
20 September 2321, pukul 12.03 WIB/ tahun 1914 Kekaisaran Luan, siang hari.
**
Pasukan ini telah bergerak secepat yang para prajurit bisa, tidak ada rasa lelah yang ditunjukkan para prajurit. Karena beberapa hari lagi mereka akan mencapai wilayah sekitar Gerbang, mungkin 4 hari lagi mereka akan mencapai tempat yang dikelilingi benteng itu.
Kendaraan taktis yang dikendarai Nio bergerak dengan pelan, kecepatannya menyamai para penunggang kuda. Dia tidak bisa mengendarai kendaraan dengan pelan, karena dia lebih suka mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Kalau bisa, Nio dapat memacu kendaraan taktis dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan rombongan pasukan yang dipimpin Sigiz.
Nio sudah berada pada lokasi yang dicapai sinyal radio komunikasi. Dia dan pasukan yang mendapatkan misi di luar benteng mendapatkan perintah untuk tiba di markas pusat minimal malam nanti.
“Sepertinya ada hal serius.”
Nio menjawab panggilan itu dengan singkat, dan memberitahu perkiraan dirinya akan tiba di benteng.
Semua prajurit Kerajaan Arevelk adalah pasukan yang patuh dengan pemimpin mereka. Pasukan penunggang naga dengan sabar mengendalikan tunggangan mereka dengan mengelilingi pasukan yang berada di darat.
Pasukan penunggang naga juga bisa difungsikan sebagai pengintai, karena mereka berada di atas ketinggian dan bisa memantau keadaan sekitar. Namun, benteng yang mengelilingi Gerbang belum terlihat, yang memperjelas jika pasukan harus lebih bersabar.
Nio kemudian mencari keberadaan Sigiz yang beralih menunggangi kudanya. Naga milik Sigiz dibiarkan untuk terbang dengan pengawasan para pawang.
Nio menginjak pedal rem dengan kuat, karena Lux mendadak berdiri di depan kendaraan. Lux adalah komandan tertinggi dari pasukan infanteri bersenjata berat, itulah mengapa dia tidak menunggangi kuda seperti komandan yang lain. Karena dia lebih suka untuk berjalan kaki atau berlari.
“Nih cewek kenapa hah!?”
Nio sudah tidak bisa bersabar untuk menghadapi Lux yang sering berperilaku arogan, tanpa sopan santun dan banyak tingkah. Dia adalah salah satu korban dari sifat buruk Lux tersebut, meski Nio lebih memilih untuk menjaga jarak dari perempuan itu. Bekas goresan dari ulah Lux juga belum menghilang, Nio masih mencari alasan untuk menjelaskan asal bekas goresan yang cukup dalam pada badan kendaraan.
Lux berjalan ke pintu samping kendaraan, dan mengetuk kaca samping Nio dengan tangannya. Nio menurunkan kaca sampingnya untuk mendengar apa yang akan dikatakan Lux, bagian dalam kendaraan memang terasa senyap dan suara dari dalam hanya sedikit terdengar.
“Boleh aku menaiki gerobak besi mu?”
Wajah Nio hanya memasang ekspresi datar, dan otaknya memikirkan jawaban yang sesuai. Nio berpikir jika perempuan ini jika dilarang untuk melakukan sesuatu, pasti dia akan tetap melakukan hal itu meski dilarang.
Masa bodoh, dan arogan adalah penilaian Nio bagi Lux, ungkapan yang pas bagi Lux adalah ‘semakin dilarang, semakin ingin dilakukan’.
Setidaknya Nio tidak menganggap Lux sebagai ancaman, karena keberadaan Sigiz sebagai ratu perempuan ini.
“Naiklah.”
Nio membukakan pintu untuk penumpang yang duduk di sebelah pengendara, karena pastinya Lux tidak tahu bagaimana caranya membuka pintu kendaraan taktis ini.
Lux duduk di kursi sebelah pengendara, melemparkan pedang miliknya ke belakang dan menikmati kursi penumpang yang nyaman.
“Ah…, aku belum pernah merasakan kursi yang senyaman ini.”
Nio hanya bisa tersenyum kecut melihat perilaku Lux yang seenak udelnya sendiri. Apalagi dia melemparkan senjata miliknya ke belakang begitu saja, dan mungkin akan merusak beberapa barang bawaan Nio yang diletakkan di belakang.
Nio merasa jika Lux sangat pantas memiliki julukan ‘si Pedang Gila’. Dan dia tidak bisa mengabaikan kecantikan milik Lux meski sifatnya sangat berbanding berbalik, tetapi Nio menilai jika Sigiz berada di atas Lux, terutama pada ukuran dada.
Namun dia tidak bisa membandingkan Sigiz dengan kakaknya, bagaimanapun Nio akan memihak Arunika/
“Apa kamu melihat Ratu Sigiz?”
“Dia ada di barisan paling depan, di barisan pasukan kavaleri.”
Lux masih mencari posisi duduk ternyaman, sedangkan Nio memacu kendaraan taktis hingga 50km/jam.
“Gerobak besi ini bisa melaju secepat ini!?”
Nio tersenyum puas saat ada seseorang yang mengangumi teknologi dunia lain. Sementara Lux, dia masih terlihat kagum saat kendaraan taktis mendahului pasukan yang sedang bergerak dengan tertib dalam sekejap.
Panjang rombongan pasukan ini bisa mencapai 3 km, jika mereka berbaris memanjang.
“Prajurit hijau, Ratu Sigiz ada disana.”
__ADS_1
Nio melirik kearah Lux menunjuk, dan dia melihat Sigiz di antara pasukan kavaleri berat sambil menaiki seekor kuda hitam.
Sigiz berada di darat karena ingin mengawasi pasukannya, jika beberapa jendral melakukan hal bodoh lagi kepada Nio. Dia berada di barisan terdepan, membawa tombak andalannya yang diikat bendera perang Kerajaan Arevelk.
“Aku jadi tidak bisa membayangkan kalau pasukan sebesar ini yang menyerang Karanganyar.”
Nio memandang kagum ribuan pria berbaju zirah besi yang sangat kuat dengan senjata tombak panjang, ribuan prajurit yang berjalan kaki dan bersenjatakan pedang terbaik, serta puluhan kadal terbang yang bisa menyemburkan api dengan temperatur tinggi.
Nio menghentikan kendaraan taktis, dan turun untuk menemui Sigiz bersama Lux. Sigiz menepi untuk menemui Nio agar pergerakan pasukannya tidak terhambat hanya karena dirinya berhenti.
“Ada apa tuan Nio, apa Lux membuatmu tidak nyaman lagi?”
Lux membuang pandangan agar terhindar dari masalah yang dia buat, sementara Nio dan Sigiz hanya memandang dirinya dengan tatapan dingin.
“Aku mendapatkan panggilan dari markas pusat agar aku segera kembali ke benteng.”
“Jadi, kau tidak memperlukan pengawalan dari kami?”
“Benar, karena malam nanti aku harus tiba di benteng.”
“Yah, dengan kendaraan milikmu pasti kau bisa tiba di benteng dengan cepat.”
Jika Nio memacu kendaraan taktis dengan kecepatan tinggi, paling cepat dia akan tiba di benteng sore nanti. Jika dia masih mengikuti pasukan yang bergerak dengan lambat, Nio baru akan tiba di benteng 3 hari lagi.
Sementara Sigiz, dia harus rela Nio mendahului dirinya untuk menuju Tanah Suci. Setidaknya saat tiba di tempat itu, dia merasa kesempatan bertemu lagi dengan Nio masih ada, itupun jika tidak ada skenario terburuknya.
Sebisa mungkin, Sigiz ingin pasukannya segera melewati tanah suci. Jika tidak bergerak cepat, pasukan penyihir militer Kekaisaran Luan akan mendapatkan keuntungan, karena keberadaan aliran energi sihir yang besar di tempat itu. Kemungkinan terburuknya adalah, jika wilayah sekitar Gerbang berubah menjadi medan perang. Pasti TNI tidak akan tinggal diam jika ada pertempuran di dekat benteng mereka.
Jika TNI terlibat pada pertempuran lagi, dapat dipastikan jika pembantaian sepihak akan terulang, kali ini Sigiz akan melihat kejadian itu lagi. Tidak ada kemungkinan terbaiknya, pasukan Sigiz bisa menjadi korban pembantaian sepihak yang dilakukan TNI, dan Sigiz tidak ingin hal itu terjadi.
“Kita akan bertemu lagi kan, tuan Nio.”
“Entahlah, jika kamu memenangkan perang ini, dan menandatangani perjanjian perdamaian dengan TNI, kita bisa bertemu lagi.”
Sigiz tidak bisa merasa lega setelah mendengar perkataan Nio, dia tidak bisa yakin dapat memenangkan pertempuran ini.
Lux masih menunggu dengan wajah yang ingin segera menikmati berkendara dengan kendaraan taktis, namun pembicaraan Nio dan ratunya terlalu lama dan terdengar penting.
Dia masih ingin berada di dalam kendaraan taktis yang dikemudikan oleh Nio. Namun Nio akan segera kembali ke benteng, dan Lux harus kembali berjalan kaki. Dirinya yang masih disini, hanya seperti pengganggu bagi Nio dan Sigiz.
Lux memutuskan untuk kembali memimpin pasukannya, meninggalkan Nio dan Sigiz yang merasa heran dengan sifat Lux yang ternyata bisa berubah drastis. Nio merasa jika Lux adalah perempuan yang selalu bersifat aktif dan arogan.
Namun, Sigiz tahu mengapa Lux selalu bersifat arogan, sombong, tidak punya sopan santun dan sifat yang lainnya, tiba-tiba murung seperti ini. Karena dia memegang rahasia yang dimiliki Lux, masa lalu Lux yang akan membuat perempuan itu depresi jika mengingatnya.
“Biarkan saja Lux seperti itu, tuan Nio. Jika dia bertemu dengamu lagi, Lux akan merasa sulit melepaskanmu.”
Nio bergidik mendengar perkataan Sigiz, ‘Lux akan merasa sulit untuk melepaskanmu’ Nio merasa ada arti lain dari kata itu.
“Heh? Kenapa?”
Sigiz hanya menggeleng, dan berkata jika dia harus menjaga rahasia milik Lux. Namun Nio merasa sangat penasaran dengan hal itu.
**
Nio menunggu seseorang yang memimpin salah satu pasukan di dalam kendaraan, Nio merasa kagum jika para pria ini kuat mengenakan zirah besi yang terlihat berat. Dia masih sering mengeluh saat membawa beban di ranselnya dengan berat 15 kilogram saat masih berada di tempat pelatihan.
Jika seluruh bagian yang menutupi para prajurit itu memang terbuat dari logam, pasti masing-masing prajurit membawa beban lebih dari 10 kilogram, tapi siapa yang tahu?
Nio masih menunggu Lux untuk mengatakan sesuatu padanya, dia merasa bersalah karena mengabaikan perempuan yang pernah menantangnya bertarung itu.
“Kenapa kamu masih ada disini?”
Lux kembali memasang wajah datar, namun sebenarnya Lux sedang merasa kesal dan sedih. Dia sengaja kembali meninggalkan barisan, karena melihat gerobak besi milik Nio berada di pinggir jalur pergerakan pasukan.
“Saat bertarung denganmu, itu sangat menyenangkan. Karena aku tidak pernah bertarung melawan jendral sepertimu. Kalau bisa, ayo kita bertarung lagi dengan kemampuan sebenarnya yang kumiliki.”
__ADS_1
“Jadi waktu kita bertarung sebelumnya, kau belum serius?”
Nio melihat jika Lux tidak memiliki sesuatu yang membuatnya bisa mengubah sifatnya dengan cepat.
“Apa dia memiliki gangguan bipolar?”
Jawaban sementara itu masih digunakan Nio untuk menilai Lux sekarang.
Namun berkat pengalamannya dengan Arunika, Nio tidak bisa lagi sembarangan mengambil keputusan hanya dengan melihat ekspresi lawan bicaranya.
“Ah, aku hampir terlambat. Aku pergi dulu, semoga kita bertemu lagi.”
Nio melambai kearah Lux, dan menyalakan mesin kendaraan taktis. Dia menekan pedal gas dengan kecepatan yang menurutnya paling cepat.
Kata-kata Nio masih terus berputar di dalam kepala Lux, dan itu membuat perempuan ini terlihat tidak sabar untuk bertemu dengan Nio juga, selain Sigiz tentu saja.
Sigiz mencari-cari keberadaan Lux karena khawatir jika salah satu jendralnya itu benar-benar berubah menjadi si Pedang Gila. Jika Lux sudah memasuki mode tersebut, dia bisa membantai satu batalyon pasukan dalam hitungan menit saja.
Lux terlihat masih berdiri dengan senyuman kecil yang membuat Sigiz merasa lega. Dia merasa jika Lux masih bisa menenangkan diri.
Saat hendak mendekati Lux, Sigiz menghentikan langkahnya dan wajahnya terlihat pucat saat Lux berkata sesuatu sambil tersenyum kecil.
“Sepertinya aku menyukai dia….”
**
Nio padahal belum mencapai di dekat benteng, tetapi suasana seperti sehabis ada pertempuran di tempat ini. Beberapa lubang yang cukup dalam, nampak terbakar dengan sebuah batu di dalamnya.
“Apa-apaan ini?”
Nio mengendalikan kendaraan taktis yang ia kemudikan untuk menghindari jalanan yang berlubang. Selain jalan yang berlubang, beberapa bagian benteng terlihat rusak dan berlubang. Lubang itu cukup untuk jalan keluar masuk pria dewasa.
Selain itu, ada sangat banyak kayu, batu, bola logam yang terbakar, dan tombak raksasa berserakan di sekitar benteng. Para prajurit saling bekerja sama untuk membereskan kekacauan ini.
Setelah memakirkan kendaraan taktis di garasi kendaraan tempur, Nio menghampiri Chandra yang kebetulan melintas di dekatnya.
“Sebelum aku kembali, apa terjadi sesuatu?”
“Sebelum komandan tiba di benteng, pasukan Kekaisaran Luan mengirimkan beberapa pasukannya untuk melakukan penyerangan dengan tiba-tiba. Tidak ada korban di pihak kita, tetapi ribuan pasukan musuh berhasil kami tangkap.”
“Terimakasih buat penjelasanmu.”
Nio berlari kecil untuk menuju ke luar benteng, dan melihat situasinya secara langsung. Para prajurit bekerja sama sesuai posisi yang mereka tempati.
Beberapa truk pengangkut membawa sangat banyak kayu dan tombak raksasa, batu, dan bola logam. Beberapa prajurit lainnya terlihat menggiring puluhan pasukan berseragam Kekaisaran Luan, tangan mereka diikat dengan tali plastik karena rantai terlalu berharga hanya untuk sekedar menahan para babi Kekaisaran ini.
Sebelum Nio tiba di benteng, pasukan Kekaisaran mengirimkan beberapa ribu pasukannya untuk melakukan serangan mendadak. Mereka berharap jika pasukan yang dikirmkan ini bisa mengurangi kekuatan musuh yang menguasai Gerbang.
Serangan mendadak itu ternyata mampu untuk menjebol salah satu sisi benteng kura-kura, dan menyebabkan kepanikan para prajurit amatir.
Namun, prajurit senior mampu untuk meredakan kepanikan prajurit amatir dan melakukan serangan terhadap pasukan musuh yang hendak memasuki benteng dari salah satu sisi yang rusak.
Perang kecil yang mudah ini berlangsung beberapa jam saja, dengan ribuan prajurit musuh berhasil menjadi tawanan.
Ini adalah kerugian pertama bagi Rantz selama dia mengkomandani sebuah pasukan. Dia terlalu meremehkan musuh yang hanya berjumlah puluhan ribu, dengan kemampuan setara seekor raja naga api.
Nio merasa jika hal inilah yang membuat seluruh pasukan yang sedang menjalani misi diperintahkan untuk kembali ke benteng.
“Peltu Nio, mari kita pergi ke ruanganku.”
Badan Nio bergetar saat Jendral Sucipto menepuk bahunya, meski dengan tenaga yang kecil dan suara yang lembut. Namun Nio merasa jika dia berada di dalam bahaya, namun dia harus mematuhi perintah atasan.
**
“Apa yang kamu dapatkan setelah mengatar yang mulia Ratu Sigiz?”
__ADS_1
“Siap! Tidak banyak informasi yang saya dapatkan. Tapi, apakah anda tertarik dengan cara Gerbang ini terbuka?”
Wajah serius Sucipto berubah menjadi semakin serius, dan dia mempersilahkan Nio untuk mengatakan informasi yang dia dapatkan mengenai pembukaan Gerbang.