Prajurit SMA

Prajurit SMA
Sayap indah malaikat kematian


__ADS_3

Salah satu personel yang dikirimkan Amerika, Karl, belum pernah mendengar bahwa grup khusus yang baru didirikan militer Indonesia begitu kuat, dan dia dengan kesal mendecakkan lidahnya setelah dua rekannya ditembak mati oleh anggota unit penjaga para tamu. Satu rekannya, yang bermata sipit seperti orang Asia dadanya tertembus oleh peluru 12.7mm, yang ditembakkan oleh penembak jitu. Lalu, satu rekannya yang berkulit hitam dalam kondisi kepala hampir pecah setelah tertembak dengan 3 peluru 7.62mm.


Karl merupakan personel Marinir Amerika Serikat, tapi dibawah CIA, semua yang dia lakukan saat ini adalah kegiatan ‘penculikan’. Karena itu, dia cukup kesulitan dengan misi ini, karena terlalu sering mengambil bagian dalam pertempuran.


Gaya bertarung pasukan AS bergantung pada daya tembak yang luar biasa, menghujani kepala musuh dengan puluhan ribu peluru, dan menyerang dengan amunisi dalam jumlah besar. Jika musuh bersembunyi di sebuah bangunan, mereka akan melemparkan granat. Jika musuh mereka bersembunyi di balik tembok, mereka akan meluncurkan roket untuk menerbangkan dinding perlindungan musuh. Doktrin yang prajurit AS terima sangat sederhana, yakni serang musuh sepuluh kali lipat dari kekuatannya.


Namun, personel AS yang melaksanakan misi ini tidak bisa melakukan metode tersebut, karena mereka berada di tengah-tengah pemukiman warga. Ini karena misi yang dilakukan anggota CIA biasanya terjadi di lokasi di mana metode seperti menghujani musuh dengan peluru dan roket tidak memungkinkan.


Contohnya, mereka mungkin akan melaksanakan misi di jalan-jalan yang aman, di daerah perumahan sipil, dan kadang-kadang di tempat umum. Mereka tidak bisa menggunakan peluru kendali atau roket seperti pasukan militer, dan tentu saja tidak ada tembakan artileri pendukung. Pada dasarnya, mereka mengkombinasikan keterampilan dasar menembak dengan keterampilan khusus yang dimiliki, lalu menggabungkannya dengan kerja sama tim. Lalu, taktik mereka adalah dengan cepat menemukan musuh, kemudian diam-diam mendekat ke jarak yang ideal, lalu mengalahkan target dengan cepat tanpa memberinya waktu untuk bereaksi. Namun, taktik ini didasarkan pada informasi yang luas mengenai target dan serangkaian perencanaan yang rumit.


Rencana awal personel Amerika adalah untuk memasuki kemudian menyerang Area Terlarang, dan menuju tempat para tamu berada. Menurut sumber mereka, para tamu dilindungi oleh enam personel khusus, lalu mereka berencana menghabisi setidaknya dua hingga tiga penjaga khusus para tamu, setelah itu dengan cepat mengambil target mereka (para tamu dari dunia lain, alias Sigiz dan Sheyn). Alasan mereka bertindak dengan sembunyi-sembunyi di Indonesia adalah respon personel polisi dan militer yang sangat cepat. Dalam sekejap, setelah mengetahui adanya pertempuran di sekitar Area Terlarang, polisi bersama anggota TNI garnisun Karanganyar memblokir jalan, mendirikan pos pemeriksaan, dan menutup setiap akses ke Karanganyar, khususnya ke Area Terlarang.


Oleh karena itu, bagian penting dari operasi ini bergantung pada apakah mereka dapat dengan cepat melarikan diri setelah melakukan pekerjaan mereka. Mereka telah memobilisasi puluhan agen untuk misi ini, dan setelah para penjaga bersiap menghadapi, mereka mengatur penyergapan di perumahan penduduk yang padat, dan menunggu penjaga para tamu masuk ke perangkap mereka. Orang-orang CIA tidak tahu tentang medan di Kota Karanganyar, khususnya wilayah sekitar Area Terlarang yang terdapat perumahan penduduk yang padat. Mereka berada di dalam kegelapan setelah akses listrik di wilayah itu dipadamkan, dan mereka diserang dari segala sisi. Mereka tidak memiliki pakaian hitam atau pelindung tubuh yang digunakan untuk operasi lapangan, dan senjata mereka berupa pistol dan sub machine gun. Begitu mereka berhadapan dengan personel Kopassus yang khusus ditugaskan untuk menjaga para tamu, mereka yang terampil bahkan tidak mampu malakukan apapun.


Tidak disangka pihak TNI memiliki daya tempur demikian. Entah bagaimana Indonesia mendapatakan angin untuk menyerang mereka dan menghancurkan rencana mereka. Meski unit khusus penjaga para tamu telah ditarik mundur, mereka telah menghabisi sepuluh dari total personel Amerika.


Bagaimanapun, itu hanya kesialan karena serangan mereka mampu ditahan oleh pertahanan unit khusus Kopassus untuk melindungi tamu yang kuat. Dan ini mungkin kali pertamanya pihak CIA mengalami kerugian dalam melakukan operasi di Indonesia. Sebenarnya, begitu mereka disergap unit khusus penjaga para tamu, misi yang mereka lakukan gagal. Jika mereka terus mengalami kerugian, mundur merupakan hal yang sulit bagi mereka. Begitu anggota tim ini, Karl, menyadari hal ini, dia menyarankan pada pimpinan tim untuk mundur. Namun pemimpin tim, Jason, menggelengkan kepalanya sebagai tanda menolak permintaan Karl.


Jason, memerintahkan seluruh anggota tim yang tersisa, termasuk Karl, untuk menunggu instruksi. Jason kemudian meraih headphone komunikasi radionya.


“Brown! Jangan sentuh Sakamoto dan Gold! Apakah Mercy masih hidup?”


“Brown di sini, dia tak terselamatkan, ada satu peluru menembus kepalanya.”


“Dasar bajingan. Bukankah Indonesia mengatakan kalau para penjaga tamu hanyalah personel biasa? Ini sama sekali berbeda dengan perencanaan!”


Brown, anggota tim yang biasanya tenang, dia tidak bisa membantu dan mengutuk dengan orang yang telah membuat teman-teman tim nya seperti ini.


Personel Kopassus biasanya tidak dilengkapi dengan senjata canggih dan perlatan berat demi membantu pergerakan, tapi ketika mereka melepaskan tembakan, mereka akan mengincar organ vital. Senjata yang sering mereka gunakan adalah pistol dengan peredam suara dan senapan serbu biasa, sehingga pada dasarnya mereka mudah dikalahkan. Anggota CIA di Indonesia telah mendengar informasi itu, tapi mereka belum pernah melihat satu orangpun anggota Kopassus. Sehingga, kondisi di lapangan jauh berbeda dengan yang diperkirakan. Unit khusus penjaga para tamu itu tanpa belas kasihan menembaki tim ini.


“Baiklah, One (Presiden AS) sudah beres melakukan aksinya. Setelah beberapa saat, personel TNI akan mundur. Dan kemudian kita bisa melanjutkan misi sesuai rencana.”


Pemimpin tim, Jason, mengatakan hal ini dengan nada sangat yakin jika mereka akan berhasil membawa dua ratu dari dunia lain itu. Tetapi, setelah Karl mendengar kata-kata Jason, dia berkata dengan nada kesal:


“Apa?! seperti yang direncanakan? Apakah kehilangan banyak anggota adalah bagian dari rencana?!”


“Pertahanan TNI ternyata lebih kuat dari yang diperkirakan, tetapi One mengatasinya dengan cara politik.”


“Kenapa pria brengsek itu tidak melakukannya sejak awal? Dengan begitu kita tidak perlu kehilangan banyak orang untuk pekerjaan sialan ini!”


Brown yang baru saja tiba untuk menyusul Karl, Jason, dan sisa anggota tim lainnya, buru-buru berdiri di antara Karl dan Jason yang hampir berkelahi.


“Tenanglah, Karl! Kita masih dalam misi! Dan Jason, lebih baik kau menjaga mulutmu.”


Dengan tatapan yang sama-sama menunujukkan kebencian, Karl dan Jason saling memalingkan dan meludah.


“Baiklah, karena masalahnya sudah diselesaikan dengan cara politik, kita akan memanfaatkan kesempatan ini. Semuanya adalah tentang waktu. Reich dan Brown, kalian berdua bergerak.”


Brown yang berkulit putih berpikir tentang perintah Jason yang berkulit hitam dan berkata dalam hatinya, “Kenapa kau seenaknya memerintahku?”. Brown lalu melirik Reich yang sedang mempersiapkan senjatanya kemudian berbisik, “Bergerak”. Brown tidak punya pilihan selain mengikuti.


Sisa anggota tim kemudian bergerak dan mendekati pintu masuk Area Terlarang, sambil menjaga mata terbuka seandainya masih ada lebih banyak personel unit penjaga para tamu. Mereka telah membayar orang untuk menentukan pintu masuk bagi mereka, dan memilih sebuah gang sempit sebagai pintu masuk. Mereka sudah tahu di mana tempat target berada yang berasal dari orang Karanganyar yang mereka bayar, dan dengan mata memandangi sekeliling, sisa anggota CIA ini perlahan mendekati pintu masuk Area Terlarang.


**


Kadang-kadang terjadi hal yang tampak seperti tragedi bagi orang-orang di tempat kejadian, tetapi lucu bagi orang yang menonton dari jauh. Berita tentang bagaimana pemerintah Indonesia memberikan penghargaan bagi orang-orang dunia lain dan membahas hubungan masa depan, lalu mengirim informasi yang telah dibumbui dengan kebohongan ke seluruh organisasi intelejen dunia. Mereka semua ingin menjadi yang pertama yang tahu lebih banyak tentang hubungan Indonesia dengan dunia lain. Namun, keputusan untuk datang ke Karanganyar merupakan keputusan yang sangat tergesa-gesa, dan para tamu hanya tinggal selama tujuh hari enam malam, jadi tidak ada waktu untuk melakukan sesuatu untuk para tamu agar mau mengunjungi negara mereka. Pemerintah berbagai negara tidak punya pilihan selain merencanakan langkah selanjutnya berdasarkan informasi yang tidak memadai.


Ketika Amerika Serikat mendengar bahwa Indonesia telah menyembunyikan informasi kalau mereka memiliki banyak tamu dari dunia lain untuk menyerahkan penghargaan dan membahas hubungan masa depan dengan beberapa bangsa di dunia lain, mereka tidak bahagia, lebih tepatnya mereka cemburu.


Bahkan jika pemerintah Indonesia ingin merespon, mereka hanya perlu menjawab, “Tamu apa yang kau bicarakan?” dan masalah itu akan selesai. Lagipula, pemerintah Indonesia juga bertindak atas hal ini secara rahasia, sehingga mereka tidak bisa mengambil langkah garis keras.


Setelah itu, jika misi ‘menjemput para tamu’ berhasil, pemerintah AS bisa melakukan apapun yang mereka suka. Misalnya, jika Indonesia ingin membangun hubungan dengan negara-negara di dunia lain, mereka perlu melewati AS terlebih dulu sebagai perantara, dan memohon pada mereka untuk hak pergi ke dunia lain. Bahkan jika mereka telah bekerja sama dengan Jepang untuk misi ini, yang mereka lakukan setelah berhasil mengambil para tamu justru mengarah pada lelucon.

__ADS_1


Hal lain yang membuatnya menjadi lelucon adalah bahwa bukan hanya orang Amerika yang berpikir kalau mereka adalah pusat dunia, tentu saja negara-negara sekutu mereka mungkin juga berpikir demikian.


Hanya tersisa 10 orang dari Amerika yang juga bekerja sama dengan Jepang. Selain mereka yang tertarik dengan mengambil para tamu, ada 12 orang dari Pasukan Operasi Khusus Cina, dan 9 orang dari SAS Inggris. Jadi, mereka berebut untuk mendapatkan target yang diinginkan, termasuk dua ratu dari dunia lain.


Mereka semua terlibat dalam kegiatan ilegal di luar negara mereka, jadi mereka semua bisa menggunakan macam-macam bahasa, dan mereka tidak membawa apa-apa yang mungkin mengungkapkan asal negara mereka. Perlengkapan mereka dibeli dari berbagai perusahaan pertahanan, dan mereka semua mengenakan penutup wajah. Senjata mereka semuanya bersumber dari berbagai negara. Oleh karena itu, bahkan agen paling elit tidak akan dapat mengetahui asal mereka dengan sekilas lihat.


Namun, mereka sangat jelas dalam suatu hal. Bisa dikatakan, jika bertemu, mereka akan menganggap unit yang dikirimkan bukan dari negara mereka adalah musuh.


Lagipula, bisa saja mereka dimusnahkan dalam pembantaian sepihak dengan tidak ada yang bisa dilakukan selain mati. mereka akan membunuh siapapun yang bukan rekan dan orang yang mencurigakan yang mereka lihat. Mereka sama-sama dilatih seperti di neraka yang sama. Karena itu, semua orang kecuali rekan-rekan mereka adalah musuh.


“…!?”


“…!!”


“…??”


Jika ada celah, bahkan sekecil apapun dan bisa dengan cepat menghilang, mereka akan mengambilnya dan cepat-cepat bergerak. Setelah saling tatap seperti orang bodoh selama beberapa detik, ketiga kelompok ini akhirnya bertemu dan langsung bereaksi, dan buru-buru mengarahkan senjata mereka ke pihak yang mereka anggap musuh. Namun-


Ada sebuah makhluk terbang seukuran manusia dengan rentang sayap kira-kira mencapai 2 meter, kemudian makhluk itu duduk di barisan kabel listrik tegangan tinggi milik PLN tanpa tersetrum. Dia terlihat seperti gadis dengan pakaian terbuka, dan menenteng sabit besar di pundaknya.


“Tuan-tuan sekalian, sayang sekali, pada malam ini kalian bertemu dengan saya untuk bersenang-senang… karena sepertinya kalian akan melukai tuan saya.”


**


Hampir seluruh personel di garnisun Karanganyar keluar dari kota bawah tanah, dan mengamankan setiap area vital di kota ini. Itulah mengapa ada puluhan kendaraan lapis baja di sekitar Area Terlarang dan beberapa tempat penting lainnya. Ratusan prajurit bersenjata lengkap berdiri dan memeriksa setiap warga yang kebetulan melintas di area yang mereka jaga.


Ini bukanlah simulasi evakuasi ketika terjadinya perang, karena perang itu sendiri sedang berlangsung tanpa sepengetahuan masyarakat. Itu mengapa wilayah di luar Area Terlarang cukup tenang, meski terdapat ratusan personel polisi dan prajurit bersenjata lengkap yang berjaga di sana-sini.


Lalu, sebagian prajurit yang menginap di hotel yang dihuni Nio telah dipersenjatai dengan senapan serbu dan pistol. Itu membuat Lisa terkejut dan hampir ketakutan, serta menyesal telah mengikuti Arunika ke tempat berbahaya ini. Sementara itu, Edera telah memasuki mode perangnya, dengan perubahan kuku panjang dan kuat seperti pedang serta pupil matanya yang berubah lancip seperti kucing. Lalu, Zariv dan Lux telah menghunuskan pedang mereka, dan bersama para perwakilan pasukan Arevelk melindungi ratu mereka. Meski Sigiz memiliki kekuatan yang besar, dia tidak bisa sering menggunakan sihirnya ketika di dunia ini. Karena undang-undang tentang pembatasan penggunaan senjata tajam masih berlaku meski untuk pasukan yang dibawa Sheyn dan Sigiz, namun dalam keadaan darurat seperti sekarang hal tersebut bisa dilanggar. Sheyn menerima senapan sundut dari seorang pengawalnya, yang hampir sepanjang 1 meter, serta sebuah pedang.


Telah ada tiga kendaraan taktis yang masing-masing membawa 4 anggota garnisun Karanganyar, dan dilengkapi dengan perisai anti peluru senapan penembak jitu dan senapan mesin ringan 7.62mm. Lalu, beberapa prajurit penghuni hotel keluar, dan bergabung dengan mereka dengan senjata tidak berada dalam mode aman.


Beberapa drone udara yang dipasangi senapan mesin ringan terlihat berterbangan di udara Area Terlarang, dengan senjata yang siap ditembakkan oleh operatornya.


Barisan pasukan kavaleri lapis baja yang dibawa Sheyn dan Sigiz ke tempat ini membuat prajurit penghuni hotel kagum dan terpesona.


**


Setelah mendapatkan kabar dari dua anggota garnisun Karanganyar tentang pertempuran di sekitar Area Terlarang, Nio melajukan kendaraannya dengan kecepatan tertinggi. Keahlian mengemudi pemuda ini didapatkan atas minatnya untuk mengemudikan kendaraan taktis. Itu sebabnya dia mendapatkan brevet ahli mengendarai kendaraan militer ketika di pelatihan.


Setelah Nio tahu jika ada pertarungan di sekitar Area Terlarang, dan para tamu terancam, dia bahkan tidak ingat dengan ulang tahunnya sendiri yang ke-20. Dia hanya berpikir bagaimana keadaan para tamu, dan pertahanan jenis apa yang digunakan pasukan garnisun Karanganyar untuk membuat musuh tidak bisa keluar dari wilayah ini.


Lalu, ketika dia dan Arunika telah berada di dekat pintu masuk utama ke Area Terlarang, di sana telah berbaris 2 panser dengan senjata senapan mesin berat 12.7mm dan puluhan personel garnisun Karanganyar. Meski pintu masuk area ini juga dijaga oleh anggota Linmas dengan seragam hijau khasnya, mereka tetaplah warga sipil yang tidak diperbolehkan terlibat dalam pertempuran militer.


Tanpa perlu melalui pemeriksaan, karena para penjaga telah tahu jika di dalam mobil adalah Nio dan ‘kakaknya’ melalui perangkat keras yang berfungsi melihat bagian dalam mobil meski kendaraan tersebut telah dihalangi oleh fitur yang membuat orang-orang tida bisa melihat dari luar. Nio melaju dengan kecepatan sedang ketika dia telah berada di dalam Area Terlarang. Namun, perasaan khawatir didalam hatinya semakin kuat, karena musuh yang memulai pertarungan belum diketahui.


Sementara itu, wajah Arunika berubah menjadi pucat dengan ekspresi ketakutan yang sangat jelas. Kedua telapak tangannya saling bergesekkan, ini Arunika lakukan saat merasa khawatir atau gugup untuk menekan perasaan tersebut. Dia juga khawatir karena Nio mengatakan ada pertempuran dengan musuh yang belum diketahui asal dan tujuannya. Bahkan jika musuh yang akan dihadapi berasal dari dunia lain, dan dapat dikalahkan dalam hitungan jam mengingat cara bertempur mereka, Arunika tetap khawatir dengan Nio.


Setelah memarkirkan mobil di barisan kendaraan taktis di depan hotel, Nio menyuruh Arunika untuk turun. Setelah keluar, mereka berdua disambut oleh Sidik, Liben, dan dua prajurit penghuni hotel lainnya yang menenteng senapan serbu dan pistol.


“Sidik, tolong bawa kak… dia ke dalam hotel.”


Arunika memiringkan kepala setelah Nio terdengar tidak jadi mengatakan sesuatu.


“Siap, laksanakan. Letnan, apa kamu akan bergabung dengan grup khusus?”


“Sepertinya begitu.”


Sidik mendorong punggung Arunika agar gadis itu bergerak cepat ke dalam hotel, Liben dan dua orang lainnya memberikan Nio pelindung tubuh berupa rompi dan helm. Dia tetap mengenakan kemeja dan celana panjang hitam serta sneakers ketika mengenakan perlengkapan standar pertempuran tersebut. Arunika hanya bisa melirik sekilas kebelakang ke arah Nio yang sedang mempersiapkan diri, dan memasuki hotel yang telah ada Lisa yang menunggunya.


Lisa mempertanyakan keberadaan Nio pada Arunika setelah gadis itu di bawa ke dalam hotel oleh Sidik bersama beberapa prajurit penghuni hotel lainnya.

__ADS_1


“Jadi dia harus bergabung dengan para penjaga…”


“Ya…”


“Padahal ini hari ulang tahunnya.”


“Ya…”


Arunika tidak tahu harus menanggapi perkataan Lisa dengan kata selain itu, karena rasa khawatirnya terhadap Nio mempersulitnya untuk mengatakan sesuatu.


Di dalam hotel, ada puluhan prajurit penghuni yang telah bersenjatakan pistol dan senapan serbu, dengan beberapa menenteng perisai anti peluru. Lalu, di luar hotel ada barisan pasukan kavaleri Arevelk dan Yekirnovo, juga beberapa pasukan elit Sheyn yang membawa senapan sundut. Sementara itu, Sigiz dan gadis-gadis dunia lain hanya bisa menjaga di garis belakang, dan menjadi lapis terakhir pelindung penghuni hotel yang tidak bersenjata.


Senjata-senjata yang ditenteng para prajurit penghuni hotel berasal dari pasukan garnisun Karanganyar, yang termasuk ke dalam daftar senjata cadangan, itu sebabnya tidak semua prajurit penghuni hotel bersenjata. Lalu, garnisun Wonogiri juga membantu dengan mengirimkan drone udara yang siap melakukan serangan berupa tembakan peluru 7.62mm dari senapan mesin ringan, serta membawa beberapa roket yang siap diluncurkan bila diperlukan.


Lalu, Nio dan grup khusus yang beranggotakan prajurit penghuni hotel anggota pasukan khusus, baik dari Pasukan Utama dan Tentara Pelajar, dan jumlah mereka sekitar 12 orang. Mereka semua terlatih untuk dikirimkan dalam pertempuran gerilya dalam hutan maupun di tengah kota. Pihak yang memerintahkan untuk mengirim mereka adalah panglima langsung, tentu saja dengan persetujuan dari presiden.


Untungnya, Suroso menanggapi peristiwa ini dengan cepat setelah mendapatkan panggilan dari Radit jika Menteri Pertahanan menghubunginya. Staf Khusus Presiden untuk urusan dunia lain itu memberikan beberapa informasi kepada Nugroho dan Suroso, termasuk keberadaan musuh di sekitar Area Terlarang. Lalu, atas saran Nugroho, Suroso mendukung untuk mengirimkan prajurit penghuni hotel yang merupakan anggota pasukan khusus untuk membantu pengejaran dan pelumpuhan musuh yang mengganggu ketenangan para tamu dan warga Indonesia, khususnya warga Karanganyar.


Presiden Suroso berharap banyak kepada grup khusus tersebut, dan berdoa untuk keselamatan mereka dan rakyatnya, serta para tamu.


**


“Siapa dia!?”


Karl berteriak dengan wajah terekejut setelah melihat wujud Hevaz yang sedang duduk di kabel listrik itu.


“Siapa peduli… dia pasti salah satu tamu.”


Refleks para anggota intel dan pasukan khusus ini diasah melalui pelatihan yang mendekati dengan penyiksaan selama bertahun-tahun. Tapi mereka dilemparkan ke dalam kekacauan oleh gadis tidak dikenal yang duduk di kabel listrik dengan tinggi 12 meter dari mereka.


Mereka tidak sadar ada seorang gadis muda di antara target mereka, namun tetap berusaha mengambil gadis itu. Namun, mereka tidak menyangka gadis itu melompat dari ketinggian dan berdiri di depan mereka.


Ketika terbang turun ke hadapan para anggota intel dan pasukan khusus dari luar Indonesia tersebut, sayap Hevaz menutupi sinar bulan layaknya burung raksasa. Secara alami dan menurut prosedur, mereka akan menembak jika Hevaz mencoba menghalangi. Bagaimanapun, mereka adalah anggota intel dan pasukan khusus yang harus menerima pekerjaan kotor, seperti membunuh orang yang menghalangi mereka jika perlu. Hanya kekejaman seperti itulah yang mereka harapkan ketika berada di sarang musuh kuat. Tapi, jika Hevaz tidak memperlihatkan ancaman, maka mereka akan mencoba tidak menyerangnya. Karena sabit besar yang ditenteng Hevaz, mereka mengarahkan moncong senjata padanya secara refleks, tetapi mereka ragu-ragu untuk menembak meski jari telunjuk telah berada di pelatuk.


Ketika Hevaz dikelilingi pria asing yang menurutnya tujuan mereka akan melukai Nio, bibirnya terangkat dan menciptakan senyum yang menggoda. Setelah itu, dia memutar sabit raksasanya, seperti pemotong rumput yang sebenarnya digunakan untuk memotong tubuh manusia.


“Hahahah…”


Seperti sesuatu yang luar biasa telah terjadi, Hevaz berlari ke arah mereka dengan kecepatan tinggi, bahkan terlihat jauh lebih cepat dari manusia tercepat masa ini. Seseorang yang nampak seperti gadis muda yang menggoda sedang mengayunkan sabit besar yang berkilauan ketika terkena cahaya bulan dan penerangan dari mereka. Ketika melihat tubuh indah milik gadis yang berlari cepat sambil memutar sabitnya, seorang personel Amerika tidak bisa mengantisipasi serangan kilat Hevaz. Dalam sekali tebasan tubuh pria Amerika itu terbelah dengan organ dan darah berceceran. Hevaz melakukan hal yang sama dengan satu orang Cina dan satu orang Inggris, kemudian menyingkirkan onggokan daging mereka ke selokan seperti menyingkirkan sampah menggunakan kaki indahnya.


Yang bisa para personel Amerika, Cina, dan Inggris lakukan sekarang adalah mundur di garis pertahanan yang telah ditentukan, dan membalas serangan gadis itu. Namun, yang mereka lakukan hanyalah penambah kebingungan.


Mereka mengarahkan moncong sub machine gun, dan melakukan serangkaian tembakan dengan peluru 9mm. Beberapa peluru berhasil mengenai tubuh gadis itu, tapi Hevaz tetap berlari cepat seperti tidak terjadi apa-apa. Senjata mereka seharusnya mematikan jika mengenai orang tanpa pelindung anti-peluru. Tetapi, Hevaz yang terkena beberapa tembakan melompat dengan anggun sebelum orang yang menembaknya menarik lagi pelatuknya.


Mereka juga menembaki personel negara lain, intinya mereka juga menembaki musuh-musuh mereka yang diidentifikasi bukan anggota tim mereka.


Jika ada anggota tim yang tertembak, mereka dan rekan mereka akan membalas penembakan. Pertempura tiga sisi antara AS, Cina, dan Inggris dimulai di tengah pembantaian gadis dari dunia lain.


Gadis dunia lain itu terbang dengan anggun di udara seperti burung, dan melakukan manuver untuk menghindari tembakan. Dia memiliki sayap putih yang indah seperti burung jalak bali, namun dia mirip dengan malaikat kematian dengan sabit besarnya. Hevaz seperti malaikat kematian yang bersayap indah.


Dia mencegat salah satu agen Amerika yang merangkak menghindari pembantaian yang dilakukannya, dan bergerak dengan gesit bergerak ke dekat agen tersebut, dan kemudian memotong kepalanya dengan sabitnya seperti sedang membelah semangka.


Bahkan para personel pasukan khusus dari tiga negara itu melupakan taktik dan pelatihan mereka di tengah hujan peluru dan serangan seorang gadis yang mengamuk. Hanya tetap menembak yang bisa mereka lakukan jika ingin tetap hidup. Bagi mereka, semua orang kecuali teman dan bangsanya sendiri adalah musuh. Mereka saling menembak dengan liar, dan kemudian tertembak mati.


Daya hancur dari sabit gadis itu membelah tubuh personel yang mengenakan pelindung tubuh dari material terkuat di bumi yang setingkat graphene. Dengan setiap tebasan sabit besarnya, Hevaz membelah tubuh, memenggal kepala, dan memotong kaki para personel luar negeri ini.


Para anggota pasukan khusus ini tidak pernah dilatih untuk menghadapi daya hancur yang tidak masuk akal ini. Ketika mereka berpikir, “Bagaimana kita melawan orang seperti ini?”, keinginan untuk melarikan diri muncul di benak mereka.


Salah satu pintu masuk ke Area Terlarang adalah wilayah padat penduduk, dengan sedikit pepohonan. Setidaknya, disetiap rumah memiliki pohon mangga atau pohon rambutan. Hal itu membuat para personel luar negeri ini mengutuk fakta bahwa hanya ada sedikit tempat perlindungan di sini, dan mereka tidak berpengalaman bertempur di area yang tidak mereka kuasai, seperti di gang sempit.


Gadis bersayap itu memanfaatkan medan ini dengan terampil, dan terbang ke atap bangunan untuk menghindari serangkaian tembakan, lalu muncul dari arah lain untuk membalas serangan.

__ADS_1


Lampu jalan yang padam pecah setelah terkena peluru, dan kepala orang yang Hevaz penggal melayang dan terjatuh ke dalam selokan, sementara tubuhnya tergeletak di gang sempit dengan darah yang mengucur deras dari tempatnya. Pohon mangga dengan buah yang hampir matang terpotong oleh tebasan sabit besar Hevaz, dan atap rumah yang terbuat dari genting tanah liat hancur berkeping-keping terkena tembakan peluru 9mm dari sub machine gun milik para personel luar negeri.


__ADS_2