ratusan anak panah musuh melayang di atas mereka, komandan pemanah dari pasukan Salul memerintahkan prajuritnya untuk membalas serangan musuh.


Saling balas hujan anak panah terjadi di kedua belah pihak. Dan ketika ratusan anak panah mendarat, itu mengenai kepala atau tubuh kuda dan prajurit kedua pihak dan membuat puluhan kematian prajurit manusia dan kuda di kedua belah pihak.


Kalah dengan manuver terlatih pasukan pimpinan Ofra, baik pasukan Lux dan Salul tidak dapat melakukan perlawanan dengan mudah, dan dengan cepat jatuh ke dalam kepanikan, dengan tangisan kesakitan dan penderitaan yang muncul dari medan perang saat mereka jatuh ke dalam kekacauan yang diciptakan para pemberontak.


“Kavaleri mereka terlalu banyak! Bagaimana infanteri kami bisa melawan mereka?!” Lux berteriak.


“Ini… tidak mungkin!” Salul menampar kedua pipinya dengan sangat keras, mencoba memaksa dirinya untuk mengakui jika semua ini adalah mimpi.


Ini adalah medan perang, perang masih terjadi dan belum berakhir, dan sekarang Salul berada di tengah-tengah peperangan dengan pasukannya yang diserang oleh musuh dari segala arah. Dan, dia sebagai komandan tidak bisa kehilangan kesadaran dan akalnya untuk sekarang – meski dia tidak dapat menerima jika hal ini adalah fakta.


Pemanah pasukan pemberontak belum menghentikan menghujani musuh mereka dengan ratusan anak panah. Sebagian besar anak panah memang meleset dan menancap di tanah yang ditumbuhi rumput hijau, namun jika beberapa anak panah menancap di tubuh prajurit atau kuda, itu mampu membuat kekacauan dan kerugian besar.


Pemberontak memanfaatkan pasukan pemanah mereka untuk mengurangi jumlah prajurit lawan secara efektif, seolah-olah pemimpin mereka telah melatih mereka hanya untuk melakukannya, itu termasuk untuk pasukan kavaleri.


Pasukan Ofra yang melancarkan serangan mendadak menghujani musuh dengan panah kembali melakukan hal yang sama, sementara kavaleri dan infanteri mengayunkan tombak dan pedang yang mereka pegang dengan kecepatan kilat, mengamuk dengan semangat menghadapi rekan sendiri yang jatuh ke dalam kekacauan dan ketakutan.


Itu seperti mimpi buruk.


Sayangnya, yang mereka lihat adalah mimpi buruk dan hina yang menjadi nyata.


“Ini tidak mungkin!”


“Kenapa mereka melawan kita?!”

__ADS_1


“Apa yang terjadi dengan teman kita? Kenapa mereka memerangi kita?!”


“Mereka bajingan brengsek! Pemberontakan benar-benar terjadi!”


Para prajurit yang mencoba bertahan dari serbuan tanpa henti pemberontak berkata seperti itu dengan nada putus asa. Mereka melihat teman dipenggal, ditusuk oleh tombak, diinjak-injak kaki kuda perang tentara musuh yang sebelumnya mereka anggap sebagai teman. Beberapa teman sudah dalam keadaan tidak utuh setelah prajurit pemberontak dengan wajah senang sengaja memotong-motong setiap bagian tubuh teman yang telah menjadi mangsa mereka.


Puluhan kepala teman melayang setelah dipotong dan dipisahkan dari tubuh oleh prajurit pemberontak, lalu melemparkannya ke barisan pasukan infanteri yang telah mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan dengan putus asa.


Melihat puluhan kepala teman menghantam kepala dan tubuh mereka, prajurit infanteri tidak dapat tenang. Wajah pasukan pemberontak terlihat memasang senyum menyeringai saat melakukan pembantaian terhadap teman mereka sendiri.


Tepatnya, pemberontak dan Arevelk sekarang sudah menjadi musuh, sama seperti Aliansi yang memusuhi Persekutuan.


“Jangan biarkan mereka lolos!”


“Buat mereka takut dengan kita!”


“Hancurkan tekad mereka untuk memerangi Aliansi!”


Mendengar para pemberontak mengatakan hal seperti itu, bersamaan dengan teriakan penuh kebencian mereka, para prajurit mulai menunjukkan perlawanan, tetapi kebanyakan prajurit musuh menunggang kuda.


Salul dengan cepat menenangkan diri, lalu melawan prajurit pemberontak tanpa membunuhnya, dan mencoba menerima situasi.


Mudah untuk diungkapkan dalam kata-kata: situasi sangat kacau. Setiap komandan mencoba tidak membuat satu kesalahan perhitungan yang mampu merubah alur perang. Namun, menjaga prajurit agar tetap tenang adalah hal yang sangat sulit.


Melebihi apapun, para komandan dengan berani memadamkan kekacauan di garis depan, lalu mengharapkan para penyihir melindungi mereka yang berusaha menyusun kembali formasi.


Namun, serangan sihir artileri dan sihir militer lainnya hanya menghabisi sebagian kecil prajurit musuh dan justru membuat para prajurit pemberontak semakin bengis.


Beberapa prajurit berkuda pemberontak mencoba merangsek ke barisan puluhan pagar perisai dengan tombak yang terangkat. Ketika berhasil melewati rintangan meski beberapa teman mereka terbunuh oleh tombak panjang yang menembus tubuh atau kepala, mereka mengayunkan pedang dan tombak dengan cepat dan kuat hingga menembus dada dan membelah kepala beberapa penyihir.


“Sialan, sialan, kalian sialan!”


Zariv melakukan sihir andalannya dengan perasaan marah terhadap pemberontak yang membunuh teman sendiri dengan kejam.


Puluhan pedang dan tombak prajurit melayang dengan lingkaran sihir di gagang, lalu satu persatu dari senjata tersebut melayang dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi ke barisan kavaleri musuh yang mencoba membunuh lebih banyak penyihir.


Kecepatan tinggi dari lesatan puluhan pedang dan tombak tentu saja tidak dapat diantisipasi oleh para pemberontak. Tubuh mereka tertusuk tombak dan pedang hingga menembus punggung atau menusuk wajah hingga menembus ke bagian belakang kepala. Serangan sihir Zariv lebih efektif dari panah, namun energi magis yang terbatas adalah masalah yang tidak dapat diatasi setiap penyihir biasa maupun militer. Artinya, Zariv tidak dapat terus melancarkan serangan sihir semacam itu kecuali dia memiliki energi magis sangat besar.


Para komandan tetap dengan berani dan tenang mengendalikan prajurit mereka. Begitu melihat para prajurit telah menenangkan diri, para komandan memerintahkan mereka mundur. mereka menarik diri dengan tiba-tiba dan lancar ketika penyihir dan pemanah menahan laju kejaran kavaleri dan infanteri pemberontak.


Pasukan pemberontak berusaha mengejar pasukan yang baru saja mundur, tetapi tentu saja mereka dilindungi oleh pemanah dan penyihir,


Setelah menyiksa pasukan mereka, para pemberontak melihat mereka melarikan diri setelah melakukan perlawanan yang tidak begitu sengit.


Tapi, bagi Arevelk, ini hanyalah awal dari mimpi buruk.


**


Pasukan kecil yang dipimpin Nio meninggalkan Edera, Hevaz, dan para pengungsi. Sebagian pengungsi baru pertama kali melihat adanya kelompok tentara seperti itu, yakni membantu sekelompok orang yang tak dikenal. Bahkan jika mereka dalam kondisi sekarat, belum tentu tentara Arevelk maupun Yekirnovo bersedia membantu mereka. Pemimpin sembilan orang prajurit berpakaian hijau dengan senjata tongkat aneh adalah yang paling menarik perhatian para pengungsi, terutama yang sebelumnya bekerja sebagai Pembunuh Senyap.


Mereka sedang berada di hutan wilayah Kerajaan Arevelk, dan dapat dimanfaatkan sebagai rintangan alami.


Huvu dengan ekspresi tenang menjawab pertanyaan adiknya, “Untuk memastikan pria itu ‘orang yang diramalkan’ asli atau hanya bualan, kami akan melihat kemampuan bertarungnya sendiri.”


Huvu, Ebal, dan para remaja Pembunuh Senyap mengenakan pakaian yang membuat mereka dapat bergerak dengan lincah. Bagi remaja perempuan, mereka mengenakan pakaian yang cukup minim, dan hanya menutupi bagian penting. Itu bukanlah masalah meski pasti akan ada pria-pria yang melihat tubuh mereka dengan tatapan ca*bul.


Hebatnya, perlengkapan bertarung mereka tidak diketahui oleh anggota Nio, kecuali senjata yang hampir disita oleh bawahan pemuda pria itu jika Edera tidak membela mereka. Para Pembunuh Senyap tersebut mengambil senjata masing-masing yang berupa pedang pendek, belati, dan busur panah lengkap dengan anak panah.


Ras kucing tidak memerlukan senjata apapun dalam pertarungan, mereka terbiasa menggunakan cakar dan gigi taring yang dapat mengoyak daging manusia dengan mudah. Sementara itu, ras rakun dan kelinci memiliki kemampuan unik masing-masing dalam bertarung, meski mereka tetap memerlukan senjata ringan dalam pertarungan untuk menambah daya rusak di pihak musuh.


“Tolong jangan bercanda, Edera, jawab pertanyaan ku dengan jujur. Apa pria ‘dunia lain’ itu adalah ‘orang yang diramalkan? Karena aku berpikir Yang Mulia Hevaz hanya salah dalam memilih sosok penting tersebut.”


Ekspresi ragu Huvu sama seperti perasaan tidak percaya Edera terhadap Pasukan Ekspedisi yang telah menyelamatkannya dari perbudakan yang merenggut kebebasannya dulu. Namun, dia merasa Nio memang bukan tentara biasa, karena siapapun pasti akan memendam dendam terhadap seseorang yang sudah menghilangkan tangan kanannya. Namun, Nio tetap meminta agar dirinya dibebaskan, karena merasa Edera hanyalah korban pencucian otak dan tidak tahu apa-apa.


Sementara itu, Huvu masih merasa ragu jika pasukan ‘dunia lain’ yang berjuang bersama Arevelk dan Yekirnovo memerangi Aliansi bertarung dengan tulus. Karena bisa saja dibalik wajah tulus tersebut tersembunyi niat gelap.


Sebagai negeri yang memiliki kekuatan besar, negara asal Nio dan bawahannya dapat melakukan apapun yang mereka sukai pada negara lemah di dunia ini. Mengambil orang-orang di negeri yang ditaklukan sebagai tawanan atau memaksa mereka sebagai budak adalah sesuatu yang lumrah di dunia ini. Sehingga tak mengubah kemungkinan bahwa negara asal Nio dan bawahannya melakukan hal yang sama, itu menutut bayangan Huvu pribadi.


Negara atau wilayah yang dikalahkan yang menjadi tempat mereka lahir dan dibesarkan di kuasai dan diduduki oleh musuh, para penduduknya akan dirampas martabat dan haknya sebagai orang yang dikalahkan, lalu dieksploitasi melalui perbudakan atau kerja paksa. Huvu tidak begitu yakin dengan bayangannya, sehingga dia ingin memastikan sendiri apa tujuan Edera berjuang bersama Nio – sebagai prajurit Persekutuan.


“Aku tahu, berjuang bersama orang yang hampir aku habisi memang terlihat mustahil,” ucap Edera dan didengarkan oleh lima belas Pembunuh Senyap serta Hevaz. “Aku tahu mereka pasti memiliki tujuan dari perang ini. Tapi, Tuan Nio… kupikir dia berbeda. Berjuang bersama dia sangat sesuatu, bahkan bawahannya juga merasa seperti itu meski sering membuat Tuan Nio kerepotan. Setelah dia mengampuni kesalahanku, aku sudah memutuskan memberikan tenaga, tubuh, dan nyawa untuk membantu perjuangan Tuan Nio di perang ini. Dia benar-benar orang yang dapat dipercaya, tapi aku tidak tahu dengan atasan, raja, serta bangsawan di negara asalnya.”


“Aku mohon pada kalian untuk mempercayai Tuan Nio,” kalimat tersebut bukanlah Edera yang mengucapkannya.


Mata para Demihuman remaja yang telah siap kembali menjadi Pembunuh Senyap seketika membulat ketika mendengar Hevaz – seorang Utusan Dewi Kematian dan Dewa perang yang dijuluki Pelahap Jiwa – memohon dengan sungguh-sungguh. Tentu saja, sosok yang memiliki kekuatan besar sampai memohon seperti itu merupakan kejadian sangat langka dan hampir mustahil.


“Yah… Edera, kau tidak harus mengkaitkannya pada para bangsawan di negara asal pria itu. Kita tahu bagaimana sifat asli bangsawan jika sudah diberikan kekuasaan.”


Huvu masih gadis muda, seperti Edera, Ebal, dan remaja perempuan Demihuman lainnya. Wajar jika dia mungkin takut pada pria yang hampir tidak dikenalnya, dan mewaspadai pria tersebut karena tampak dekat dengan adiknya.


“Sudah jelas, kami akan membantu mereka. Pria itu dan bawahannya sudah membantu kita, memberi kita makanan, dan menjamin keamanan kita. Membantu saja mungkin tidak cukup,” ucap salah satu remaja laki-laki Demihuman.


Pada saat Ebal dan Huvu mendengar ucapan rekan mereka, kedua gadis tersebut akhirnya merasa mengapa Edera terlihat sangat mengidolakan pria bernama Nio itu. Meski keberadaan Hevaz sudah memperlihatkan jika pria itu merupakan ‘orang yang diramalkan’, namun tetap saja para Pembunuh Senyap itu ingin membantu kelompok Nio.


Sementara itu, para lansia dan orang dewasa yang tidak mampu bertarung telah dievakuasi oleh regu penjemput yang benar-benar datang terlambat. Personel penjemput hanya dapat mengamati para remaja Demihuman tersebut dengan tatapan bingung dan curiga. Namun, adanya Edera yang berpihak kepada Nio di antara mereka membuat personel penjemput melupakan rasa curiga dan memilih mengabaikan meski pergerakan mencurigakan mereka pantas diawasi.


“Seluruh pengungsi telah berada di dalam kendaraan, apa mereka tidak mau ikut juga?” tanya salah satu personel penjemput asal kontingen Rusia kepada Hevaz sambil menunjuk sekelompok Demihuman yang terlihat mempersiapkan diri untuk sesuatu.


“Mereka berencana membantu Tuan Nio. Kabarnya, ada musuh yang memasuki hutan ini setelah melewati garis perbatasan.”


“Serangan musuh?! Apa yang kamu katakan serius?” ucapan tentara Rusia tersebut membuat rekan-rekannya bersikap waspada dan senapan mereka telah disiagakan dalam mode semi otomatis dan otomatis penuh.


Tim Ke-12 Korps Pengintaian dan Pertempuran berisi prajurit elit dan pasukan khusus, sehingga kemampuan tempur mereka di atas pasukan reguler. Meski personel regu penjemput tidak meragukan kemampuan para tentara muda, TRIP, namun memangil bantuan adalah pilihan yang bagus.


Sayangnya, Hevaz justru memasang ekspresi mengancam dan mengatakan, “Lebih baik kalian tidak berencana mengganggu pertarungan Tuanku. Demi keselamatan, kalian cepat mengamankan para pengungsi, atau kalian akan terjebak di dalam masalah yang jauh lebih rumit.”


“Si-siap!” ucap tentara Rusia tersebut dengan ekspresi gugup dan gelisah.


Tidak mendapatkan porsi khusus di pertarungan yang ada di depan mata memang membuat personel regu penjemput kesal. Namun begitu mereka menyadari bahwa kemampuan musuh tidak dapat dianggap sebelah mata, mereka memilih membiarkan Tim Ke-12 menangani para musuh yang dimaksud Hevaz. Tidak ada prajurit kontingen Indonesia, Korea Utara, dan Rusia yang ingin mati konyol di dunia ini.

__ADS_1


Pasti setidaknya ada beberapa dari mereka yang melihat berita di TV maupun koran atau media masa lainnya tentang kepulangan Pasukan Ekspedisi. Dengan wajah sedih dan hampir menangis, pembawa berita di stasiun TV swasta dan negeri membacakan berita tentang kepulangan pasukan tersebut yang membawakan kemenangan, sekaligus ribuan teman yang gugur dan dibaringkan dalam peti mati yang dibungkus menggunakan kain berwarna merah dan putih.


Tidak ada prajurit yang ingin berita kematian mereka ketika berjuang di dunia ini tersiar, meski pada perang sebelumnya jumlah prajurit yang mati pada masing-masing negara mencapai ribuan. Negara masing-masing tentara menginginkan perang melawan Aliansi sebagai penutup perang, sehingga tidak perlu ada lagi pemuda yang meninggalkan masa muda yang menyenangkan maupun suami dan anak yang meninggalkan keluarga mereka.


Keberadaan Nio dan seribu personel TRIP di dalam Pasukan Perdamaian versi Indonesia, Rusia, dan Korea Utara membuat para prajurit dewasa menyadari keberuntungan mereka. Meski perang sebelumnya membunuh teman maupun keluarga para tentara, namun mereka tetap dapat menikmati masa muda sebelum mendaftar untuk menjadi tentara.


Seluruh APC dan kendaraan mobilitas tinggi bergerak dengan kecepatan yang dirasa dapat membuat penumpang yang berupa manusia Demihuman tetap merasa nyaman.


Satu APC dan dua kendaraan mobilitas tinggi milik regu penjemput melaju meninggalkan Edera, Hevaz, dan para Pembunuh Senyap. Kabar tentang adanya pasukan musuh yang melintasi garis perbatasan harus dilaporkan kepada komandan kompi dan pasukan Arevelk di Benteng Girinhi.


“Baiklah, saatnya mengganggu kesenangan orang itu.”


Seluruh Pembunuh Senyap tersenyum dan tidak sabar dengan pertarungan yang akan mereka hadapi.


“Lebih baik kalian jangan terlalu mengganggu Tuan Nio dan bawahannya.”


Sesaat kemudian, seluruh Pembunuh Senyap, Edera, dan Hevaz bergerak dengan sangat cepat. Dengan kedua sayapnya, Hevaz terbang di atas pepohonan yang lebat sambil mengawasi pergerakan para Pembunuh Senyap yang belum begitu dia percayai.


**


Grup 1 yang dipimpin Letnan Satu Nio dan grup 2 yang dipimpin Sersan Mayor Hassan bergerak di antara pepohonan dan semak dengan cepat, dan hanya memperlihatkan siluet yang berlari secepat kilat. Senapan penembak jitu ringan milik Zefanya memiliki berat yang sama dengan SS20 G2 yang dimiliki personel kontingen Indonesia, yakni kurang dari lima kilogram. Sehingga dia dapat bergerak tanpa tertinggal dengan rekan-rekannya.


Taktik dua sisi yang Nio katakan membuat mereka akan menghadapi musuh dari sisi depan dan samping, lalu akan mengurangi setiap prajurit musuh secara perlahan dan teratur. Itu mungkin tampak seperti taktik yang baik sebelum mereka menghadapi musuh. Ketika bergerak untuk menemukan posisi musuh dan grup 2, Nio menginginkan lebih banyak informasi tentang medan hutan ini.


“Semuanya berhenti!”


Handsfree seluruh anggota grup 1 yang terhubung dengan sinyal Nio mematuhi perintah komandan mereka, dan Nio tetap menyuruh grup 2 untuk memantau pergerakan musuh dan jika perlu menggiring mereka ke titik yang telah ditentukan.


“Mayat hidup kepada Barista, apa kau mendengarku?”


Setelah mendengar suara semut, akhirnya pemimpin grup 2 menjawab panggilan Nio, “Barista di sini, apa yang ingin kau katakan?”


Perangkat kacamata inframerah pada helm setiap prajurit mampu menerima pancaran tubuh seseorang dari jarak dua kilometer. Cara membedakan lawan dan kawan adalah dengan melihat warna pancaran panas tubuh, karena perangkat pada helm mampu membedakan mana lawan dan teman hingga meminimalisir membunuh rekan sendiri. Merah untuk tanda musuh, sedangkan biru sebagai tanda kawan.


Nio dapat melihat grup 2 dengan pancaran panas tubuh yang ditandai warna biru berjarak 600 meter dari tempatnya sekarang, dan terus bergerak bersama pancaran panas tubuh musuh yang ditandai dengan warna merah.


“Kau bisa melihat posisi grup 1, kan? Kalau bisa, giring musuh ke tempat kami untuk penyergapan.”


“Siap.”


Setelah jawaban singkat dari Hassan, Nio memerintahkan anggota grup 1-nya untuk menempati posisi masing-masing, perkiraan mereka bertemu dengan musuh adalah setengah hingga satu jam ke depan tergantung situasi. Dia menetapkan aliran sungai kecil dengan arus sedang sebagai persembunyian dan titik penyergapan.


Mereka kini berada di tepi sungai yang bersebrangan dengan keberadaan grup 2 saat ini. Itu artinya, grup 2 dan Regu A sudah melintasi sungai ini.


Di tempat grup 1 berada terdapat banyak pohon, semak, dan batu yang dapat dimanfaatkan sebagai persembunyian dan seberang sungai sebagai zona membunuh sehingga akan terjadi penyergapan dari dua sisi.


Grup 2 akan menyergap musuh dari sisi kanan sekaligus sebagai pemberi tembakan tekanan dengan serangan menyebar. Grup 1 menangani sisi depan dengan tugas yang sama, yakni memberi tembakan tekanan, sniping, dan penghalang jalan musuh untuk maju maupun mundur.


Anggota grup 1 menempati posisi yang dirasa tempat terbaik untuk menembak, mereka tersebar dengan jarak satu sama lain tidak lebih dari empat meter. Ada yang bersembunyi di balik batang pohon besar, tengkurap di antara semak-semak, maupun berlindung di belakang batu besar. Nio memilih berlindung di balik batu, dan Zefanya sebagai sniper bersembunyi di balik semak di dekatnya.


(olog note: sniping adalah tugas untuk mengacaukan baris musuh dengan taktik menembak secara sembunyi-sembunyi dan tepat, dan sebisa mungkin membuat musuh kesulitan menemukan posisi penembak)


Helm yang menutupi seluruh bagian kepala hingga wajah memang membuat prajurit hanya melihat gelap, sehingga kamera di luar yang terhubung dengan layar optik dan jendela holo yang menyediakan semua jenis data menjadi pengganti penglihatan mata.


Bahkan tanpa mengaktifkan perangkat holo tambahan, prajurit dapat melihat posisi musuh dan rintangan dengan layar optik yang terpasang, sudah termasuk perangkat pendeteksi panas tubuh. Karena helm menutupi seluruh kepala hingga wajah prajurit, maka perangkat tersebut berfungsi sebagai penglihatan tambahan selain kaca holo transparan pada helm tempur generasi sebelumnya yang dipakai prajurit reguler hingga sekarang (dapat dilihat di cover baru).


Pasukan musuh menggunakan taktik berbaris memanjang seperti hendak melakukan pertempuran terbuka dengan pasukan garis depan sebagai penyerang utama dan garis belakang sebagai pendukung dan pelindung, serta tanpa sedikitpun niat menyembunyikan diri. Seperti informasi yang Nio terima dari Hassan, jumlah tentara musuh lebih dari seratus prajurit dan merupakan unit yang bersenjatakan senapan. Meskipun musuh membuat mereka kalah jumlah dan kalan dalam daya serang, Nio merasa taktik mereka sangat sederhana dan mudah diprediksi.


Situasi seperti ini, di mana unit kecil harus memanfaatkan peluang dan mengalahkan pasukan yang lebih besar, dapat dilihat sebagai pertarungan yang berat sebelah. Mengetahui jika cara bertarung Nio sangat sembrono, mungkin dia akan membuat anggotanya harus membunuh musuh dalam jumlah banyak. Sejak awal kedatangan mereka ke dunia ini, pertempuran yang berat sebelah memang menjadi pertempuran yang Tim Ke-12 lakukan secara senang hati dengan sedikit gerutuan.


“Siapa namamu?”


“Letnan, jangan bertanya seolah-olah kau malaikat penanya di alam kubur!” gerutu Ika.


Nio hanya tertawa kecil mendengar anggota grup 1 merinding mendengar ucapannya, seolah-olah dia adalah malaikat yang bertugas menanyai orang yang baru saja dikubur.


“Tinggal jawab ‘kami adalah prajurit Persekutuan yang tidak akan mundur dari pertarungan sebelum menang’ apa susahnya?” ucap Nio lagi.


“Bagaimana kalau menggunakan motto TRIP, yang bunyinya ‘Kami muda, setia, dan berani, dan tidak akan ada lawan yang dapat mengalahkan kami. Tentara Pelajar siap menjadi alat tempur garis depan’.”


“Bima, bukannya itu kepanjangan?,” sambung Nio.


“Letnan, bukannya motto TRIP terlalu panjang untuk disebut motto?” balas Ratna.


Kebanyakan personel TRIP akan mengeluh jika harus menghafal motto atau slogan satuan mereka yang begitu panjang.


Nio kembali tertawa kecil untuk menanggapi fakta yang diucapkan Ratna yang terdengar dari handsfree-nya.


“Zefanya dan Ro Ga-Eun, kalian pasti belum tahu motto TRIP kami.”


“Apa itu Letnan, sepertinya menarik,” Ga-Eun terdengar sangat penasaran dengan ucapan Nio, begitu pula dengan Zefanya.


Nio kemudian melengkapi motto TRIP yang diucapkan Bima sebelumnya:


“Kami muda, setia, dan berani, dan tidak akan ada lawan yang dapat mengalahkan kami. Tentara Pelajar siap menjadi alat tempur garis depan. Kami akan memberikan kehancuran yang sangat besar pada musuh. Karena TRIP adalah dua kekuatan dalam satu dan tidak pernah tidak siap. Biarkan kehendak Tuhan yang menentukan jalan perjuangan kita.”


Zefanya dan Ga-Eun hanya dapat memasang ekspresi datar dan heran di balik helm yang menutupi wajah mereka.


“Panjang banget…” ucap Zefanya, namun dengan nada mengeluh.


Sementara itu, seluruh anggota seketika menjadi tenang setelah Nio selesai mengucapkan slogan super panjang milik Tentara Republik Indonesia Pelajar tersebut. Menurut Nio, slogan TRIP seperti diambil dari motto milik beberapa satuan TNI, sehingga sangat panjang, mungkin paling panjang di antara motto milik angkatan bersenjata negara manapun.


“Mereka mendekat,” ucap Nio dengan nada waspada.


“Musuh?”


“Benar. Semua harap siap menghadapi pertarungan. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang terluka setelah pertarungan berakhir.”


“Seharusnya aku yang mengucapkan kata-kata itu, Let,” jawab Gita.

__ADS_1


__ADS_2