Prajurit SMA

Prajurit SMA
Tatanan dunia


__ADS_3

“Jangan lengah! Mereka akan datang dalam jumlah banyak… lagi!” Sabole berteriak dari posisinya di atas batu bersama Nefe. Mereka berdua sepakat untuk melepaskan sihir panah api lagi – ke arah gerombolan monster yang terus datang dalam formasi tak beraturan.


Dengan berlari untuk memancing beberapa kabrit dan minotaur ke titik yang telah ditentukan dan membiarkan puluhan monster tersebut mengejarnya, Nio berhasil membuat dirinya terkepung. Walau itu dianggap strategi yang tidak masuk akal, namun Nio pasti memiliki taktik sendiri untuk menghadapi situasi ini. Nio dan puluhan monster tersebut berada di antara pohon-pohon besar yang menciptakan banyak persembunyian. Itu membuat mereka dan dirinya tidak dapat keluar dari area ini dengan mudah, karena banyaknya rintangan berupa semak berduri atau tanaman berbahaya.


Berkat keempat gadis penjelajah, Nio dapat mengetahui jenis tanaman yang tidak membahayakan bagi manusia dan tanaman yang dapat membunuh manusia dan monster dengan mudah. Intinya, Nio memanfaatkan kondisi Labirin yang terdapat banyak tanaman berbahaya bahkan hanya dengan sekali sentuh. Meski jumlahnya tidak banyak, tanaman berdaun lebar yang dapat membuat kulit manusia dan monster sekalipun melepuh tumbuh di tempat Nio berada. Dan dia akan memanfaatkan keuntungan tersebut untuk melawan seluruh monster yang mengepungnya.


Daun tanaman berbahaya itu disebut ‘muchetura’, dan mampu membuat kulit manusia dan monster melepuh seperti terkena luka bakar derajat 2. Sehingga mampu membuat kerusakan lapisan kulit luar hingga lapisan kulit dalam.


Nio berusaha untuk tidak menyentuh daun tanaman yang berbentuk mirip daun talas tersebut. Sayangnya, meski ada kurang dari seratus monster mengepung dirinya, mata Nio tetap tertuju ke para gadis yang bertarung melawan monster yang datang setelah kemunculan monster yang bernama ‘raja’ minotaur tersebut.


Nio dengan cepat membuat kesimpulan awal bahwa minotaur raksasa tersebutlah yang memanggil berbagai monster untuk menyerang mereka. Nio kini menggenggam pistol di tangan kiri dan karambit di tangan kanan. Nio adalah orang tipe ambidextrous, serta penembak dan petarung jarak dekat yang baik dengan memanfaatkan kelebihannya tersebut.


“Hanya sisa dua magasin, sedangkan jumlah mereka kira-kira lima puluh lima ekor.”


Nio mengira-ngira jumlah gabungan minotaur dan kabrit yang mengepungnya saat ini, dan mungkin akan ada tambahan monster yang bergabung dalam pertarungannya. Biasanya, pistol dan pistol mitraliur menggunakan magasin dengan peluru sama, dan berisi sekitar dua puluh hingga tiga puluh peluru dengan kaliber proyektil 9 dan 10mm.


Nio tersenyum setengah hati, tidak bisa sepenuhnya mengandalkan senjata jarak jauh seperti pistol dan senapan ketika berhadapan dengan musuh yang jumlahnya tidak sebanding dengan dirinya yang sendirian. Lalu, di dalam hati pria itu mulai berdoa sambil menggenggam erat kedua senjatanya, memohon pada tuhan yang dia percayai untuk memberikan dirinya kekuatan dan keselamatan.


“Roooooooaaaaaarghhhhhh…!!!” raja minotaur kembali mengeluarkan raungannya, dan membuat tingkah para monster yang lebih kecil darinya berubah.


“Sepertinya mereka dikendalikan oleh makhluk itu,” keringat dingin mengalir di kedua pipi Hassan setelah mendengar raungan dan melihat wujud monster yang baru pertama kali dia lihat selama ditugaskan di dunia ini.


“Monster yang telah mencapai tingkat ‘raja’ mampu mengendalikan monster lainnya, jadi kesimpulanmu tidak salah, bawahannya Nio (Hassan)…” kata Kardas sambil mengeratkan pegangan pada gagang pedangnya.


“… Omong-omong, apa Nio mampu bertarung sendirian?” sambungnya setelah melihat puluhan minotaur dan kabrit mengepung Nio.


“Lebih baik jangan remehkan veteran seperti dia!” jawab Hassan sambil menembaki setiap goblin yang berusaha menyerangnya dengan belati mereka. Setiap proyektil 7,62mm-nya yang ditembakkan mampu menembus tubuh para goblin kecil yang bergerak cukup gesit.


Raja minotaur benar-benar seperti pemimpin para monster yang menyerang mereka. Puluhan, atau mungkin ratusan monster seperti goblin kecil hingga minotaur berukuran dua meter terjun ke medan pertarungan melawan para manusia yang berada lantai sepuluh Labirin ini.


Hevaz menebas puluhan goblin besar dan minotaur sekaligus, lalu menciptakan hujan potongan tubuh hasil dari aksinya. Hevaz adalah petarung spesialis serangan kilat, bahkan saking cepatnya dia mampu membelah tubuh lima goblin besar kurang dari dua detik. Senjata dan alat yang digunakan para monster untuk menyerang bertebaran di tengah genangan darah dan potongan daging goblin dan minotaur. Namun, aroma busuk dan amis yang menyengat menyebar di udara dan membuat tidak nyaman indera penciuman.


Di sisi pertarungan lain, Sakuya menebas leher setiap kabrit yang menghalangi jalannya menuju raja minotaur berada. Puluhan kepala monster berkepala kambing tersebar di tanah, dan menciptakan pemandangan yang tidak mengenakan selain aroma darah yang sangat amis. Selain kabrit, Sakuya juga harus menghadapi minotaur dan goblin besar yang menyerangnya dengan wajah menjijikkan.


Selama melakukan pertarungan dengan monster yang menghuni lantai sepuluh ini, Sakuya berpendapat jika sebagian ras monster liar memiliki kecenderungan untuk memperkosa gadis manusia yang lemah. Itulah yang dia lihat sekarang, liur menetes dari rahang seluruh goblin besar yang mengepungnya dan membuat perut Sakuya bergejolak. Dia bertanya-tanya apakah monster yang dijinakkan Aliansi untuk berperang memiliki kecenderungan yang sama.


“Nefe, kita akan membuka jalan untuk Nona Sakuya,” Sabole berkata pada Nefe di sampingnya.


“Mereka lemah di sisi kiri, lebih baik kita menyerang bagian itu,” Nefe menanggapi.


Dari atas batu yang mereka pijaki, Nefe dan Sabole dapat melihat sebagian besar medan pertarungan, termasuk pembantaian yang dilakukan Hevaz. Sebagai Penjelajah kelas penyihir sekaligus ahli serangan jarak jauh yang akurat, mereka diijinkan berada pada baris belakang dalam pertarungan. Seperti Hassan, tugas mereka adalah melakukan serangan perlindungan dan menghabisi setiap monster yang mendekati rekan atau diri mereka sendiri.


Selesai merapalkan mantra, Sabole dan Nefe mengarahkan tongkat dan kedua tangan mereka ke depan.


Para goblin, kabrit, dan minotaur yang berusaha menyerang Sakuya tiba-tiba menjadi setengah beku. Setengah badan mereka tidak dapat digerakkan, dan Sakuya sangat berterima kasih atas bantuan Nefe dan Sabole. Di lain sisi, Hassan dan Nio beruntung tidak melihat sihir itu dalam pertempuran, atau mereka dapat dengan mudah kalah… mungkin.


Tidak ada jalan keluar dari es yang membekukan sebagian tubuh mereka, Sakuya dapat dengan mudah menghancurkan tubuh monster-monster setengah beku dengan katana miliknya. Meski dapat menggerakkan salah satu tangan atau mengeluarkan raungan, penjara es yang diciptakan Sabole dan Nefe membuat Sakuya semakin mudah untuk menghabisi satu per satu dari mereka.


Raja minotaur bergerak, seperti berencana hendak bergabung dalam pertarungan, dan Hevaz merasa tugasnya adalah tidak membiarkan monster setinggi tiga meter tersebut melakukan hal yang dia inginkan. Namun, Sakuya lebih dulu melancarkan serangan pertama pada raja minotaur. Monster tersebut meraung keras hingga langit-langit lantai sepuluh seakan-akan dapat runtuh. Sayangnya, serangan Sakuya tidak cukup kuat untuk membuat raja minotaur tumbang.


Di lain sisi, meski telah dilumpuhkan oleh Hassan, Kardas dan Sayf masih tidak mempu menahan gelombang serangan sporadis para monster yang bergerak dengan bagian tubuh mengeluarkan darah akibat proyektil yang ditembakkan oleh Hassan.


Di tempat pertarungan yang lain, sebagai pembuka, Nio menembak dan menghancurkan mata seekor goblin besar yang telah siap dengan pentungan besarnya. Serangan itu membuat goblin besar tidak dapat berbuat apa-apa dan mati seketika, membuat monster-monster lain diam untuk sesaat.

__ADS_1


Kemudian, seekor minotaur besar berdiri di belakang Nio dan mengangkat tangan kanannya yang menggenggam kapak batu. Melirik kebelakang untuk melihat apa yang akan dilakukan monster di belakangnya, Nio langsung menyayat beberapa kali paha kiri minotaur tersebut. Raungan khas banteng terdengar, lalu sebuah tembakan yang melubangi dahi minotaur itu dilepaskan sebagai serangan terakhir.


Serangan serupa juga dia lancarkan pada goblin dan kambrit yang berusaha menyerangnya, hingga dia menghabiskan satu magasin pada pistolnya. Ketika dia sedang memuat magasin baru, tanpa pria itu sadari seekor minotaur bergerak ke arahnya.


“Rasanya seperti tidak asing,” lagi-lagi Nio mengingat pertempuran besar pertama Aliansi melawan Pasukan Ekspedisi. Tapi pertempuran itu telah berakhir beberapa bulan lalu, dan Nio tengah menghadapi konflik baru melawan Aliansi lagi.


Sebuah kepalan tangan sebesar kepala menghantam pipi kiri Nio, dan membuat pemuda itu terpental sejauh dua meter. Meski hanya mampu bergerak cukup lamban, minotaur tersebut berhasil menghajar Nio dan menatap pria itu dengan tatapan puas.


Untungnya, Nio tidak kehilangan kesadaran meski tinju yang dia terima cukup keras. Dia menatap ke langit, lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan kuat untuk menyingkirkan pusing di kepalanya.


Seperti lupa untuk menyeka darah yang keluar dari bibirnya, Nio mengelus pipi kirinya yang mengeluarkan warna merah akibat menerima pukulan dari lawannya. Dia melihat ke tempat dia mendarat setelah terpental, dan melihat daun muchetura cukup banyak. Itu memang menguntungkan dirinya, namun Nio melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat.


Nio merasa dirinya harus muntah atau berteriak seperti perempuan yang akan dilecehkan secara seksual. Wajah Nio tiba-tiba berubah menjadi kusut dengan sedikit memucat saat melihat anu beberapa goblin besar dan minotaur membesar dan memanjang– namun tidak lebih besar dan panjang dari anu miliknya… itu menurut Nio sendiri. Kabar baiknya, dia bertarung bersama para monster itu di tempat yang tidak mungkin para gadis melihat pemandangan yang pastinya tidak ingin mereka – termasuk Nio – lihat.


“Sialan, aku hampir muntah. Tapi, sepertinya anu mereka dengan adikku masih menang adikku. Bentar…” Nio menurunkan celananya untuk memastikan jika senjata biologi miliknya masih menang daripada milik monster yang memiliki tubuh lebih besar darinya.


Kemudian dia menemukan satu jawaban, “Sip, punyaku lebih besar dari punya mereka”, dan dia berkata dengan wajah percaya diri dan berkata dengan bangga.


Waktu seolah berhenti bagi para monster yang hendak menyerang Nio saat pria itu membandingkan anu miliknya dengan milik mereka.


Nio dapat tersenyum lebar yang menunjukkan kesombongannya pada para monster yang memandang perilakunya dengan tatapan datar. Seperti belum puas, Nio menggoyangkan pinggulnya untuk memperlihatkan bahwa rudal miliknya masih jauh lebih besar dari milik mereka… jika dalam keadaan ereksi.


“Heh, sepertinya mereka mulai terpesona,” ucap Nio dengan bangganya.


(olog note: edan juga si Nio njir)


Dia memperlihatkan anu miliknya sebagai salah satu taktik, dan itu berhasil membuat para monster diam mematung dengan kedua mata menatap lurus ke arah anunya. Dia tahu dia hampir muntah ketika liur para goblin memperlihatkan ***** mereka terhadap dirinya, jadi dia menghindari pemerkos*an yang tidak diharapkan dengan memperlihatkan balik senjata biologis miliknya. Nio membanggakan senjata miliknya yang lebih besar dari milk monster yang ada di hadapannya, dan mengelus-elus adik ‘kecil’ nya sebelum mengenakan kembali celananya.


Namun, para monster belum juga bergerak setelah dia menyimpan kembali senjata biologis miliknya, dan masih menatap lurus ke arah bagian bawah perutnya. Sepertinya, taktik ‘tolol’ pria itu berdampak terlalu kuat pada mental para monster tersebut, dan membuat tekanan mental mereka tidak terkendali. Yah, itu sangat menguntungkan Nio dan dia menenteng SS20 G2-nya lalu membidik bagian anu beberapa goblin dan minotaur yang belum mengecil.


“Tunggu dulu, sepertinya adikku sedikit lebih besar lagi.”


Nio berkata seperti itu setelah baru menyadari hal tersebut sekarang, setelah dia menghancurkan anu beberapa goblin dan minotaur.


Setelah anu mereka dihancurkan oleh Nio, beberapa puluhan goblin dan minotaur mati dengan ‘senjata’ dalam kondisi hancur dan tidak dapat diperbaiki. Mereka tahu jika Nio tidak dapat ‘dinikmati’ dalam kondisi hidup, maka mereka berencana akan membunuh Nio untuk ‘digarap’ bersama-sama. Sayangnya, hanya dengan melihat liur yang terus menetes dari rahang mereka, Nio bisa tahu apa yang mereka pikirkan dan rencanakan pada dirinya.


Nio melihat sesuatu yang berbahaya dari tingkah monster-monster tersebut.


Ekspresinya sama seperti sebelumnya, dan berusaha menahan perutnya yang bergejolak agar tidak mengeluarkan makan siangnya dengan sia-sia.


Nio menyimpan kembali senapannya, lalu menghindari tebasan vertikal serangan kapak dan pentungan dari seekor minotaur dan goblin. Kemudian, dia menyayat kedua paha dan betis kedua monster tersebut hingga kehilangan keseimbangan lalu berlutut, kemudian Nio menembak kepala mereka sebagai serangan penutup.


Sebagai serangan lanjutan, Nio membidik dan menembak lima goblin secara akurat pada bagian dada mereka dengan pistol 9mm-nya. Mereka membeku setelah proyektil menembus dada mereka, lalu gerombolan minotaur dan kambrit berlari cepat tanpa mempedulikan kaki mereka menginjak tubuh teman yang telah tewas, dan berusaha menyerang Nio. Namun, Nio tidak membutuhkan waktu lama untuk meladeni tantangan mereka. Sekali lagi, dia menembak seluruh goblin, minotaur, dan kambrit yang berlari ke arahnya dengan tujuan sudah jelas, yakni membunuh dirinya.


Seekor goblin berukuran sedang melompat ke arahnya dan hendak menerjangnya, namun Nio dapat dengan mudah menghindarinya. Goblin tersebut langsung mendarat ke tumbuhan semak bernama muchetura tersebut. Seperti yang dikatakan para gadis Penjelajah, efek yang dihasilkan daun tanaman tersebut cukup mengerikan. Nio dapat melihat kulit goblin mengelupas sedikit demi sedikit, lalu memperlihatkan daging dan darah segar. Itu adalah proses kematian yang lama dan menyakitkan, sehingga Nio menembak kepala goblin yang menderita tersebut dengan pistolnya untuk mengurangi penderitaannya.


Pertarungan sebelah masih dalam kondisi baik-baik saja, dan Nio dapat fokus pada pertarungannya sendiri melawan monster-monster yang menginginkan ‘tubuhnya’. Sesekali Nio melirik ke arah Hassan yang sesekali menghantamkan popor senapannya ke kepala musuh ketika pria itu kehabisan amunisi. Meski dia termasuk anggota Tim Ke-12 termuda, namun Nio berhak menegur atau memarahi anggotanya jika melakukan kesalahan atau lainnya… dan Nio tidak berani untuk memanfaatkan wewenang itu atas beberapa faktor. Selama anggotanya dapat terus bertahan ketika pertarungan, maka Nio akan membiarkan mereka bertarung dengan cara masing-masing.


Untuk semua tentang masa muda, Nio memang harus rela untuk tidak hidup dalam keseharian seperti remaja pada umumnya. Itu juga berlaku bagi seluruh prajurit Tentara Pelajar, maupun prajurit Komando Pasukan Utama maupun cadangan yang berada pada fase remaja. Namun, itu semua digantikan dengan pengalaman yang berharga dan tidak mungkin dilupakan seumur hidup… juga keberuntungan?


Kepala Nio mendongak ke atas dan melihat Hevaz terbang menyapu kabut tipis yang mulai mengurangi jarak pandang. Bentang sayap yang berukuran tiga kali tubuh Hevaz membuat gadis itu nampak seperti burung pemangsa raksasa. Ketika gadis itu mendarat tak jauh dari Nio, dia tanpa pikir panjang menebas dengan sangat cepat sabit raksasanya dan menciptakan pembantaian baru. Bahkan Nio tidak dapat melihat apa yang dilakukan Hevaz, dan melihat genangan darah serta potongan tubuh tanpa tahu apa yang terjadi. Namun, ini bukan kali pertama Nio melihat pembantaian semacam itu, dan langsung mengambil posisi bertahan setelah kedatangan Hevaz.


Berdiri sambil memasang posisi melindungi orang yang ada di belakangnya, Hevaz menghadapi setiap goblin dan kambrit tanpa kesulitan yang berarti, bahkan terlihat seperti sedang membabat rumput untuk diberikan pada hewan ternak, bahasa mudahnya adalah ‘ngarit’. Sebagai Utusan Dewa Perang dan Dewi Kematian – yang sama-sama menguasai kehidupan dan kematian serta rasa sakit akibat proses kematian, Hevaz tak jarang diperintahkan untuk mencabut nyawa makhluk yang ditunjuk kedua Dewata tersebut untuk memenuhi ‘kebutuhan’ dan menjaga keseimbangan dunia.

__ADS_1


Hevaz merupakan salah satu makhluk yang diciptakan ketika Bencana Terburuk menguasai dunia ini, sehingga dia mengetahui apa yang dibutuhkan Dewi Kematian dan Dewa Perang, yakni jiwa dan nyawa manusia. Di sisi lain, kedua Dewata tersebut memerlukan jiwa dan nyawa manusia yang telah dicabut dari raganya untuk memenuhi tugas mereka, yakni mengatur kehidupan dan kematian semua makhluk yang hidup.


Jika nyawa dicabut, maka selesai fungsi jasad sebagai wadah jiwa dan roh. Namun, bagi beberapa makhluk seperti manusia dan hewan, mereka mendapatkan kehidupan kembali yang dikenal sebagai suatu sistem keseimbangan dunia bernama ‘reinkarnasi’.


“Tapi, dia berbeda dari semua orang yang bereinkarnasi ke dunia ini,” ucap Hevaz di dalam hati saat dia melihat Nio melawan setiap monster dengan gerakan beladiri silat yang terlatih.


“Dia terasa memiliki kekuatan yang sama dengan Dewi Pemelihara. Itu menimbulkan sedikit kegelisahan,” sambung Hevaz.


Setelah Karya Dewata telah diberikan kepada ‘orang yang diramalkan’, semua orang yang dapat merasakan energi magis dan aura sosok tersebut berharap akan adanya perubahan dengan dunia ini, berakhirnya perang misalnya. Meski aura yang dipancarkan Nio terasa mengerikan dan membuat seseorang yang merasakannya gelisah dan cemas, bagi Utusan Dewi Kematian dan Dewa Perang aura tersebut justru terasa sangat indah meski berwujud absurd. Untungnya, Nio seperti tidak menyadari apa yang terdapat pada dirinya, itu menurut Hevaz.


Sementara itu, Nio berhasil melumpuhkan kurang dari lima belas kambrit dan beberapa goblin kecil. Menangani monster yang dapat bergerak dengan gesit cukup membuat Nio kesal, dan harus mengeluarkan apa yang dia dapatkan dari hasil latihannya selama ini. Dia bisa bertahan melawan musuh apapun… setidaknya itu yang Nio bayangkan.


“Hevaz, aku akan melindungi mu. Bersiaplah,” ucap Nio sambil mengeluarkan senapannya ketika dia mulai lelah melakukan pertarungan jarak dekat.


Di sisi lain, Nio tahu Hevaz sama sekali tidak membutuhkan bantuannya, sehingga ucapannya tadi terkesan hanya berupa basa-basi saja. Nio tersenyum kecut pada perempuan super yang memiliki kekuatan di atas manusia biasa.


Nio menembaki setiap kambrit dan minotaur dalam mode tembakan tunggal, dan membunuh kurang dari sepuluh monster dalam waktu kurang dari lima menit. Sesekali dia juga menembak monster yang berusaha menyerang Hevaz dari belakang, meski gadis itu tahu keberadaan musuh di belakangnya dari jarak sangat jauh.


“Tapi, hanya itu yang bisa kulakukan. Dia memang sangat kuat, dan pasti tidak memerlukan bantuan kami untuk mengalahkan semua musuh ini –“


Tiba-tiba Hevaz menyela gumaman Nio dengan berkata, “Anda suatu hari akan menjadi orang yang lebih kuat dari saya, Tuan.”


“Hah?” Nio terkejut setelah Hevaz berbicara seakan-akan menanggapi keluhannya.


“Yakinlah dengan apa yang Anda miliki, kerahkan semua selama Anda mampu melakukannya.”


“Hevaz, apa yang kau bicarakan?”


Selain jangkauan penglihatannya yang luas seperti memiliki dua mata, stamina yang terasa tak terbatas, dan hal aneh yang Nio rasakan setelah mengalami mimpi ‘aneh’ beberapa hari lalu, sekarang Nio kembali merasakan sesuatu yang aneh lagi pada tubuhnya setelah mendengar ucapan Hevaz.


Nio merasa kekuatan besar mengalir deras di tubuhnya.


Dia bahkan belum merasa lelah sejak pertarungan ini dimulai, meski Nio sudah tidak memiliki niat untuk bertarung menggunakan senjata jarak dekat. Pedang miliknya sudah patah kemarin setelah bertarung melawan sekawanan minotaur, meski dia masih memiliki pedang Nio sudah tidak memiliki niat melakukan pertarungan jarak dekat lagi.


Saat Nio melepaskan satu tembakan ke arah kepala seekor minotaur berukuran dua meter, panas dari proyektil seharusnya hanya menebus kepala tanpa efek tambahan. Namun, tidak hanya menembus kepala minotaur besar itu, efek dari lesatan proyektil ternyata membuat kepala monster itu hancur. Namun, tidak berhenti sampai itu, tubuh minotaur dengan kepala hancur itu perlahan meleleh seperti lilin kemudian meresap ke dalam tanah tanpa bekas.


Nio yakin jika dia menggunakan peluru biasa, dan bukan peluru anti-material eksplosif yang dapat meledakkan sebuah tank tempur utama dalam sekali tembak.


Dia melepaskan magasin dari senapannya, lalu mengintip bagian dalam, dan dia hanya melihat peluru biasa tanpa ada perubahan sedikitpun selain jumlahnya yang berkurang beberapa.


“Aku benar-benar semakin tidak mengerti dengan dunia ini, apa aku sedang berada dalam cerita fantasi atau semacamnya?” kata Nio di dalam hati dengan ekspresi wajah kebingungan.


Nio diam mematung untuk sesaat, lalu kembali tersadar setelah melihat Hevaz di dekatnya setelah gadis itu memenggal seekor goblin besar yang hampir melukainya.


“Itu karena Anda sedang dalam proses menerima Karya Dewata lainnya, Tuan Nio.”


“Nona Hevaz, apa kamu terlalu sering membaca novel online atau semacamnya? Mana mungkin hal fantasi itu terjadi pada dia?” sela Hassan yang datang entah dari mana.


“Hei! Itu seharusnya dialog ku, Hassan!” gerutu Nio.


“Terserah pada Anda mau mempercayainya atau tidak, tapi Anda tidak dapat menghindari takdir tersebut,” ucap Hevaz dengan nada tenang.


“Sialan, aku semakin tidak mengerti dengan tatanan dunia ini!” keluhan Nio didengar oleh raja minotaur.

__ADS_1


Monster itu berjalan ke arahnya, dan membuat seluruh monster mundur hanya dengan hembusan napas raja minotaur itu.


__ADS_2